December 16, 2010

Nusantara…oh…Nusantara

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:11 am

Kalau ada nama-nama gedung dengan memakai Nusantara pastilah tempat itu sesuatu yang istimewa, yang mewakili seluruh komponen bangsa, yang mengingatkan orang akan persatuan dan kesatuan wilayah . Atau sesuatu yang sakral yang mengingatkan orang kepada simbol dan persatuan Negara. Misalnya saja dulu jaman ramai atau demam Penataran P4, para peserta terbagi dalam beberapa kelompok, dinamai kelompok bangsa, kelompok nusa dan lain-lain. Kita juga masih ingat barangkali ada judul film “garuda di dadaku” yang baru-baru ini diputar di satu stasiun televisi, kebetulan pula di stadion gelora Bung Karno Senayan tim sepakbola PSSI sedang berlaga, melibas semua lawannya dari negara jiran dan kamis ini di semi final akan berhadapan dengan kesebelasan Philipina. Tiket masuknya banyak diburu pecandu sepakbola. Ini suatu keadaan, ternyata orang “haus” akan sesuatu yang membuat orang merasa bangga sebagai bangsa dan juga dapat mempersatukan berbagai elemen yang senantiasa bentrok atau melupakan sejenak persoalan yang mendera bangsa seperti musibah dan bencana yang melanda negeri ini.

Setelah selesai mengikuti peresmian Pusat Kajian Perlindungan Anak FISIP UI di Golden Ballroom Hotel Sultan, Rabu pagi (15/12) penulis melanjutkan ‘perjalanan’ untuk mengikuti Lokakarya Nasional Penyelesaian Permasalah Ibu Kota Negara Republik Indonesia, DKI Jakarta , Gedung Nusantara V Kompleks DPR/MPR Senayan. Kegiatan lokakarya ini penuh simbolis. Ibukota negara merupakan identitas dan jatidiri negara. Lembaga yang menyelenggaranya pun merupakan symbol dari perwakilan rakyat. Sedangkan nama tempat penyelenggara kegiatan ini, Nusantara sudah menyiratkan makna simbolis yang terkandung pada kata tersebut. Orang-orang yang bicara dan yang diundang pun mewakili berbagai lembaga pendidikan tinggi dari berbagai daerah dan yang mewakili elemen masyarakat. Kegiatan ini sebagai bentuk dari respon terhadap permasalahan yang berkembang di masyarakat, yang digulirkan Dewan Perwakilan Daerah RI dengan Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Ada hal menarik yang dikemukakan Prof.Dr. Dorodjatun Kuntjorojakti. Dia mengatakan ada pola “pemindahan” ibukota negara yang telah dilakukan. Seperti Brazil dari Rio De Janerio ke Brazilia, Malaysia dari Kualalumpur ke Putra Jaya, Jepang dari Tokyo ke Yokohama. Indonesia menurutnya lebih efisien tetap di Jakarta dengan beberapa perubahan yang harus segera dilakukan. (dalam kesempatan lain akan dibahas lebih jauh).

Ketika akan mencari kendaraan untuk kembali ke Kampus Depok, jalan agak jauh dari Gedung Nusantara V akhirnya sampai ke Gedung Nusantara II. Saat menunggu Taxi, ada orang yang menuju ke lobi gedung, wajah, dan penampilannya seperti (maaf) bergaya preman. Sejurus kemudian dari mobil turun seorang perempuan (maaf juga) berpenampilan seronok dan sexy menuju ke dalam gedung juga. Kesan ini juga dibenarkan teman yang sama-sama akan menuju kampus Depok. Dalam hati berpikir, kok kantor lembaga Dewan yang terhormat dikunjungi orang-orang yang demikian, ada keperluan apakah gerangan orang-orang tersebut ke lembaga terhormat? Setelah diperhatikan dengan seksama lagi, ternyata gedung Nusantara II ini pernah juga penulis kunjungi tahun 1998, saat para mahasiswa UI melakukan dialog dengan Fraksi ABRI di MPR dan memberikan pernyataan tidak mempercayai kepemimpinan mandataris MPR (waktu itu). Menurut cerita, konon dahulu sewaktu para demonstran menduduki gedung DPR/MPR ketika Rezim Orde Baru terjungkal, melakukan “hura-hura” gila-gilaan. Di toilet-toilet ditemukan kondom bekas. Duabelas tahun reformasi berjalan, kelihatannya ada kesinambungan apa yang penulis dengar dan yang dilihat. Apakah ini juga suatu simbol dari carut marutnya bangsa ini yang tercermin dari lembaga terhormat seperti yang penulis lihat? Wallahualam bisawab.