October 28, 2010

Cara Berlogika dan Berbahasa Kita

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:06 pm

Sumpah Pemuda pastilah berkaitan dengan tanah air, bangsa dan bahasa yang satu yaitu Indonesia. Seperti juga Universitas yang menyandang Indonesia hanya ada satu. Itu dulu, tapi kini sudah berbeda, karena kita sekarang lebih akrab dengan bahasa-bahasa asing dan makanan asing. Lihatlah pembicaraan orang-orang, bahasa iklan di media dan istilah lainnya berseliweran di berbagai media dengan amat bebasnya. Begitu juga dengan universitas, sekarang sudah ada Universitas (Pembangunan) Indonesia, ada juga plesetan universitas indonusa (esa unggul), atau ada lagi Universitas (persada) Indonesia. Jadi jangan heran kalau keindonesiaan kita sekarang ini jadi aneka ragam. Rupanya aneka ragam ini tidak saja melanda bidang bahasa, melainkan juga dalam hal tata kelola pemerintahan sekarang ini serta pola berpikir para birokrat dan wakil rakyat pun sangat beragam kacaunya.

Jika kita ingin mendengarkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar di media, maka dengarkanlah warta berita di berbagai televisi. Sinetron dan acara lain sejenisnya seperti guyonan, jangan harap bisa mendengarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi justru yang hebat, film-film kartun memakai sulih bahasa Indonesia standar (yang baik dan benar). Tontonan buat anak-anak ini ternyata kurang efektif menyosialisasikan supaya dicontoh para anak-anak yang menonton. Karena ternyata anak-anak lebih menyukai memakai bahasa Indonesia dialek Betawi yang sering ditemui dalam percapakan yang biasa dipakai orang dewasa. Suatu ironi yang sangat menyedihkan pada saat sumpah pemuda sudah berusia 82 tahun.

Penulis masih ingat ketika memperingati 50 tahun ilmu Komunikasi FISIP UI (desember 2009), Prof. Dr. Harsono Suwardi menceritakan bagaimana para mahasiswa yang mengambil program studi Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Fakultas Hukum UI kesukaran dalam menangkap pelajaran yang diberikan oleh para dosen-dosen orang Belanda, karena kacau dalam berlogika. Karena itulah ketika hal tersebut dikemukakan kepada Prof. Djokosoetono dan mengusulkan supaya ada matakuliah filsafat dan logika bagi para mahasiswa, dengan serta merta ditolaknya. Tetapi Prof. Djokosutono mengusulkan supaya para mahasiswa cukup belajar bahasa saja, karena dalam berbahasa dapat tercermin bagaimana cara berlogika mahasiswa tersebut. Karena dengan berbahasa dapat diketahui bagaimana seseorang mengemukakan gagasan, alur berpikir dan sistimatika berbahasa orang tersebut.

Dahulu pernah tercetus, bahasa Indonesia potensial untuk dijadikan sebagai bahasa internasional seperti juga bahasa Inggris, bahasa Arab dan bahasa pemersatu di kalangan negara-negara ASEAN, karena keunggulannya yang simpel, adaptif terhadap bahasa lainnya serta ditulis dalam huruf latin. Tetapi kemudian ‘tenggelam’ dan terkalahkan dengan bahasa asing yang banyak dipakai oleh kalangan terpelajar Indonesia. Akhirnya cita-cita sebagai bahasa pemersatu di kalangan negara serumpun pun makin surut. Yang terjadi adalah betapa kaum muda lebih merasa percaya diri kalau fasih dalam bahasa asing ketimbang bahasa nasional. Dan lebih celakanya lagi instansi pemerintah ataupun perusahaan swasta dalam merekrut pegawai lebih senang kepada calon pegawai yang fasih berbahasa asing ketimbang mempertimbangkan kemampuan berbahasa nasional yang baik dan benar.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment