December 11, 2010

Trust

Filed under: Kampusiana — rani @ 11:17 pm

Bukan mau gagah-gagahan bila judul tulisan ini mengambil dari kata bahasa asing. Melainkan semata-mata untuk kepraktisan saja dan juga supaya orang dengan cepat dapat mengasosiasikan dengan topik yang akan dibahas dalam tulisan ini. Hari Sabtu (11/12) ada dua kegiatan yang dihadiri penulis. Pertama seminar “Menguak Rahasia Benua Atlantis” yang diselenggarakan mahasiswa Departemen Geografi FMIPA UI dan kedua mengikuti acara pemilihan Ketua ILUNI FISIP UI. Untuk menyambung kedua kegiatan tersebut, penulis perlu juga menyelipkan berita tentang Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan hasil pemilukada Kabupaten Tangerang Selatan.

Beberapa hari lalu terbetik kabar MK membatalkan hasil Pemilukada Kabupaten Tangerang Selatan dan memerintahkan kepada KPUD Tangerang untuk melakukan pemilihan ulang selambat-lambatnya 90 hari setelah ada Keputusan MK. Alasan pembatalan itu karena MK melihat ada kejanggalan, tidak ada laporan kecurangan dari pihak Panwaslu, KPUD dan kandidat yang kalah. Selain itu tiga hari menjelang pencoblosan ada surat edaran supaya aparat pemda bersikap netral terhadap para kandidat calon bupati. Pendek kata, MK tidak percaya pemilukada Bupati Tangerang Selatan berjalan “bersih”, jujur dan adil. Justru karena tidak ada laporan kecurangan itu menjadi dasar bagi MK, Pemilukada tidak berjalan dengan semestinya.

Atlantis yang hilang, seperti yang ditulis Filosof Yunani Plato (427-347 SM) dalam buku “Critias and Timaeus” ramai menjadi pembicaraan orang Indonesia tahun ini, setelah ada buku “Eden The East” (1999) karya Oppenheimer, seorang dokter ahli genetik dan sejarah peradaban dan buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found,…”(2005) karya Prof. Aryso Santos dari Brazil, yang menyatakan Atlantis yang merupakan sumber dari peradaban manusia itu berada Kawasan Sundaland yang terletak di sekitar perairan Laut Indonesia. Kedua buku itu mematahkan pendapat para ilmuwan sebelumnya yang menyatakan atlantis itu berada di kawasan Amerika, di Timur Tengah dan di Siprus. Walaupun kedua buku tersebut mengemukakan dengan argumen-argumen ilmiah yang meyakinkan, tetapi sebagian ilmuwan masih tetap tidak percaya dan belum mengakui keabsahan hasil temuan dari kedua ilmuwan tersebut.

Akan halnya pemilihan Ketua ILUNI FISIP, dimana ada dua calon yang mengajukan diri, untuk dapat meraih simpati dari para pemilihnya dengan mengemukakan program kerja yang akan dilaksanakan bila terpilih menjadi ketua. Keduanya berusaha mendapat kepercayaan dan menyatakan diri dapat dipercaya, pantas dan cakap untuk menjadi nakhoda ILUNI FISIP dua tahun ke depan.

Dari ketiga contoh kasus tersebut jelaslah, yang ingin diraih atau berkaitan erat dengan masalah kepercayaan (wafa bil ahdi). Kepercayaan bisa didapat kalau kita bersikap dan berkata jujur, adil, mempunyai jiwa gotong royong (ta’awun) serta konsisten dan ulet (istiqomah). Dengan bekal ini, seseorang apakah itu pejabat, ilmuwan maupun pemimpin informal Insya Allah akan mendapat kepercayaan dari masyarakat.