October 26, 2010

Jusuf Kalla yang “Berdarah-darah”

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:24 am

Mantan Wakil Presiden RI H.M. Jusuf Kalla tampaknya memang ditakdirkan untuk mengalami kehidupan yang bersinggungan atau yang berkaitan dengan darah. Demikian kesimpulan yang dapat diambil dari kuliah umum yang berlangsung Senin (25/10) di hadapan Sivitas Akademika Fakultas Hukum, Kampus Depok. Saat ini Jusuf Kalla menjabat Ketua Umum Palang Merah Indonesia. Minggu lalu baru saja mengunjungi Jordan, Palestina dan Israel, kawasan Timur Tengah yang tengah mengalami gejolak dan pertumpahan darah. Sewaktu menjabat Wakil Presiden, dialah yang menjadi penengah pertikaian GAM dengan RI di Helsinki, Meredakan pertumpahan darah di Ambon dan Poso. Dan yang terakhir ramai dalam pemberitaan media yaitu melakukan investigasi terhadap peristiwa Mbah Priok.

Kehadiran Jusuf Kalla di Kampus Fakultas Hukum dalam rangka memperingati Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia yang sudah berusia 86 tahun. Salah satu rangkaian acaranya yaitu donor darah. Sedangkan ide untuk mengadakan kuliah umum datangnya dari pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (BEM FHUI). Rupanya “gayung bersambut“, Jusuf Kalla bersedia untuk mengisahkan pengalamannya selama menjadi mediator “perdamaian“ saat menjabat sebagai Wakil Presiden. Selama dua jam, pencetus pemeo “lebih cepat lebih baik“ ini memberikan kiat-kiat bagaimana menjadi seorang mediator yang handal untuk mendapatkan kepercayaan dari para pihak yang berselisih atau bersengketa. Ada sepuluh orang yang bertanya dalam kesempatan tersebut. Dan akhirnya pembicaraan tidak bisa lepas juga menyinggung topik yang hangat tentang situasi kenegaraan saat ini.

Jusuf Kalla menyatakan, Indonesia telah mengalami banyak percobaan sistem demokrasi, ternyata tidak merubah keadaan menjadi lebih baik. Sementara, China yang berideologi komunis dan jumlah penduduknya banyak, perekonomiannya lebih baik dari Indonesia. Kuncinya bukan terletak pada sistem demokrasi yang diterapkan, tetapi kepada semangat untuk maju dan menyejahterakan rakyatnya, baik di kalangan para penyelenggara pemerintahannya maupun generasi mudanya. Semangat inilah sebetulnya yang dipunyai para pemuda angkatan 1928, Bung Karno dan kawan-kawannya ketika akan memproklamirkan kemerdekaan, juga para pemuda angkatan 1966. Kekeliruan terjadi saat reformasi menggantikan Orde Baru, dimana banyak meminta bantuan konsultan asing untuk membuat beberapa produk hukum dalam mengembangkan perekonomian, yang ternyata lebih mengarah menguntungkan sebagian kecil kelompok masyarakat saja. Produk hukum yang dibuat lebih lebih mengedepankan legalitas semata ketimbang substansi.

Ada satu pertanyaan yang agak ”rawan”, yaitu alasan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden. Jusuf Kalla bersedia juga untuk menjawabnya walaupun dengan mewanti-wanti ’of the record’. Sebetulnya masih cukup ‘nyaman’ berkoalisi dengan partai demokrat dengan menjadi Wakil Presiden. Tetapi rupanya pengurus partai Golkar tidak bisa menerima ketika petinggi Partai Demokrat melecehkan partai Golkar dengan menyebutkan hanya akan mendapatkan suara 6 % saja pada pemilu 2009. Akhirnya partai Golkar Mencalonkan Jusuf Kalla sebagai calon Presiden, walaupun menyadarai kecil kemungkinannya capres yang berasal luar Pulau Jawa dapat meraih suara terbanyak. Rupanya situasi perpolitikan semakin hari makin susah di prediksi. Karena ternyata langit masih ”biru”, walaupun di pedesaan tanaman padi sudah ”menguning”.

Gagasan Pindah Kampus

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:36 am

Gagasan untuk membangun kampus baru UI timbul karena adanya keinginan untuk mengembangkan UI secara fisik maupun mutu yang baik, dan mengingat lokasi UI yang sekarang (kampus Salemba dan Depok. Pen) dirasakan sudah terlalu sempit.

Gagasan ini timbul sebagai hasil pemikiran beberapa staf senior UI di bawah pimpinan Prof.Dr.Ir. Soemantri Brodjonegoro selaku Rektor UI yang kemudian direalisasikan pada tahun 1974 pada masa kepemimpinan Prof.Dr. Mahar Mardjono dengan mencari lokasi yang baik dan kelak dapat dikembangkan menjadi kota universitas.

Beberapa daerah yang dijadikan pilihan lokasi diantaranya adalah Ragunan, Cibubur, Gunung Putri, Ciseeng, Serpong dan daerah diantara Jakarta Selatan dengan sebagian Depok (Beji, Pondok Cina, Kukusan). Setelah diadakan perundingan dengan berbagai instansi yang berwenang menangani lokasi untuk kampus UI, maka disetujuilah daerah antara Jakarta Selatan dengan sebagian Depok dengan luas tanah 312 hektar.

Proses pembebasan tanah dimulai tahun 1075 dan pada tahun 1979 dimulai pembangunan jalan lingkar utama dalam kampus, disusul kemudian dengan pembangunan gedung Politeknik pada tahun 1982.

Sementara itu setelah melalui beberapa konsultasi dan studi perbandingan serta penyesuaian lainnya, disiapkan rencana induk pembangunan fisik kampus baru UI yang pada dasarnya dirancang oleh staf UI, perencanaan dan perancangan fisik kampus baru UI ini dilakukan Lembaga Teknologi Fakultas Teknik (Lemtek Ft) UI.

Pada tanggal 25 Oktober 1984, yaitu pada masa kepemimpinan Rektor Prof.Dr. Nugroho Notosusanto, dilakukan proses awal pembangunan gedung-gedung (pemancangan tiang pondasi Gedung Rektorat/pusat administrasi universitas).

Pada masa jabatan Rektor Prof.Dr. Sujudi, pembangunan kampus UI dilanjutkan. Saat ini telah selesai pembangunan tahap I yang meliputi pembangunan gedung-gedung 7 fakultas yaitu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Teknik, Hukum, Sastra, Psikologi, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIP), Kesehatan Masyarakat dan lainnya yaitu Gedung rektorat, Balairung, Perpustakaan Pusat, Mesjid, Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat.

Pada saat ini sudah dimulai pembangunan tahap kedua yaitu gedung Fakultas ekonomi dan kemudian akan disusul dengan pembangunan gedung fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, Keperawatan dan Pasca Sarjana.

(Diambil dari Buku “Informasi UI” yang diedarkan saat peresmian Kampus Depok 5 Sept 1987)