October 23, 2010

Melatih Kepekaan Dengan Persoalan Bangsa

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:16 pm

Jum’at kemarin (22/10) melaksanakan shalat Jum’at di mesjid dekat rumah penulis. Walaupunagak telat tetapi masih bisa mengikuti dan mendengarkan khutbah yang disampaikan sang Khotib. Isi khutbah bercerita tentang bercerai-berainya umat Islam karena perbedaan terhadap hal-hal yang tidak prinsip, saling menyalahkan dan merasa diri dan kelompoknya saja yang paling benar. Seringkali karena perbedaan ini menyebabkan saling bermusuhan sesama orang Islam sendiri, bahkan dengan saudara sekandung sendiri saling tidak kenal. Yang lebih ekstrim lagi terjadi bentrokan fisik hingga saling berbunuh-bunuhan. sang Khotib mencontohkan salah satunya keadaan yang dialami sekarang ini di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari hanya sekedar senggolan motor, berebut lahan parkir, dangdutan dalam acara keriaan, hingga pemilihan kepala daerah.

Sungguh mengherankan pula, baru pada masa sekarang inilah terjadi umpatan-umpatan dari kelompok tertentu kepada kelompok lainnya yang tidak sehaluan atau tidak sependapat dengan dengan kelompoknya. Satu hal yang pada jaman Nabi Muhammad SAW dahulu tidak pernah terjadi. Bahkan dahulu, seorang musuh Islam sekaliber Abu Lahab saja, Nabi SAW tidak pernah melontarkan kata-kata yang kotor kepadanya. Seorang teman satu saat melakukan shalat di suatu mesjid, karena merasa setiap mesjid yang ada merupakan tempat untuk melaksanakan shalat bagi setiap kaum muslimin. Tetapi apa yang dia lihat setelah selesai melaksanakan shalat di mesjid tersebut? Seorang pengurus mesjid segera mengepel lantai dimana teman tadi melakukan shalat, bagaikan habis ditumpahi kotoran binatang. Apakah umat Islam semacam ini yang akan menjadi pusat peradaban Islam dunia seperti pernyataan Menteri Agama baru-baru ini?

Dalam minggu ini, sempat mendengarkan ceramah seorang ustad dari salah satu siaran radio tentang banyaknya ketidakberesan pemerintahan baik di tingkat pusat maupun daerah yang dilakukan para aparatnya, yang kebanyakan dari kalangan lulusan perguruan tinggi. Kemudian ustad itu mempertanyakan kurikulum dan pengajaran di pendidikan tinggi, jangan-jangan ada yang salah dengan sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Sementara negeri-negeri lain yang setingkat dan bahkan jauh ‘dibawah’ Negara kita, berkembang begitu pesat baik dari segi perekonomiannya maupun aspek-aspek lainnya terutama dalam hal penyelenggaraan pemerintahannya semakin baik dan efisien.

Dimanakah peranan para akademisi dan pendidikan tinggi di dalam menjawab persoalan tersebut di atas? Apakah harus cukup puas dengan mengejar peringkat tingkat dunia dan menjadi trendsetter sebagai perguruan tinggi riset bertaraf internasional bagi perguruan tinggi Indonesia lainnya? Persoalan yang terjadi di masyarakat semestinya menjadi bahan masukan bagi pengajaran di perguruan tinggi, untuk melatih diri sivitas akademika dalam memecahkan persoalan yang dihadapi bangsa. Karena dengan demikian akan terjadi suasana kampus yang dinamis dan senantiasa ‘bergaul erat’ dengan persoalan bangsa, yang pada gilirannya akan memberikan bekal dan wawasan bagi para mahasiswa bila suatu waktu kelak terjun ke masyarakat.