October 13, 2010

‘Barel’ Bagai Duri dalam Daging

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:00 am

Kasus pintu pagar besi di depan kampus Fakultas Hukum yang ditutup/dilas atau dikenal dengan istilah ‘barel’ (balik rel krl) telah menghangatkan suasana hubungan komunikasi antara pimpinan UI, mahasiswa dan masyarakat. Kemarin siang (12/10) dijaga pasukan polisi, karena masyarakat membongkar paksa untuk melubangi kembali pagar untuk jalan masuk ke kampus UI. Dalam peristiwa tersebut tidak terlihat para mahasiswa yang berjaket kuning ada diantara masyarakat yang ingin melubangi pagar.

Beberapa waktu lalu, beberapa mahasiswa membawa kasus ini ke Komnas HAM, setelah tidak berhasil diselesaikan di tingkat pemerintah kota Depok. Di konator Komnas HAM itu para pihak yang berselisih paham dipertemukan kembali untuk mencari titik temu. Tetapi hasil pertemuan itu pimpinan UI bersikukuh untuk tetap menutup secara permanen pintu pagar. Hal ini tidak memuaskan para mahasiswa dan masyarakat. Akhirnya terjadilah kekerasan yang dilakukan masyarakat membuka secara paksa las yang menutup pintu pagar, tetapi kemudian UI menutup kembali.

Pada saat pembukaan kampus Depok tahun 1987, hanya ada dua pintu pagar yang dibuka untuk lalu lintas jalan kaki. Pertama di stasiun UI yang memang dirancang untuk para mahasiswa/dosen yang akan menuju ke Fakultas psikologi, FISIP, FIB dan Hukum. Pintu kedua yaitu di dekat stasiun Pondok Cina yang memang sejak sebelum UI pindah ke Depok, jalan tersebut biasa dipakai penduduk yang akan menuju ke Kukusan. Dalam perkembangan selanjutnya kawasan di sepanjang rel krl dari stasiun UI hingga pondok cina, ramai dengan para mahasiswa UI yang tinggal di tempat kos-kosan yang dibuat penduduk setempat. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu pagar depan fakultas hukum dan dekat stasiun Pondok Cina yang menuju arah FKM sudah terbuka dan berfungsi untuk para pejalan kaki. Dan tampaknya pimpinan UI (yang terdahulu) memfasilitasinya dengan dibuatkan pintu khusus yang dibuka pada waktu tertentu dan kalau malam hari dikunci.

Jauh sebelum kasus barel mencuat, pernah juga terjadi pagar UI di dekat stasiun UI di potong, tepatnya dirubuhkan karena disitu ada bangunan pertokoan yang menghadap ke kampus, sehingga antara pertokoan dan kampus UI tidak ada pagar pembatas. Padahal lokasi pertokoan tersebut berada di kawasan stasiun UI. Tentu saja UI merasa “dikangkangi’, karena tanpa ijin membongkar pagar UI. Untuk mengembalikan memasang pagar ini pun ditentang masyarakat dan mahasiswa UI yang merasa terbantu dengan adanya pertokoan tersebut. Perlu waktu cukup lama dan kesabaran yang cukup tinggi untuk memulihkan pagar tersebut. Kini, kasus ‘barel’ mencuat membuat UI mendapat sorotan dari berbagai pihak, karena publikasi dan sikap dari masyarakat dan mahasiswa sangat berbeda pada waktu kasus penutupan pertokoan di stasiun UI. Bagaimana kelanjutan dari kasus ini, kita tunggu saja.