October 15, 2010

Tidak Mau Bersikap ‘Business as usual’

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:38 pm

Sebagai orang yang sudah terbiasa dalam meliput berbagai peristiwa dalam berbagai kesempatan banyak pelajaran yang bisa didapat daripadanya. Salah satu diantaranya adalah ‘kepekaan’ untuk menangkap makna dari suatu peristiwa atau menangkap pernyataan penting yang dapat membuka suatu tabir yang berhubungan dengan suatu peristiwa yang sudah lampau. Salah satu diantaranya adalah pada saat pemberian penghargaan Satya Lencana Karya Satya kepada pegawai negeri sipil Universitas Indonesia yang berlangsung kamis (14/10) di Gedung Pusat Administrasi Kampus Depok. Sebelumnya sudah diantisipasi, kemungkinan besar Rektor akan memberikan sambutan yang cukup penting dihadapan para dosen dan pegawai UI yang telah mengabdi selama sepuluh hingga tigapuluh tahun lebih.

Acara yang sedianya berlangsung tepat pukul sepuluh, diundur cukup agak lama , menunggu pembina upacara (Rektor) datang ke tempat acara. Sebagian hadirin sudah mulai gelisah. Untunglah Rektor segera datang dan acara pun segera dimulai. Usai menyematkan lencana dan piagam penghargaan kepada perwakilan penerima penghargaan, Rektor langsung memberikan sambutan tanpa basa basi, nada tinggi dan berapi-api. Beberapa bagian dari isi pidatonya merupakan respon dari ‘rumor miring’ yang beredar di lingkungan UI seputar kepemimpinannya yang lebih mementingkan pembangunan yang bersifat fisik, serta isu-isu krusial lainnya seperti perubahan PT BHMN menjadi Badan Layanan Umum (BLU) , Pembangunan Gedung Perpustakaan Pusat, penelititan dan publikasi jurnal ilmiah, pembangunan jalan boulevard, sistem keuangan terpadu, kesejahteraan pegawai, dan lain-lain.

Sebagai seorang yang menjabat rektor sebetulnya dia bisa saja duduk manis dan melakukan berbagai pekerjaan pimpinan UI seperti biasanya dan sebagaimana apa adanya. Tetapi rupanya dia mengambil pilihan lain, ingin melakukan sesuatu yang berguna tidak saja bagi UI tetapi juga bagi negara dan bangsa serta bagi generasi yang akan datang. Karena itu dalam masa kepemimpinan selama tiga tahun, banyak melakukan terobosan (dan juga ‘tabrakan’) di berbagai bidang, apakah itu di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Juga melakukan hal-hal yang bersifat non-fisik seperti diantaranya keuangan yang terpusat dan terpadu. Dia menyadari pula terobosan yang dilakukan membuatnya di mata sementara orang menjadi tidak populer dan mengundang penentangan oleh sebagian orang. Tetapi dia merasa harus melakukannya saat ini, karena kalau tidak, UI tidak akan bersaing di tingkat internasional.

Rektor juga menyinggung tentang pembangunan perpustakaan dan jalan boulevard. Dana pembangunan perpustakaan didapat dari APBN sebesar 100 milyar kemudian mendapat tambahan lagi melalui APBN-P sebesar 100 milyar dan mendapat bantuan dari Bank BNI sebesar 50 milyar dengan konpensasi sebagian ruangan perpustakaan dipakai untuk kantor Bank BNI untuk jangka waktu tertentu. Sedangkan tentang pembuatan jalan boulevard, biayanya didapat dari sumbangan group LIPPO. Perusahaan ini bahkan menantang lebih jauh, apa lagi yang bisa dibantu untuk UI. (Pemimpin group LIPPO ini adalah Dr. Mochtar Riady yang sempat menjabat Ketua MWA UI yang pertama kali. Sedangkan sekretaris MWAnya dijabat Dr. derSoz.Gumilar Rusliwa Somantri).

Dalam bagian lain sambutannya Rektor juga menyampaikan terima kasih kepada para penerima Satya Lencana Karya Satya atas pengabdiannya selama ini. Apa yang dilakukannya untuk UI saat ini adalah karena atas bantuan dan dorongan dari para dosen dan pegawai UI juga. Karena tidak mungkin UI seperti sekarang ini kalau tidak ada partisipasi dari seluruh warga UI.