January 5, 2011

Antara Doktor dan “dok-tor”

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:13 pm

Inilah hari-hari terpanjang dan terberat yang terkahir kalinya, dimana setelah melewati hari ini, akan menempuh hidup baru dan mempunyai konsekuensi moral untuk senantiasa menjaga nama baik, martabat almamater dan terus melakukan kegiatan yang berkaitan dengan bidang disiplin ilmu dan gelar doktor yang baru saja didapat. Demikian salah satu pesan dari Ketua Sidang promosi doktor pegawai PT. Krakatau Steel (KS) Basso Datu Makahanap (55) yang berlangsung Rabu pagi (05/01) di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) kampus Depok.

Hal ini juga berlaku bagi 6 calon doktor lainnya yang juga pada hari yang sama melakukan upacara promosi doktor di berbagai fakultas di lingkungan UI. Dua di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), satu di Fakultas Ekonomi (FE) dan tiga di Fakultas Teknik (FT). Dalam sehari saja UI menghasilkan 7 doktor. Konon katanya, dalam tahun ini kalau tidak ada aral melintang UI akan menghasilkan 200 orang doktor. Satu jumlah yang belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Dulu akhir tahun 1980 an, pada waktu Kepemimpinan Rektor UI (alm) Prof.Dr. Sujudi pernah menghasilkan 50 an orang doktor dalam setahun. Satu jumlah yang sesuai dengan klasifikasi Carniege, dimana satu universitas masuk dalam kriteria universitas riset, kalau dapat menghasilkan minimal 50 orang doktor.

Tadinya berkeinginan untuk mewawancarai semua doktor yang melakukan promosi hari ini. Paling tidak meminta para doktor untuk bercerita tentang inti disertasinya. Tetapi hanya kesampaian mewawancarai dua orang doktor saja. Itu pun dengan susah payah, karena ternyata tidak mudah untuk “mempersuasi” para doktor seperti yang diinginkan.

Sampai di kantor, bercerita kepada teman-teman tentang “memburu” para doktor. Terdengar celetukan seorang teman “Kapan ya, kita jadi doktor?” Langsung penulis jawab, malam ini juga kita bisa menjadi “dok-tor”. Beranikah mondok di kantor? Gedung Rektorat terkenal dengan “si baju merah” yang selalu “menggoda” dengan penampakannya waktu-waktu tertentu.