December 1, 2010

Berkokok Keok Kok-Merokok

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:51 am

Binatang apa pula, yang bisa berkokok keok kok-merokok? Bukan binatang, tetapi merupakan gabungan beberapa kata berkokok (sesumbar), keok (kalah) dan Kok-merokok ( mengadaptasi dari bahasa Madura, asal kata rokok merokok), yang mempunyai pengertian seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Menurut berita yang dimuat Harian Pikiran Rakyat online, Chairul Tanjung (alumni FKG UI, Ketua Dewan Pakar Ekonomi Nasional, pen) dalam ceramahnya di Jakarta yang berlangsung Senin (29/11) menyatakan, Indonesia bisa mengalahkan ekonomi Jepang pada tahun 2030 dan bakal menjadi Negara maju di urutan kelima dunia dalam dua dekade lagi, yaitu China, amerika Serikat, Uni Eropa, India dan Indonesia. Pendapat ini sebetulnya pernah dinyatakan dalam satu seminar Wirausaha muda di UI beberapa waktu lalu. Pendapatnya ini didasarkan pada faktor demografi, dimana Jepang akan banyak orang yang lanjut usia yang memerlukan banyak biaya perawatan. Sementara Indonesia akan banyak orang yang berusia produktif. Tahun 2020 penduduk Indonesia mencapai 268 juta, 134 juta laki-laki, dan 134 juta perempuan. Jumlah usia produktif mencapai 136 juta (51%)

Sementara itu, Sabtu lalu (27/11) dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Prof.Dr.dr. Anhari Achadi, SKM,Scd menyatakan, prevalensi merokok di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang menunjukkan adanya penurunan dalam 30 tahun terakhir, sementara jumlah perokok di Indonesia terjadi peningkatan secara tajam, khususnya pada laki-laki dewasa 15-19 tahun, dan munculnya perokok pemula di usia 5 – 9 tahun. Peningkatan pemakaian tembakau berdampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan semakin menurun, karena efek penyakit merokok akan dirasakan 20 sampai 25 tahun yang akan datang.

Dari dua informasi di atas terjadi paradoks. Optimisme yang tinggi terhadap usia produktif dibayang-bayangi dengan derajat kesehatan yang menurun, karena adanya bahaya penyakit akibat merokok yang akan terlihat pada tahun 2030-an. Jadi, sesumbarnya Chairul Tanjung ibarat berkokok tetapi akan keok karena generasi produktifnya terkena penyakit akibat kok-merokok.