November 20, 2010

Antara Ibadah Personal dan Ibadah Sosial

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:39 pm

Nyaris luput dari perhatian orang, ternyata ibadah haji yang dilakukan secara perorangan dengan biaya yang tidak sedikit itu, mempunyai makna sebagai suatu ibadah sosial dan mengajarkan bagaimana kita harus rela berqurban atau mengorbankan apa yang kita cintai dengan penuh keikhlasan semata-mata mengharapkan keridoan dan memupuk kecintaan dan keimanan kita kepada Allah.

Ibrahim mengajarkan kepada kita, bagaimana dia harus rela menyembelih Ismail, anak yang diidam-idamkan dan hanya semata wayang itu. Tengoklah bagaimana saat Ismail dilahirkan, Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya di tengah padang pasir tandus tiada berair. Resapi pula bagaimana pergumulan batin Ibrahim, ketika dalam mimpi-mimpinya dia diharuskan untuk “menghabisi” nyawa anaknya dan kemudian syetan dengan berbagai tipu dayanya membujuk Ibrahim untuk tidak melaksanakan perintah Allah. Tetapi sungguh mencengangkan saat diceritakan kepada Ismail, ternyata direspon supaya segera melaksanakan amanat yang tersirat dalam mimpinya itu.

Ketika kita melaksanakan seperti yang dilakukan Ibrahim, yaitu dengan menyediakan khewan untuk dijadikan qurban, sesungguhnya melaksanakan satu perintah yang bersifat ibadah personal. Namun ternyata manfaat dari berqurban itu dirasakan oleh kalangan masyarakat yang mendapat pembagian daging khewan qurban tersebut. Kalaulah setiap keluarga yang telah melakukan ibadah haji ataupun keluarga yang mampu, setiap tahunnya melakukan qurban, berapa banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaat dari qurban tersebut? Inilah sebetulnya hakekat dari berqurban itu, menjadi ibadah sosial yang dapat menyejahterakan masyarakat.

Bandingkan dengan Gayus Tambunan. Sebagai abdi Negara dia harus melayani masyarakat dalam hal perpajakan. Pekerjaannya termasuk dalam kategori ibadah sosial. Rupanya Gayus pun selalu dihantui dengan mimpi-mimpinya tentang keadaan sosial ekonomi keluarganya yang memprihatinkan. Ia ingin mengubah nasib, Gayus mendapat bisikan syaiton untuk mengorbankan ibadah sosialnya. Yaitu dengan cara mencari keuntungan secara personal dengan membantu perusahaan-perusahaan besar untuk “mengemplang” pajak, yang akhirnya justru merugikan Negara. Alih-alih pajak yang harusnya untuk menyejahterakan masyarakat menjadi berkurang yang terjadi kemudian justru “menyejahterakan” Gayus. Inilah barangkali namanya ibadah sosial menghasilkan keuntungan secara personal. Hanya sesaat saja dia mendapatkan kesenangan, saat berikutnya dia dikategorikan sebagai abdi Negara yang sesat. Kini tinggal meratap dan menunggu saat-saat vonis mendekat.