November 17, 2010

Pengalaman Berhaji yang Unik

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:33 pm

Sebagai seorang Islam tentulah berkeinginan untuk dapat melaksanakan rukun Islam yang kelima, menunaikan ibadah haji ke Tanah Haram. Selain untuk napak tilas dan mengenang perjuangan para nabi Allah, juga dalam upaya mempertebal keimanan kepada Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Walaupun kewajiban berhaji cukup sekali saja, tetapi dari komentar orang-orang yang sudah melaksanakan ibadah haji, semuanya berkeinginan untuk pergi berhaji lagi atau paling tidak melakukan umrah, berhaji tanpa wukuf di Arafah. Dorongan gaib ini (ingin pergi ke tanah suci lagi) sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan alasannya. Orang boleh-boleh saja mengatakan sudah berkeliling dunia, mengunjungi berbagai tempat yang mengesankan di berbagai Negara, tetapi kenikmatan berhaji sangat berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman melancong. Karena dalam melaksanakan ibadah haji, kita merasa sangat dekat dengan Al Khalik, setiap saat bisa shalat dihadapan Ka’bah (di mesjidil haram), atau bisa berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Alhamdulillah penulis bersama istri dapat melaksanakan ibadah haji pada tahun 2008, tahun transisi dalam hal pengaturan para jamaah haji Indonesia. Karena setelah tahun tersebut, aturan diperketat, mendahulukan calon jamaah haji yang berusia sudah lanjut, diberlakukan sistem kuota yang ketat berapa orang jamaah haji yang diperbolehkan berangkat dari satu ibukota kabupaten/kotamadya dan ongkos haji yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2007 membuka tabungan haji di Bank BNI, tahun 2008 sudah mendapat panggilan untuk segera melunasi. Itu pun sudah mendekati tahap-tahap akhir penutupan, karena ternyata ada calon jamaah haji yang sampai batas waktu belum juga dapat melunasi ongkos naik haji.

Karena keberangkatan termasuk dalam kloter-kloter terakhir, maka rombongan langsung menuju Mekah. Tempat menginap di hotel Al Alam di jalan Ummul Quro yang hanya berjarak 700 meter saja dari masjidil haram. Pemilik hotel berzanar, kalau hotelnya menjadi tempat menginap calon jamaah haji Indonesia, maka akan disediakan makanan gratis selama tinggal di Mekkah. Jumlah jamaah haji yang mendapat makan gratis di hotel tersebut sebanyak 300 an orang. Selama 25 hari tinggal di Mekah mendapat makan 3 kali sehari gratis. Yang lebih beruntung lagi, ternyata beberapa pegawai hotel tersebut berasal dari Indonesia. Dan luar biasanya lagi, pemilik hotel membolehkan jamaah haji Indonesia, khsususnya kepada rombongan haji penulis untuk menentukan menu makan pagi dan memasak sendiri. Maka jadilah setiap pagi secara sukarela kelompok haji dimana penulis bergabung menjadi “tukang masak’ dadakan bagi 300jamaah haji. Biasanya membuat bubur nasi, bubur kacang ijo atau nasi goreng. Ketika akan meninggalkan Mekan menuju Madinah, pemilik hotel memberikan bingkisan kurma kepada setiap jamaah haji Indonesia yang menginap di hotelnya. Usut punya usut, kok baik benar pemilik hotel itu kepada jamaah haji Indonesia. Ternyata yang punya hotel pernah mempunyai istri orang Cianjur dan pernah tinggal di Indonesia. Walaupun kini sudah bercerai dengan Istri asal Cianjur, tetapi secara berkala masih datang ke Indonesia, berbelanja untuk keperluan hotelnya.