October 4, 2010

Kampanye dan Doger Monyet

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:40 am

Hari Minggu (03/10) di beberapa ruas jalan di Kota Depok mengalami kemacetan yang luar biasa, karena jalanan ternyata dipenuhi atau lebih tepatnya dimonopoli rombongan kendaraan yang melakukan konvoi kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Depok, menjelang pencoblosannya akan dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2010.

Pagi hari saat penulis menuju suatu tempat, kebetulan melihat persiapan para peserta yang akan melakukan konvoi. Selain orang dewasa, peserta konvoi juga didominasi ibu-ibu dan anak-anak. Yang tidak biasa diantara rombongan terlihat ada doger monyet yang sedang melakukan aksinya. Pemandu doger yang memegang tali untuk mengendalikan monyet dan sekaligus juga penabuh gendang, memakai kaos dengan lambang partai terntentu dan juga gambar balon walikota/wakil walikota yang diusung partai tersebut. Yang luar biasa, monyet doger pun memakai kaos yang bergambar lambang partai tertentu. Yang lebih lucu lagi, monyet doger tersebut memperagakan gerakan-gerakan sholat, seperti mengangkat kedua tangannya seolah-olah sedang takbirotulihram. Setelah itu monyet pun lalu menungging seperti gerakan sujud di atas secarik kain. Yang meilhat adegan tersebut hanya senyum-senyum kecil. Dalam hati membatin, pelatih doger monyet kreatif juga melatih monyet melakukan gerakan shalat. Suatu hal yang baru, karena biasanya monyet doger dilatih naik motor, pergi ke pasar, membawa cangkul, memakai topeng, dan lain-lain.

Dari berbagai pemberitaan di berbagai media, kita mengetahui pemilihan kepala daerah di beberapa tempat menimbulkan konflik dan bentrokan fisik diantara sesama anggota masyarakat. Tidak jarang, kepala daerah yang sudah terpilih secara demokratis itu, banyak menimbulkan masalah di belakang hari dan tidak peduli dengan kesejahteraan masyarakatnya. Singkatnya kegiatan pilkada lebih banyak menimbulkan biaya sosial yang cukup tinggi. Walaupun banyak ekses negatif yang terjadi dengan pemilihan langsung ini, tetapi kegiatan masih tetap saja dilaksanakan, karena sudah terbius dengan slogan demokrasi. Seakan-akan demokrasi itu segala-galanya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Padahal demokrasi hanyalah sebuah cara/alat untuk dapat menyejahterakan rakyat, bukan tujuan utama.

Dengan adanya banyak kasus dan ekses yang terjadi dalam pemilihan kepala daerah ini, penulis ingin mengingatkan, jangan-jangan kehidupan kenegaraan kita sudah seperti doger monyet, leher sudah diikat dan dikendalikan oleh kepentingan “pihak luar”, sehingga tidak lagi mempunyai kebebasan dan kemandirian dalam menentukan nasib negara kita sendiri. Kita dipaksa untuk melakukan segala sesuatupara juragan pemegang tali tadi. Kita dicekoki terus tentang pemilu langsung merupakan suatu bukti telah menjalankan demokrasi sejati seperti juga yang telah dilaksanakan negara-negara maju lainnya. Pujian pun datang sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia yang telah berhasil melaksanakan demokrasi sejati. Sanjungan ini ibarat gendang pada doger dan monyet pun makin bersemangat untuk menjalankan tugas-tugas yang sudah diberikan dan dilatih oleh juragan doger monyet. Hal ini penting untuk diketahui oleh dan disadari oleh generasi muda sekarang ini, yang pada bulan ini akan memperingati perayaan Hari Sumpah Pemuda. Saya kira pencetusan Sumpah Pemuda tahun 1928 suatu perbuatan yang jenius, dilakukan oleh para pemuda atas dorongan sendiri dan bertindak bukan karena dikendalikan kepentingan pihak luar. Pada saat itulah sebetulnya para pemuda Indonesia bukan sebagai Doger Monyet.

Ayo bangkit pemuda Indonesia!

Jangan mau berpikir dan bertindak sebagai doger monyet!