November 21, 2010

Pertemuan BEM Se-Nusantara di Uncen Papua

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:50 pm

Presiden SBY akan membuka pertemuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Nusantara di Unversitas Negeri Cendrawasih Papua hari Senin (22/11). Untuk kelancaran kegiatan acara tersebut dikerahkan 1.863 personil TNI dan POLRI dimana panglima TNI dan POLRI pun turut hadir. Demikian berita yang ditayangkangkan salah satu stasiun televisi minggu pagi (21/11).

Yang menarik dari informasi tersebut, jumlah keamanan yang dikerahkan dan keberanian SBY berhadapan atau lebih tepatnya “mendekati” mahasiswa dalam situasi dimana pemberitaan negatif, evaluasi setahun pemerintahan SBY dan kasus Gayus “korupsi” Tambunan yang “menyerempet” kesana kemari termasuk terhadap besannya yang sering keluar tahanan di Brimob yang tidak sesuai prosedur.

Perkara pengerahan keamanan yang begitu banyak, pastilah terinspirasi dengan keamanan yang diberlakukan sewaktu menerima Kunjungan Presiden Amerika Serikat Presiden Barack Hussein Obama baru-baru ini. Logikanya, untuk mengamankan presiden dari negara lain saja bisa, masa sih tidak bisa mengamankan kepala negara pemerintahan sendiri. Apalagi yang dihadapi kelompok mahasiswa bukan Al Qaeda yang punya semangat jihad dan berani mati.

Tetapi tetap harus diwaspadai juga terhadap kelompok mahasiswa, terutama putera asli Papua. Pada waktu dilakukan Seminar tentang Papua di FISIP UI beberapa waktu lalu, penulis sempat mengobrol dengan beberapa mahasiswa dan dosen dari Papua. Mereka merasa diperlakukan tidak adil, terutama pada masa pemerintahan rezim Orde Baru dan juga rezim Orde Reformasi sekarang ini. Karena itu mereka menganggap solusi terbaik perkara Papua ini memisahkan diri dari NKRI seperti yang dilakukan Timor Leste.

November 20, 2010

Antara Ibadah Personal dan Ibadah Sosial

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:39 pm

Nyaris luput dari perhatian orang, ternyata ibadah haji yang dilakukan secara perorangan dengan biaya yang tidak sedikit itu, mempunyai makna sebagai suatu ibadah sosial dan mengajarkan bagaimana kita harus rela berqurban atau mengorbankan apa yang kita cintai dengan penuh keikhlasan semata-mata mengharapkan keridoan dan memupuk kecintaan dan keimanan kita kepada Allah.

Ibrahim mengajarkan kepada kita, bagaimana dia harus rela menyembelih Ismail, anak yang diidam-idamkan dan hanya semata wayang itu. Tengoklah bagaimana saat Ismail dilahirkan, Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya di tengah padang pasir tandus tiada berair. Resapi pula bagaimana pergumulan batin Ibrahim, ketika dalam mimpi-mimpinya dia diharuskan untuk “menghabisi” nyawa anaknya dan kemudian syetan dengan berbagai tipu dayanya membujuk Ibrahim untuk tidak melaksanakan perintah Allah. Tetapi sungguh mencengangkan saat diceritakan kepada Ismail, ternyata direspon supaya segera melaksanakan amanat yang tersirat dalam mimpinya itu.

Ketika kita melaksanakan seperti yang dilakukan Ibrahim, yaitu dengan menyediakan khewan untuk dijadikan qurban, sesungguhnya melaksanakan satu perintah yang bersifat ibadah personal. Namun ternyata manfaat dari berqurban itu dirasakan oleh kalangan masyarakat yang mendapat pembagian daging khewan qurban tersebut. Kalaulah setiap keluarga yang telah melakukan ibadah haji ataupun keluarga yang mampu, setiap tahunnya melakukan qurban, berapa banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaat dari qurban tersebut? Inilah sebetulnya hakekat dari berqurban itu, menjadi ibadah sosial yang dapat menyejahterakan masyarakat.

Bandingkan dengan Gayus Tambunan. Sebagai abdi Negara dia harus melayani masyarakat dalam hal perpajakan. Pekerjaannya termasuk dalam kategori ibadah sosial. Rupanya Gayus pun selalu dihantui dengan mimpi-mimpinya tentang keadaan sosial ekonomi keluarganya yang memprihatinkan. Ia ingin mengubah nasib, Gayus mendapat bisikan syaiton untuk mengorbankan ibadah sosialnya. Yaitu dengan cara mencari keuntungan secara personal dengan membantu perusahaan-perusahaan besar untuk “mengemplang” pajak, yang akhirnya justru merugikan Negara. Alih-alih pajak yang harusnya untuk menyejahterakan masyarakat menjadi berkurang yang terjadi kemudian justru “menyejahterakan” Gayus. Inilah barangkali namanya ibadah sosial menghasilkan keuntungan secara personal. Hanya sesaat saja dia mendapatkan kesenangan, saat berikutnya dia dikategorikan sebagai abdi Negara yang sesat. Kini tinggal meratap dan menunggu saat-saat vonis mendekat.

November 18, 2010

“Membadalkan” Kamera Video

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:06 pm

Ini pengalaman lain sewaktu melaksanakan ibadah haji tahun 2008, yang kebetulan membawa peralatan kamera video (handycam Panasonic) untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan haji mulai dari keberangkatan dari tanah air, kegiatan selama di tanah suci hingga kembali lagi ke tanah air.

Saat tawaf ikut tawaf bahkan dekat sekali ke hijir Ismail, tidak ketinggalan Sa’i juga wukuf dan jumrah, menembus terowongan Mina yang pernah menelan korban jiwa jamaah haji Indonesia cukup banyak itu. Melihat-lihat perumahan mewah orang Arab di pesisir Laut Merah, menikmati “sunset” dan orang-orang Arab Berekreasi di malam Jumat dekat mesjid terapung di Laut Merah. Melihat air mancur yang ‘muncrat’ setinggi 80 meter, melewati pusat bisnis Al Balad, merekam tempat jagal/eksekusi hukuman pancung dan potong tangan, melewati kuburan Siti Hawa dan juga tidak lupa merekam “sepeda” Nabi Adam. Merekam suasana di percetakan Al Qur’an dan keramaian di salah satu perkebunan kurma. Juga merekam jalan mobil yang terpengaruh medan magnit (jabal magnit). Berkhalwat dan ziarah di Raudah Mesjid Nabawi ikut pula. Tidak ketinggalan ziarah ke kuburan Ma’la di Mekah dan Baqi di Medinah, dan juga melihat-lihat Jabal Rahmah dan jabal Uhud serta tempat yang bersejarah lainnya.

Alhamdulillah sang video tidak banyak mengalami kesukaran dalam menjalankan ‘tugasnya’. Kalau jamaah lain saat memasuki Mesjidil haram dan masjid Nabawi, diusir askar di pintu masuk karena kedapatan membawa kamera foto/tustel. Tetapi anehnya sang video penulis yang bentuknya lebih besar dari tustel, tidak terdeteksi oleh askar/tentara penjaga di pintu masuk. Memang pernah satu kali ketahuan di Mesjid Nabawi, saat askar meraba tas kecil yang penulis bawa, tetapi dia dengan sopan mempersilahkan untuk tidak masuk ke dalam mesjid. Tetapi tidak kurang akal. Melewati jam 2 pagi, masuk kembali ke Mesjidil haram, suasana di dalam tidak begitu ramai, dengan leluasa merekam suasana di Raudah, yaitu ruangan antara mimbar tempat Nabi berkhutbah dengan rumah Nabi (yang kemudian menjadi tempat kuburan Nabi dan sahabat Abubakan dan Umar). Tempat ini banyak diminati jamaah haji, karena menjadi salah satu dari tujuh tempat mustajab untuk berdo’a. Di Mekah pun ada tempat seperti itu yaitu di Hijir Ismail (di salah satu sisi Ka’bah dimana di atas Ka’bah ada tempat air mancur yang terbuat dari emas). Sempat masuk ke Hijir Ismail, tetapi sang video tidak sempat merekam, karena sangat padat dan waktu pun singkat untuk shalat di tempat tersebut, karena orang lain sudah menunggu berdesak-desakan untuk masuk.

Ketika pulang ke tanah air, jamaah haji lain banyak membawa berbagai macam oleh-oleh, penulis cukup berbahagia dengan telah meng ‘badal’ kan kamera video yang merekam perjalanan haji ke dalam kaset mini dv sebanyak 13 buah. (badal, yaitu menghajikan orang yang sudah meninggal dengan meminta bantuan kepada orang lain untuk melakukan ritual ibadah haji untuk dan atas nama orang yang sudah meninggal itu.)

