October 29, 2010

Tanah Air Kita

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:01 pm

Masih perkara memperingati Sumpah Pemuda, kali ini bicara tentang tanah air. Tempat dimana kita berpijak dan dimana kita senantiasa minum air yang telah menjadi kebutuhan kita sehari-hari. Tetapi rupanya di bagian lain tanah dan air ini menjadi komoditi yang diperjualbelikan dan menjadi alat politik politik untuk menekan pihak tertentu supaya mau mengikuti keinginannya.

Dua hari lalu istri penulis berkesempatan ke Bontang Kalimantan Timur dan bertemu dengan pihak pemda setempat dalam melaksanakan tugas. Bicara banyak berbagai hal dan banyak melihat perkembangan yang terjadi. Sumberdaya alam batubara sangat melimpah dan menjadi rebutan para pengusaha (pribumi) untuk mengolahnya. Tetapi rupanya pengusaha ini mensubkan lagi kepada perusahaan asing. Maka pengerukan batubara tidak terkendali dan tidak peduli dengan kerusakan lingkungan yang terjadi. Di tengah-tengah hutan belantara berdirilah kota Bontang dengan berbagai fasilitas yang berstandar internasional, bahkan pihak Pemdanya pun mempunyai pesawat sendiri dengan pilot dan montir orang asing. karenanya banyak orang asing yang hilir mudik di kota yang mencoba peruntungan mengais-ngais penghidupan di kota satelit di tengah-tengah hutan belantara. Itulah tanah kita tercinta di belantara Borneo.

Tigahari lalu penulis bertemu dengan orang LSM koalisi rakyat untuk air bersih yang kebetulan sama-sama mengikuti tele konferensi Pre-ASEAN Summit di GDLN Kampus Salemba. Berceritalah dia bagaimana PAM Jaya yang kini bekerjasama dengan konsultan asing justru merugi terus karena banyak kebocoran di tengah jalan sebelum sampai ke konsumen. Kebocoran ini sampai mencapai 50 %. Cilakanya lagi pihak PAM Jaya sendiri tidak mempunyai peta perpipaan air di wilayah Jakarta. Jadi tidak tahu dimana letak kebocoran itu. Padahal menurut orang LSM tersebut, di Malaysia yang jumlah pelanggan PAM nya lebih kecil daripada di Jakarta bisa untung besar dengan harga langganan yang lebih rendah daripada harga langganan di Jakarta.

Begitulah nasib dari tanah air atau ibu pertiwi kita, yang dalam lagu-lagu selalu didendangkan dengan penuh kesyahduan dan kecintaan mendalam, tetapi kini dieksploitasi orang asing, tetapi kita tidak berdaya.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment