November 26, 2010

Kenikmatan ada Dimana-mana

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:09 pm

Ini adalah cerita perjalanan hari ini (26/11) dari pagi hingga siang hari yang sempat tercatat dan terekam dalam ingatan. Perjalanan ini mengingatkan kembali serta mengaduk-aduk memori masa lampau. Sungguh suatu hal yang tidak terduga bisa mengenang kembali peristiwa di masa lalu.

Pagi ini janjian dengan istri untuk bertemu di depan mesjid Al Azhar Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru. Dia baru mendarat dari Palu Sulawesi Tengah dan akan turun di Kebayoran untuk kemudian meneruskan kegiatan di Jalan Hang Jebat. Sementara penulis berangkat dari Depok naik KRL ke Tanah Abang, berhenti di Dukuh Atas lalu disambung naik Busway ke Kebayoran.

Di perjalanan menuju stasiun bertemu dengan mantan Ketua RW tempat tinggal penulis, dia juga sama akan menggunakan jasa KRL menuju Jakarta.”Kalau pake mobil males antri macetnya” jelasnya. Suatu kehormatan bisa jalan “ngojekin” mantan Ketua RW, mengingat sang RW ini sangat dihormati karena wibawanya dan “ketajirannya”. Walaupun sudah berusia 71 tahun, tetapi masih tampak gagah dan dendi. Beberapa kali kalau ada acara malam hiburan perayaan 17 Agustusan di lingkungan warga, dia selalu mengeluarkan dari kocek sendiri untuk konsumsinya. Ternyata HUTnya dia tidak terpaut sedikit dari tanggal 17 Agustus. Jadi malam hiburan 17 agustusan, hitung-hitung merayakan HUTnya.

Sesampainya di Mesjid Agung Al Azhar, istri belum sampai juga. Akhirnya mampir sebentar ke Mesjid untuk shalat dhuha. Tidak banyak perubahan di lingkungan mesjid. Lahan yang dahulu menjadi sekolah SMP, kini diganti dengan bangunan bertingkat menjadi kampus Universitas Al Azhar. Tempat wudhu yang terletak sebelah kiri.kanan mesjid sedang dalam perbaikan, terbuka tidak ada atapnya. Ketika sampai di lantai dua, ruangan utama mesjif, masih seperti dulu.Jendela terbuka lebar-lebar, tulisan kaligrafi didinding didominasi warna hijau dengan latar belakang tembok berwarna abu-abu tua. Karpet lantainya sekarang tebal dan empuk. Speaker yang dulu bergelantungan berbentuk balon di atas ruangan, kini diganti menjadi berbentuk segiempat. Percaya atau tidak, inilah shalat dhuha pertama kalinya di Mesjid Al Azhar setelah 31 tahun tidak pernah lagi shalat di Mesjid Al Azhar. Dahulu setiap hari Sabtu siang hingga sore hari, Al Azhar menjadi tempat “main”, karena sempat menjadi anggota Youth Islamic Studi Club (YISC) Al Azhar. Waktu itu, untuk pertama kalinya pula penulis mengetahui dan mengenal nama Jimly Ashshidiqqi, yang kemudian di UI menjadi satu angkatan Pra Jabatan menjadi PNS.

Ketika mau melihat-lihat aula di lantai bawah Mesjid dimana dahulu menjadi tempat untuk kuliah umum, ternyata sudah ditata sedemikian rupa. Rupanya sedang dipersiapkan untuk acara pernikahan. Ketika ditanyakan kepada petugas, siapa yang manu menikah, katanya anak Mar’ie Muhammad, mantan menteri keuangan. Presiden SBY akan hadir pada acara pernikahan itu. Mar’ie Muhammad ini kalau tidak silap salah bersama mantan Rektor UI (alm) Prof.Dr. Sujudi menjadi Dewan Penyantun atau pengurus Yayasan Pendidikan Islam (YPI) yang menaungi Mesjid dan sekolah SD/SMP/SLA/PT Al Azhar. Ety Istri Mar’ie Muhammad adalah alumni Notariat FHUI. Waktu Wisuda sempat memesan foto dengan memakai toga. Tetapi kemudian tidak pernah diambil ke Kampus Depok (waktu itu Mar’ie Muhammad belum menjadi Menteri). Akhirnya terpaksa penulis mengantarkan ke rumah Mar’ie Muhammad di bilangan Kebayoran.

Dari Al Azhar, perjalanan diteruskan ke Kota, untuk “mengejar” KRL yang menuju ke depok. Ada dua pilihan, naik KRL AC tampi waktunya agak siang, atau KRL biasa yang panas dan pengap tetapi berangkat terlebih dahulu daripada KRL AC. Akhirnya memilih naik KRL biasa. Seperti biasa, gerbong KRL dipenuhi dengan pedagang asongan dan peminta-minta/pengamen. Seorang pengamen buta memainkan alat music biola sangat menarik perhatian. Penulis sering lihat pengamen biola itu beberapa tahun lalu. Tetapi kali ini permainan biolanya sangat berbeda dari yang lalu. Terkadang dia gesek dua dawai sekaligus yang menimbulkan suara yang lain dari biasanya.Lagu yang dibawakan pun beragam, Mulai dari pop hingga lagu “pupujian” yang biasa dinyanyikan para santri di Pesantren. Penulis jadi ingat pemusik jalanan Klanting yang menjuarai Indonesia Mencari Bakat (IMB) di Trans TV. Kenapa pemusik buta pemain biola ini tidak ditampilkan di Jazz Goes To Campus (JGTC) UI yang akan digelar 28 November ini? Tinggal dipoles dan dilatih sedikit, langsung ditampilkan.Kalau saja panitia JGTC UI berkreasi sedikit dengan menampilkan pemusik jalanan (yang layak untuk ditampilkan), mungkin suasananya akan lain. Sebab ternyatamenurut Ariel Heryanto, sosiolog yang tinggal di Singapura, yang kemarin ceramah di FIB UI, acara pertunjukkan jazz di Indonesia tercatat sebagai pertunjukkan yang paling banyak ditonton orang di seluruh dunia.

Itulah sekilas yang penulis rasakan sebagai suatu kenikmatan. Tulisan ini hanyalah sebagian kecil saja dari kenikmatan yang begitu banyaknya yang tidak bisa semuanya dituliskan. Kalaulah boleh berkomentar, kenikmatan itu sebetulnya ada dimana-mana, tergantung bagaimana sikap mental kita dalam melihat realitas di sekeliling kita. Penulis sangat yakin kalau dikatakan, jika lautan dijadikan tinta dan ranting dijadikan pena untuk menuliskan kenikmatan yang kita rasakan, tidak akan cukup untuk menuliskan semua ni’mat Allah. Maka, ni’mat dan karunia Tuhan Manakah yang kamu dustakan?

Sepanjang Jalan…Kenangan…

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:06 pm

Ketika telah selesai mengikuti ceramah yang diberikan Tarik Bukvic Dubes Bosnia Herzegovina untuk Indonesia di Kampus Salemba (24/11), seorang teman mengajak pulang bersama dengan mengendarai sepeda motor ke Depok. Saat itu waktu menunjukkan pukul 21.15 WIB. Tadinya akan memanfaatkan jasa KRL yang terakhir di Cikini pukul 22.45 WIB. Karena masih dirasa lama, maka akhirnya tawaran itu penulis terima. Hitung-hitung “napak tilas” dan memang sudah lama tidak pernah mencoba naik motor Salemba – Depok lewat Jalan Matraman.

Jalan Matraman pada suatu hari di tahun 1984, waktu itu rombongan pimpinan UI akan meninjau kampus Depok dengan mengendarai bis banpres “isuzu” yang berwarna merah putih. Lupa sopirnya siapa, tetapi tidak jauh dari lampu merah perempatan matraman-Pramuka, bis mogok tiba-tiba. Di starter berkali-kali mesin tidak hidup juga. Terpaksa sebagian penumpangnya turun dan mencoba mendorongnya. Diantara yang ikut mendorong itu adalah Djunaedi Hadisumarto, Dekan Fakultas Ekonomi. Saking bersemangatnya mendorong, sikutnya kena muka penulis. Dia minta maaf berkali kali. Terakhir bertemu dengannya di Bappenas, waktu ada kerjasama UI dengan Bappenas. Waktu diceritakan tentang peristiwa mendorong mobil banpres, dia tersenyum-seyum.

