September 30, 2010

Selamat Datang di Kampus Hijau, Ki Dableg!

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:58 pm

Universitas Indonesia semakin mengukuhkan diri sebagai “green campus” dengan diboyongnya penghuni baru ke areal kampus UI. Penghuni baru tersebut adalah 4 buah pohon Baobab (Ki Dableg). Keempat pohon itu dipindahkan dan ditanam kembali di sisi kanan dan sisi kiri Gedung Pusat Administrasi Universitas (d/h. Rektorat) Kampus Depok.

        Pohon Baobab yang memiliki nama latin Adon Sonia Digitata ini merupakan hibah dari Pabrik Gula Rajawali II untuk UI dalam rangka konservasi. Menurut Dadan, Ketua Pembinaan Lingkungan Kampus (PLK) UI, pohon Baobab ini adalah sebuah pohon yang sangat langka yang usianya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan tahun. Saat ini pohon-pohon yang dipindahkan ke UI usianya di atas 100 tahun, bahkan ada yang usianya 240 tahun. Habitat aslinya Pohon Baobab berasal dari daerah Afrika, di bawa ke Indonesia oleh pemerintahan Hindia Belanda. Pohon Baobab adalah salah satu pohon langka di dunia, buah dari pohon ini memiliki kandungan vitamin C 3 kali lipat dari buah jeruk. Konon katanya, kalau batang pohonnya sudah berdaun rimbun, bentuknya seperti lambang makara UI.

        Pohon Baobab ini merupakan proyek hibah hasil kerjasama antara Universitas Indonesia, Pabrik Gula Rajawali II, PT Waskita Karya, dan Dinas Kehutanan. Proyek hibah ini diperuntukkan sebagai sarana konservasi dan riset bagi mahasiswa, terutama mahasiswa S2 Herbal, papar Prof. Gumilar. Pohon Baobab ini dipindahkan ke UI selain karena jenisnya yang langka, juga karena pohon ini tahan dipindahkan. Habitat aslinya berada  daerah Subang, di kawasan perkebunan milik PT. Rajawali. Majalah Trubus yang pertama kali memberitakan tentang adanya pohon langka di wilayah Subang. Penduduk setempat menamai pohon ini Ki Dableg. Empat pohon yang dipindahkan ke UI memiliki diameter 7 hingga 10 meter dengan berat masing-masing 10 hingga 17 ton. Tiap pohon memerlukan waktu dua hari untuk bisa dicabut dan dipindahkan serta ditanam kembali di Kampus Depok. Dua pohon pertama yang di tanam di UI memerlukan waktu dua  minggu untuk bisa tumbuh pucuk daun di batang pohon.

        Pada rencana awal, akan ada 6 pohon Baobab yang dipindahkan ke UI, tapii saat ini baru 4 buah pohon yang dipindahkan. Dan hari ini (29//09) adalah kali kedua pemindahan pohon Baobab ke UI setelah sebelumnya pada tanggal 1 September 2010 lalu pemindahan pertama dilaksanakan dan berjalan lancar.

        Semoga saja proyek hibah ini berjalan baik sesuai dengan rencana sehingga UI bukan saja menjadi kampus yang indah namun juga bisa menjadi contoh bagi kampus-kampus lainnya agar lebih memperhatikan lingkungan hidup.(wnd/mrr)

September 29, 2010

SEBUAH ANALISIS RINGKAS TENTANG KANEKES

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:19 pm

by Richadiana Kartakusuma on Tuesday, September 21, 2010 at 4:38pm

PERILAKU KONFORMITAS MASYARAKAT BADUY

Benarkah Masyarakat Baduy termasuk masyarakat yang berperilaku Konformitas ?, Konformitas adalah sikap mengalah seseorang pada tekanan sosial, baik yang nyata maupun yang dibayangkan. Pertanyaannya, adalah apakah warga Baduy tidak mengalami “keterpaksaan” dalam melakukan konformitas tersebut ? Bagaimana bentuk-bentuk perilaku konformitas yang dilakukan masyarakat Baduy ? Apakah semua warga Baduy melakukan konformitas ?

Sejak digulirkannya deklarasi Renaisans pada abad pertengahan di Eropa, modernisasi, industrialisasi dan kemajuan teknologi dengan semangat positivisme telah menjadi arus utama yang mengglobal. Bangsa yang tidak menyesuaikan diri (conform) dengan arus utama ini, akan diklaim “ketinggalan zaman”.

Sejalan dengan itu, di Propinsi Banten, meskipun sering disebut juga mengikuti model pembangunan mainstream, namun di selatan ibukotanya masih terdapat komunitas adat terpencil. Sebuah komunitas yang hidup sangat sederhana dengan menggantungkan hidup terutama dari bercocok tanam padi dan tanpa menghiraukan dengan perkembangan zaman. Masyarakat yang sangat tertutup dari pengaruh budaya luar ini, dikenal dengan sebutan Masyarakat Baduy, orang Baduy atau orang Kanekes.

Komunitas ini mendiami lereng pegunungan Kendeng dengan luas wilayah sekitar 5.101,85 hektare. Secara administratif terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Berkisar 160 km sebelah barat Kota Metropolitan Jakarta. Sebutan orang Baduy pada awalnya bukanlah berasal dari warga Baduy sendiri. Penduduk wilayah Banten Selatan yang sudah ber¬agama Islam, biasa menyebut ’Baduy’ kepada orang-orang Kanekes yang tidak beralas kaki, pantang naik kendaraan, pantang sekolah formal, dan suka berpindah¬-pindah seperti halnya orang Badawi di Arab.

Masyarakat Baduy terbagi atas tiga kelompok, yakni tangtu, panamping dan dangka. Meski demikian pengelompokkan yang sering digunakan oleh masyarakat umum hanya dua, yaitu Baduy Dalam (padanan untuk tangtu) dan Baduy Luar (padanan untuk panamping dan dangka).

Lembaga adat Baduy dipimpin oleh tiga orang puun. Ketiga pimpinan tertinggi ini berasal dari tiga kampung keramat di Baduy Dalam, yaitu Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana. Puun adalah orang suci keturunan karuhun (leluhur) yang berkewajiban menjaga kelestarian pancer bumi dan sanggup menuntun warganya berpedoman pada pikukuh atau ketentuan adat mutlak sebagai panduan perilaku.

Keyakinan masyarakat Baduy bersumber dari ajaran Sunda Wiwitan. Ajaran ini melahirkan pikukuh sebagaimana titipan karuhun (leluhur). Pikukuh berdasarkan sistem budaya dan sistem religi Sunda Wiwitan inilah yang menyebabkan masyarakat Baduy memproteksi diri dari pengaruh modernisasi sekaligus menjadi pedoman perilaku orang-orang Baduy.

Prinsip yang dimiliki dan dijalani oleh masyarakat Baduy antara lain: tidak membangun permukiman dari bebatuan, semen, genting, paku atau produk industri modern lainnya. Berkali-kali tawaran pembangunan dari Pemerintah Propinsi maupun Kabupaten berupa pembangunan jalan, listrik masuk desa, balai pengobatan, sekolah hingga pengadaan alat tenun ditolak masyarakat Baduy karena dianggap bertentangan dengan ketentuan karuhun dan adat.

Apabila puun sudah menimbang dan memutuskan sesuatu, maka keputusan itu pula yang akan dilaksanakan segenap warga Baduy. Akibat penolakan-penolakan terhadap modernisasi diatas, program pemerintah hanya bisa dilakukan sampai perbatasan wilayah Baduy Luar, yaitu sampai Desa Ciboleger.

Gambaran diatas menunjukkan, pada saat keluarnya pernyataan sikap lembaga adat, diwaktu bersamaan muncul pula konformitas warga Baduy. Keputusan lembaga adat, tidak akan memiliki kekuatan apapun tanpa adanya konformitas warga yang mendukungnya. Komunalisme tidak akan terjaga, jika tidak ada konformitas para penganutnya.

DATA DAN FAKTA Data demografi orang Baduy pertama kali tercatat pada tahun 1888, berjumlah 291 orang yang menempati sepuluh buah kampung. Demografi masyarakat Baduy, sampai dengan perhitungan terakhir tahun 2006 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 : Demografi Masyarakat Baduy

1 1888 291 jiwa 2 1889 1.407 jiwa 3 1908 1.547 jiwa 4 1928 1.521 jiwa 5 1966 3.935 jiwa 6 1969 4.063 jiwa 7 1980 4.057 jiwa 8 1983 4.574 jiwa 9 1984 4.587 jiwa 10 1986 4.850 jiwa 11 1994 6.483 jiwa 12 2000 7.317 jiwa 13 2006 9.741 jiwa (Sumber: Garna, 1993; Permana, 2005; Sapin, 2006)

Tahun 2006, populasi penduduk umumnya di dominasi oleh penduduk Baduy Luar yang mencapai 8.688 jiwa. Penduduk Baduy Dalam yang berdiam di tiga kampung keramat berjumlah 1.053 jiwa, terdiri atas 388 jiwa warga Cikeusik, 507 jiwa warga Cibeo, dan 158 jiwa warga Cikartawana. Populasi penduduk Baduy Dalam hanya 10,8 % dari keseluruhan penduduk Baduy yang mendiami 56 kampung di Desa Kanekes.

Konformitas dalam Bentuk Perilaku Manifestasi konformitas dalam bentuk perilaku masyarakat Baduy dapat dilihat dari 1) cara berjalan orang Baduy, 2) aktivitas perladangan, 3) upacara ngawalu, ngalaksa, seba dan 4) aktivitas daur hidup.

1) Cara berjalan orang Baduy. Orang-orang Baduy mengenal istilah huyunan yang artinya berjalan beruntun satu per satu. Huyunan menjadi kebiasaan berjalan orang Baduy karena kondisi jalan setapak di lereng pegunungan Kendeng tempat mereka hidup yang lebarnya hanya berkisar 1-2 meter. Menariknya, cara berjalan ini tetap dipertahankan meskipun orang-orang Baduy tengah berjalan di jalan besar perkotaan yang bukan lagi jalan setapak. Tata cara berjalan orang Baduy mensyaratkan orang tua atau orang yang ditokohkan harus berjalan paling depan, artinya menghargai para tetua dan melambangkan dalam setiap aktivitas apapun, masyarakat selalu mengikuti aturan adat. Cara berjalan ini juga memiliki tujuan etis yaitu untuk mencegah orang membicarakan atau menjelek-jelekkan orang lain yang itu tidak dibolehkan oleh adat, karena berjalan berdampingan akan menstimulus seseorang untuk membicarakan keburukan orang lain.

2) Aktivitas perladangan. Orang Baduy merupakan peladang murni. Berladang merupakan tumpuan pokok mata pencaharian mereka. Sistem perladangan yang dikenal berupa per-ladangan berpindah. Aktivitas berladang disebut ngahuma. Bagi warga Baduy yang sudah berkeluarga, wajib memiliki huma sendiri dan mematuhi tata aturan perladangannya.

Tradisi orang Baduy mengenal 5 macam huma berdasarkan fungsinya, yakni huma serang, huma puun dan kokolot, huma tangtu, huma tuladan, serta huma panamping. Huma serang merupakan huma adat milik bersama. Penggarapan huma ini dikerjakan secara bersama-sama oleh segenap masyarakat Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, dipimpin oleh pimpinan adat atau puun dengan waktu yang sudah ditetapkan oleh lembaga adat.

Tabel 2 : Sistem Kalender dan Aktivitas Warga Baduy 2006-2007 Bulan Baduy Sunda Masehi Aktivitas 1 Sapar / Kapat Kasa Mei 2006 Seba, narawas, nyacar 2 Kalima Karo Juni 2006 Inisiasi, perkawinan, muja 3 Kanem Katiga Juli 2006 Nukuh,selametan 4 Katujuh Kapat Agustus 2006 Ngaduruk, Ngaseuk serang 5 Kadalapan Kalima September 2006 Ngaseuk huma puun 6 Kasalapan Kanem Oktober 2006 Ngaseuk huma tangtu 7 Kasapuluh Kapitu November 2006 Ngaseuk huma warga 8 Hapit-lemah Kawalu Desember 2006 Mipit 9 Hapit-kayu Kasonga Januari 2007 Semi panen 10 Kasa Kasadasa Februari 2007 Kawalu tembeuy 11 Karo Desta Maret 2007 Kawalu panengah 12 Katiga Sada April 2007 Kawalu tutug, ngalaksa

Narawas, artinya mencari atau memilih lahan untuk dijadikan huma. Nyacar, berarti menebas rumput atau semak belukar. Nukuh, berarti mengeringkan rumput dan hasil tebasan lainnya. Ngaduruk adalah kegiatan membakar sampah yang telah dikumpulkan pada kegiatan nukuh. Ngaseuk, artinya membuat lubang kecil dengan menggunakan aseukan (penugal) untuk mananam benih padi. Menugal dilakukan oleh pria, sedangkan memasukkan benih padi ke dalam lubang tugalan dilakukan oleh perempuan. Ngirab sawan, membersihkan sampah bekas ranting dan daun atau tanaman lain yang mengganggu tanaman padi yang sedang tumbuh.

Mipit adalah kegiatan pertama kali memetik atau menuai padi. Tiga bulan saat pemanenan tersebut sering pula dikenal dengan bulan kawalu. Penelitian ini dilakukan pada bulan kawalu tengah. Dibuat, berarti menuai atau memotong padi (panen). Ngunjal, artinya mengangkut hasil panen padi dari huma ke lumbung padi.

Nganyaran, upacara makan nasi baru atau nasi pertama kali hasil dibuat di huma serang. Seluruh tata urutan perladangan di ikuti oleh masyarakat Baduy.

Berdasarkan uraian aktivitas perladangan, dapat disimpulkan kegiatan yang berpotensi memuncul-kan perilaku konformitas masyarakat Baduy yaitu, segala runtutan kegiatan yang berkenaan dengan huma serang, mulai ngaseuk serang sampai ngunjal. Setelah huma serang, kemudian huma puun dan kokolot. Jika warga tidak terlibat, maka sistem kebudayaan Baduy tidak akan berfungsi dengan baik, karena berangkatnya segala upacara adat di Baduy berawal dari hasil perladangan, terutama huma serang.

Partisipasi warga merupakan prasyarat berfungsinya sumber produksi yaitu ladang. Hasil produksi ladang merupakan prasyarat berfungsinya budaya, yaitu upacara adat. Oleh karenanya konformitas menjadi prinsip primer terkait berfungsinya budaya. Sesuai dengan uraian Kaplan (2002), konformitas penganut budaya menjadi keniscayaan berfungsinya sistem ekologi budaya setempat.

3) Upacara ngawalu, ngalaksa, dan seba. Ada tiga kegiatan upacara terkait dengan kegiatan perladangan yang harus diselenggarakan oleh orang Baduy. Ngawalu, adalah upacara dalam rangka “kembalinya” padi dari ladang ke lumbung dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sekali dalam tiap-tiap bulan kawalu. Kawalu awal disebut kawalu tembeuy atau kawalu mitembeuy, kemudian kawalu tengah, dan terakhir kawalu tutug.

Ngalaksa, berarti kegiatan atau upacara membuat laksa, semacam mi tetapi lebih lebar, seperti kuetiaw yang terbuat dari tepung beras. Keterlibatan warga sangat dijunjung tinggi pada saat upacara ngalaksa karena upacara ini menjadi tempat perhitungan jumlah jiwa penduduk Baduy. Bahkan, bayi yang baru lahir maupun janin yang masih didalam kandungan juga akan masuk hitungan ketika upacara ngalaksa. Oleh karena sifatnya yang sakral, maka upacara ngalaksa dan kawalu tidak boleh disaksikan oleh orang luar, termasuk peneliti. Seba, berasal dari kata nyaba artinya menyapa yang mengandung pengertian datang mempersembahkan laksa disertai hasil bumi lainnya kepada penguasa nasional. Substansi seba adalah silaturrahmi pemerintahan adat kepada pemerintah nasional seperti camat, bupati dan gubernur yang diadakan setahun sekali.

4) Aktivitas daur hidup. Berdasarkan hasil observasi di perkampungan Baduy, terlihat ke-hidupan sehari-hari orang Baduy berjalan secara rutin, mulai dari bangun tidur, makan, ke huma, sampai tidur lagi. Lebih jelas akan digambarkan dalam tabel berikut:

Aktivitas keseharian menurut waktu orang Baduy Nama Waktu Pukul Kegiatan Kehidupan Isuk-isuk 06.00-07.00 membereskan rumah, persiapan masak, ada yang mulai berangkat ke huma Rangsang 08.00-10.00 memasak, mencuci, mengasuh anak, ke huma Tengari 11.00-13.00 istirahat di huma, pulang ke rumah untuk makan, atau makan di huma Lingsir 15.00-17.00 akhir kerja di huma, istirahat di huma atau langsung pulang ke rumah Burit 17.30-18.30 pulang ke rumah dari huma, mandi, makan Sareureuh budak 19.00-21.00 anak-anak istirahat dan tidur, dewasa masih berbincang-bincang di sosoro rumah Sareureuh kolot 21.00- orang tua dan dewasa istirahat, mulai tidur Tengah peuting 24.00- orang dewasa tidur, ronda malam bergerak Janari leutik 02.00-03.00 bangun tidur bersiap ke huma / masih tidur

Konformitas dalam Bentuk Penampilan Konformitas dalam bentuk penampilan akan terlihat pada pakaian dan tampilan keseharian orang Baduy, serta permukiman atau rumah orang Baduy.

a) Pakaian dan tampilan keseharian orang Baduy. Pakaian Baduy Dalam berwarna putih dan hitam. Bahannya dibuat sendiri dari serat daun pelah yang ditenunkan oleh warga panamping. Lelaki tangtu menutupi tubuhnya dengan tiga bagian, yaitu: (1) ikat kepala berwarna putih (kecoklatan) yang sering disebut iket, telekung atau romal terbuat dari kain berbentuk segitiga, (2) baju berwarna putih, (3) sejenis kain sarung dengan panjang sekitar 30-40 cm, berwarna biru tua.

Baju yang dikenakan berlengan panjang, seperti kaos, tanpa kerah dan kancing. Sejenis kain sarung yang berfungsi sebagai penutup tubuh bagian bawah disebut aros, biasa dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang kemudian diikat memakai tali dari kain, mirip ikat pinggang dengan ukuran sampai lutut. Lelaki Baduy Dalam (tangtu) tidak mengenakan celana dalam.

Adapun pakaian perempuan tangtu terdiri dari (1) kemben ’sejenis selendang’ yang digunakan untuk menutup tubuh bagian atas atau baju kaos dan (2) lunas atau kain untuk menutupi tubuh bagian bawah. Seringkali di kalangan orang tua, hanya menggunakan kain lunas saja. Perempuan tangtu juga tidak mengenakan pakaian dalam.

Pakaian Baduy Luar juga terdiri dari tiga bagian, (1) ikat kepala, (2) baju, dan (3) kain sarung atau calana komprang, sejenis celana pendek berukuran sebatas lutut. Warna khas pakaian warga panamping adalah hitam dan biru tua bermotif batik atau bergaris putih. Kain pakaian yang digunakan biasanya datang dari luar Baduy, seperti dari pasar Rangkasbitung, Tanah Abang Jakarta atau daerah lain yang kemudian di jahit dan ditenun sendiri.

Pakaian disebut jamang komprang atau mirip dengan baju orang tangtu hanya saja berkancing dan biasa memakai dua lapis, bagian dalam berwarna putih alami, sedangkan bagian luar berwarna hitam atau biru tua. Calana komprang yang dikenakan laki-laki Baduy Luar juga berwarna hitam atau biru tua.

Adapun pakaian perempuan Baduy Luar adalah kebaya berwarna biru dan kain dengan warna yang sama. Bahan pakaiannya juga diperoleh dari luar daerah. Namun, pakaian pada orang panamping baik lelaki maupun perempuan, hampir serupa dengan pakaian yang digunakan oleh masyarakat pedesaan di Banten umumnya. Keseragaman orang Baduy dalam berpakaian ini dilakukan karena: Pertama, merupakan ajaran dari leluhur harus seragam. Kedua, ciri khas kelompok, kalau tidak seragam nanti tertukar antara orang Baduy dengan orang non Baduy dan intinya jangan sampai menyerupai penampilan orang luar. Ketiga, warna hitam-putih sebagai lambang dari waktu malam dan siang. Artinya manusia itu jangan terlalu banyak pikiran, sebab alam saja hanya ada dua pilihan: malam atau siang; ada senang, ada susah; ada gelap ada terang, dan itu abadi.

Baik orang tangtu maupun panamping tidak beralas kaki, hal ini dilakukan karena: Pertama, ketentuan mutlak leluhur jadi harus seragam. Kedua, kalau pakai alas kaki, nanti menghilangkan ciri khas Baduy. Ketiga, kondisi geografis dapat membuat alas kaki cepat putus, dan karena hutan, pakai alas kaki juga percuma karena kaki akan tetap kotor. Keempat, merasakan alam karena menggambarkan keseimbangan dan kelestarian alam

b) Permukiman orang Baduy. Berdasarkan observasi, rumah orang Baduy nampak seragam. Semua terdiri dari kayu, bambu, kiray “daun rumbia”, ijuk pohon aren, rotan dan batu yang diperoleh dari alam sekitar.

Permukiman masyarakat Baduy berbentuk panggung, oleh karenanya terdapat kolong antara lantai rumah dan tanah dengan ketinggian antara 50-70 cm untuk rumah di panamping dan 70 cm-1,5 meter untuk rumah di tangtu. Rumah orang Baduy besarnya sekitar 7X5 meter pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu sosoro dan tepas ’bagian luar’, imah dan musung ’bagian tengah’, serta parak ’bagian dapur’. Semuanya disekat dengan bilik. Lebih jelasnya rumah orang Baduy memeiliki ciri: 1) selalu menghadap utara-selatan, 2) tidak menggunakan tembok, kaca, dan paku, 3) tidak ada jendela. Untuk sirkulasi udara dan penerang ruangan, hanya terdapat lubang kecil pada bilik dinding rumahnya, 4) tidak memiliki pagar pembatas halaman rumah, 5) di tangtu atau Baduy Dalam, lahan yang digunakan membangun rumah tidak diratakan terlebih dahulu sehingga konstruksinya disesuaikan dengan struktur tanah. 6) di panamping atau Baduy Luar, tanah yang digunakan untuk membangun rumah, diratakan terlebih dahulu.

Pemakaian paku dilarang dan tanah tidak boleh diratakan, karena Baduy berprinsip melestarikan alam, maka segalanya harus mengikuti kehendak alam, semua bentuk rumah seragam karena agar tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, jadi semuanya sama. Adapun teknis pembuatan rumah dikerjakan secara gotong royong.

Konformitas dalam Bentuk Pandangan 1) Pandangan tentang sekolah. Sekolah formal dilarang oleh adat, alasan pertama, karena menurut jaro Cibeo, cukup bagi orang Baduy mengurus wiwitan, sekolah formal itu untuk mengurus negara, biarkan orang luar yang mengurus negara. Kedua, kalau orang sudah sekolah, nanti pintar, kalau sudah pintar nanti akan berbuat semaunya yang itu tidak etis.

Meskipun tidak berpendidikan formal, sebagian masyarakat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut dipelajari dari pengunjung yang datang ke Baduy. Bukti tulisan masyarakat Baduy terlihat pada kayu-kayu di rumahnya, yang ditulis menggunakan arang. Tulisan yang ditulis yaitu nama mereka sendiri. Selain belajar dari interaksi dengan pengunjung, orang Baduy juga mengenal huruf dari abjad hanacaraka dan kolenjer (huruf-huruf sunda kuno).

2) Pandangan tentang penggunaan alat transportasi. Selain sekolah, keseragaman pandangan orang Baduy juga ada ketika merespon transportasi modern, seperti mobil, motor atau kereta. Namun, konformitas terhadap larangan penggunaan alat transportasi ini, hanya ada di Baduy Dalam saja. Bagi orang Baduy Dalam naik kendaraan merupakan salah satu pantangan, karena hal itu sudah melanggar adat dan akan dihukum adat. Larangan tersebut membuat para tokoh adat, termasuk puun melarang pula orang-orang tangtu berjalan terlalu jauh, seperti ke Jakarta atau ke Tangerang, karena khawatir jika nanti lelah kemudian naik mobil, lalu akhirnya terjadi pelanggaran adat. Meskipun tidak diikuti oleh para tokoh adat, orang Baduy akan mengaku sendiri jika dirinya melakukan kesalahan dengan naik kendaraan.

3) Pandangan tentang menjual padi. Prinsip dari orang Baduy adalah dari pada menjual lebih baik membeli. Padi dari huma tidak difokuskan untuk makan sehari-hari tapi untuk antisipasi hari tua. Adanya konformitas pada prinsip ini membuat ketahanan pangan masyarakat Baduy menjadi sangat kuat.

4) Pandangan tentang larangan memelihara binatang berkaki empat. Adat Baduy melarang memelihara binatang berkaki empat. Alasannya karena hewan tersebut perilaku seperti maling, dapat merusak alam, kebun atau tanaman milik orang lain yang selama ini dijaga kelestariannya.

5) Pandangan tentang pengobatan modern. Pada dasarnya tidak ada larangan dalam masyarakat Baduy untuk mengobati penyakit pada pengobatan modern, hanya saja penulis ingin mengungkap mengapa warga bersikap konform terhadap pandangan lembaga adat yang menolak program pemerintah untuk mendirikan puskesmas atau sejenisnya di perkampungan Baduy. Menurut para informan, karena sudah ada pengobatan tradisional maka, medis modern menjadi sekunder peranannya. Lagi pula di Baduy belum pernah ada wabah penyakit. Terbukti pada saat penelitian, tidak sedikit para pendatang dari luar yang sengaja datang ke perkampungan Baduy untuk mengetahui ramuan dari akar tertentu untuk obat-oabatan. Seperti reumatik, asam urat dan sebagainya. Banyak para tokoh Baduy yang mengerti tentang obat-obatan. Bahkan umumnya warga yang telah berkeluarga, tidak asing dengan pucuk-pucuk daun yang mujarab menyembuhkan penyakit.

Berdasarkan paparan tentang perilaku konformitas yang terurai dalam bentuk aktivitas, penampilan, dan pandangan masyarakat Baduy diatas maka terlihat jelas konformitas dalam masyarakat Baduy merupakan konformitas yang memiliki kedalaman makna dan mengandung kearifan lokal nilai-nilai hidup. Konformitas menjadi perilaku yang dianjurkan, bahkan dipandang penting sebagai prasyarat berfungsinya tatanan kehidupan, tatanan budaya dan hubungan interpersonal warga Baduy.

Dalam budaya-budaya tertentu, konformitas tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang baik, hal itu bahkan menjadi prasyarat keberhasilan berfungsinya kebudayaan, kelompok dan hubungan interpersonal anggota budaya tersebut. Adapun kondisi psikologis yang menyertai pelaku konformitas adalah: 1. Konformitas dilakukan berdasarkan kehendak pribadi dan bukan paksaan. 2. Warga tidak akan ikut campur bila ada yang nonkonformitas. 3. Warga tidak merasa tertekan, bahkan konformitas adalah ekspresi aktualisasi diri. 4. Warga betah tinggal di Baduy, meskipun aturan adat ketat namun bertujuan baik. 5. Warga tidak ingin berbeda dengan ketentuan adat. 6. Orang Baduy akan jujur, bila melakukan pelanggaran adat. Berdasarkan data kondisi psikologis dan uraian sebelumnya, maka dapat disimpulkan sekurangnya ada empat faktor yang mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy. Yaitu 1) kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran, 2) rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan dan pelanggaran, 3) kekompakan warga Baduy dan 4) besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat. Keempat faktor yang diusung oleh psikologi sosial arus utama berdasarkan temuan-temuan riset tradisional dari budaya Barat atau Amerika (Sears, 1994; Brigham, 1991; Baron dan Byrne, 2000) diatas, berlaku pula daya terapnya dalam konteks masyarakat Baduy.

Faktor Lembaga Adat dan Faktor Budaya Matsumoto (2004) mensinyalir, kendati psikologi arus utama ada beberapa aspek yang memiliki daya terap universal, namun dalam analisisnya terdapat bias negatif terhadap topik konformitas. Hal ini disebabkan karena perhargaan kultural orang Amerika pada nilai-nilai individualisme. Ada faktor-faktor utama lain yang tercerabut dari keempat faktor yang diusung psikologi mainstream diatas, yaitu faktor lembaga adat dan nilai-nilai khas budaya.

Lembaga adat. Keberadaan lembaga adat sebagai perangkat sistem berfungsinya mekanisme budaya, turut mempengaruhi terbentuknya konformitas dalam masyarakat Baduy. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, pada masyarakat Baduy terdapat beragam tokoh adat. Namun, pucuk pimpinan yang paling besar kekuasaan dan wewenangnya yaitu puun.

Puun tidak turun langsung mengawasi masyarakat Baduy yang jumlahnya hampir mencapai 10.000 jiwa, namun para tokoh adat selalu berperan aktif dalam mengontrol dan membina agar aturan adat tetap dilaksanakan oleh segenap warga biasanya berupa anjuran dan nasehat.

Sangsi keras dikenakan bagi pelanggaran-pelanggaran berat, seperti berjinah, mencuri, merusak, mabuk dan berjudi. Bagi warga yang melakukan ini, akan diproses di lembaga adat dan biasanya akan dihukum antara 40-100 hari di dangka-dangka (Baduy Luar). Setelah dikucilkan dan di beri kesempatan bertaubat, baru bisa di kembalikan ke Baduy Dalam atau ke kampung semula. Selama masa hukuman 40-100 hari akan di didik, dibina, dikurung kain putih lalu di sumpah-sumpah adat, agar tidak melakukan kesalahan kembali.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan adanya faktor lembaga adat yang didalamnya terdiri dari puun beserta jajaran pejabat adat lain, turut mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy, hal ini diperkuat dengan sikap warga yang selalu membiarkan bila ada salah seorang diantara mereka nonkonform dengan aturan adat, karena bagi warga setiap perilaku nonkonformitas, itu sudah menjadi wewenang para tokoh adat.

Nilai-nilai Emik Baduy. Nilai-nilai emik adalah produk budaya yang bersifat khas budaya setempat (Matsumoto, 2004). Dalam konteks masyarakat Baduy, teridentifikasi ada beberapa nilai yang mempengaruhi masyarakatnya untuk menghargai perilaku konformitas. Seluruh nilai-nilai emik yang tercermin disetiap ajaran dan peribahasa Baduy tidak ada yang tertulis, karena orang Baduy menyakini lebih dulu cerita daripada tulisan. Oleh karenanya semua ajaran Baduy tercatat dalam memori para tokoh adat dan sebagian warga. Nilai-nilai tersebut adalah: • Kebermaknaan hidup. Orang Baduy menganggap hidup harus dijalani dengan sederhana, semampunya, dan sewajarnya. Pertama, hidup adalah untuk mencari kebahagian, bukan untuk mengejar materi. Kedua, tercukupi kebutuhan fisik; makan cukup, pakaian ada, dan bisa berbakti kepada orang tua. Ketiga, untuk mencari bahagia maka harus jujur, benar, dan pintar. Pintar saja tapi tidak benar, hal itu tidak indah. oleh karenanya jangan ada syirik, licik, jangan memfitnah, jangan berbohong, jangan selingkuh. Percuma hidup kalau hanya jadi tukang menipu dan menindas orang lain. • Makna hidup diatas adalah kualitas penghayatan yang bersumber dari nilai-nilai pikukuh sapuluh atau yang dikenal dengan ‘dasa sila’ Baduy. Pikukuh sapuluh berisi 10 prinsip hidup yang berfungsi sebagai panduan perilaku orang-orang Baduy. Isinya antara lain: 1. tidak akan sewenang-wenang membinasakan makhluk hidup 2. tidak akan mencuri dan merampas milik orang lain 3. tidak akan ingkar tidak akan menipu 4. tidak akan melibatkan diri pada minuman yang memabukkan 5. tidak akan menduakan hati kepada orang lain (poligami / poliandri) 6. tidak akan menikmati makanan jika matahari sudah terbenam 7. tidak akan memakai bunga-bunga dan harum-haruman 8. tidak akan melelapkan diri dalam tidur. 9. tidak menyenangkan hati dengan tari, memainkan tabuhan, bersenandung atau bernyanyi yang bisa melupakan diri 10. tidak akan memakai emas atau permata yang dapat membuat orang lain syirik dan dengki. Makna hidup orang Baduy yang sederhana namun memiliki kualitas penghayatan yang dalam, kemudian menjadi satu panduan perilaku komunal. Pada saat bersamaan mengarah pada kesetaraan dan saling menghargai antara sesama. Adanya dorongan untuk mempertahankan identitas kelompok menjadi kekuatan munculnya perilaku konformitas. • Konsep tanpa perubahan. Konsep keagamaan dan adat terpenting yang menjadi inti pikukuh Baduy adalah “tanpa perubahan apa pun”, sebagaimana tertuang dalam buyut titipan karuhun sebagai berikut: gunung teu meunang dilebur lebak teu meunang diruksak larangan teu meunang dirempak buyut teu meunang dirobah lojor teu meunang dipotong pendek teu meunang disambung nu lain kudu dilainkeun nu ulah kudu diulahkeun nu enya kudu dienyakeun

Terjemahan bebas: gunung tak boleh dihancur lembah tak boleh dirusak larangan tak boleh dilanggar buyut tak boleh diubah panjang tak boleh dipotong pendek tak boleh disambung yang bukan harus ditiadakan yang lain harus dipandang lain yang benar harus dibenarkan

Adat Baduy mengajarkan “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” ’panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung’. Pikukuh tersebut menyiratkan bahwa segala sesuatu harus dijaga sebagaimana adanya, tidak boleh terjadi “rekayasa” yang akhirnya menyebabkan sesuatu berubah dari yang sesungguhnya. Ajaran inilah yang menjadi tonggak keseragaman perilaku, pandangan dan penampilan masyarakat Baduy. Terjadi penambahan dan pengurangan akan mengakibatkan ketidakharmonisan. • Konsep kebersamaan. Hubungan antar sesama manusia, bagi orang Baduy penting untuk menjujung tinggi harkat dan martabat. Rumah, pakaian dan pakaian sehari-hari menunjukan kesamaan. Tidak ada perbedaan antara “penguasa” dan “rakyat biasa” dan tidak ada perbedaan pula antara yang “kaya” dan yang “miskin”. Tidak ada perselisihan dan permusuhan. Sebagaimana nilai kebersamaan dibawah ini: teu meunang pajauh-jauh leungkah pahareup-hareup ceurik pagaet-gaet lumpat Terjemahan bebas : tidak boleh berjauh-jauh langkah berhadapan nangis berdekatan lari

undur nahan tembong pundung datang nahan tembong tarang Terjemahan bebas: pergi jangan perlihatkan kekecewaan, datang jangan perlihatkan kesombongan

Kebersamaan telah menjadi cita-cita bersama masyarakat Baduy. Hal ini terlihat dalam kegiatan gotong royong yang selalu dilaksanakan, mulai dari membuat jembatan, membuat rumah, membuat saung lisung, ronda malam, bahkan aktivitas perladangan, seperti ngaseuk serang, dan upacara adat lainnya. • Konsep saling menghargai. Perilaku saling menghargai antar sesama warga sangat dijaga. Sekalipun tidak ada aturan tertulis, namun etika publik selalu dikedepankan. mipit kudu amit ngala kudu menta nyaur kudu diukur nyabda kudu diunggang ulah ngomong segeto-geto ulah lemek sadaek-daek ulah maling papanjingan Terjemahan bebas : memetik harus ijin mengambil harus meminta bertutur haruslah diukur berkata harulah dipertimbangkan jangan berkata sembarangan jangan berkata semaunya jangan mencuri walau kekurangan

Komunalisme Baduy tidak berarti wilayah individu yang privat tercerabut. Baduy mengakui kepemilikan individu harus dihargai dan dijunjung tinggi, sehingga kemerdekaan orang lain diberi ruang sekaligus menjadi batas kemerdekaan individu. Seperti dalam bait: jangan berkata sembarangan karena akan menyakiti orang lain, jangan mencuri walaupun kekurangan, jika butuh lebih baik meminta baik-baik. Kekompakan kelompok akan terjaga dengan adanya penghargaan antara satu sama lain.

Berangkat dari uraian nilai-nilai emik diatas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku konformitas merupakan suatu perilaku yang dianjurkan oleh adat istiadat Baduy. Berdasarkan analisis diatas, maka adanya nilai-nilai emik yang lebih menghargai konformitas dibanding kemandirian, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konformitas dalam masyarakat Baduy.

Demikian faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas dalam masyarakat Baduy berjumlah 6, yaitu: • 1) Adanya lembaga adat yang membina dan mengawasi perilaku warga Baduy, • 2) Adanya nilai-nilai yang lebih menghargai konformitas dibanding nilai-nilai kemandirian, • 3) Adanya kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran, • 4) Adanya rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan, • 5) Adanya kekompakan warga Baduy, dan • 6) Besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat. Dinamika Terbentuknya Perilaku Konformitas Masyarakat Baduy Pada bagian sebelumnya, telah ditemukan ada pengaruh nilai-nilai lokal dan “politik” (lembaga adat) yang melatarbelakangi terbentuknya perilaku konformitas dalam masyarakat Baduy. Artinya, perilaku ini tidak muncul dalam ruang-waktu yang kosong, melainkan lahir di tengah konteks ekologis yang turut membentuk entitas perilaku tersebut. Brofenbrenner (1989) berpendapat bahwa perilaku dipenga-ruhi oleh faktor-faktor dari luar. Faktor-faktor atau rangsang- rangsang dari luar itu tersusun dalam lingkaran- lingkaran yang berlapis. Berbeda dengan Chaplin (2002) yang berpendapat konformitas merupakan ciri pembawaan kepribadian yang cenderung membiarkan sikap dan pendapat orang lain untuk menguasai dirinya. Brofenbrenner tidak mengakui determinitas pembawaan kepribadian semata. Lewat pandangan ekologiknya (yang dipublikasikan tahun 1979-1989), Brofenbrenner berpendapat rangsang-rangsang dari luar dapat mempengaruhi perilaku. Rangsang itu tersusun dalam lingkaran yang terdiri dari 4 lapis dalam 1 lingkupan besar:

Lingkaran chrono-sistem: Orang Baduy berkeyakinan dirinya sebagai masyarakat wiwitan ’pertama’ dalam sejarah jagat raya, sehingga keseragaman dan kesatuan mem-pertahankan wiwitan menjadi ide yang sudah berakar-urat dalam nadi kosmologi Baduy. Piranti-piranti mempertahankan kesadaran sejarah tersebut adalah lembaga adat dan para tokoh adat yang bertanggung jawab mengingat pesan-pesan leluhur atau cerita-cerita leluhur dalam bentuk ingatan.

Lingkaran makro-sistem: Basis ideologi Baduy tercermin dalam setiap doktrin-doktrin turunan Sunda Wiwitan yang terdiri dari pikukuh sapuluh, konsep tanpa perubahan, nilai-nilai kebersamaan, dan saling menghargai yang semuanya mempengaruhi bagaimana cara orang-orang Baduy memandang kehidupan. Dalam doktrin tersebut terkandung nilai-nilai yang lebih menghargai konformitas dibanding nilai-nilai yang mendorong kemandirian, sehingga perilaku konformitas menjadi suatu produk yang niscaya, pirantinya masih para tokoh dengan cara:

lingkaran exo-sistem: Adanya pewarisan budaya untuk menyampaikan pesan-pesan makro- sistem dan kesadaran chrono-sistem pada anak. Pirantinya adalah ’sakola pangertian’ bagi anak-anak Baduy, atau penyuluhan dari lembaga adat yang memupuk nilai-nilai konformitas dalam bentuk tutur maupun laku

lingkaran meso-sistem: Adanya sistem kekerabatan antar keluarga dan hubungan interpersonal yang kuat sesama warga, contohnya dengan kebiasaan berkumpul antar tetangga di rumah salah seorang warga mulai siang hari sampai malam, dan begitu terus setiap harinya. Pola interaksi antar keluarga ini membentuk memori konformitas tersendiri dalam masyarakat Baduy.

lingkaran mikro-sistem Adanya pewarisan nilai-nilai konformitas dalam keluarga. Anak lelaki harus seperti Bapaknya, anak perempuan harus seperti Ibunya. Keluarga adalah pusat pembinaan dalam menanamkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Baduy. Selain keluarga, terlihat pula sesama anak-anak Baduy yang saling bermain bersama-sama ke ladang, ke sungai, dan para remaja yang ‘nganjang’ beramai-ramai bertandang ke rumah seorang gadis bersama-sama.

Menggunakan pendekatan ecologi-cal psychology Bronfenbrenner, akhirnya dapat dipahami jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan mikro, meso, eko, makro, dan chrono sistem seperti diatas, maka akan sukar untuk menolak memiliki sifat dan kepribadian yang cenderung konformitas.

KESIMPULAN • Masyarakat Baduy, berdiam di sekitar pegunungan Kendeng (Banten Selatan), merupakan masyarakat peladang yang masih menjunjung tinggi kelestarian alam di atas segala-galanya. Gagasan memelihara pancer bumi dari bencana dan eksploitasi, menjadi pusaran bermuaranya perilaku, sikap, maupun pandangan komunal masyarakat Baduy. Hal ini tercermin dari pikukuh Baduy yang berbunyi “gunung tak boleh dihancur, lembah tak boleh dirusak.” Gambaran tersebut menampilkan salah satu sosok kekayaan budaya leluhur Nusantara, terutama yang berkaitan dengan pentingnya menjaga persatuan dan kebersamaan di atas visi kemakmuran bumi. • Konformitas masyarakat Baduy, tercermin dari tiga bentuk. Yaitu perilaku, penampilan dan pandangan. Setiap bentuk konformitas memiliki kedalaman makna berdasarkan kearifan lokal budaya Baduy. Pada budaya ini, konformitas tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang baik. Konformitas bahkan menjadi prasyarat keberhasilan berfungsinya tatanan budaya, tatanan kelompok dan hubungan interpersonal warga Baduy. • Ada 6 kondisi psikologis yang menyertai warga Baduy ketika melakukan konformitas terhadap aneka pikukuh adat wiwitan: 1. Konformitas dilakukan berdasarkan motif internal 2. Warga tidak akan ikut campur, bila ada yang nonkonformitas, 3. Warga tidak merasa tertekan, bahkan merasa konformitas adalah ekspresi aktualisasi diri, 4. Warga betah tinggal di Baduy, meskipun aturan adat ketat namun bertujuan baik, 5. Warga tidak ingin berbeda dengan ketentuan adat, sebagaimana falsafah hidup “panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung”, 6. Orang Baduy akan jujur mengakui, bila melakukan pelanggaran adat. • Ada enam faktor yang melatar-belakangi munculnya konformitas dalam masyarakat Baduy: 1. Adanya nilai-nilai yang lebih menghargai konformitas dibanding nilai-nilai kemandirian, 2. Adanya lembaga adat, 3. Tingginya kepercayaan orang Baduy terhadap kelompok sebagai sumber kebenaran, 4. Adanya rasa takut orang Baduy terhadap penyimpangan, 5. Adanya kekompakan warga Baduy, dan 6. Besarnya ukuran warga Baduy yang sependapat. SARAN • Untuk masyarakat umum: ditengah beruntunnya bencana alam yang tengah menimpa negeri ini, layak dicermati makna di balik perilaku konformitas masyarakat Baduy, seperti penghargaan terhadap lingkungan dan pantangan mengeksploitasi alam, sebagai wujud kesadaran bertindak preventif daripada reaktif. • Untuk pemerintah: baiknya intesifitas dialog dengan para tokoh di lembaga adat harus lebih ditingkat-kan, dengan terlebih dahulu melepas atribut penilaian stereotip bahwa masyarakat Baduy “inferior“ “terbelakang“ atau harus di modernisasi, karena tidak sama istilah “pembangunan” dengan “modernisasi”. • Untuk masyarakat Baduy: mengenai kuatnya benteng aturan adat, secara tidak langsung telah mematahkan hegemoni kekuatan neoliberalisme yang telah meng-global. Namun, ada baiknya setiap niat baik yang direncanakan dan ingin dilakukan pemerintah nasional, direspon dahulu secara terbuka dan positif tanpa mengedepankan ke-curigaan di awal. • Untuk peneliti selanjutnya: sebaiknya penelitian dilakukan di kampung yang masih sangat sakral di Baduy Dalam, yaitu kampung Cikeusik, ini adalah kampung tertua di kawasan Baduy, karena tebalnya batasan adat, tidak banyak peneliti yang melakukan penelitiannya di sana secara langsung.

hasil penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/sebuah-analisis-ringkas-tentang-kanekes/434988164474

Urang Kanekes Penjual Madu

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:35 am

Pagi ini di (29/09) dekat tempat parkir motor Gedung Pusat Administrasi Universitas (Rektorat) ada orang Kanekes (Baduy) menunggu orang yang mau membeli madu dari gunung. Sudah sejak tahun 1990 an orang ini menjual madu di kampus Depok. Baru kali ini lagi kelihatan. Berperawakan kecil, mata kanannya picek , memakai baju pangsi hitam dan memakai ikat kepala warna biru (warna khas orang Kanekes) Yang luar biasa orang Kanekes ini awet muda, masih seperti dulu ketika pertama kali bertemu. Padahal usianya menurut pengakuannya sudah 70 tahun. Pertemuan kali ini, dia membawa anaknya yang nomor dua, mungkin usianya sekitar 40 tahunan. Kalau dulu harga satu botol madu Rp 25.000 kini dia menawarkan dengan harga Rp 50.000.

