November 15, 2010

Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia

Filed under: Lain-lain — rani @ 12:40 am

Ketika para mahasiswa yang mengadakan demonstrasi untuk menggagalkan pelantikan kabinet 100 menteri di Istana Merdeka ditembaki oleh pasukan Tjakrabirawa dengan peluru tajam sehingga ada yang meninggal antaranya Arif Rachman Hakim dan Zubaedah, sejumlah sarjana ITB, Unpad, Unpar dan perguruan tinggi lain di Bandung mengadakan pertemuan. Semua yang hadir merasa tidak puas kalau membiarkan saja kesewenang-wenangan dan kekejaman terhadap para mahasiswa yang bangkit didorong oleh itikad yang luhur untuk memperjuangkan nasib rakyat seperti dirumuskan dalam Tritura. Kesimpulan pertemuan yaitu ada berbagai bentuk kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan yang merusak kehidupan rakyat, merusak Negara dan bangsa.

Kesimpulan itu menyebabkan para sarjana yang hadir dalam pertemuan itu bersepakat untuk membentuk Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI). Dalam landasan aksinya dirumuskan, tujuan aksi adalah untuk mempersatukan para sarjana dan cendekiawan guna menegakkan Kebenaran dan Keadilan sebagai dasar buat menyelesaikan kesulitan-kesulitan dalam bidang politik dan sosial-ekonomi masa kini. Pembentukan KASI di Bandung kemudian diikuti pembentukan KASI di kota-kota lain seperti Jakarta Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang, Padang, Jambi,Makassar. Denpasar, Manado dan lain-lain. Menjelang akhir tahun 1966 di bandung diselenggarakan Musyawarah Nasional KASI yang dihadiri para wakil KASI dari berbagai kota di Indonesia untuk menyelaraskan tujuan dan langkah perjuangan dalam satu kesatuan.. Dalam musyarawah itu terpilih Mashuri SH sebagai ketua dan pengurus lainnya yaitu Adnan Buyung Nasution SH, WIdowati SH, Hadeli Hasibuan SH.

Hasil rumusan keputusan musyawarah, mendukung Orde Baru dalam meruntuhkan Orde Lama. Menghimbau pemerintah agar menyadari pentingnya pendidikan dalam membangun masyarakat; menyelamatkan lembaga-lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi dari campur tangan kekuatan-kekuatan di luarnya, sebab hal itu melanggar prinsip kebebasan ilmiah dan hanya akan menyebabkan perguruan tinggi menjadi ajang pertarungan politik; mendirikan badan penelitian ilmiah yang mandiri sebagai tempat para ilmuwan melaksanakan penelitian; membangun badan pendidikan nasional yang anggotanya terdiri dari para ahli yang luas pengalamannya sedangkan Majelis Pendidikan Nasional buatan PKI harus dibubarkan.

KASI menjadi terganggu jalannya ketika ada tawaran dari Kolonel Ali Murtopo dari Opsus ( Operasi Khusus) agar para anggota kesatuan-kesatuan aksi (KAMI, KASI dan KAPPI) bersedia diangkat sebagai anggota DPR-GR atau MPRS menggantikan para anggota PKI dan yang sepaham yang dikeluarkan dari kedua lembaga itu. Terhadap tawaran ini para anggota aksi terpecah. Ada yang menerima tawaran itu dan ada yang menolak. Yang menerima menganggap kedudukan di dewan perwakilan itu adalah kelanjutan dari perjuangan politik mereka. Sedang yang menolak beranggapan perjuangan kesatuan aksi itu adalah perjuangan moral. Kalau gagasan utama menyingkirkan Sukarno yang anti demokrasi, diktatorial, dan penuh pemujaan pribadi terlaksana, maka para pejuang kesatuan aksi harus kembali kepada basisnya yang semula.

Di KAMI Jakarta perbedaan paham kelihatan antara yang menerima (a.l. Cosmas Batubara) dengan yang menolak (a.l. Arif Budiman). Di KASI Jakarta Adnan Buyung Nasution menerima tawaran itu. Di KASI Bandung yang menerima tawaran itu adalah Sulaeman Tjakrawiguna SH dan Drs. Median Sirait. Arif Budiman menyamakan peranan kesatuan aksi itu dengan koboy yang setelah menghancurkan komplotan bandit dan mengembalikan keamanan kota, lalu pergi lagi meninggalkan kota itu. (dikutip dari buku “Hidup Tanpa Ijazah” karya Ajip Rosidi)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment