October 27, 2010

Konsep Perancangan Kampus Depok

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:18 am

A.Dasar Pemikiran Universitas Indonesia adalah satu-satunya universitas negeri di Tanah Air ini yang menyandang nama Indonesia. Selain berperan sebagai Universitas Pembina, UI juga berperan sebagai panutan bagi ciri Indonesia. Karena itu disamping memenuhi syarat fungsional juga memenuhi syarat ideal. Untuk itu jabaran citra Indonesia perlu dilakukan terlebih dahulu sebagai titik tolak bersama-sama dengan program fungsional.

Indonesia adalah Negara kepulauan, gugusan pulau-pulau ini mengindikasikan adanya kekhususan kelompok-kelompok masyarakat dan menghasilkan keanekaragaman kebudayaan. Walaupun semua daerah memiliki kekhususan sendiri-sendiri, ditemukan suatu ciri bersama di semua kebudayaan tersebut, seperti yang dinyatakan melalui semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

B.Wilayah Perancangan Wilayah perancangan terbagi atas Pusat dan Pinggiran. Wilayah Pusat lebih mencirikan ke “ika” an sedangkan wilayah Pinggiran lebih mencirikan ke “Bhineka”an. Karena misi sebuah universitas adalah mencari kebenaran, maka wilayah pinggiran mencerminkan dua pokok yang selalu menjadi inti kehidupan yaitu “manusia dan lingkungan”.

B1. Bentuk Keseluruhan Wilayah Pusat Wilayah Pusat perlu dinyatakan melalui keseragaman bahasa bentuk, bahan-bahan yang mewujudkannya, warna antar bangunan, ciri-ciri kewibawaan dan pertamanan yang mengisi ruang diantaranya. Bangunan-bangunan yang didirikan sedemikian rupa sehingga memberi arti bagi wilayah pusat sebagai tempat untuk melayani pendidikan dan tempat dimana segala kebijaksanaan Kampus dipusatkan. B2. Bangunan-bangunan di Pusat Bangunan-bangunan di wilayah ini perlu menyatakan diri sebagai obyek individual yang berdiri di atas podium dan berdialog satu dengan yang lainnya melalui sumbu-sumbu visual. Bentuk dasar bangunan bersifat memusat. Hirarki obyek perlu diatur sehingga mudah dimengerti; mana yang merupakan obyek terpenting dan mana yang bersifat paling banyak melayani. Melalui tata letak dan bentuk badan bangunan, ciri masing-masing obyek dapat ditampilkan bersatu, yaitu melalui keseragaman bahasa bentuk. Obyek yang terpenting perlu berperan sebagai paku bagi keseluruhan wilayah pusat; dan juga bagi keseluruhan kampus. Gedung Rektorat yang merupakan pusat dari seluruh wilayah kampus, dirancang untuk melambangkan Pancasila yaitu satu “Bangunan Inti” melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan diapit oleh 4 bangunan yang melambangkan ke-4 sila lainnya. B3. Pertamanan di Wilayah Pusat Pertamanan di wilayah ini perlu menciptakan suasana nyaman bagi wilayah Pusat agar manusia terlindung dari hujan, terik matahari dan angin. Pertamanan perlu memperhalus sumbu visual yang terjadi antara obyek-obyek di wilayah Pusat. Sesuai dengan norma bangsa yang jarang mengambil sikap frontal, peran pertamanan adalah memperlunak hubungan-hubungan frontal tersebut, sekaligus mempertegas ruang-ruang yang terjadi. Daerah hijau yang sudah ada perlu dipertahankan sejauh mungkin selama tidak mengganggu vista yang diadakan. Pertamanan juga diperlukan untuk meningkatkan dan memperjelas landasan ideal dari wilayah Pusat. Oleh karena itu jalan-jalan untuk pejalan kaki perl;u diperjelas melalui pertamanan ini. B4. Bentuk Keseluruhan di Wilayah Pinggiran Wilayah Pinggiran mengelilingi Pusat dan membentuk sebuah lingkaran terbuka ke arah Timur. Antara Pusat dan wilayah Pinggiran perlu ada batas visual yang jelas, namun tidak ada batas hubungan. Susunan gugusan bangunan di wilayah Pinggiran perlu mempunyai batas yang jelas bagi kegiatan yang terjadi di dalamnya. Batas tersebut melengkapi dirinya sendiri, tanpa membatasi jaringan hubungan antara gugusan yang satu dengan lainnya. Keseluruhan gugusan bangunan mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri dari wilayah Pinggiran dinyatakan melalui keseragaman aturan susunan gugusan bangunan yang menampilkan citra dan dusun masyarakat Indonesia pada umumnya, antara lain adanya bangunan utama sebagai pusat dan deretan bangunan-bangunan yang disusun mengelilingi atau merupakan kelanjutan dari bangunan utama tersebut. Hanya kegiatan rekreatif yang terlepas dari ikatan ini, namun keseragaman bahan-bahan bangunan tetap dipertahankan. B5. Bangunan-Bangunan di Wilayah Pinggiran Kompleks Fakultas-fakultas tidak lebih tinggi dari 4 lantai dengan jarak minimum sama dengan tinggi badannya (potongan). Bentuk dasar bangunan ada 2, yang bersifat memusat untuk fasilitas administratif dan pelayanan yang dikelola pusat fakultas seperti kelas dan perpustakaan dan yang bersifat memanjang untuk fasilitas penunjang latihan dan percobaan serta pengolahan. Bagian bawah (kaki) bangunan menyalurkan kegiatan pejalan kaki, sehingga ada hubungan yang terlindung dari hujan dan terik matahari antara bangunan dan hubungan yang sama antar fakultas di kelompok wilayah pinggiran. Bangunan rekreatif perlu diseragamkan melalui bahan bangunan dan pertamanannya. Perletakan bangunan ini hendaknya terikat oleh sumbu visual dengan pusat melalui dialog obyek-obyek.

C.Bentuk Umum Bangunan Bangungan-bangunan tradisional adalah salah satu wujud nyata keanekaragaman kebudayaan yang kita miliki. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Lembaga teknologi FTUI terhadap khazanah Arsitektur Tradisional Indonesia dan setelah mempelajari bangunan-bangunan tradisional serta pengelompokannya memberi keyakinan akan adanya kenyataan berikut: C1. Cara Pengelompokan Pada hakekatnya terdapat dua macam bangunan, yang memanjang untuk yang berulang dan yang memusat untuk yang tunggal. Pengelompokan bangunan juga ditandai kedua ciri tersebut, menyebar memanjang atau memusat atau memusat menutup. C2. Bentuk Dasar Denah Bangunan Bentuk dasar denah bangunan selalu geometris, tersusun secara memanjang dan sentries/memusat. Yang dicapai dari tengah akan menambah ruangannya pada sisi kiri dan kanan sekaligus (bila ada kebutuhan untuk hal itu) atau menambahkan sebuah bangunan di belakangnya. Bangunan yang tersusun memanjang berbentuk empat persegi panjang dapat dicapai melalui salah satu sisinya. Dalam kasus yang terakhir ini, ruang-ruang mulia pun ada di sebelah tepi. Bangunan yang tersusun secara memusat akan mengambil bentuk bujur sangkar atau lingkaran. Dalam kasus ini ruang ini ruang-ruang mulia terdapat di bagian tengah. Baik bangunan dengan susunan memanjang maupun yang dengan susunan memusat selalu mempunyai serambi-serambi. C3. Bentuk Bangunan Bangunan pada umumnya didirikan di atas panggung, ketinggian panggung berbeda-beda, yang panggungnya tinggi akan membentuk sebuah kolong dan sering terdapat di daerah luar Jawa – Madura. Tiang-tiang selalu berdiri di atas umpak batu. Bangunan terdiri dari “kaki” (kolong/umpak), “badan” (ruangan-ruangan) dan “kepala” (atap). Pada badan bangunan hunian, balai, istana dan bangunan adat terdapat serambi sebagai titik temu penghuni dan pengunjung. Pada bangunan lumbung tidak terdapat serambi. Atap selalu curam dan berteritis lebar melindungi sopi-sopi pada susunan memanjang dan badan bangunan (baik susunan memanjang maupun susunan memusat). Kolong merupakan tempat komunikasi yang potensial dan sering digunakan. Pada umumnya bangunan-bangunan disusun menurut kaidah tertentu dimana bangunan dikelilingi rumah-rumah atau rumah kepala desa yang dapat dibedakan menurut tata letak maupun ukurannya. Batas desa ditandai dengan pagar yang bahan dan tinggi rendahnya sesuai dengan daerah masing-masing. Penerapan kaidah-kaidah tersebut terdapat dalam sebuah penuntun khusus perancangan. (diambil dari Buku “Informasi UI”, diedarkan waktu Peresmian Kampus Depok 5 Sept 1987)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment