November 26, 2010

Sepanjang Jalan…Kenangan…

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:06 pm

Ketika telah selesai mengikuti ceramah yang diberikan Tarik Bukvic Dubes Bosnia Herzegovina untuk Indonesia di Kampus Salemba (24/11), seorang teman mengajak pulang bersama dengan mengendarai sepeda motor ke Depok. Saat itu waktu menunjukkan pukul 21.15 WIB. Tadinya akan memanfaatkan jasa KRL yang terakhir di Cikini pukul 22.45 WIB. Karena masih dirasa lama, maka akhirnya tawaran itu penulis terima. Hitung-hitung “napak tilas” dan memang sudah lama tidak pernah mencoba naik motor Salemba – Depok lewat Jalan Matraman.

Jalan Matraman pada suatu hari di tahun 1984, waktu itu rombongan pimpinan UI akan meninjau kampus Depok dengan mengendarai bis banpres “isuzu” yang berwarna merah putih. Lupa sopirnya siapa, tetapi tidak jauh dari lampu merah perempatan matraman-Pramuka, bis mogok tiba-tiba. Di starter berkali-kali mesin tidak hidup juga. Terpaksa sebagian penumpangnya turun dan mencoba mendorongnya. Diantara yang ikut mendorong itu adalah Djunaedi Hadisumarto, Dekan Fakultas Ekonomi. Saking bersemangatnya mendorong, sikutnya kena muka penulis. Dia minta maaf berkali kali. Terakhir bertemu dengannya di Bappenas, waktu ada kerjasama UI dengan Bappenas. Waktu diceritakan tentang peristiwa mendorong mobil banpres, dia tersenyum-seyum.

Menyusuri Jalan Oto Iskandar Dinata (otista), sebelum sampai ke gelanggang remaja Jakarta Timur, ada jalan Otista III. Waktu itu sehabis masa Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek), Beberapa mahasiswa baru masih sering bertemu untuk mempersiapkan suatu acara dengan melibatkan kepanitiaan yang berasal dari berbagai fakultas. Tempat berkumpul biasanya di rumah Aty Alamsyah (mahasiswa FHUI) di Jalan Proklamasi. Suatu malam sehabis rapat, seorang teman dari Fakultas Psikologi minta ditemani pulang ke tempat kosnya di Jalan Otista III. Malam itu hujan turun rintik-rintik, dengan menumpang kendaraan omprengan akhirnya sampai juga di Otista III, badan dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Setelah lulus, dia bekerja di Depdiknas Senayan. Kemudian dia pindah menjadi staf pengajar di fakultas Psikologi. Beberapa tahun lalu meninggal karena penyakit gula.

Sampailah di lampu merah jalan Cempedak dekat Perfini. Seberang jalan Cempedak terletak Wismarini. Dahulu kala tempat asrama putri mahasiswa UI. Hingga kini tidak ada perubahan bagian depan asrama yang berupa flat untuk para dosen. Di atas pintu gerbangnya terletak lengkungan besi yang bertuliskan wismarini. Dari depan bangunan flat kelihatan kumuh, warna catnya juga sudah memudar. Beberapa tahun lalu pernah lihat-lihat ke dalam bersama dengan crew dari Trans TV mengambil gambar suasana di asrama untuk kepentingna acara homecoming day. Beberapa bagian bangunan sudah mulai rusak, terutama ruang tamu yang ada tembok bulatnya. Tetapi aula masih utuh dan bisa dipakai untuk bermain badminton. Kamar terbagi dalam dua blok, satu untuk pria satu untuk wanita. Para mahsiswa yang tinggal di Wismarini adalah mahasiswa yang berkuliah di kampus Salemba. Pada waktu Prof. Martani menjabat sebagai Warek V UI, direncanakan asrama Wismarini akan dijadikan pusat pelatihan singkat dan kursus-kursus ketrampilan. Tetapi sampai saat ini tidak ada investor yang berminat untuk membangun gedung baru di Wismarini. Dua bulan lalu sempat mengobrol dengan seorang satpam yang bertugas di Wismarini. Dia bercerita beberapa tahun lalu, seorang Guru Besar UI yang tinggal sendiri di wismarini meninggal dunia tanpa ada yang mengetahui. Satpam inilah yang pertama kali mengetahuinya. Flat Wismarini memang suatu ironi, penghuninya turun temurun yang itu-itu saja atau yang ada kaitan keluarga. Suatu saat penulis pernah akan mendapat “hibah” menempati salah satu ruangan di flat itu. Tetapi entah kenapa, sang calon pemberi “hibah” membatalkannya. Orang baru yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan penghuni lama, jangan harap bisa menempati atau tinggal di flat Wismarini. Bahkan Pimpinan UI sekarang pun tidak bisa “membenahi” penghuni flat. Mungkin kalau ada investor yang berminat membangun, bisa dijadikan alasan untuk mempersilahkan penghuni flat pindah ke tempat lain. Memasuki jalan Condet, hujan rintik-rintik mulai turun. Sampai di Tanjung Barat hujan rintik-rintik semakin lebat. Teringat jaman ketika jalanan hanya satu jalur dipakai untuk dua arah. Paling tidak, ada empat pintu perlintasan kereta yang harus dilalui kendaraan, baik dari arah Depok maupun Pasar Minggu. Dibutuhkan waktu satu jam dari Pasar Minggu ke Depok. Tetapi kemarin, Salemba – Depok dapat ditempuh dalam waktu satu jam saja dengan kecepatan yang sedang-sedang saja juga. Hujan tetap mengguyur jalanan. Tetapi “sepanjang jalan kenangan” tidak terkikis air hujan ataupun terbawa angin lalu.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment