October 19, 2010

Budaya Kekerasan di Kalangan Mahasiswa

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:52 pm

Sangat memprihatinkan atau dalam bahasa Jawa “miris” ketika membaca pemberitaan tentang mahasiswa yang melakukan demonstrasi atau berunjuk rasa dalam upaya berargumentasi /bernalar mengemukakan dan menegakkan prinsip-prinsip yang diyakininya mengandung kebenaran yang perlu diperjuangkan tetapi akhirnya berujung dengan kekerasan dan anarkhis. Apapun alasannya, ketika nalar/pemikiran sudah berubah menjadi suatu tindakan anarkhis menjadi susah untuk dikendalikan dan berdampak kepada hal-hal yang justru tidak terpikirkan sebelumnya. Hal inilah yang dikhawatirkan, karena kalau sudah mencapai kepada tingkat kekerasan, hilanglah sifat dan keunggulan seorang mahasiswa, yang terlihat segerombolan orang yang bertindak brutal dan beringas.

Ketika dulu pada jaman rezim Orde Lama dan Orde Baru, para mahasiswa merasa bangga dan terhormat jika melakukan demonstrasi menentang rezim apalagi sampai ditahan, karena dengan demikian bisa mengenal lebih jauh terhadap orang/pihak yang menahannya. Tidak jarang, setelah selesai menjalani tahanan, hubungan antara mahasiswa dengan pihak yang menahannya menjadi lebih akrab dan terjalin komunikasi yang lebih baik. Karena ternyata mereka juga bersimpati terhadap gerakan/demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Biasanya mereka berkilah hanya sekedar melaksanakan tugas, tetapi kata hati mendukung apa yang diperjuangkan mahasiswa. Para mahasiswa pun tidak berani beradu fisik atau berkonfrontir dengan aparat yang bertugas, karena tahu mereka hanya sekedar menjalankan tugas. Waktu itu demonstrasi mahasiswa lebih merupakan keinginan untuk mendapatkan perhatian dalam menyampaikan aspirasi, supaya didengar atau diperhatikan pihak yang berwenang. Ketika terlihat ada indikasi melakukan kekerasan seperti membakar ban-ban bekas atau melakukan perusakan, dengan segera pimpinan UI menindak dengan tegas dan kalau perlu (menskor atau memecat pelaku tindakan kekerasan). Kebijakan yang keras ini, pada mulanya menimbulkan penentangan dari berbagai kalangan kampus dan juga dari aktivis mahasiswa. Setelah itu ternyata, para demonstran mahasiswa berpikir dua kali kalau mau mengadakan demonstrasi dengan melakukan tindakan kekerasan (anarkhis). Sejak itu, demo-demo yang dilakukan para mahasiswa lebih tertib dan beradab. Puncaknya “keberadaban” demonstrasi mahasiswa UI, menjelang keruntuhan Orde Baru. Didahului dengan melakukan demo-demo di Kampus Salemba dan Depok. Kemudian berlanjut melakukan dialog dengan Fraksi ABRI di MPR. Cukup dengan memberikan pernyataan tertulis menyatakan ketidakpercayaan terhadap mandataris MPR dengan disertai argumen yang mendukung pernyataan tersebut. Padahal saat itu, ada peluang bila para mahasiswa melakukan demonstrasi dengan kekerasan.

Ketika mendengar kabar dari media elektronik ada demonstrasi dan berujung dengan perkelahian antar mahasiswa dalam satu universitas di Makassar, menjadi teringat kembali kisah-kisah senior dahulu kalau di UI pun pernah terjadi perkelahian antar mahasiswa fakultas teknik dengan fakultas Ekonomi, ketika masih berkampus di Salemba. Dan Tadi siang (19/10) mendengar berita para mahasiswa Makassar melakukan demonstrasi menentang kehadiran Presiden SBY. Dan betul saja demonstrasi berujung dengan kekerasan, beberapa mahasiswa dan aparat keamanan ada yang terluka. Apakah kekerasan yang diperlihatkan para mahasiswa Makassar ada kaitan dengan budaya setempat atau watak keras dari sukubangsa yang ada di Makassar? Ataukah ada rasa bangga di kalangan para mahasiswa kalau melakukan demontrasi dengan kekerasan, walaupun hal itu harus dibayar dengan nyawa sekalipun? Sebetulnya demonstrasi anarkhis bisa dicegah kalau saja pimpinan perguruan tinggi di Makassa bertindak tegas terhadap perbuatan para mahasiswa yang berbuat onar, seperti juga yang terjadi tempo hari di UI. Kekerasan di kalangan mahasiswa ibarat virus yang hinggap pada diri seseorang, akan dengan cepat menular kepada orang lain hanya dalam waktu yang sekejap saja. Sama seperti nyamuk demam berdarah, kalau dia hinggap pada seseorang, selain menggigit dan menghisap darah, sang nyamuk pun menularkan penyakit DBD.Seorang pejabat suatu bank yang berasal dari Makassar, justru merasa malu dengan tindakan para mahasiswa Makassar yang bertindak anarkhis. “Mereka (para mahasiswa itu) tidak sadar, telah membuat citra yang buruk bagi masa depannya sendiri. Ketika mereka akan melamar pekerjaan, perusahaan akan melihat latar belakang sepak terjangnya selama menjadi mahasiswa.”

Repotnya Mengurus “cum” Guru Besar

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:00 am

Staf pengajar/dosen selain mempunyai tugas utamanya mengajar juga mempunyai kewajiban lainnya yang dalam dunia pendidikan tinggi dikenal “Tri Dharma Perguruan Tinggi” yang mencakup bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dari ketiga komponen dapat diketahui kinerja seorang dosen. Dalam upaya meningkatkan pengembangan diri dan tingkat kesejahteraan seorang dosen, di Universitas Indonesia (UI) ada wadah yang khusus menampungnya. Jika seseorang sangat berminat untuk melakukan penelitian, maka dia dapat masuk dalam tim inti dosen penelitian. Tetapi jika dia lebih senang untuk mengajar saja, maka masuk dalam kategori tim inti dosen pengajaran. Tidak semua dosen bisa masuk dalam dua kategori tersebut, karena ada persyaratan dan kriteria tersendiri yang harus dipenuhi.

Namun demikian, setiap dosen mempunyai hak untuk mencapai jenjang Guru Besar dengan persyaratan tertentu yang telah diatur kementerian pendidikan nasional. Misalnya saja ada ketentuan, seorang dosen harus sudah melakukan publikasi hasil penelitiannya dalam media jurnal ilmiah yang telah terakreditasi dan diakui dalam komunitas bidang keilmuan tertentu. Paling tidak termuat dalam dua jurnal ilmiah tingkat nasional dan satu jurnal ilmiah tingkat internasional. Selain itu, ada ketentuan juga sudah membuat minimal satu buku yang berkaitan dengan bidang ilmu yang ditekuninya. Beberapa dosen menganggap persyaratan ini sangat berat. Tetapi beberapa dosen yang sudah biasa melakukan penelitian dan menulis publikasi ilmiah, bukan suatu penghalang yang berarti. Justru yang sangat dikhawatirkan adalah kelangkaan jurnal ilmiah yang dapat menerima artikel ilmiah. Kalau pun ada, tetapi harus antri karena ternyata banyak artikel ilmiah yang harus dimuat, sementara penerbitannya biasanya per tiga bulan sekali atau empat bulan sekali.

Seorang dosen yang sudah bergelar doktor dari FISIP, harus menunggu dua tahun supaya artikelnya di muat di salah satu jurnal ilmiah nasional. Dia sudah mencari-cari jurnal apa saja yang ada di Indonesia yang sesuai dengan bidang disiplin ilmunya. Dan ternyata tidak sampai sepuluh buah dan itupun sudah penuh dengan antrian artikel ilmiah yang harus dimuat. Tetapi rupanya orang selalu saja menginginkan ‘jalan pintas’ yang mudah dan ringkas. Penulis mempunyai pengalaman ketika mengelola media kampus (SKK Warta UI) pada tahun 1990-an. Media yang terbit setiap dwi mingguan itu (tetapi prakteknya terbit sebulan sekali) pernah suatu saat memuat tulisan seseorang, lengkap dengan identitas asal perguruan tinggi swasta dimana dia mengajar. Usut punya usut, ternyata si penulis tersebut berpikir SKK Warta UI yang menyandang nama UI dianggap setara dengan jurnal ilmiah, sehingga tulisan yang dimuat bisa dijadikan “cum’ untuk menjadi Guru Besar.