October 27, 2010

Menanti Maut Menjemput

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:22 pm

Mbah Maridjan, penjaga Gunung Merapi dan juga petugas khusus sebagai pelaksana kegiatan ritual kraton Yogyakarta di Gunung Merapi telah meninggal dunia, setelah rumahnya diterjang “wedus gembel” dari puncak Merapi. Inna Lillahi Wa Inna Ilaiho Roojiuun, sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Inilah peristiwa dramatis yang begitu mengharukan seorang manusia yang berpegang teguh untuk melaksanakan tugas dan pekerjaannya secara total.

Seperti dijelaskan Sultan Hamengkubuwono X dalam wawancara sore ini (27/10) di Metro TV, Mbah Maridjan sangat mengerti akan tugasnya sebagai penjaga Merapi, ketika pemerintah memberlakukan status “siaga” Gunung Merapi, sehingga penduduk harus segera mengungsi tidak terkecuali Mbah Maridjan. Dalam usianya yang mencapai 80 tahunan dia juga sangat faham dengan seluk beluk “perilaku” Merapi kalau sedang “beraksi”. Tetapi Mbah Maridjan juga mendapat tugas khusus dari Kraton Yogya, terutama saat melakukan kegiatan ritual di Merapi. Pertentangan dalam melaksanakan dua tugas inilah membuat dia tetap bertahan tidak mengungsi, sampai akhirnya datang petugas relawan dan wartawan yang datang untuk menjemput Mbah Maridjan. Penjemput ini dan juga sebagian orang tidak mengerti akan kegundahan Mbah Maridjan kalau dia “meninggalkan” Merapi. Tetapi akhirnya dia mengalah juga dan berjanji akan ikut penjemput, setelah selesai melaksanakan shalat Magrib. Tetapi rupanya sang maut lebih dahulu “menjemput” saat Mbah Maridjan melaksanakan shalat magrib, bersama dua penjemput lainnya. Barangkali itulah yang dinantikan Mbah Maridjan, lebih senang dijemput maut dalam bertugas.

Mbah Maridjan, orang kecil yang mungkin pendidikannya pun rendah pula. Tetapi dia mengerti bagaimana harus menjalankan tugas, berdedikasi tinggi dan tanpa pamrih dalam melaksanakan pekerjaannya, kesetiaan dan totalitasnya dalam menjalankan perintah membuatnya rela untuk berkorban. Satu sikap dan watak yang jarang dipunyai para pemimpin kita sekarang ini.

Penulis membayangkan, jika saja para wakil rakyat kita bersikap seperti Mbah Maridjan, pasti dia akan rela mengurungkan kepergiannya untuk melakukan studi banding ke luar negeri. Biarlah biaya studi banding yang triliyunan rupiah itu diperuntukkan bagi perbaikan bencana alam yang tengah melanda negeri kita. Dengan demikian maka beban keuangan negara tidak terlalu berat. Tetapi kita juga jangan sampai tergantung dengan bantuan dari luar negeri. Karena ternyata kasus bantuan tsunami tahun 2004 itu telah membuat rakyat di Sabang bermental pemalas, seperti yang ditemukan para mahasiswa UI yang melakukan kuliah kerja nyata di sana Juli lalu.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment