October 11, 2010

Pegang Teguh Integritas dan Profesionalitas

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:38 pm

Sabtu kemarin (09/10) menghadiri silaturahim keluarga alumni aktivis Mesjid Arif Rahman Kampus Salemba Jakarta. Beberapa orang teman yang sudah lebih dari tigapuluh tahun tidak bertemu, kemarin tampak terlihat menyengajakan diri datang. Selain pria ada juga wanita,baik yang datang bersama suami yang sama-sama aktivis mesjid, maupun datang sendirian atau anaknya. Berasal dari berbagai fakultas, mulai dari mantan mahasiswa angkatan tahun 1975 hingga mantan mahasiswa lulusan kampus Depok. Sedangkan latar belakang pekerjaannya sangat beragam, ada yang ahli nuklir, pegawai Pertamina, Konsultan, wiraswasta, aktivis parpol PNS hingga menteri Kabinet Indonesia bersatu jilid II.

Kebanyakan para aktivis mesjid adalah para mahasiswa idealis, yang karena merasa terhambat kreativitasnya dengan berbagai aturan yang diterapkan rejim Orde Baru, akhirnya mereka berkumpul dan beraktivitas di lingkungan mesjid. Beberapa aktivis mesjid ini juga aktif di lingkungan senat fakultas dan juga dewan mahasiswa. Mesjid mempersatukan para aktivis ini, karena tekanan-tekanan represif dari rezim Orde Baru terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan, khususnya Islam. Ketika Indonesia dilanda ‘demam’ revolusi Islam Iran tahun 1979, ada sebagian aktivis mahasiswa yang tertarik dengan metode cara berpikir syiah yang kritis dan cenderung radikal terhadap cara berikir Barat yang kapitalistik. Namun demikian, tidak menyebabkan keretakan dengan teman-teman mahasiswa yang hanya sempat mengagumi revolusi Islam Iran tetapi tidak masuk menjadi seorang syiah.

Beberapa teman menceritakan pengalamannya berkecimpung di dunia birokrasi ataupun di sektor swasta, penuh dengan intrik yang tidak sehat, bahkan mengabaikan etika dan moral. Kalaulah tidak dibekali dan digembleng dengan nilai-nilai keagamaan selam aktif di mesjid, mungkin sudah ikut larut. Beberapa orang teman bahkan mengajukan pensiun dini, demi menjaga integritas dan profesionalitas. Ada pengalaman seorang teman yang bergerak dalam bidang pengolahan limbah, proposal yang dia ajukan lebih murah dan lebih aman dibandingkan dengan proposal yang diajukan perusahaan asing,tetapi para birokrat di salah satu instansi meloloskan proposal yang diajukan pihak asing. Kini dia bergerak di bidang budidaya tanaman organik bersama masyarakat dan menjual hasil tanaman itu jauh lebih murah dibandingkan dengan tanaman organic yang dihasilkan perusahaan lain. Dia berprinsip yang penting bagaimana memberdayakan masyarakat. Dia sudah ditawari modal oleh pemodal dari Malaysia, tapi dia menolak karena merasa akan menghianati bangsa.

Seorang teman aktivis salah satu partai menceritakan pengalaman lain lagi. Dalam pemilihan pilkada di daerah-daerah, biasanya ada balon yang minta dukungan kepada partainya. Walaupun dukungan dari parpol pusat sudah dipegang, tetapi ternyata kalah dalam pilkada. Usut punya usut ternyata balon itu sudah menyetor sejumlah uang kepada pengurus pusat partai, namun di tingkat daerah partai tersebut justru mendukung balon yang berbeda. Inilah salah satu bukti bagaimana para pemimpin yang tidak mempunyai integritas, tidak peduli dengan nasib bangsa di masa mendatang. Dan kebanyakan para pejabat kita, baik di tingkat pusat hingga ke tingkat daerah tidak lagi peduli dengan profesionalitas dan integritas. Maka hingga kini kita menyaksikan carut marutnya negara ini.