October 8, 2010

Komunisme, Terorisme, Islam

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:48 am

Sekedar untuk mengingatkan saja, dari hasil pengamatan sepintas, dalam duapuluh tahun terakhir ini topik-topik di media banyak dibicarakan tentang terorisme, yang penuh dengan kekerasan, kejam, pembunuhan, yang diidentikan dan dikait-kaitkan dengan ajaran Islam. Satu hal yang hampir mirip dengan kasus komunisme yang tidak bertuhan, bengis, sadis dan menghalalkan segala cara, pada masa perang dingin tahun 1960-an hingga 1980-an. Topik di atas sengaja dikemukakan, karena hari ini hari Jum’at (08/10) dan besok para alumni aktivis mesjid UI akan mengadakan acara silaturahim serta membahas topik perkembangan da’wah di lingkungan kampus dengan nara sumber Drs. Suharna Surapranata, MSc (Menristek), yang dahulu jaman masih mahasiswa aktivis mesjid ARH UI Kampus Salemba Jakarta. Penulis melihat kegiatan kegiatan para aktivis mesjid kampus saat ini seperti sudah kehilangan arah, mau menggarap bidang mana. Dan mau apa. Dulu sekali ramai diwacanakan tentang para intelektual yang mempunyai wawasan keagamaan, maka muncullah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dimotori para mahasiswa dari Universitas Brawijaya. Kemudian hal ini diikuti pula dengan berdirinya ikatan cendekiawan dari agama lain. Kemudian ramai pula dibicarakan sistem ekonomi yang berdasarkan syariah, karena waktu itu di dunia sudah berdiri bank Islam. Maka di Indonesia pun akhirnya berdiri Bank Muamalat, yang diikuti oleh bank-bank umum lainnya membuka cabang sendiri dengan sistem syariah. Bahkan sampai pegadaianpun memakai sistem syariah. Saat ini yang memang mendesak untuk segera mencari penyelesaiannya yaitu terorisme yang dikaitkan dengan Islam. Sepertinya ada kebanggaan kalau berbuat “amar ma’ruf nahi munkar” dengan cara kekerasan, tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkannya. Dan yang lebih repotnya lagi mereka yang telah melakukan perbuatan itu merasa puas secara batiniah, walaupun harus mengorbankan nyawanya, karena balasannya surga. Yang amat mengkhawatirkan, perbuatan terorisme ini lama kelamaan akan merusak sendi-sendi negara ini yang didirikan berdasarkan atas “keberagaman”. Tetapi terkadang pengertian “keberagaman” ini juga ditafsirkan berbeda-beda oleh setiap kelompok elemen bangsa. Sudah saatnya kita mengkaji dan merenungkan kembali, langkah-langkah yang dibuat ke depan dengan tetap berpegang pada keyakinan agama masing-masing, tetapi juga tidak meruntuhkan sendi-sendi negara kita yang dibangun berdasarkan keberagaman. Masa sih, dari sekian juta penduduk Indonesia, tidak ada pemikiran atau solusi yang terbaik untuk memecahkan persoalan kehidupan bangsa ini.