Menyusuri Jalan Oto Iskandar Dinata (otista), sebelum sampai ke gelanggang remaja Jakarta Timur, ada jalan Otista III. Waktu itu sehabis masa Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek), Beberapa mahasiswa baru masih sering bertemu untuk mempersiapkan suatu acara dengan melibatkan kepanitiaan yang berasal dari berbagai fakultas. Tempat berkumpul biasanya di rumah Aty Alamsyah (mahasiswa FHUI) di Jalan Proklamasi. Suatu malam sehabis rapat, seorang teman dari Fakultas Psikologi minta ditemani pulang ke tempat kosnya di Jalan Otista III. Malam itu hujan turun rintik-rintik, dengan menumpang kendaraan omprengan akhirnya sampai juga di Otista III, badan dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Setelah lulus, dia bekerja di Depdiknas Senayan. Kemudian dia pindah menjadi staf pengajar di fakultas Psikologi. Beberapa tahun lalu meninggal karena penyakit gula.

Sampailah di lampu merah jalan Cempedak dekat Perfini. Seberang jalan Cempedak terletak Wismarini. Dahulu kala tempat asrama putri mahasiswa UI. Hingga kini tidak ada perubahan bagian depan asrama yang berupa flat untuk para dosen. Di atas pintu gerbangnya terletak lengkungan besi yang bertuliskan wismarini. Dari depan bangunan flat kelihatan kumuh, warna catnya juga sudah memudar. Beberapa tahun lalu pernah lihat-lihat ke dalam bersama dengan crew dari Trans TV mengambil gambar suasana di asrama untuk kepentingna acara homecoming day. Beberapa bagian bangunan sudah mulai rusak, terutama ruang tamu yang ada tembok bulatnya. Tetapi aula masih utuh dan bisa dipakai untuk bermain badminton. Kamar terbagi dalam dua blok, satu untuk pria satu untuk wanita. Para mahsiswa yang tinggal di Wismarini adalah mahasiswa yang berkuliah di kampus Salemba. Pada waktu Prof. Martani menjabat sebagai Warek V UI, direncanakan asrama Wismarini akan dijadikan pusat pelatihan singkat dan kursus-kursus ketrampilan. Tetapi sampai saat ini tidak ada investor yang berminat untuk membangun gedung baru di Wismarini. Dua bulan lalu sempat mengobrol dengan seorang satpam yang bertugas di Wismarini. Dia bercerita beberapa tahun lalu, seorang Guru Besar UI yang tinggal sendiri di wismarini meninggal dunia tanpa ada yang mengetahui. Satpam inilah yang pertama kali mengetahuinya. Flat Wismarini memang suatu ironi, penghuninya turun temurun yang itu-itu saja atau yang ada kaitan keluarga. Suatu saat penulis pernah akan mendapat “hibah” menempati salah satu ruangan di flat itu. Tetapi entah kenapa, sang calon pemberi “hibah” membatalkannya. Orang baru yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan penghuni lama, jangan harap bisa menempati atau tinggal di flat Wismarini. Bahkan Pimpinan UI sekarang pun tidak bisa “membenahi” penghuni flat. Mungkin kalau ada investor yang berminat membangun, bisa dijadikan alasan untuk mempersilahkan penghuni flat pindah ke tempat lain. Memasuki jalan Condet, hujan rintik-rintik mulai turun. Sampai di Tanjung Barat hujan rintik-rintik semakin lebat. Teringat jaman ketika jalanan hanya satu jalur dipakai untuk dua arah. Paling tidak, ada empat pintu perlintasan kereta yang harus dilalui kendaraan, baik dari arah Depok maupun Pasar Minggu. Dibutuhkan waktu satu jam dari Pasar Minggu ke Depok. Tetapi kemarin, Salemba – Depok dapat ditempuh dalam waktu satu jam saja dengan kecepatan yang sedang-sedang saja juga. Hujan tetap mengguyur jalanan. Tetapi “sepanjang jalan kenangan” tidak terkikis air hujan ataupun terbawa angin lalu.