October 1, 2010

Tumpeng Veritas, Probitas, Iustitia

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:48 am

Melihat judul tulisan ini, pasti akan bertanya-tanya, tulisan apakah gerangan sehingga harus memakai judul tersebut. Apakah dalam rangka memperingati kepindahan ke Kampus Depok yang memang berlangsung pada bulan September 1987. Ataukah memperingati 30 September 1965 yang oleh sebagaian orang dinamakan juga Gerakan satu Oktober (gestok), karena pada saat peristiwa itu terjadi sudah menjelang dinihari, atau kalau versi pemerintah dikenal juga dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila?

Dua hari lalu, teman sekantor bersepakat untuk mengadakan acara selamatan memperingati hari ulang tahun teman senior yang jatuh pada tanggal 30 September. Semua bersepakat untuk membawa atau membuat makanan sendiri, yang akan dimakan beramai-ramai. Karena di kantor dikenal sebagai tukang masak, penulis kebagian tugas untuk membuat nasi kebuli. Pagi hari masih bertugas melakukan peliputan simposium di Pusat studi Jepang, baru bisa keluar meninggalkan acara pukul 11.00 siang. Dalam waktu sesingkat itu, tidak mungkin membuat nasi kebuli, belum belanja dan masak. Akhirnya diputuskan untuk membuat nasi kuning, hanya punya waktu satu jam saja untuk menanak nasi. Singkat cerita jadilah nasi kuning, dan sampai di kantor kembali pukul 13.00. Pada saat yang berulang tahun datang, makanan sudah siap. Yang membuat surprise, nasi kuning yang tadinya ditempatkan di rice cooker sudah berubah bentuk menjadi tumpeng. Waktu ditanyakan kepada seorang teman, rupanya dia mencoba membuat bentuk tumpeng dengan memakai map yang ada tulisan veritas, probitas, Iustitia. Maka jadilah tumpeng veritas, probitas, Iustitia.

Senior yang berulang tahun, pada kesempatan itu menceritakan pengalamannya waktu memperingati HUTnya pada 30 September 1965. Saat itu dia sudah bersekolah di SMP Santa Ursula Menteng Jakarta Pusat. Kebetulan rumahnya juga di daerah menteng. Malam hari menjelang ulang tahun, suasana kota sepi mencekam tidak seperti biasanya. Acara ulang tahun usai menjelang tengah malam. Besok paginya, ketika mau berangkat sekolah suasana jalanan sepi sekali. Sesampainya di sekolah teman-temannya bertanya, apakah semalam mendengar suara tembakan? Jam sekolah belum berakhir, tetapi tampak para pejemput (anak-anak para pejabat/jenderal) mulai berdatangan menyuruh segera pulang kepada para siswa. Hari itu kegiatan sekolah dihentikan. Tidak berapa lama kemudian Radio Repulbik Indonesia (RRI) menyiarkan pidato Kolonel Untung, Komandan Pasukan Khusus Presiden (Cakrabirawa) yang menyatakan, semalam telah terjadi kudeta oleh Dewan Jenderal untuk menggantikan kepemimpinan nasional, tetapi telah dapat ditumpas oleh Dewan Revolusioner yang dipimpin Kolonel Untung. Sejak pengumuman itu, jam malam diberlakukan, orang boleh bepergian dan berlalu lalang hingga jam 18.00. Sekolah-sekolah pun diliburkan dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Akhirnya kegiatan tahun ajaran baru sekolah pun berubah, yang tadinya bulan Agustus menjadi bulan Januari. (Dan diubah lagi menjadi bulan agustus pada jaman Menteri Pendidikan Daud Joesoef tahun 1979).