December 10, 2010

Jum’atan dari Masa ke Masa

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:37 am

Pada tulisan kali ini mencoba untuk mengulas secara sekilas dan seingat penulis tentang kegiatan Jum’atan pada periode jaman Orde Baru dan jaman Orde Reformasi. Tentu saja masih banyak kekurang-akuratan informasi yang disampaikan, tetapi paling tidak dapat memberikan gambaran sedikit tentang latar belakang dan suasana “perjumatan” di lingkungan kampus.

Ketika masih berkuliah dahulu di tahun 1980 an, mesjid yang sering menjadi tempat untuk shalat Jum’at yaitu Attaqwa di Kampus Rawamangun dan Arif Rahman Hakim (ARH) di Kampus Salemba. Dua mesjid ini selalu menjadi incaran para jamaah karena khatibnya pilihan, para tokoh Islam yang sudah dikenal di masyarakat dan isi khtubahnya itu yang lebih menarik jamaah, karena berisikan kritikan kepada pemerintahan Orde Baru. Aparat penegak hukum juga, tidak bisa berbuat banyak terhadap khotib Jum’at yang mengeritik pemerintah. Barangkali mereka masih mematuhi aturan adanya “kebebasan mimbar” di dalam kampus. Beberapa tokoh yang memberikan khutbah jumat dan menjadi favorit jamaah antara lain, M. Natsir, H.M. Rasyidi, Syafrudin Prawiranegara, Mawardi Noor, Deliar Noer, Imanuddin Abdurrachim, Arif Rahman dan lain-lain. Ada juga tokoh muda yang juga mahasiswa FISIP UI yaitu Tony Ardie. Yusril Ihza Mahendra yang menjadi asisten dosen H.M. Rasyidi di Fakultas Hukum UI, sesekali menjadi khotib Jum’at pula. Waktu itu dia sudah aktif menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UI.

Ketika Kampus UI pindah ke Depok, agak susah mencari orang terkenal yang mau menjadi khotib karena tampaknya pemerintah sudah mulai “ketat” mengawasi para Khatib favorit jamaah. Waktu itu ketua Mesjid UI Prof. H. Daud Ali, SH juga mempunyai kebijakan memrioritaskan khatib dari kalangan staf pengajar. Maka mulailah bermunculan dosen yang menjadi khatib Jum’at. Bahkan ada juga pimpinan fakultas dan Universitas yang menjadi khatib. Belakangan ini di Mesjid Ukhuwah Islamiyah (UI) – nama yang diberikan Prof. H Daud Ali, SH – di Kampus Depok di bagian tengah di atas mimbar dipasang layar lebar dan dua TV layar lebar di sayap atas bagian kiri dan kanan, untuk menayangkan ringkasan teks khutbah jum’at yang sudah disimpan di dalam laptop. Jadi di mimbar terpasang lap top, bukan lagi berupa lembaran kertas catatan atau teks isi khutbah Jum’at. Tidak itu saja, khotib yang sedang berkhutbah pun di shooting dan ditayangkan secara online di web UI.

Tidak semua pimpinan UI bersedia untuk menjadi khatib Jum’at. Hal ini disebabkan karena kendala pada bagian tertentu khutbah Jum’at harus memakai bahasa Arab. Kalau yang tidak biasa dan terlatih melafalkan bahasa Arab akan terlihat kejanggalannya. Rektor UI yang pernah menjadi Khatib Jum’at Prof.dr. M.K Tadjudin. Dua kali menjadi khatib dan dua-duanya isi khutbahnya khusus ditujukan kepada para wisudawan yang akan mengikuti acara gladi resik pada Jum’at siang, sebelum dilakukan wisuda secara resmi pada hari Sabtunya. Rektor UI berikutnya yaitu Prof.Dr.derSoz Gumilar Rusliwa Somantri. Pada waktu menjadi Dekan FISIP pernah menjadi khatib Jum’at, jadi sudah familiar dengan suasana Jumatan. Tetapi tampaknya tetap saja ada perasaan “grogi”, pada khutbah bagian kedua, ada bacaan do’a yang lupa sehingga terdiam cukup lama. Para jamaah merasa gelisah juga, jangan-jangan terjadi apa-apa pada khotib. Tetapi begitu terdengar lagi suara khatib, legalah para jamaah.

Jadual khatib Jum’at selama 52 Jum’at ketat sekali. Dalam satu tahun, tidak pernah ada orang yang menjadi khatib sampai dua kali. Kecuali kalau menggantikan khatib yang mendadak tidak bisa datang pada jadual yang telah ditentukan. Sebagian khatib masih diisi dari luar kampus dan sebagian lagi dari dalam kampus. Khatib dari dalam kampus, isi khutbah biasanya menyangkut dengan bidang ilmu yang ditekuni sang khotib. Jadi tidak melulu bicara perkara surga dan neraka. Dalam hal ini, kebijakan (alm) Prof. H. Daud Ali, SH untuk mengisi khotib dari kalangan kampus cukup berhasil. Sudah banyak bermunculan para khatib dari kalangan dosen yang berusia muda, tidak saja terampil mengupas bidang ilmunya dikaitkan dengan ayat-ayat Al Qur’an, tetapi juga fasih berdo’a dalam bahasa Arab. Topik dan isi khtubah pun tidak selalu bicara politik dan mengeritik pemerintahan.

Sudah menjadi tradisi di Mesjid UI Kampus Depok, sehabis shalat Jum’at, khatib dengan para pengurus mesjid makan siang bersama di ruangan belakang mimbar/mihrab. Menunya sederhana saja, ayam goreng, tempe goreng, sayur lodeh/asem, sambal terasi dengan lalapan ketimun dan buahnya pisang ambon atau jeruk. Sambil makan biasanya mengobrol dengan topik-topik hangat yang tengah menjadi pembicaraan di masyarakat.