November 27, 2010

Identitas dan Etnisitas

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:10 pm

Siang hari ini (27/11) baru saja menghadiri pernikahan mantan mahasiswa alumni kuliah kerja nyata (K2N) UI di Pulau Miangas Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara. Dia menjadi seorang ‘model’ dalam video dokumentasi yang penulis buat, saat mewawancarai Gubernur Sulawesi Utara. Dia mendampingi Gubernur saat dilakukan wawancara sambil berjalan dari dermaga hingga ke Balai Desa di Pulau Miangas.

Mantan mahasiswa ini berayahkan orang Tionghoa sedangkan ibunya orang Jawa. Saat kecil ibunya meninggal, lalu ayahnya menikah lagi dan dia ikut dengan saudara ibunya. Bapaknya beragama Kristen sedangkan anaknya Islam. Saat menikah tadi, dinikahkan secara islam yang bertindak sebagai orang tuanya yaitu wali hakim. Tidak ada sesuatu yang aneh dalam pernikahan tersebut. Ayah dan famili dari mantan mahasiswa tadi turut hadir pula dan terlihat kontras dengan undangan lainnya karena berpakaian “encim-encim” untuk perempuannya sedangkan laki-lakinya berjas dan berdasai. Berbeda dengan family mempelai pria yang bersafari dan ada yang pakai kopiah haji segala.

Kamis lalu (25/11) sempat mengikuti kuliah umum tentang multikulturalisme yang disampaikan Ariel Heryanto, sosiolog yang tinggal di Singapura dan mengajar di salah satu perguruan tinggi Australia. Menurut pengakuannya, di KTP identitas dirinya seorang keturuan Tionghoa Indonesia. Selama ini dia mengamati perkembangan etnisitas di Indonesia, khususnya etnis Tionghoa melalui film-film yang dibuat para sutradara Indonesia. Ada beberapa hal yang menarik, bagaimana seorang Tionghoa digambarkan sangat negatif sekali seperti dalam film “Ca Bau Kan.” Atau sangat positif sekali bagaikan superhero dengan tampang kebarat-baratan seperti film “Soe Hok Gie.” Ada pula digambarkan sudah bisa berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan seperti dalam film “Arisan.”

Siapa sebenarnya yang memilah-milah identitas seseorang berdasarkan agama, kesukuan, kebangsaan sehingga dalam beberapa hal menimbulkan ketidakadilan? Sebagai contoh, di Malaysia, seorang keturuan Melayu tidak boleh pindah agama, kalau pindah agama maka dia tidak akan diakui sebagai bagian dari komunitas puak Melayu. Seorang teman yang pindah agama, dia diusir dari keluarganya, dan akhirnya sempat tinggal bersama keluarga penulis. Kekuasaanlah yang memilah dan “membelah dunia” sedemikan rupa, karena disitu ada motif ekonomi dan politik yang menguntungkan pihak penguasa. Dalam sejarah, bagaimana Pemerintah Kolonial Belanda mengelompokkan penduduk Indonesai menjadi orang Belanda, Arab dan Tionghoa serta pribumi (Indonesia) yang kemudian diadaptasi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) kita. Pengelompokkan ini juga menimbulkan stereotipe negatif di masyarakat. Karena itu tugas lembaga pendidikan tinggi dengan para warganya untuk selalu membahas dan mendiskusikan terus menerus serta meluruskan hal-hal yang tidak betul mengenai identitas dan etnisitas ini.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment