December 6, 2010

Membangun Empati dan Simpati

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:01 am

Hari Sabtu (04/12) bersama dengan teman-teman di lingkungan kerja pusat administrasi univesitas menghadiri pernikahan anak seorang pegawai UI, yang rumahnya di Perumnas Karawaci Tangerang. Di jalan bertemu dengan mantan warek II UI yang akan menuju ke tempat yang sama. Saat di tempat hajatan, tidak terlihat pimpinan UI sekarang yang hadir. Pulang dari kondangan, teman-teman berkomentar sama, “jauh amat”. Perjalanan dengan melewati jalan tol saja memakan waktu dua jam pergi dan dua jam pulang.

Si empunya hajatan, seorang pegawai UI yang hampir semua orang mengenalnya. Mulai dari pimpinan UI tertinggi sampai dengan pegawai biasa saja. Seorang pegawai yang bertanggung jawab akan kelancaran lift yang berada di gedung pusat administrasi universitas, juga ruangan untuk acara rapat/seminar/kerjasama mulai dari listrik sampai, kelengkapan peralatan hingga sound system. Senantiasa datang ke kantor pagi, bahkan kalau ada acara seperti wisuda atau gerak jalan, datang paling pagi. Dari segi kerajinan dan dedikasinya tidak diragukan lagi. Dan itu dilakoni semenjak UI dibawah Rektor (alm) Prof. Sujudi (1986). Penulis berpikir, jam berapa kira-kiranya kalau berangkat dari rumah supaya bisa datang pagi ke kantor di Kampus Depok?

Karena kesibukan dan tugas-tugas penting, terkadang kita lalai untuk membangun empati dan simpati terhadap teman sekantor atau bawahan kita. Padahal dalam bekerja di suatu insitusi dalam jangka waktu yang lama, hal ini penting sekali. Tidak harus selalu dengan memberikan materi yang berlebihan. Cukup dengan menghadiri acara/peristiwa yang sangat berarti bagi seseorang. Karena dengan demikian orang akan mengenang kita sebagai orang yang mempunyai perhatian dan penghargaan/apresiasi yang tinggi terhadap undangan orang. Mantan Rektor UI (alm) Prof. Sujudi, sangat dikenal dan dikenang pegawai UI, sebagai orang yang mempunyai perhatian luar biasa terhadap para pegawai UI. Dia senantiasa akan datang kalau mendapat undangan dari para pegawai UI. Bahkan tidak segan-segan, dia bersedia menjadi saksi pernikahan pegawai dan anak pegawai UI, seperti yang penulis alami dan saksikan dalam berbagai peristiwa. Sampai sekarang belum ada yang bisa menandingi kemampuan berempati dan bersimpati dari Prof. Sujudi.

Suatu waktu penulis sempat dipanggil secara khusus ke ruang kerja Prof. Sujudi. Dia bicara, tolong cari tahu ‘si anu’ pegawai UI golongan I hanya lulusan SD), apa betul dia punya anak yang perlu biaya untuk kuliah. Maka segera dicari informasi tentang pegawai tersebut dan kemudian dilaporkan. Setelah itu penulis tidak tahu lagi kelanjutannya. Tetapi beberapa tahun kemudian setelah Prof. Sujudi tidak lagi menjabat sebagai Rektor UI, anak pegawai tersebut diwisuda sebagai alumnus UI dan menjadi PNS (diplomat) di Departemen Luar Negeri RI.