October 5, 2010

Kedekatan UI dengan TNI

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:42 am

Tulisan ini merupakan opini pribadi, bukan pendapat institusi dimana pernulis bekerja. Karena itu, segala isi dan informasi dalam tulisan ini serta segala akibat yang ditimbulkannya menjadi tanggung jawab pribadi pula.

Setiap tanggal 5 Oktober kita memperingati Hari Angkatan Bersenjata yang tentu saja berkaitan dengan institusi yang biasa memanggul senjata atau kita kenal sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ada masa dimana Institusi ini begitu amat perkasa dan berwibawa terutama dalam hal menjaga dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Tetapi ada masanya dimana dalam tubuh TNI sendiri terjadi konflik dan bahkan sampai kepada pertikaian secara terbuka dalam bentuk separatism, menganut ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Tetapi ada pula saat dimana TNI dimanfaatkan untuk mempertahankan kekuasaan sekelompok orang dan menteror rakyat, yang dahulu menjadi “ibu kandung” nya, bahu membahu dalam masa revolusi fisik untuk menjaga ibu pertiwi.

Dari beberapa informasi baik dari bacaan ataupun pembicaraan orang, sudah sejak jaman penjajahan Jepang, para mahasiswa UI selain menuntut ilmu di bangku kuliah, juga aktif memanggul senjata, terutama mahasiswa fakultas kedokteran. Tempat berkumpul dan berdiskusi para mahasiswa yang aktif sebagai tentara yaitu asrama mahasiswa UI di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 17, dan di jalan Prapatan nomor 10 Jakarta Pusata. Begitu pula dalam masa mempertahankan kemerdekaan, kita mengenal dr. Abdurahman Saleh yang aktif juga dalam ketentaraan dan gugur saat menjalankan tugas membawa obat-obatan sumbangan dari pemerintah India. Pesawat terbang yang ditumpanginya jatuh ditembak pemerintah kolonial Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Beberapa tokoh mahasiswa UI angkatan 1966, secara personal mempunyai kedekatan khusus dengan beberapa petinggi TNI. Jenderal Sarwo Edhi Wibowo (mertua Presiden SBY), menyengajakan khusus mendatangi kampus Salemba dan berpidato di hadapan para mahasiswa UI. Begitu pula pada saat terjadi peristiwa Malapetaka Limabelas Januari (Malari) 1974, Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), berbicara langsung dengan para mahasiswa UI. Bahkan setelah menjalani masa tahanan, para aktivis mahasiswa mempunyai hubungan pribadi yang baik dengan petinggi TNI yang dulu menahannya. Pada saat tumbuhnya gerakan reformasi menjelang keruntuhan Orde Baru, delegasi mahasiswa UI yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyampaikan aspirasinya kepada wakil rakyat di MPR. Hanya Fraksi ABRI yang berani untuk mengadakan dialog dan menerima pernyataan para mahasiswa UI yang tidak bisa menerima pidato pertanggungjawaban mandataris MPR. Kebetulan penulis sempat mendokumentasikan kegiatan tersebut secara lengkap.

Tetapi rupanya ada pihak yang tidak suka kalau mahasiswa “dekat’ dengan TNI. Maka disusupkanlah berbagai informasi keliru ke dalam kampus, sehingga para mahasiswa sangat alergi terhadap tentara dan menyebutnya sebagai “laler ijo”. Ketika Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI yang juga menabat sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI dan mendapat pangkat Brigadir Jenderal tituler Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dilantik sebagai Rektor UI tahun 1982, muncul spanduk bertuliskan “Jangan nodai kampus Kami dengan Sepatu lars.”

Pada masa kuliah dahulu, (tahun 1980-an) kebetulan ada seorang perwira Kopassus yang terdaftar sebagai mahasiswa FISIP UI. Dia rajin sekali mengikuti perkuliahan dan penulis sering mengobrol dengannya. Suatu saat dia pernah berkata, untuk duapuluh tahun ke depan para mahasiswa masih harus tetap bekerjasama dengan TNI. Waktu itu belum tahu apa maksudnya dia berkata seperti itu. Karena kesibukan pekerjaannya dia tidak bisa meneruskan kuliahnya. Selang beberapa tahun kemudian mendengar kabar, perwira tersebut tewas di Lampung pada saat akan diresmikan sebuah pabrik gula. Duapuluh Sembilan tahun kemudian, kebetulan mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (K2N) para mahasiswa UI di Pulau Miangas, yang termasuk wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah NKRI yang terletak paling utara dan berbatasan langsung dengan wilayah Negara Philpina. Dengan bantuan kapal perang TNI Angkatan Laut, dari Pelabuhan Bitung Sulawesi Utara sampai ke Pulau Miangas ditempuh dalam waktu 20 jam. Dan biaya bahan bakar yang diperlukan untuk berlayar itu sama dengan harga sebuah kijang Innova yang baru. Sementara kalau dengan kapal penumpang biasa bisa ditempuh dalam waktu satu minggu. Selama di sana pun para mahasiswa K2N dibantu TNI dalam hal makanannya, ada dapur umum untuk menyediakan makanan bagi 70 an mahasiswa dalam waktu satu bulan. Di Pulau Miangaslah para mahasiswa UI dapat melihat langsung bagaimana para prajurit dan perwira TNI bertugas di daerah perbatasan dengan sarana yang seadanya dan sangat minim, jauh dari keluarga demi melaksanakan tugas menjaga keutuhan wilayah NKRI.

Di Miangas ini pernah terjadi konflik seorang penduduk dengan aparat desa (RT). Karena tidak puas terhadap penyelesaian persoalan itu, timbul isu dan masyarakat pun terpengaruh. Tiang bendera di kantor kecamatan tiba-tiba saja sudah terpasang bendera Negara Philipina. Maka gemparlah seluruh penduduk. Mau minta bantuan kepada siapa? Dari Miangas ke pulau terdekat Negara Philipina dapat ditempuh dalam waktu tiga jam naik perahu motor. Sementara ke pulau terdekat wilayah Indonesia baru sampai setelah lima jam. Seorang pembimbing K2N di Pulau Sabang lain lagi bercerita. Ketika tahu rombongan K2N diantar pihak tentara, aparat Pejabat petinggi di Pulau Sabang tidak hadir. Baru keesokan harinya rombongan mahasiswa disambut pejabat pemerintah daerah Sabang. Pada saat acara resmi seperti itu tidak ada menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mungkin karena mereka berasal dari kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak merasa menjadi bagian dari Indonesia. Di Merauke lain lagi. Rombongan K2N sebanyak 20 orang dikawal seratusan tentara. Tidak heran, karena para mahasiswa ini diantar langsung panglima KODAM ke lokasi tempat K2N. Dan tampaknya mahasiswa pun merasa nyaman serta enjoy dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat serta mengajar di sekolah karena ada tentara yang senantiasa mengawal. Maka sangatlah mengherankan kalau ada sekelompok kecil di masyarakat yang menyudutkan dan melemahkan eksistensi institusi TNI, hanya karena melihat sepak terjang beberapa oknum TNI yang tidak terpuji. Bayangkan, kalau semua pemuda terpengaruh dengan propaganda ini, sehingga tidak ada yang berminat untuk menjadi tentara, siapa yang mau menjaga wilayah NKRI di daerah-daerah terpencil?

Kalau jaman Orde Lama dan Orde Baru sebagian mahasiswa UI menjalin hubungan secara eksklusif dengan elit TNI, sehingga memudahkan dalam melakukan komunikasi dan cepat mengetahui perkembangan politik yang terjadi di kalangan elit birokrasi pemerintahan. Maka era reformasi kini para mahasiswa UI dikenalkan dengan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi para prajurit dan perwira TNI di lapangan , khususnya di wilayah perbatasan serta dapat pula merasakan dan berempati dengan prajurit/perwira TNI dalam menjalankan tugasnya. Inilah barangkali penjabaran pesan yang disampaikan teman perwira Kopassus tersebut di atas.

Dirgahayu TNI NKRI !!!