December 25, 2010

Makan Memakan, Apa Maknanya?

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:31 pm

Empat hari berturut-turut terakhir ini, sempat menikmati makan siang di berbagai tempat yang berbeda dan dalam situasi yang berbeda-beda pula. Tentunya juga mendatangkan kelezatan dan kenikmatan tersendiri yang berbeda pula. Tetapi ada satu hal yang sama, kalau tidak bisa menahan diri, penyakit membayangi dan mengintai kita.

Hari Rabu (22/12) bersama sepuluhan orang staf kantor Komunikasi UI berkesempatan makan siang di Hotel Shangrila Jakarta. Segala macam makanan disediakan mulai dari makanan tradisonal hingga menu internasional. Ada makanan sayuran, buah-buahan hingga berbagai macam kueh yang lekert hingga aneka es krim. Semuanya bisa dinikmati dan tidak ada batasnya, asal perut bisa menampungnya. Cara penyajian dan memasaknya mengundang dan merangsang selera dan juga mata yang memandangnya. Kecenderungannya kalau tersedia berbagai makanan selalu ingin mencoba semuanya

Hari Kamis (23/12) di FMIPA UI dilakukan peletakan batu pertama gedung Laboratorium serbaguna sumbangan dari Pertamina yang dihadiri wakil Menteri Pendidikan Nasional, Pimpinan Pertamina, Pimpinan UI dan tamu undangan lainnya. Para tamu disuguhi makanan yang disajikan catering nomor satu di UI. Menu makannya ada nasi tumpeng kuning lengkap, mie kangkung, Steak, macaroni, salad sayuran dicampur buah-buahan dan keju. buah-buahan jeruk, salak, lengkeng dan minuman dingin.

Hari Jum’at (24/12) makan di daerah yang berjarak 60 kilometer kea rah selatan kota Cianjur. Menu makan siang yang disajikan, nasi putih yang baru saja dipanen dari sawah, ikan asin tawes, sop ayam kampung, sambel terasi mentah, lalapannya daun putat. Dimakan sambil duduk sila dengan mamakai tangan.

Hari Sabtu (25/12), makan pagi menjelang siang di Ciloto Puncak, dengan menu makan nasi timbel (nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk panjang bulat) dengan sate Maranggi (sate daging sapi) yang dibeli di dekat Istana Presiden di Cipanas, dimakan beramai-ramai bersama mertua dan adik-adik ipar. Sate ini sudah cukup dikenal masyarakat dan selalu menjadi salah satu tujuan dan incaran para pecinta kuliner.

Pengalaman makan di empat tempat yang berbeda itu memberikan makna tersendiri dengan nuansa dan kenikmatan yang berbeda pula. Alhamdulillah masih bisa menikmati berbagai macam makanan tersebut dalam keadaan sehat walafiat bersama dengan teman-teman, kolega dan keluarga. Penulis menyadari suatu saat nanti, tidak akan bisa lagi menikmati makanan seperti yang dialami kemarin itu. Seperti kejadian yang menimpa teman yang sama-sama makan siang di Hotel Shangrila kemarin itu. Kita makan-makan bersuka ria seperti tak ada kesusahan apa-apa. Besok paginya setelah makan siang itu, dia tidak bisa lagi makan bersama-sama dengan suami tercintanya, karena ternyata hari Kamis jam 02.00, suaminya meninggal tanpa ada gejala sakit sebelumnya. Hanya sebelumnya hanya terdengar sesak nafas tersengal-sengal, setelah itu diam. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi roojiuun. Sesungguhnya kita ini berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya jua.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment