November 30, 2010

KORPRI..oh..KORPRI

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:16 am

Bulan November ini biasanya diperingati hari Ulang tahun Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) dan tahun inimenginjak yang ke-39 . Beberapa institusi pemerintahan ada yang memperingatinya antara tanggal 25 hingga 29 November dengan berbagai kegiatan seperti upacara bendera, olahraga/gerak jalan dan sebagainya. KORPRI yang lahir tanggal 29 November 1971 mengemban tiga tugas utama yaitu sebagai abdi Negara, abdi masyarakat dan abdi pemerintahan. Organisasi yang mewadahi para Pegawai Negeri Sipil (PNS), saat ini telah tampil sebagai organisasi yang profesional dan makin mandiri.

Sepuluh tahun lalu, Di UI setiap kali seorang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) apakah itu dari kalangan staf pengajar atau tenaga administratif akan diangkat sebagai PNS penuh, diharuskan mengikuti pelatihan yang dinamakan Latihan Pra-Jabatan selama kurang lebih dua minggu. Materi yang diberikan meliputi Pemahaman tentang Pancasila dan UUD 1945, Perkantoran, Teknik mengajar atau Pra-AA, Protokol dan Kehumasan, Sejarah dan Perkembangan UI, Litsus dan sebagainya. Semua staf pengajar dan staf administrasi dari berbagai fakultas, pusat administrasi dan kelembagaan yang ada di UI, dikumpulkan berbaur menjadi satu, sehingga satu sama lain saling mengenal. Dua minggu hingga satu bulan kemudian diumumkan siapa saja yang lulus dan kemudian dilakukan angkat sumpah secara bersama-sama dan penandatanganan naskah berita acara angkat sumpah. Setelah itu maka resmilah menjadi PNS. Gaji yang tadinya sebagai CPNS 80 %, setelah angkat sumpah menjadi 100%.

Ada cerita lain, seorang teman sewaktu mengisi kuesioner yang berkaitan dengan litsus (penelitian khusus) dia menjawab sekenanya dan menyebut-nyebut salah satu organisasi terlarang. Waktu pengumuman kelulusan, ternyata namanya tidak tercantum. Terpaksa dia ikut Latihan Prajabatan tahun berikutnya. Kini dia sudah menjadi Profesor dan sudah mendapat satya Lencana Karya Satya 20 tahun. Tapi dia tidak hadir pada waktu upacara pemberian penghargaan tersebut. Seorang seperti Prof. Rhenald Kasali, Ph.D merasa bangga dengan ke-PNS-annya. Dia mengaku berkat PNS lah dia menjadi seperti sekarang ini. Dr. Terry Mart Dosen Fisika FMIPA UI, penulis paling produktif di jurnal ilmiah internasional, merasa bangga difoto dengan memeluk piagam penghargaan Karya Satya serta medali yang tersemat didadanya.

Sejak sepuluh tahun lalu, menjelang keruntuhan Orde Baru lembaga ini “digugat” tidak netral dan tidak profesional. Pada suatu demonstrasi di Kampus Salemba tahun 1998, seorang staf pengajar muda dari salah satu fakultas di Kampus Salemba secara demonstratif mencopot baju Korpri yang dikenakannya. Pada tahun 2000 UI yang memasuki era Badan Hukum Milik Negara (BHMN), pimpinan UI melakukan kebijakan tidak lagi melakukan rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) tetapi merekrutmen dan menggaji sendiri pegawai UI non-PNS. Sementara perguruan tinggi BHMN lainnya, masih tetap menerima pegawai CPNS setiap tahunnya. Baru tiga tahun belakangan ini, UI mengajukan formasi CPNS kembali kepada Kementerian Pendidikan Nasional. Dan ternyata peminatnya sangat banyak.

Tetapi rupanya di UI sudah terlanjur menganut pola rekrutmen pegawai sendiri dan kemudian melakukan pola pengaturan pengembangan SDM dan kesejahteraan antara PNS dan non-PNS yang lebih berkeadilan. Tetapi apa lacur, Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP), yang berarti perguruan tinggi negeri BHMN statusnya sama dengan perguruan tinggi lainnya, tidak ada lagi keistimewaan dalam hal penerimaan dan pencaharian dana , harus dilaporkan semuanya ke pihak Kementeriaan Keuangan. Padahal dalam hal pencarian sumber-sumber pendanaan inilah sebetulnya dapat dilihat keunggulan satu perguruan tinggi dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya.

November 29, 2010

Kid’s On The Bloc

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:46 am

Hari Minggu (28/11) mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) di Kampus Depok menggelar acara Jazz Goes To Campus (JGTC) ke-33, yang konon katanya mendapat dukungan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. JGTC ini sudah masuk dalam kalender acara pertunjukkan musik jazz setiap tahunnya, yang mendapat perhatian tidak saja dari masyarakat Indonesia tetapi juga dari para pencinta musik dan musisi dari luar negeri. Sehingga tidak mengherankan kalau JGTC ini dibanjiri sampai ribuan bahkan puluhan ribu penonton.

Rabu malam lalu (24/11) penulis baru saja melewati taman FEUI di Kampus Salemba Jakarta. Di tengah taman berdiri kokoh pohon beringin yang rimbun dengan dedaunan dan akarnya menancap ke bumi. Di sisi taman terdapat ruangan kelas-kelas perkuliahan masih seperti dulu, dengan jendela kaca kotak-kotaknya, tetapi cat daun jendela kini berwarna abu-abu (dulu berwarna kuning) sesuai dengan warna lambang FE UI. Di taman inilah untuk pertama kalinya JGTC digelar dengan penonton yang jumlahnya hanya ratusan orang saja, karena tempatnya yang sempit.

Dekan FE sekarang ini Prof.Firmanzah,Ph.D (34), yang baru menjabat kurang dari setahun, di kalangan dekan fakultas di lingkungan UI, paling muda usianya dan juga Guru Besar pertama yang dikukuhkan dari kalangan staf pengajar, jalur rekrutmen UI BHMN (Badan Hukum Milik Negara). “Jam terbang” nya juga masih terbilang baru sebagai pimpinan suatu institusi. Jadi bisa dimaklumi kalau dalam “mengemudikan” fakultas agak terseok-seok. Karena itu, maka para dekan fakultas lainnya memberikan julukan “Kid’s On The Bloc”.

Tetapi walaupun begitu, sewaktu Prof.Firmanzah, Ph.D menjabat Kepala Kantor Komunikasi UI (sebelum menjadi Dekan FE), punya peranan cukup besar. Atas usahanya, Dr. Mooryati Soedibyo, mantan mahasiswa S3 Bimbingannya, menyumbangkan seperangkat peralatan audio visual yang sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan dokumentasi. Sementara usulan anggaran pembelian peralatan dokumentasi yang sudah diajukan ke UI, tidak kunjung terealisir juga.

November 27, 2010

Identitas dan Etnisitas

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:10 pm

Siang hari ini (27/11) baru saja menghadiri pernikahan mantan mahasiswa alumni kuliah kerja nyata (K2N) UI di Pulau Miangas Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara. Dia menjadi seorang ‘model’ dalam video dokumentasi yang penulis buat, saat mewawancarai Gubernur Sulawesi Utara. Dia mendampingi Gubernur saat dilakukan wawancara sambil berjalan dari dermaga hingga ke Balai Desa di Pulau Miangas.

Mantan mahasiswa ini berayahkan orang Tionghoa sedangkan ibunya orang Jawa. Saat kecil ibunya meninggal, lalu ayahnya menikah lagi dan dia ikut dengan saudara ibunya. Bapaknya beragama Kristen sedangkan anaknya Islam. Saat menikah tadi, dinikahkan secara islam yang bertindak sebagai orang tuanya yaitu wali hakim. Tidak ada sesuatu yang aneh dalam pernikahan tersebut. Ayah dan famili dari mantan mahasiswa tadi turut hadir pula dan terlihat kontras dengan undangan lainnya karena berpakaian “encim-encim” untuk perempuannya sedangkan laki-lakinya berjas dan berdasai. Berbeda dengan family mempelai pria yang bersafari dan ada yang pakai kopiah haji segala.

Kamis lalu (25/11) sempat mengikuti kuliah umum tentang multikulturalisme yang disampaikan Ariel Heryanto, sosiolog yang tinggal di Singapura dan mengajar di salah satu perguruan tinggi Australia. Menurut pengakuannya, di KTP identitas dirinya seorang keturuan Tionghoa Indonesia. Selama ini dia mengamati perkembangan etnisitas di Indonesia, khususnya etnis Tionghoa melalui film-film yang dibuat para sutradara Indonesia. Ada beberapa hal yang menarik, bagaimana seorang Tionghoa digambarkan sangat negatif sekali seperti dalam film “Ca Bau Kan.” Atau sangat positif sekali bagaikan superhero dengan tampang kebarat-baratan seperti film “Soe Hok Gie.” Ada pula digambarkan sudah bisa berbaur dan beradaptasi dengan lingkungan seperti dalam film “Arisan.”

Siapa sebenarnya yang memilah-milah identitas seseorang berdasarkan agama, kesukuan, kebangsaan sehingga dalam beberapa hal menimbulkan ketidakadilan? Sebagai contoh, di Malaysia, seorang keturuan Melayu tidak boleh pindah agama, kalau pindah agama maka dia tidak akan diakui sebagai bagian dari komunitas puak Melayu. Seorang teman yang pindah agama, dia diusir dari keluarganya, dan akhirnya sempat tinggal bersama keluarga penulis. Kekuasaanlah yang memilah dan “membelah dunia” sedemikan rupa, karena disitu ada motif ekonomi dan politik yang menguntungkan pihak penguasa. Dalam sejarah, bagaimana Pemerintah Kolonial Belanda mengelompokkan penduduk Indonesai menjadi orang Belanda, Arab dan Tionghoa serta pribumi (Indonesia) yang kemudian diadaptasi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) kita. Pengelompokkan ini juga menimbulkan stereotipe negatif di masyarakat. Karena itu tugas lembaga pendidikan tinggi dengan para warganya untuk selalu membahas dan mendiskusikan terus menerus serta meluruskan hal-hal yang tidak betul mengenai identitas dan etnisitas ini.

November 26, 2010

Kenikmatan ada Dimana-mana

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:09 pm

Ini adalah cerita perjalanan hari ini (26/11) dari pagi hingga siang hari yang sempat tercatat dan terekam dalam ingatan. Perjalanan ini mengingatkan kembali serta mengaduk-aduk memori masa lampau. Sungguh suatu hal yang tidak terduga bisa mengenang kembali peristiwa di masa lalu.

Pagi ini janjian dengan istri untuk bertemu di depan mesjid Al Azhar Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru. Dia baru mendarat dari Palu Sulawesi Tengah dan akan turun di Kebayoran untuk kemudian meneruskan kegiatan di Jalan Hang Jebat. Sementara penulis berangkat dari Depok naik KRL ke Tanah Abang, berhenti di Dukuh Atas lalu disambung naik Busway ke Kebayoran.

Di perjalanan menuju stasiun bertemu dengan mantan Ketua RW tempat tinggal penulis, dia juga sama akan menggunakan jasa KRL menuju Jakarta.”Kalau pake mobil males antri macetnya” jelasnya. Suatu kehormatan bisa jalan “ngojekin” mantan Ketua RW, mengingat sang RW ini sangat dihormati karena wibawanya dan “ketajirannya”. Walaupun sudah berusia 71 tahun, tetapi masih tampak gagah dan dendi. Beberapa kali kalau ada acara malam hiburan perayaan 17 Agustusan di lingkungan warga, dia selalu mengeluarkan dari kocek sendiri untuk konsumsinya. Ternyata HUTnya dia tidak terpaut sedikit dari tanggal 17 Agustus. Jadi malam hiburan 17 agustusan, hitung-hitung merayakan HUTnya.

Sesampainya di Mesjid Agung Al Azhar, istri belum sampai juga. Akhirnya mampir sebentar ke Mesjid untuk shalat dhuha. Tidak banyak perubahan di lingkungan mesjid. Lahan yang dahulu menjadi sekolah SMP, kini diganti dengan bangunan bertingkat menjadi kampus Universitas Al Azhar. Tempat wudhu yang terletak sebelah kiri.kanan mesjid sedang dalam perbaikan, terbuka tidak ada atapnya. Ketika sampai di lantai dua, ruangan utama mesjif, masih seperti dulu.Jendela terbuka lebar-lebar, tulisan kaligrafi didinding didominasi warna hijau dengan latar belakang tembok berwarna abu-abu tua. Karpet lantainya sekarang tebal dan empuk. Speaker yang dulu bergelantungan berbentuk balon di atas ruangan, kini diganti menjadi berbentuk segiempat. Percaya atau tidak, inilah shalat dhuha pertama kalinya di Mesjid Al Azhar setelah 31 tahun tidak pernah lagi shalat di Mesjid Al Azhar. Dahulu setiap hari Sabtu siang hingga sore hari, Al Azhar menjadi tempat “main”, karena sempat menjadi anggota Youth Islamic Studi Club (YISC) Al Azhar. Waktu itu, untuk pertama kalinya pula penulis mengetahui dan mengenal nama Jimly Ashshidiqqi, yang kemudian di UI menjadi satu angkatan Pra Jabatan menjadi PNS.

Ketika mau melihat-lihat aula di lantai bawah Mesjid dimana dahulu menjadi tempat untuk kuliah umum, ternyata sudah ditata sedemikian rupa. Rupanya sedang dipersiapkan untuk acara pernikahan. Ketika ditanyakan kepada petugas, siapa yang manu menikah, katanya anak Mar’ie Muhammad, mantan menteri keuangan. Presiden SBY akan hadir pada acara pernikahan itu. Mar’ie Muhammad ini kalau tidak silap salah bersama mantan Rektor UI (alm) Prof.Dr. Sujudi menjadi Dewan Penyantun atau pengurus Yayasan Pendidikan Islam (YPI) yang menaungi Mesjid dan sekolah SD/SMP/SLA/PT Al Azhar. Ety Istri Mar’ie Muhammad adalah alumni Notariat FHUI. Waktu Wisuda sempat memesan foto dengan memakai toga. Tetapi kemudian tidak pernah diambil ke Kampus Depok (waktu itu Mar’ie Muhammad belum menjadi Menteri). Akhirnya terpaksa penulis mengantarkan ke rumah Mar’ie Muhammad di bilangan Kebayoran.

Dari Al Azhar, perjalanan diteruskan ke Kota, untuk “mengejar” KRL yang menuju ke depok. Ada dua pilihan, naik KRL AC tampi waktunya agak siang, atau KRL biasa yang panas dan pengap tetapi berangkat terlebih dahulu daripada KRL AC. Akhirnya memilih naik KRL biasa. Seperti biasa, gerbong KRL dipenuhi dengan pedagang asongan dan peminta-minta/pengamen. Seorang pengamen buta memainkan alat music biola sangat menarik perhatian. Penulis sering lihat pengamen biola itu beberapa tahun lalu. Tetapi kali ini permainan biolanya sangat berbeda dari yang lalu. Terkadang dia gesek dua dawai sekaligus yang menimbulkan suara yang lain dari biasanya.Lagu yang dibawakan pun beragam, Mulai dari pop hingga lagu “pupujian” yang biasa dinyanyikan para santri di Pesantren. Penulis jadi ingat pemusik jalanan Klanting yang menjuarai Indonesia Mencari Bakat (IMB) di Trans TV. Kenapa pemusik buta pemain biola ini tidak ditampilkan di Jazz Goes To Campus (JGTC) UI yang akan digelar 28 November ini? Tinggal dipoles dan dilatih sedikit, langsung ditampilkan.Kalau saja panitia JGTC UI berkreasi sedikit dengan menampilkan pemusik jalanan (yang layak untuk ditampilkan), mungkin suasananya akan lain. Sebab ternyatamenurut Ariel Heryanto, sosiolog yang tinggal di Singapura, yang kemarin ceramah di FIB UI, acara pertunjukkan jazz di Indonesia tercatat sebagai pertunjukkan yang paling banyak ditonton orang di seluruh dunia.

Itulah sekilas yang penulis rasakan sebagai suatu kenikmatan. Tulisan ini hanyalah sebagian kecil saja dari kenikmatan yang begitu banyaknya yang tidak bisa semuanya dituliskan. Kalaulah boleh berkomentar, kenikmatan itu sebetulnya ada dimana-mana, tergantung bagaimana sikap mental kita dalam melihat realitas di sekeliling kita. Penulis sangat yakin kalau dikatakan, jika lautan dijadikan tinta dan ranting dijadikan pena untuk menuliskan kenikmatan yang kita rasakan, tidak akan cukup untuk menuliskan semua ni’mat Allah. Maka, ni’mat dan karunia Tuhan Manakah yang kamu dustakan?

Sepanjang Jalan…Kenangan…

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:06 pm

Ketika telah selesai mengikuti ceramah yang diberikan Tarik Bukvic Dubes Bosnia Herzegovina untuk Indonesia di Kampus Salemba (24/11), seorang teman mengajak pulang bersama dengan mengendarai sepeda motor ke Depok. Saat itu waktu menunjukkan pukul 21.15 WIB. Tadinya akan memanfaatkan jasa KRL yang terakhir di Cikini pukul 22.45 WIB. Karena masih dirasa lama, maka akhirnya tawaran itu penulis terima. Hitung-hitung “napak tilas” dan memang sudah lama tidak pernah mencoba naik motor Salemba – Depok lewat Jalan Matraman.

Jalan Matraman pada suatu hari di tahun 1984, waktu itu rombongan pimpinan UI akan meninjau kampus Depok dengan mengendarai bis banpres “isuzu” yang berwarna merah putih. Lupa sopirnya siapa, tetapi tidak jauh dari lampu merah perempatan matraman-Pramuka, bis mogok tiba-tiba. Di starter berkali-kali mesin tidak hidup juga. Terpaksa sebagian penumpangnya turun dan mencoba mendorongnya. Diantara yang ikut mendorong itu adalah Djunaedi Hadisumarto, Dekan Fakultas Ekonomi. Saking bersemangatnya mendorong, sikutnya kena muka penulis. Dia minta maaf berkali kali. Terakhir bertemu dengannya di Bappenas, waktu ada kerjasama UI dengan Bappenas. Waktu diceritakan tentang peristiwa mendorong mobil banpres, dia tersenyum-seyum.

Menyusuri Jalan Oto Iskandar Dinata (otista), sebelum sampai ke gelanggang remaja Jakarta Timur, ada jalan Otista III. Waktu itu sehabis masa Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek), Beberapa mahasiswa baru masih sering bertemu untuk mempersiapkan suatu acara dengan melibatkan kepanitiaan yang berasal dari berbagai fakultas. Tempat berkumpul biasanya di rumah Aty Alamsyah (mahasiswa FHUI) di Jalan Proklamasi. Suatu malam sehabis rapat, seorang teman dari Fakultas Psikologi minta ditemani pulang ke tempat kosnya di Jalan Otista III. Malam itu hujan turun rintik-rintik, dengan menumpang kendaraan omprengan akhirnya sampai juga di Otista III, badan dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Setelah lulus, dia bekerja di Depdiknas Senayan. Kemudian dia pindah menjadi staf pengajar di fakultas Psikologi. Beberapa tahun lalu meninggal karena penyakit gula.

Sampailah di lampu merah jalan Cempedak dekat Perfini. Seberang jalan Cempedak terletak Wismarini. Dahulu kala tempat asrama putri mahasiswa UI. Hingga kini tidak ada perubahan bagian depan asrama yang berupa flat untuk para dosen. Di atas pintu gerbangnya terletak lengkungan besi yang bertuliskan wismarini. Dari depan bangunan flat kelihatan kumuh, warna catnya juga sudah memudar. Beberapa tahun lalu pernah lihat-lihat ke dalam bersama dengan crew dari Trans TV mengambil gambar suasana di asrama untuk kepentingna acara homecoming day. Beberapa bagian bangunan sudah mulai rusak, terutama ruang tamu yang ada tembok bulatnya. Tetapi aula masih utuh dan bisa dipakai untuk bermain badminton. Kamar terbagi dalam dua blok, satu untuk pria satu untuk wanita. Para mahsiswa yang tinggal di Wismarini adalah mahasiswa yang berkuliah di kampus Salemba. Pada waktu Prof. Martani menjabat sebagai Warek V UI, direncanakan asrama Wismarini akan dijadikan pusat pelatihan singkat dan kursus-kursus ketrampilan. Tetapi sampai saat ini tidak ada investor yang berminat untuk membangun gedung baru di Wismarini. Dua bulan lalu sempat mengobrol dengan seorang satpam yang bertugas di Wismarini. Dia bercerita beberapa tahun lalu, seorang Guru Besar UI yang tinggal sendiri di wismarini meninggal dunia tanpa ada yang mengetahui. Satpam inilah yang pertama kali mengetahuinya. Flat Wismarini memang suatu ironi, penghuninya turun temurun yang itu-itu saja atau yang ada kaitan keluarga. Suatu saat penulis pernah akan mendapat “hibah” menempati salah satu ruangan di flat itu. Tetapi entah kenapa, sang calon pemberi “hibah” membatalkannya. Orang baru yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan penghuni lama, jangan harap bisa menempati atau tinggal di flat Wismarini. Bahkan Pimpinan UI sekarang pun tidak bisa “membenahi” penghuni flat. Mungkin kalau ada investor yang berminat membangun, bisa dijadikan alasan untuk mempersilahkan penghuni flat pindah ke tempat lain. Memasuki jalan Condet, hujan rintik-rintik mulai turun. Sampai di Tanjung Barat hujan rintik-rintik semakin lebat. Teringat jaman ketika jalanan hanya satu jalur dipakai untuk dua arah. Paling tidak, ada empat pintu perlintasan kereta yang harus dilalui kendaraan, baik dari arah Depok maupun Pasar Minggu. Dibutuhkan waktu satu jam dari Pasar Minggu ke Depok. Tetapi kemarin, Salemba – Depok dapat ditempuh dalam waktu satu jam saja dengan kecepatan yang sedang-sedang saja juga. Hujan tetap mengguyur jalanan. Tetapi “sepanjang jalan kenangan” tidak terkikis air hujan ataupun terbawa angin lalu.

November 25, 2010

Bertemu dengan Ramzy Tadjudin

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:07 pm

Kemarin malam (24/11) menghadiri ceramah umum yang disampaikan Dubes Bosnia Herzegovinauntuk Indonesia di Gedung IASTH Kampus Salemba Jakarta. Ceramah yang disiarkan secara online ke Univrsitas Riau dan Universitas Hasanuddin dan juga Universitas Al Azhar Indonesia di Jakarta ini diprakarsai oleh Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Program Pascasarjana UI. Bertindak sebagai moderator Drs. Ramzy Tadjudin, MPA. Suatu hal yang tidak terduga, karena sudah lama tidak bertemu. Masih seperti dulu, brangasan, ceplas ceplos dan terkesan merasa yang paling betul. Beberapa penanya dari pendengar, tidak segan-segan dipotongnya, atau dikomentari yang bernada melecehkan, seperti yang dialami penanya dari Universitas Riau.

Awal tahun 1990 an, saat berdiri Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia dia adalah salah seorang perintis sekaligus Direktur yang pertama. Seiring dengan perkembangan jaman dan minat yang tinggi dari masyarakat, akhirnya pusat kajian itu berubah menjadi Program Studi Pasca Sarjana UI, sebagai suatu program lintas disiplin ilmu dan berada dibawah naungan Program pascasarjana UI. Konon katanya, masih ada hubungan famili dengan Rektor UI terdahulu Prof.dr.M.K. Tadjudin. Setelah tidak menjabat sebagai Kepala program studi, tidak pernah kelihatan lagi “wara wiri” ke Pusat Administarasi Universitas (rektorat).

Pada tahun 1980-an, saat baru kuliah di FISIP kampus Rawamangun, kalau tidak silap Ramzy Tadjudin menjabat sebagai Wakil Dekan II bidang Administrasi Umum dan Keuangan. Waktu itu penulis membuat satu puisi yang diberikan kepada senior dan tidak disangka puisi itu dipajang di papan pengumuman Senat Mahasiswa. Saat itu, hubungan senat mahasiswa dengan pimpinan fakultas dalam situasi tidak harmonis, sehubungan dengan kasus seminar dan pameran buku dari Pusat Kebudayaan Rusia, dimana dalam pameran itu dipajang buku-buku Marxis. Pada seminar tersebut diundang sebagai salah seorang pembicara Pramudya Ananta T. Waktu itu Ramzy Tadjudin memeriksa papan pengumuman Senat Mahasiswa dan melihat ada puisi penulis. Kebetulan penulis ada di dekat situ. Selesai membaca puisi itu, Ramzy Tadjudin langsung mengambil puisi itu dan dirobek-robeknya.

Kemarin malam belum sempat mengobrol atau saling menyapa. Tadinya mau menanyakan, apakah dia masih ingat peristiwa seminar dan pameran buku-buku marxis yang “menghebohkan” itu.

Pertamina yang Berubah Makin ramah dan Pemurah

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:54 am

Selain minyak dan gas, ketika disebut kata Pertamina, apa yang terbayang dalam pikiran? Kalau ditanya kepada penulis, maka yang terpikir adalah Ibnu Sutowo, Pattiasina petinggi Pertamina yang menikah dengan model top (waktu itu)Yeti Mukim, hotel Patra Jasa, rumah sakit, perumahan mewah dan Mochtar Lubis dengan Harian Indonesia Rayanya. Nama orang dan media yang disebut terakhir adalah yang pertama kali memberitakan adanya korupsi dan salah urus dalam tubuh pertamina di tahun 1970 an.

Selama ini memang tidak pernah ‘bersentuhan’ secara intensif dengan lembaga tersebut, kecuali kalau membeli BBM di SPBU Baru ketika ada acara Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Indonesia (OSN PTI) ketiga yang berlangsung sejak September lalu yang kemudian disambung pada awal November baru-baru ini, dimana peserta yang ikut mencapai 13 ribuan orang dan setelah melalui proses penyaringan akhirnya dijaring 132 peserta yang masuk final dari 33 propinsi di Indonesia,yang mengikuti lomba bidang ilmu Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Para finalis itu selama kegiatan berlangsung diasramakan dan tinggal di Pusat latihan Pertamina (PLC) Simprug Jakarta Barat.Dalam kegiatan itu bisa mengenal secara lebih dekat dengan sosok Pertamina. Pertama dengan para petingginya yang masih muda dan tidak berkesan glamour, ‘flamboyan’ atau bermuka angker. Kedua semangat perubahan terasa kental sekali di jajaran para pegawainya mulai dari tingkat atas hingga kepada tingkat yang paling bawah.

Dalam kunjungan melihat-lihat produk yang dihasilkan pertamina mulai dari depo BBM di Plumpang, gas dan minyak pelumas di Priok, para mahasiswa peserta OSN PTI mendapat pelayanan yang sangat baik dan ramah dari semua jajaran pegawai pertamina. Para pegawai Pertamina dengan sabar menjelaskan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan proses produk-produk olahan yang dilakukan. Seorang pegawai yang baru bekerja belum setahun di Pertamina menceritakan, bagaimana dia melamar pekerjaan, mengikuti seleksi pegawai tanpa harus mengeluarkan uang pelicin dan “katebelece”. Perubahan drastis terjadi setelah dikeluarkan Undang-Undang Migas tahun 2002. Manajemen dan kinerja terus menerus diperbaiki dan sekarang sudah mulai menampakkan hasilnya. Beberapa produk Pertamina seperti minyak pelumas sudah go internasional. Saat ini Pertamina masih menjadi salah satu perusahaan BUMN yang menjadi andalan bagi penyumbang terbesar pada APBN. Menurut berita di salah satu stasiun televisi, tahun lalu saja berhasil membukukan keuntungan sebesar 16 Trilyun Rupiah. Tahun depan pemerintah mengharapkan Pertamina dapat membukukan keuntungan sebesar 25 Trilyun. Tetapi Pertamina merasa sangat sulit dan hanya sanggup mencapai di bawah 20 trilyun rupiah.

Maka tidak heran kalau dalam penyelenggaraan OSN PTI ini, para peserta dimanjakan dengan berbagai hadiah. Juara I, II dan III untuk empat bidang ilmu mendapat hadiah uang masing-masing sebesar 10 juta, 8,5 juta dan 6,5 juta. Empat mahasiswa UI masuk finalis keempat kategori itu. Dua kategori diantaranya, juara satunya diraih mahasiswa FMIPA UI. Perguruan tinggi yang wakilnya meraih juara di tingkat nasional mendapat uang pembinaan sebesar antara 25 hingga 75 juta. Bahkan untuk juara-juara di tingkat provinsi pun mendapat hadiah uang juta. Total uang yang disediakan hanya untuk hadiah saja mencapai 2,7 milyar. Hal ini menjadi catatan tersendiri, karena belum pernah ada suatu perusahaan yang menyediakan uang hadiah sedemikian besar.

Namun demikian Pertamina juga mendapat keuntungan dalam hal penanaman citra kepada generasi muda. Selain akan menjadi konsumen yang potensial untuk produk-produk Pertamina,j uga mendapatkan hasil ide-ide orsinal dari mahasiswa dalam memecahkan permasalahan yang (akan) dihadapi Pertamina. Juga dapat mencari bibit unggul SDM mengelola Pertamina di masa mendatang. Seorang teman yang bekerja di Pertamina merasa senang juga ketika melihat para peserta OSN PTI ini datang dari berbagai penjuru di Indonesia. Karena dengan demikian “keuntungan” yang didapat Pertamina dapat juga dinikmati oleh kelompok terdidik dari seluruh pelosok tanah air. Ambisi pihak Pertamina seperti yang diutarakan Direktur SDM Pertamina Rukmi Hadihartini, menginginkan arena OSN PTI ini digandrungi oleh kalangan generasi muda Indonesia, seperti halnya para remaja berbondong-bondong mendafarkan diri untuk mengikuti “Indonersia Idol”. Karena hanya bangsa yang generasi mudanya mencintai ilmu pengetahuan alam yang akan menjadi bangsa yang maju.

Tetapi kalau dibandingkan dengan Perusahaan minyak Malaysia Petronas, hanya dalam jangka waktu 30 tahun saja sudah bisa ikut dalam percaturan global, Pertamina ketinggalan duapuluh tahun karena “salah urus” pada awal-awal berdirinya dan menjadi “sapi perahan” pihak penguasa saat “booming minyak’ pada tahun 1970 an. Biarlah masa lalu berlalu. Ke depan, bagaimana Pertamina bisa menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Kita untung, bangsa pun untung.

November 23, 2010

Antara Centang dan Contreng ada Centong

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:42 pm

Centong (bhs, Jawa/Sunda) adalah sejenis alat pengaduk nasi atau alat untuk menyendok nasi. Sementara contreng, memberikan tanda tertentu dengan mencoret atau membuat bulatan pada kertas .Kata ini populer saat pemilu tahun 2009 kemarin, sebagai sistem baru dalam memilih calon legislatif dan capres/cawapres, menggantikan sistem tusuk/coblos. Sedangkan centang adalah memberikan tanda pada kertas/kolom dengan memakai pensil atau pulpen. Apakah ada keterkaitan diantara ketiga kata itu?

Selasa pagi ini (22/11) menghadiri seminar hasil penelitian berjudul “Evaluasi Penerapan Elektronik Voting dalam Pemilihan Kepala Dusun di Kabupaten Jembrana Bali untuk Kemungkinan Penerapan dalam Pemilu Kepala Daerah” para mahasiswa Departemen Ilmu Politik FISIP UI di Kampus Depok. Pada kesempatan itu hadir Ganjar Pranowo, anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang membahas dan mengomentari hasil penelitian tersebut.

Elektronik Voting atau E-Voting adalah sistem baru dalam melakukan kegiatan memilih seorang calon pemimpin yang dapat menggantikan sistem mencoblos atau sistem mencentang. Ada dua alat komputer canggih. Satu untuk melakukan verifikasi calon pemilih, dimana calon pemilih memasukkan ktp, komputer akan memproses apakah ada data/identitas calon tersebut terdaftar sebagai calon pemilih. Setelah itu calon pemilih beralih ke komputer satunya lagi, dimana di layar monitor sudah ada gambar calon pemimpin yang akan dipilih. Calon pemilih cukup dengan menyentuh gambar mana yang akan dipilih (touch screen), maka dari komputer itu akan keluar secarik kertas yang berisikan gambar calon yang telah dipilih. Lalu kertas tersebut dimasukkan ke dalam kotak suara. Untuk pertama kalinya, baru di Jembrana dilakukan sistem E-Voting ini. Alat tersebut konon katanya berharga 8 milyar rupiah.

Dalam tulisan ini tidak akan membahas persoalan tersebut di atas, namun hanya ingin menceritakan pengalaman Ganjar Pranowo berkaitan dengan pemakaian teknologi informasi dalam pemilu. Sewaktu Jusuf Kalla (JK) masih menjabat Wapres, paling getol sekali mempromosikan sistem pemilihan baru dengan cara mencentang. Tetapi JK lebih suka menyebutnya sebagai mencontreng. Para anggota DPR yang menangani masalah pemilu di lobi dan diundang secara khusus ke rumah dinas Wapres. Disitu diperagakan dan dijelaskan bagaimana sistem mencontreng itu lebih baik dan beradab, karena tidak mencoblos dan merusak gambar orang di kertas. Tapi JK lupa, kalau saudara kita di pedalaman Papua sana tidak biasa dengan sistem mencontreng.

Dalam kesempatan lain Ganjar Pranowo juga pernah didatangi 3 orang vendor penyedia peralatan teknologi informasi E-Voting itu dan menawarkan peralatan tersebut untuk pemilu yang akan datang. Dalam hatinya berpikir, berapa persen kira-kira vendor tersebut akan memberikan komisi. Belum sempat berpikir jauh, didatangi orang ke-4 bukan untuk menawarkan peralatan canggih, tetapi memberikan video yang menggambarkan tentang kecurangan yang terjadi dengan memakai peralatan tersebut, di negara yang sudah maju pula.

Jadi jelaslah sudah, sistem apa pun yang dipakai dengan istilah atau kata apa saja, yang utama adalah jualannya para pedagang supaya dagangannya laku. Tepatlah kiranya kalau dikatakan mau pakai kata centang atau contreng, sebetulnya disitu ada centong.

Dimana Peranan Perguruan Tinggi Dalam Kasus TKI?

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:12 pm

JAKARTA, (PRLM).-Pemerintah akan memperketat seleksi penempatan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Calon TKI (CTKI) yang belum melengkapi persyaratan dokumen dan tidak memiliki keterampilan dasar dan pengusaan bahasa asing tidak akan diperkenankan berangkat kerja ke luar negeri. Menakertrans menjelaskan, untuk membenahi sistem penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri dan menyelesaikan permasalahan TKI yang terjadi selama ini, pemerintah membentuk Tim Advokasi. Tim Advokasi terdiri dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, BNP2TKI, Bareskrim POLRI dan instansi terkait lainnya.

Kalimat di atas adalah kutipan dari suratkabar Pikiran Rakyat salah yang ditayangkan secara online hari senin (22/11) Tidak disebut-sebut atau dilibatkan secara langsung peranan perguruan tinggi dalam tim advokasi dalam penangan masalah TKI ini. Padahal dahulu (kalau tidak silap) semasa Kepemimpinan Rektor UI Prof.dr. M.K. Tadjudin (1994-1998), pernah ditandatangani kerjasama UI dengan Depnakertrans, untuk memberikan pelatihan dan menyeleksi tenaga kerja Indonesia yang akan berangkat ke luar negeri. Fakultas yang terlibat langsung yaitu Fakultas Psikologi. Beberapa dosen terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Entahlah kini bagaimana dengan kelanjutan kerjasama tersebut. Setahu penulis setiap kerjasama berlaku antara tiga hingga lima tahun dan setelah itu dapat diperbaharui kembali.

Menurut salah seorang dosen Fakultas Psikologi UI, memang benar dahulu ada kerjasama dengan Kemenakertrans untuk melakukan psikotes bagi para tenaga kerja ke luar negeri. Tidak hanya dengan UI, melainkan juga dengan berbagai perguruan tinggi negeri di daerah yang ada bidang ilmu psikologi. Karena tidak mungkin para tenaga kerja di daerah harus pergi ke Jakarta hanya untuk melakukan psikotes. Terakhir, pada kepemimpinan Dekan Fakultas Psikologi UI Dr. Wilman Dahlan Mansur sekarang ini, sudah dijajagi kemungkinan melakukan kegiatan psikotes bagi tenaga kerja ke luar negeri, tetapi entah kenapa belum juga dapat direalisir. Ini sebetulnya menunjukkan perguruan tinggi jauh-jauh hari sudah berpikir untuk melakukan proses seleksi tenaga kerja yang akan berkerja di luar negeri. Sehingga dengan demikian, kasus TKI di luar negeri yang akhir-akhir ini menjadi pemberitaan hangat, dapat diminimalisir.

Jaman memang sudah berubah. Bisa dimaklumi kalau Menakertrans tidak tahu kalau perguruan tinggi khususnya UI pernah dilibatkan dalam urusan ketenagakerjaan. Sayangnya para pembantu Menakertrans tidak memberikan masukan mengenai hal ini kepada bossnya.

November 22, 2010

Kenangan dengan Ketua BEM UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:24 am

Kalau mendengar kata BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) , maka teringat kembali peristiwa 12 tahun lalu (1998) ketika para mahasiswa Universitas Indonesia (UI) “bergerak” melakukan demonstrasi dan orasi di lingkungan Kampus Salemba dan Depok. Bahkan mantan Rektor UI pun Prof.dr. M.K Tadjudin turut memberikan orasi. Beberapa tokoh yang melakukan orasi di kampus UI antara lain Prof.Dr. Sri-Edi Swasono, Mantan Ketua DMUI May Jen. dr. Hariadi Darmawan, Prof.Dr.Amien Rais, Faisal Basri, SE dan lain-lain.

Situasi perpolitikan di Indonesia saat itu, sudah seperti “ibu hamil tua”. Berbagai elemen masyarakat melakukan demonstrasi turun ke jalan dan juga pemberitaan media seperti sudah tidak bisa “dikendalikan”. Dalam situasi seperti itu, Ketua DPR/MPR Harmoko menyarankan supaya mandataris MPR legowo mengundurkan diri. Wakil dosen UI dengan pimpinan Rektor UI Prof.Dr.dr. A. Budisantoso Ranakusuma menghadap Presiden Soeharto. Bertindak sebagai Juru Bicara Prof.Dr. Miriam Boediardjo menyatakan “sangat menghargai” apabila Soeharto mengundurkan diri. Dalam salah satu demonstrasi di Kampus Salemba, Ketua BEM UI Rama Pratama, mahasiswa Fakultas Ekonomi melakukan orasi yang mendapat liputan luas dari media nasional dan pers asing. Penulis diminta reporter TVRI supaya menghubungi ketua BEM UI untuk melakukan wawancara khusus di Senayan. Maka penulis pun mendampingi Rama Pratama melakukan wawancara di studio TVRI. Sejak itu hubungan dengan Rama Pratama cukup akrab. Suatu waktu dia menghubungi penulis, meminta untuk meliput dialog antara mahasiswa UI dengan Fraksi ABRI di MPR. Dengan memakai kamera VHS punya seorang teman (Antony Bachtiar), acara dialog direkam dengan lengkap. Pimpinan Fraksi ABRI waktu itu Yunus Yosfiah. Anggota Fraksi ABRI antara lain Hari Sabarno. Dialog tersebut terhitung amat penting, karena hanya rombongan mahasiswa UI satu-satunya delegasi mahasiswa yang diterima secara resmi oleh wakil rakyat di MPR.

Setelah kegiatan dialog di MPR itu, penulis tidak pernah bertemu lagi dengan Rama Pratama. Hanya pernah mendengar dia mengelola sebuah tabloid berita., tetapi kemudian media tersebut “gulung tikar”. Terakhir Tahu-tahu mendapat kabar Rama Pratama menjadi salah seorang anggota DPR/MPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).