October 20, 2010

DL DL

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:43 am

Judul tulisan memang sebuah singkatan dari dua kata yang diulang. Bisa singkatan dari Duit Lagi Duit Lagi atau yang lebih cocok dengan situasi kini adalah Demo Lagi Demo Lagi. Demonstrasi sekarang memang memerlukan duit untuk dapat mengerahkan massa. Karena demonstrasi sekarang bisa dikaitkan pula dengan kampanye pemilihan kepala daerah yang memang akhir tahun ini marak diselenggarakan di berbagai daerah kabupaten/provinsi seluruh Indonesia. Perhatikanlah bagaimana suatu demo mengenai sesuatu hal, pada saat yang bersamaan ada kelompok demo yang pro dan ada pula kelompok demo yang kontra. Menurut berita, konon katanya hari ini (20/10) di ibukota Jakarta akan terjadi demonstrasi di 20 titik, berkaitan dengan setahun usia pemerintahan Kabinet Bersatu Jilid II pimpinan Presiden SBY. Hari kemarin pun sudah marak demo di berbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan di Makassar para mahasiswa yang berdemonstrasi seperti menemukan momentum yang tepat, karena Presiden SBY melakukan kunjungan ke wilayah tersebut. Kegiatan demonstrasi yang dahulu identik dengan para mahasiswa yang ‘turun ke jalan’, kini pasca reformasi, siapa pun merasa berhak untuk melakukan demonstrasi karena dilindungi undang- undang. Makanya, apa yang terjadi pada saat demonstrasi di lapangan sudah tidak bisa dipilah-pilah lagi mana mahasiswa yang melakukan demo dan mana yang bukan mahasiswa. Tidak heran, kalau demonstrasi sekarang ada yang membawa kerbau atau melakukan kekerasan yang bersifat anarkhis.

Pasca reformasi, setelah pimpinan UI melarang halaman kampus Salemba 6 Jakarta dijadikan arena demonstrasi, maka lokasi pun beralih ke bundaran air mancur yang ada patung selamat datang di Jalan Thamrin (Mau menyebut bundaharan Hotel Indonesia/HI, rasanya tidak ‘sreg’ karena HI sudah almarhum), yang dianggap strategis dalam menarik perhatian banyak orang dan juga para pekerja media pemberitaan. Namun untuk mendapatkan hasil dari demonstrasi tersebut, belum tentu sesuai dengan harapan atau bahkan tidak mempunyai dampak apa-apa, hanya sekedar mendapat pemberitaan dari media saja. Jadi apa pun tema yang diusung para demonstran di seputar patung selamat datang, dari hasil pengamatan sepintas, belum pernah menghasilkan berdampak cukup luas dan bahkan dapat meruntuhkan rezim. Apalagi demo-demo yang dilakukan di luar Jakarta, sehebat apapun dan seberapa banyak demonstran tidak akan ‘menggoyangkan’ pemerintahan.

Percaya tidak percaya, rezim Pemerintahan Orde Lama dan rezim Pemerintahan Orde Baru tumbang karena demo-demo yang dilakukan para mahasiswa UI yang berawal dari halaman Kampus Salemba 6. Cobalah telaah lagi Peristiwa MALARI pun (1974) yang sempat ‘menggoyangkan’ pemerintahan Orde Baru, dimulai dengan aksi-aksi demo di Salemba 6. Periksa lagi kasus Trisakti menjelang keruntuhan Orde Baru. Walaupun sudah jatuh korban mahasiswa, pemerintahan masih tetap bertahan. Tetapi ketika para mahasiswa UI melakukan demonstrasi di halaman Kampus Salemba 6 (dan juga di Kampus Depok), kemudian dilanjutkan dengan melakukan dialog dengan Fraksi ABRI di MPR dan para mahasiswa UI memberikan pernyataan ketidakpercayaan terhadap mandataris MPR (setelah sebelumnya pimpinan UI pun bertemu dengan Presiden Soeharto). Tidak lama setelah itu maka ‘jatuhlah’ rezim pemerintahan Orde Baru. Kalau sekarang katanya ada sekelompok orang yang mencoba untuk ‘menjatuhkan’ pemerintahan SBY, agak mustahil bisa terlaksana, berdasarkan argumen yang telah disebutkan tadi.

Jadi apa rahasia keberhasilan demonstrasi di Kampus Salemba 6 yang telah berhasil menumbangkan dua rezim pemerintahan? Pertama, para mahasiswa betul-betul menampung aspirasi dari akar rumput, bukan aspirasi sekelompok kecil orang yang ingin berkuasa atau orang-orang yang membayar untuk melakukan demo. Kedua, Keprihatinan dari para mahasiswa pun menjadi keprihatinan para staf pengajar/dosen UI yang memang mempunyai informasi tentang ketidakberesan dalam pemerintahan, ada kesamaan pikiran antara mahasiswa, staf pengajar dan alumni. Ketiga, secara kelembagaan UI sudah siap memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan bangsa, baik dari segi konsep/pemikiran maupun dari aspek SDM yang akan duduk dalam pemerintahan. Tetapi tampaknya sekarang menjadi sulit, karena adanya faktor orang-orang partai politik yang merasa bisa ‘mengatasi’ permasalahan negara tanpa bantuan dari kalangan intelektual dan institusi pendidikan.