October 28, 2010

Menantang Maut Merenggut

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:08 am

Inilah tragedi pada peristiwa Gunung Api Merapi yang menimpa seorang insani, saat melaksanakan tugas jurnalistik untuk mendapatkan keeksklusifan informasi . Ternyata kematian telah menanti seperti yang semua akan kita hadapi, tergantung bagaimana kita menyikapi, menantang malakal maut dengan menghadapi sebagai seorang idealis ataukah kita menghindari untuk bisa tetap bersaksi terhadap berbagai peristiwa yang terjadi tanpa harus kehilangan jati diri.

Peristiwa bencana alam senantiasa menorehkan kepedihan yang tiada terperi. Kerusakan lingkungan alam, kehilangan harta benda, kesakitan dan luka jasmani, kehilangan keluarga bahkan sampai kehilangan nyawa. Seperti yang terjadi pada peristiwa meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta. Karena itu diperlukan persiapan secara fisik dan mental untuk menghadapinya. Tetapi toh, masih saja terjadi hal-hal yang diluar dugaan, seperti yang menimpa Mbah Maridjan dan seorang relawan serta seorang wartawan.

Kalau menurut berbagai pemberitaan di media, sebelumnya telah diwanti-wanti jangan mendekati Merapi karena besar kemungkinan akan lewat “wedus gembel” (awan panas),tetapi relawan dan sang wartawan nekad naik gunung untuk membujuk dan menjemput Mbah Maridjan supaya mengungsi dari tempat tinggalnya yang hanya berjarak 4 kilometer saja dari puncak Gunung Merapi, yang justru memang diduga kuat akan dilewati “wedus Gembel”.

Sang Wartawan mungkin punya pertimbangan lain kenapa dia nekad untuk menjemput Mbah Maridjan. Sebagai yang pernah berecimpung dalam dunia jurnalistik, penulis mengerti betul naluri seorang wartawan untuk mendapatkan informasi yang eksklusif. Dan itu hanya bisa didapat dari narasumber seperti Mbah Maridjan. Tetapi rupanya sang wartawan tidak mengetahui betul “keganasan” dari wedus gembel dan inilah yang menyebabkan malapetaka menimpa.

Alih-alih maksud hati ingin mendapatkan informasi yang eksklusif dengan harapan mendapat berita yang spektakuler sehingga sang wartawan menjadi ternama, yang terjadi kemudian adalah “pulang” tinggal nama.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment