December 3, 2010

Hari Jum’at

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:05 am

Malam jum’at atau hari Jum’at ada sebagian orang yang menafsirkan berbagai ragam. Kita mungkin sering mendengar Malam Jum’at Kliwon. Atau juga tadarus yasinan di malam Jum’at , bahkan Allah SWT katanya menciptakan semesta alam ini pada hari Jum’at. Dan karena itu, konon katanya pula kehancuran alam semesta ini juga akan terjadi pada hari Jum’at. Tetapi ada beberapa peristiwa yang berkaitan dengan Jum’at ini, seperti yang akan diceritakan di bawah ini.

Almarhum Prof. Sujudi, mantan Rektor UI tidak pernah ketinggalan melakukan shalat Jum’at, walau bagaimanapun sibuknya urusan pekerjaan, baik sewaktu masih menjadi Rektor maupun saat menjabat Menteri Kesehatan. Pada saat Pelantikan sebagai Menteri Kesehatan, kebetulan hari Jum’at. Selesai pelantikan dia segera pergi ke Kampus Depok sambil mengajak Menteri Agama dr. Tarmizi Taher. Untuk apa? Ternyata dia mendaulat Menteri Agama untuk menjadi Khotib Jum’at di Mesjid UI Kampus Depok. Menurut sopir pribadinya, suatu saat dia pernah tidak sempat melakukan shalat Jum’at karena kesibukan pekerjaannya. Tidak lama setelah itu, dia mendapat musibah yang cukup berat. Sejak itu dia tidak pernah alpa untuk melakukan shalat Jum’at.

Lain lagi cerita seorang teman yang sekolah S2 di australia. Setelah beberapa lama tinggal di negara kangguru, dia mengirim email, meminta informasi bagaimana tata cara atau rukun khutbah Jum’at. Walaupun setiap Jum’at selalu shalat Jum’at di mesjid tapi tidak terlalu hirau akan rukun Khutbah Jum’at. Penulis sempat menyaksikan shalat jum’at di Mesjid Attaqwa kampus Rawamangun. Setelah selesai shalat Jum’at, banyak jamaah yang melakukan shalat dhuhur kembali. Setelah tanya sana-sini, ternyata khotib lupa membacakan bacaan arab, pada saat melakukan khutbah yang kedua, jadi dianggapnya tidak sah shalat Jum’atnya. Penulis segera tanya kepada ustad yang biasa memberikan khutbah Jum’at di mesjid UI Depok, Lalu segera mengirimkannya kepada teman yang di Australia tersebut. Rupanya teman ini merasa “geregetan” di kampus tempat berkuliah banyak orang Indonesia dan muslim lainnya, tetapi tidak pernah ada yang mencoba untuk menyelenggarakan shalat Jum’at bersama-sama di Kampus. Dia ingin “mendobrak” kebekuan itu dengan menyelenggarakan shalat Jum’at di kampus dan dia “mengorbankan” dirinya menjadi Khotib Jum’at, walaupun belum mempunyai pengalaman sama sekali sebagai Khotib sewaktu di tanah air.

Penulis mengalami dan menyaksikan sendiri shalat Jum’at yang dihadiri banyak jamaah. Yaitu pada saat menjalankan ibadah haji tahun 2008. Saat itu, merupakan Jum’at terakhir menjelang wukuf di Arafah. Penulis sengaja mencari tempat di luar mesjidil Haram di jembatan di ujung jalan Ummul Quro, kira-kira tigaratus ratus meter dari mesjidil Haram, karena ingin memvideokan suasana shalat Jum’at di luar mesjidil haram. “Lautan” jamaah memenuhi halaman mesjdil Haram, mulai dari depan hotel Hilton dan Daarut Tauhid hingga ke jalan-jalan raya, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan ada yang sambil menggendong bayi segala. Tidak hanya itu, Jamaah pun memenuhi puncak perbukitan sekitar mesjidil Haram. Sementara di atas meraung-raung suara helikopter yang berkeliling terus seputar mesjid. Diperkirakan ada jutaan jamaah haji yang melakukan shalat Jum’at pada waktu itu. Penulis membayangkan, barangkali seperti itulah yang akan terjadi pada saat di padang Mahsyar, saat kita akan “diadili” se adil-adilnya.