November 25, 2010

Bertemu dengan Ramzy Tadjudin

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:07 pm

Kemarin malam (24/11) menghadiri ceramah umum yang disampaikan Dubes Bosnia Herzegovinauntuk Indonesia di Gedung IASTH Kampus Salemba Jakarta. Ceramah yang disiarkan secara online ke Univrsitas Riau dan Universitas Hasanuddin dan juga Universitas Al Azhar Indonesia di Jakarta ini diprakarsai oleh Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Program Pascasarjana UI. Bertindak sebagai moderator Drs. Ramzy Tadjudin, MPA. Suatu hal yang tidak terduga, karena sudah lama tidak bertemu. Masih seperti dulu, brangasan, ceplas ceplos dan terkesan merasa yang paling betul. Beberapa penanya dari pendengar, tidak segan-segan dipotongnya, atau dikomentari yang bernada melecehkan, seperti yang dialami penanya dari Universitas Riau.

Awal tahun 1990 an, saat berdiri Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia dia adalah salah seorang perintis sekaligus Direktur yang pertama. Seiring dengan perkembangan jaman dan minat yang tinggi dari masyarakat, akhirnya pusat kajian itu berubah menjadi Program Studi Pasca Sarjana UI, sebagai suatu program lintas disiplin ilmu dan berada dibawah naungan Program pascasarjana UI. Konon katanya, masih ada hubungan famili dengan Rektor UI terdahulu Prof.dr.M.K. Tadjudin. Setelah tidak menjabat sebagai Kepala program studi, tidak pernah kelihatan lagi “wara wiri” ke Pusat Administarasi Universitas (rektorat).

Pada tahun 1980-an, saat baru kuliah di FISIP kampus Rawamangun, kalau tidak silap Ramzy Tadjudin menjabat sebagai Wakil Dekan II bidang Administrasi Umum dan Keuangan. Waktu itu penulis membuat satu puisi yang diberikan kepada senior dan tidak disangka puisi itu dipajang di papan pengumuman Senat Mahasiswa. Saat itu, hubungan senat mahasiswa dengan pimpinan fakultas dalam situasi tidak harmonis, sehubungan dengan kasus seminar dan pameran buku dari Pusat Kebudayaan Rusia, dimana dalam pameran itu dipajang buku-buku Marxis. Pada seminar tersebut diundang sebagai salah seorang pembicara Pramudya Ananta T. Waktu itu Ramzy Tadjudin memeriksa papan pengumuman Senat Mahasiswa dan melihat ada puisi penulis. Kebetulan penulis ada di dekat situ. Selesai membaca puisi itu, Ramzy Tadjudin langsung mengambil puisi itu dan dirobek-robeknya.

Kemarin malam belum sempat mengobrol atau saling menyapa. Tadinya mau menanyakan, apakah dia masih ingat peristiwa seminar dan pameran buku-buku marxis yang “menghebohkan” itu.

Pertamina yang Berubah Makin ramah dan Pemurah

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:54 am

Selain minyak dan gas, ketika disebut kata Pertamina, apa yang terbayang dalam pikiran? Kalau ditanya kepada penulis, maka yang terpikir adalah Ibnu Sutowo, Pattiasina petinggi Pertamina yang menikah dengan model top (waktu itu)Yeti Mukim, hotel Patra Jasa, rumah sakit, perumahan mewah dan Mochtar Lubis dengan Harian Indonesia Rayanya. Nama orang dan media yang disebut terakhir adalah yang pertama kali memberitakan adanya korupsi dan salah urus dalam tubuh pertamina di tahun 1970 an.

Selama ini memang tidak pernah ‘bersentuhan’ secara intensif dengan lembaga tersebut, kecuali kalau membeli BBM di SPBU Baru ketika ada acara Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Indonesia (OSN PTI) ketiga yang berlangsung sejak September lalu yang kemudian disambung pada awal November baru-baru ini, dimana peserta yang ikut mencapai 13 ribuan orang dan setelah melalui proses penyaringan akhirnya dijaring 132 peserta yang masuk final dari 33 propinsi di Indonesia,yang mengikuti lomba bidang ilmu Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Para finalis itu selama kegiatan berlangsung diasramakan dan tinggal di Pusat latihan Pertamina (PLC) Simprug Jakarta Barat.Dalam kegiatan itu bisa mengenal secara lebih dekat dengan sosok Pertamina. Pertama dengan para petingginya yang masih muda dan tidak berkesan glamour, ‘flamboyan’ atau bermuka angker. Kedua semangat perubahan terasa kental sekali di jajaran para pegawainya mulai dari tingkat atas hingga kepada tingkat yang paling bawah.

Dalam kunjungan melihat-lihat produk yang dihasilkan pertamina mulai dari depo BBM di Plumpang, gas dan minyak pelumas di Priok, para mahasiswa peserta OSN PTI mendapat pelayanan yang sangat baik dan ramah dari semua jajaran pegawai pertamina. Para pegawai Pertamina dengan sabar menjelaskan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan proses produk-produk olahan yang dilakukan. Seorang pegawai yang baru bekerja belum setahun di Pertamina menceritakan, bagaimana dia melamar pekerjaan, mengikuti seleksi pegawai tanpa harus mengeluarkan uang pelicin dan “katebelece”. Perubahan drastis terjadi setelah dikeluarkan Undang-Undang Migas tahun 2002. Manajemen dan kinerja terus menerus diperbaiki dan sekarang sudah mulai menampakkan hasilnya. Beberapa produk Pertamina seperti minyak pelumas sudah go internasional. Saat ini Pertamina masih menjadi salah satu perusahaan BUMN yang menjadi andalan bagi penyumbang terbesar pada APBN. Menurut berita di salah satu stasiun televisi, tahun lalu saja berhasil membukukan keuntungan sebesar 16 Trilyun Rupiah. Tahun depan pemerintah mengharapkan Pertamina dapat membukukan keuntungan sebesar 25 Trilyun. Tetapi Pertamina merasa sangat sulit dan hanya sanggup mencapai di bawah 20 trilyun rupiah.

Maka tidak heran kalau dalam penyelenggaraan OSN PTI ini, para peserta dimanjakan dengan berbagai hadiah. Juara I, II dan III untuk empat bidang ilmu mendapat hadiah uang masing-masing sebesar 10 juta, 8,5 juta dan 6,5 juta. Empat mahasiswa UI masuk finalis keempat kategori itu. Dua kategori diantaranya, juara satunya diraih mahasiswa FMIPA UI. Perguruan tinggi yang wakilnya meraih juara di tingkat nasional mendapat uang pembinaan sebesar antara 25 hingga 75 juta. Bahkan untuk juara-juara di tingkat provinsi pun mendapat hadiah uang juta. Total uang yang disediakan hanya untuk hadiah saja mencapai 2,7 milyar. Hal ini menjadi catatan tersendiri, karena belum pernah ada suatu perusahaan yang menyediakan uang hadiah sedemikian besar.

Namun demikian Pertamina juga mendapat keuntungan dalam hal penanaman citra kepada generasi muda. Selain akan menjadi konsumen yang potensial untuk produk-produk Pertamina,j uga mendapatkan hasil ide-ide orsinal dari mahasiswa dalam memecahkan permasalahan yang (akan) dihadapi Pertamina. Juga dapat mencari bibit unggul SDM mengelola Pertamina di masa mendatang. Seorang teman yang bekerja di Pertamina merasa senang juga ketika melihat para peserta OSN PTI ini datang dari berbagai penjuru di Indonesia. Karena dengan demikian “keuntungan” yang didapat Pertamina dapat juga dinikmati oleh kelompok terdidik dari seluruh pelosok tanah air. Ambisi pihak Pertamina seperti yang diutarakan Direktur SDM Pertamina Rukmi Hadihartini, menginginkan arena OSN PTI ini digandrungi oleh kalangan generasi muda Indonesia, seperti halnya para remaja berbondong-bondong mendafarkan diri untuk mengikuti “Indonersia Idol”. Karena hanya bangsa yang generasi mudanya mencintai ilmu pengetahuan alam yang akan menjadi bangsa yang maju.

Tetapi kalau dibandingkan dengan Perusahaan minyak Malaysia Petronas, hanya dalam jangka waktu 30 tahun saja sudah bisa ikut dalam percaturan global, Pertamina ketinggalan duapuluh tahun karena “salah urus” pada awal-awal berdirinya dan menjadi “sapi perahan” pihak penguasa saat “booming minyak’ pada tahun 1970 an. Biarlah masa lalu berlalu. Ke depan, bagaimana Pertamina bisa menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Kita untung, bangsa pun untung.