October 24, 2010

SDD yang Saya Kenal

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:56 pm

Tidak kuduga dan tak Kusangka akhirnya bisa kenal dengan Sapardi Djoko Damono (SDD), bahkan bisa tetanggaan satu jalan dan satu RW lagi. Padahal sewaktu masih menjadi mahasiswa tidak pernah terbayangkan bisa sedekat itu. Sabtu lalu (16/10) sempat membuat dokumentasi pembukaan perayaan 70 tahun SDD di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Kampus Depok. Suatu kesempatan yang langka bisa bertemu dengan SDD, karena beberapa tahun belakangan ini lebih sering tinggal di rumah keduanya di Kompleks Perumahan Dosen UI Ciputat.

Dahulu ketika masih tinggal di Perumnas Depok Utara, kerap bertemu dalam berbagai kesempatan, baik di lingkungan UI sewaktu menjabat Dekan FIB, atau pun di lingkungan rumah. Anak-anak penulis sewaktu masih SD,seminggu sekali mengikuti les bahasa Inggris di rumah SDD, pengajarnya “Mom Djoko”, istri SDD. Dalam suatu kesempatan perayaan tujuhbelas agustusan di lingkungan Rukun Warga (RW), penulis sempat meminta dibuatkan puisi kepada SDD, untuk dibacakan anak penulis pada acara malam kesenian di lingkungan RW. Karena kesibukan masing-masing dalam menjalankan tugas, biarpun tetangga satu jalan, jarang sekali bertemu atau mengunjungi rumah SDD. Justru ngobrol dekat dan kerap terjadi pada saat berada di kampus, karena kebetulan ada suatu acara di FIB atau di tingkat universitas. Pernah suatu saat ketika UI baru menempati kampus Depok, kepada SDD meminta menulis puisi secara khusus untuk dimuat di surat Kabar Kampus Warta UI. Maka dengan senang hati dia membuatnya. Tetapi lupa lagi dimuat di Warta UI nomor berapa. yang masih diingat, dalam puisi itu ada disebut-sebut nama Ucup (pegawai honorer FIB) dan reporter Warta UI Endang Darmayuningsih (kini bekerja di BBC seksi Indonesia).

Kalau ada orang yang didengar karena kata-katanya, itulah dia SDD. Kekuatan puisi karya-karyanya terletak pada kesederhanaan kata-kata dalam puisi tersebut, sama seperti sesederhana orangnya dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Teman-temannya menggelari SDD dengan “Presiden Puisi Indonesia”. Lulusan S1 Universitas Gajah Mada ini menyelesaikan S2 nya di luar negeri dan doktornya di UI (S3) , disertasinya membahas tentang cerita pendek (cerpen) berbahasa Jawa yang terbit tahun 1950 an. Sempat menjadi Wakil Dekan I dan kemudian menjadi Dekan Fakultas Sastra tahun 1990 an.

SDD berperan besar dalam mendidik ahli sastra di seluruh Indonesia, mendorong dan membangun pengajaran sastra bagi guru-guru sastra se Indonesia. SDD lah yang menggagas Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI). Perayaan 70 tahun sengaja diselenggarakan untuk meneladani ketokohannya,menghormati dan mengambil manfaat dari apa yang sudah dilakukannya untuk sastra Indonesia dan kita semua.

Mengapa kita sejak SD hingga SMU diwajibkan untuk belajar tentang sastra dalam pelajaran Bahasa Indonesia? Karena membaca sastra menjadi lebih bermakna, tidak hanya sekedar mendapatkan kenikmatan/kesenangan semata, tetapi juga belajar tentang arti kehidupan,mendorong terciptanya keadilan sosial yang bisa dirasakan semua orang. Membaca sastra bisa juga menjadi bahan pemikiran bagaimana seseorang hidup menurut konsep moral yang ideal dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi manusia.