Pengalaman Berhaji yang unik

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:26 am

Sebagai seorang Islam tentulah berkeinginan untuk dapat melaksanakan rukun Islam yang kelima, menunaikan ibadah haji ke Tanah Haram. Selain untuk napak tilas dan mengenang perjuangan para nabi Allah, juga dalam upaya mempertebal keimanan kepada Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Walaupun kewajiban berhaji cukup sekali saja, tetapi dari komentar orang-orang yang sudah melaksanakan ibadah haji, semuanya berkeinginan untuk pergi berhaji lagi atau paling tidak melakukan umrah, berhaji tanpa wukuf di Arafah. Dorongan gaib ini (ingin pergi ke tanah suci lagi) sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan alasannya. Orang boleh-boleh saja mengatakan sudah berkeliling dunia, mengunjungi berbagai tempat yang mengesankan di berbagai Negara, tetapi kenikmatan berhaji sangat berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman melancong. Karena dalam melaksanakan ibadah haji, kita merasa sangat dekat dengan Al Khalik, setiap saat bisa shalat dihadapan Ka’bah (di mesjidil haram), atau bisa berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Alhamdulillah penulis bersama istri dapat melaksanakan ibadah haji pada tahun 2008, tahun transisi dalam hal pengaturan para jamaah haji Indonesia. Karena setelah tahun tersebut, aturan diperketat, mendahulukan calon jamaah haji yang berusia sudah lanjut, diberlakukan sistem kuota yang ketat berapa orang jamaah haji yang diperbolehkan berangkat dari satu ibukota kabupaten/kotamadya dan ongkos haji yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2007 membuka tabungan haji di Bank BNI, tahun 2008 sudah mendapat panggilan untuk segera melunasi. Itu pun sudah mendekati tahap-tahap akhir penutupan, karena ternyata ada calon jamaah haji yang sampai batas waktu belum juga dapat melunasi ongkos naik haji.

Karena keberangkatan termasuk dalam kloter-kloter terakhir, maka rombongan langsung menuju Mekah. Tempat menginap di hotel Al Alam di jalan Ummul Quro yang hanya berjarak 700 meter saja dari masjidil haram. Pemilik hotel berzanar, kalau hotelnya menjadi tempat menginap calon jamaah haji Indonesia, maka akan disediakan makanan gratis selama tinggal di Mekkah. Jumlah jamaah haji yang mendapat makan gratis di hotel tersebut sebanyak 300 an orang. Selama 25 hari tinggal di Mekah mendapat makan 3 kali sehari gratis. Yang lebih beruntung lagi, ternyata beberapa pegawai hotel tersebut berasal dari Indonesia. Dan luar biasanya lagi, pemilik hotel membolehkan jamaah haji Indonesia, khsususnya kepada rombongan haji penulis untuk menentukan menu makan pagi dan memasak sendiri. Maka jadilah setiap pagi secara sukarela kelompok haji dimana penulis bergabung menjadi “tukang masak’ dadakan bagi 300jamaah haji. Biasanya membuat bubur nasi, bubur kacang ijo atau nasi goreng. Ketika akan meninggalkan Mekan menuju Madinah, pemilik hotel memberikan bingkisan kurma kepada setiap jamaah haji Indonesia yang menginap di hotelnya. Usut punya usut, kok baik benar pemilik hotel itu kepada jamaah haji Indonesia. Ternyata yang punya hotel pernah mempunyai istri orang Cianjur dan pernah tinggal di Indonesia. Walaupun kini sudah bercerai dengan Istri asal Cianjur, tetapi secara berkala masih datang ke Indonesia, berbelanja untuk keperluan hotelnya.

November 17, 2010

Pengalaman Berhaji yang Unik

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:33 pm

Sebagai seorang Islam tentulah berkeinginan untuk dapat melaksanakan rukun Islam yang kelima, menunaikan ibadah haji ke Tanah Haram. Selain untuk napak tilas dan mengenang perjuangan para nabi Allah, juga dalam upaya mempertebal keimanan kepada Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Walaupun kewajiban berhaji cukup sekali saja, tetapi dari komentar orang-orang yang sudah melaksanakan ibadah haji, semuanya berkeinginan untuk pergi berhaji lagi atau paling tidak melakukan umrah, berhaji tanpa wukuf di Arafah. Dorongan gaib ini (ingin pergi ke tanah suci lagi) sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan alasannya. Orang boleh-boleh saja mengatakan sudah berkeliling dunia, mengunjungi berbagai tempat yang mengesankan di berbagai Negara, tetapi kenikmatan berhaji sangat berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman melancong. Karena dalam melaksanakan ibadah haji, kita merasa sangat dekat dengan Al Khalik, setiap saat bisa shalat dihadapan Ka’bah (di mesjidil haram), atau bisa berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Alhamdulillah penulis bersama istri dapat melaksanakan ibadah haji pada tahun 2008, tahun transisi dalam hal pengaturan para jamaah haji Indonesia. Karena setelah tahun tersebut, aturan diperketat, mendahulukan calon jamaah haji yang berusia sudah lanjut, diberlakukan sistem kuota yang ketat berapa orang jamaah haji yang diperbolehkan berangkat dari satu ibukota kabupaten/kotamadya dan ongkos haji yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2007 membuka tabungan haji di Bank BNI, tahun 2008 sudah mendapat panggilan untuk segera melunasi. Itu pun sudah mendekati tahap-tahap akhir penutupan, karena ternyata ada calon jamaah haji yang sampai batas waktu belum juga dapat melunasi ongkos naik haji.

Karena keberangkatan termasuk dalam kloter-kloter terakhir, maka rombongan langsung menuju Mekah. Tempat menginap di hotel Al Alam di jalan Ummul Quro yang hanya berjarak 700 meter saja dari masjidil haram. Pemilik hotel berzanar, kalau hotelnya menjadi tempat menginap calon jamaah haji Indonesia, maka akan disediakan makanan gratis selama tinggal di Mekkah. Jumlah jamaah haji yang mendapat makan gratis di hotel tersebut sebanyak 300 an orang. Selama 25 hari tinggal di Mekah mendapat makan 3 kali sehari gratis. Yang lebih beruntung lagi, ternyata beberapa pegawai hotel tersebut berasal dari Indonesia. Dan luar biasanya lagi, pemilik hotel membolehkan jamaah haji Indonesia, khsususnya kepada rombongan haji penulis untuk menentukan menu makan pagi dan memasak sendiri. Maka jadilah setiap pagi secara sukarela kelompok haji dimana penulis bergabung menjadi “tukang masak’ dadakan bagi 300jamaah haji. Biasanya membuat bubur nasi, bubur kacang ijo atau nasi goreng. Ketika akan meninggalkan Mekan menuju Madinah, pemilik hotel memberikan bingkisan kurma kepada setiap jamaah haji Indonesia yang menginap di hotelnya. Usut punya usut, kok baik benar pemilik hotel itu kepada jamaah haji Indonesia. Ternyata yang punya hotel pernah mempunyai istri orang Cianjur dan pernah tinggal di Indonesia. Walaupun kini sudah bercerai dengan Istri asal Cianjur, tetapi secara berkala masih datang ke Indonesia, berbelanja untuk keperluan hotelnya.

November 16, 2010

Arafah Tempat Pertemuan Adam dan Hawa

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:16 am

Pada hari ini (16/11) sebagian umat Islam di Indonesia melakukan shalat Idul Adha dan sebagian lagi akan melakukannya besok (17/11). Sementara itu, jamaah haji di Mekah sejak hari kemarin (15/11) sudah berada di Arafah untuk melakukan wukuf dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00 waktu Arab. Setelah itu para jamaah haji bersama sama pergi ke Musdzalifah untuk mabit (tinggal/menetap) selama beberapa hari dan melempar jumrah di Mina.

Haji secra harafiah artinya sengaja melakukan sesuatu. Menurut istilah/terminologi, haji berarti sengaja datang ke Mekah, mengunjungi Ka’bah dan tempat-tempat lainnya untuk melakukan serangkaian ibadah tertentu seperti wukuf, thawaf, sa’i dan amalan lainnya pada masa tertentu dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Perintah untuk menunaikan ibadah haji menurut riwayat turun pada tahun ke-9 Hijriah yang tercantum dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 97 “…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari semesta Alam.”

Puncak Ibadah haji adalah wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah mulai pukul 10.00 hingga pukul 15.00 waktu Arab. Semua jamaah haji harus berada di Arafah. Jika ada jamaah yang tidak berada di sana maka tidak sah hajinya, karena Rasulullah mengatakan “ haji itu di Arafah”. Seluruh jamaah haji berkumpul di Arafah dalam tenda. Yang dilakukan hanya duduk, diam, berzikir dan mendengarkan khutbah. Itulah puncak dari pelaksanaan ibadah wukuf.

Kenapa kita harus melakukan itu? Di salah satu bukit (Jabal Rahmah) di Arafah, menurut sejarah terjadi pertemuan Adam dan Hawa Alaihissalam setelah terpental dari Surga. Pertemuan itu terjadi setelah kurang lebih 200 tahun berpisah. Karena itulah Arafah merupakan tempat sangat historis dan menjadi satu dari tujuh tempat di Tanah Haram, dimana Allah akan mengabulkan do’a dan permintaan hambaNya. Tidak heran kalau para jamaah haji banyak memanjatkan do’a dan permintaan pada waktu wukuf di Arafah.

November 15, 2010

Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia

Filed under: Lain-lain — rani @ 12:40 am

Ketika para mahasiswa yang mengadakan demonstrasi untuk menggagalkan pelantikan kabinet 100 menteri di Istana Merdeka ditembaki oleh pasukan Tjakrabirawa dengan peluru tajam sehingga ada yang meninggal antaranya Arif Rachman Hakim dan Zubaedah, sejumlah sarjana ITB, Unpad, Unpar dan perguruan tinggi lain di Bandung mengadakan pertemuan. Semua yang hadir merasa tidak puas kalau membiarkan saja kesewenang-wenangan dan kekejaman terhadap para mahasiswa yang bangkit didorong oleh itikad yang luhur untuk memperjuangkan nasib rakyat seperti dirumuskan dalam Tritura. Kesimpulan pertemuan yaitu ada berbagai bentuk kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan yang merusak kehidupan rakyat, merusak Negara dan bangsa.

Kesimpulan itu menyebabkan para sarjana yang hadir dalam pertemuan itu bersepakat untuk membentuk Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI). Dalam landasan aksinya dirumuskan, tujuan aksi adalah untuk mempersatukan para sarjana dan cendekiawan guna menegakkan Kebenaran dan Keadilan sebagai dasar buat menyelesaikan kesulitan-kesulitan dalam bidang politik dan sosial-ekonomi masa kini. Pembentukan KASI di Bandung kemudian diikuti pembentukan KASI di kota-kota lain seperti Jakarta Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang, Padang, Jambi,Makassar. Denpasar, Manado dan lain-lain. Menjelang akhir tahun 1966 di bandung diselenggarakan Musyawarah Nasional KASI yang dihadiri para wakil KASI dari berbagai kota di Indonesia untuk menyelaraskan tujuan dan langkah perjuangan dalam satu kesatuan.. Dalam musyarawah itu terpilih Mashuri SH sebagai ketua dan pengurus lainnya yaitu Adnan Buyung Nasution SH, WIdowati SH, Hadeli Hasibuan SH.

Hasil rumusan keputusan musyawarah, mendukung Orde Baru dalam meruntuhkan Orde Lama. Menghimbau pemerintah agar menyadari pentingnya pendidikan dalam membangun masyarakat; menyelamatkan lembaga-lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi dari campur tangan kekuatan-kekuatan di luarnya, sebab hal itu melanggar prinsip kebebasan ilmiah dan hanya akan menyebabkan perguruan tinggi menjadi ajang pertarungan politik; mendirikan badan penelitian ilmiah yang mandiri sebagai tempat para ilmuwan melaksanakan penelitian; membangun badan pendidikan nasional yang anggotanya terdiri dari para ahli yang luas pengalamannya sedangkan Majelis Pendidikan Nasional buatan PKI harus dibubarkan.

KASI menjadi terganggu jalannya ketika ada tawaran dari Kolonel Ali Murtopo dari Opsus ( Operasi Khusus) agar para anggota kesatuan-kesatuan aksi (KAMI, KASI dan KAPPI) bersedia diangkat sebagai anggota DPR-GR atau MPRS menggantikan para anggota PKI dan yang sepaham yang dikeluarkan dari kedua lembaga itu. Terhadap tawaran ini para anggota aksi terpecah. Ada yang menerima tawaran itu dan ada yang menolak. Yang menerima menganggap kedudukan di dewan perwakilan itu adalah kelanjutan dari perjuangan politik mereka. Sedang yang menolak beranggapan perjuangan kesatuan aksi itu adalah perjuangan moral. Kalau gagasan utama menyingkirkan Sukarno yang anti demokrasi, diktatorial, dan penuh pemujaan pribadi terlaksana, maka para pejuang kesatuan aksi harus kembali kepada basisnya yang semula.

Di KAMI Jakarta perbedaan paham kelihatan antara yang menerima (a.l. Cosmas Batubara) dengan yang menolak (a.l. Arif Budiman). Di KASI Jakarta Adnan Buyung Nasution menerima tawaran itu. Di KASI Bandung yang menerima tawaran itu adalah Sulaeman Tjakrawiguna SH dan Drs. Median Sirait. Arif Budiman menyamakan peranan kesatuan aksi itu dengan koboy yang setelah menghancurkan komplotan bandit dan mengembalikan keamanan kota, lalu pergi lagi meninggalkan kota itu. (dikutip dari buku “Hidup Tanpa Ijazah” karya Ajip Rosidi)

November 14, 2010

Olok-olok tak elok bias gender

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:48 pm

Kenapa Michelle Obama Pulang duluan dan mampir ke Thailand? Karena harus segera bawa oleh-oleh sate dan bakso supaya tidak cepat basi dan mau borong rambutan di Thailand sebab di Jakarta belum musim.

Kenapa Presiden SBY menganugerahkan tanda jasa ke ibu Obama? Karena seperti kata pepatah mengatakan “hutang budi seorang perempuan harus dibalas jasa kepada perempuan juga”, maka Obama harus balas jasa dengan menyukseskan Ani SBY jadi Presiden RI 2014 – 2019 sesuai dengan program Partai Demokrat.

November 12, 2010

Olok-olok yang tidak elok 2

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:38 pm

Sebetulnya olok-olok yang tidak elok dan pantas dilongok adalah pada saat Presiden Barack Hussein Obama melakukan kunjungan kenegaraan ke Istana Merdeka yang datang pada pukul lima sore. Dengan berbagai upacara seremonial kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kecil antara kedua kepala negara dan dilanjutkan dengan petemuan yang melibatkan orang lebih besar dan terakhir melakukan siaran pers. Semuanya memakan waktu kurang lebih dua setengah jam. Itu berarti orang-orang muslim yang ada di istana Merdeka melewatkan waktu shalat fardlu magrib. Adakah ketentuan yang menyebutkan kita boleh meninggalkan shalat fardhu karena menerima tamu?

Katanya masyarakat kita sangat religius dan toleran. Atau, apakah ini bagian dari toleransi beragama, boleh meninggalkan shalat fardhu demi menghormati tamu? Olok-olok lainnya adalah ketika seorang pejabat negara pemimpin satu kementerian yang berkaitan dengan teknologi informasi dan juga kebetulan petinggi salah satu partai yang mengusung nilai-nilai religius, bersalaman dengan orang yang bukan muhrimnya, sangat lama sekali. Tapi kemudian dia mengaku bukan atas kehendaknya berbuat seperti itu. Padahal dalam rekaman video jelas sekali terlihat, siapa yang terlebih dahulu menyodorkan tangan. Persoalan ini menjadi hangat sampai mendapat perhatian dan pemberitaan di media asing. Pernyataan dan bantahan dari yang bersangkutan bukannya menjernihkan persoalan, tetapi malahan semakin menyudutkan dan lebih celakanya lagi seperti diperolok-olokan dan terkesan goblok.

Dari dua kasus di atas sebetulnya suatu ujian, bagaimana kita menerapkan kereligiusan kita dalam kehidupan sehari-hari, tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip pokok pegangan keberagamaan hanya karena demi menjunjung citra, demi nama baik. Betul kata Eep Saefullah Fatah saat diwawancarai satu stasiun televisi, Obama sangat memegang teguh kepada prinsip konstitusi negaranya, ketika dia membolehkan pembangunan mesjid di tempat dimana gedung WTC ambruk. Walaupun untuk itu dia harus membayar mahal, mendapat cercaan dari rakyatnya dan popularitasnya di mata masyarakat menurun. Tetapi pemimpin kita (kebanyakan) berbuat sebaliknya. Inilah dia olok-olok yang tidak elok, kita masih harus belajar banyak dari orang lain, yang notabene bukan seorang muslim.

Olok-olok yang tidak elok

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:46 am

Kenapa Obama mendahulukan pergi ke mesjid Istiqlal sebelum ke UI? Sebab mau shalat dhuha dulu. Kenapa dalam ceramah umum di UI Obama mengatakan “pulang kampung nih!” Sebab takut di sweeping FPI.