Semua orang yang melewati dia seperti tidak peduli. Tidak heran, karena kebanyakan para pegawai di lingkungan pusat administrasi kebanyakan orang-orang baru. Jaman dulu ketika Dra. Farida Ibrahim, dosen Farmasi FMIPA UI menjabat sebagai Kepala Biro administrasi Kemahasiswaan, madu orang Kanekes selalu habis diborong dan dijual di Klinik Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM). Secara rutin dia datang setiap dua bulan atau tiga bulan sekali. Ketika Dra. Farida Ibrahim sudah tidak bertugas di Rektorat, Kedatangan Orang Kanekes semakin jarang. Lalu di Rektorat datang penjual madu dari daerah Cirebon yang menjajakan madu dari Sumatera. Berbeda dengan orang Kanekes yang mengandalkan penjualan madunya pada orang yang datang melewatinya, maka penjual madu dari Cirebon ini mencari pelanggan tetap dengan mendatangi ruangan per ruangan di Rektorat. Dan penulis adalah salah satu pelanggannya, karena merasa sama-sama berasal dari daerah Cirebon. Dan juga Kenapa Dra. Farida Ibrahim selalu memborong madu yang dijual orang Kanekes, ternyata Kampung halamannya di Menes daerah Banten yang juga daerahnya Orang Kanekes.

Yang patut dikagumi dari Orang Kanekes ini, kegigihannya berjualan madu dari dulu hingga sekarang. Sampai dia sengaja khusus membawa anaknya ke Kampus Depok, mungkin dalam rangka regenerasi, kalau nanti suatu saat bisa menggantikan bapaknya berjualan madu di Kampus UI. Ada sifat dasar orang Kanekes yang luar biasa yang barangkali tidak dipunyai suku lain. Kalau kita memberi alamat kepadanya walaupun tidak jelas rt rwnya, jangan heran kalau suatu saat kemudian akan kedatangan orang Kanekes tersebut. Entah bagaimana caranya mereka bisa menemukan alamat tersebut. Bayangkan, mereka dari daerahnya berjalan kaki untuk menuju rumah kita. Jadi kalau kita merasa masih saudara dengan orang Kanekes, jika kita di jalan bertemu dengan mereka, alangkah baiknya kalau mereka kita bantu dengan menanyakan mau kemana dan mau bertemu siapa, sehingga tidak terlalu lama berputar-putar mencari alamat yang hendak dituju. Kalau kita tawarkan untuk naik kendaraan, pasti mereka akan menolaknya mentah-mentah.

September 28, 2010

Pertamina Idol

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:09 pm

Kalau dalam industri hiburan kita mengenal “Indonesia Idol”, yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta, dimana banyak diminati para remaja Indonesia sampai berbondong-bondong antri untuk mendaftar. Maka dalam mengenalkan ilmu pengetahuan alam (IPA) seperti matematika, Kimia, Fisika dan Biologi kepada masyarakat, PT Pertamina bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) mencoba mengenalkannya dengan kegiatan yang bertajuk Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Indonesia (OSN-PTI). Itulah impian Direktur Sumber Daya Manusia PT. Pertamina Ir. Rukmi Hadihartini, MM saat melakukan Konferensi Pers, usai mengikuti pembukaan OSN-PTI yang ketiga senin siang (27/09) di Kampus UI Depok.

Untuk mendukung hal tersebut di atas, PT. Pertamina tidak tanggung-tanggung mendanai seluruh kegiatan lomba hingga mencapai 30% dari anggaran corporate Social Responsibility/CSRnya. Total hadiah yang diperebutkan tahun ini mencapai Rp 2,7 Milyar. Kegiatan lomba yang boleh diikuti oleh para mahasiswa seluruh perguruan tinggi dan swasta Indonesia ini digelar pada 35 titik di 33 propinsi yang ada di Indonesia. Para jawara dari masing-masing provinsi akan bertanding di tingkat nasional untuk meraih juara satu, dua dan tiga.

Menurut salah seorang panitia, soal-soal yang diujikan setingkat dengan soal yang diberikan untuk para calon mahasiswa pasca sarjana IPA. Jadi tingkat kesulitannya cukup tinngi. Tetapi walaupun demikian, para peserta cukup antusias mengikuti kegiatan lomba. Bahkan ada yang berkomentar merasa bergairah mengikuti kegiatan lomba, karena selama ini di bangku kuliah lebih banyak belajar IPA secara teoritis. Dengan adanya kegiatan olimpiade, para peserta merasa tertantang untuk menguji kemampuannya dalam mengaplikasikan ilmu yang di dapat di bangku kuliah dan tentunya juga berharap bisa menjadi juara, menjadi ternama dan mendapat dana, syukur-syukur direkrut menjadi pegawai Pertamina.

Pada tahun pertama kegiatan olimpiade (2008) diikuti oleh 4000 mahasiswa seluruh Indonesia. Tahun kedua (2009) diikuti 8000 mahasiswa dan tahun ini (2010) pesertanya hampir mencapai 14.000 mahasiswa. Tren ini rupanya bisa dijadikan suatu indikator, minat masyarakat terhadap bidang ilmu yang dianggap kering, susah dan tidak menjanjikan tidak benar sama sekali. Karena berdasarkan pengalaman negara-negara lain, kemajuan suatu negara seiring dengan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan alam, karena ilmu inilah sebetulnya yang menjadi dasar atau “ibunya” ilmu-ilmu terapan lainnya. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Prof.Dr. Djoko Santoso mencontohkan, kemajuan teknologi digital saat ini sebetulnya pengembangan dari mengutak-atik matematika angka nol (o) dan angka satu (1), yang sudah ada sejak jaman dahulu kala.

‘Suami-Istri’ yang Dikemplangi Anaknya

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:26 pm

Hari Jum’at lalu (24/09) menghadiri penandatanganan kerjasama UI dengan Bank BNI di Wisma BNI Jakarta. Kerjasama yang dijalin kali ini yaitu penyediaan beberapa bagian ruang di perpustakaan pusat UI yang baru untuk dipakai sebagai kantor Bank BNI Cabang UI selama 27 tahun, yang akan mulai beroperasi Desember mendatang. Selain itu kerjasama yang dijalin juga pemanfaatan layanan pensiun Bank BNI bagi para pegawai UI. Yang menarik pada acara tersebut saat Rektor UI menyatakan UI dan Bank BNI itu sudah seperti ‘suami-istri’ selama tigapuluh tahun. Keberadaan Bank BNI UI di UI mungkin sudah lebih dari tigapuluh tahun. Penulis pernah melihat salah satu foto (mungkin dibuat akhir tahun 1960 an atau tahun 1970 an), di salah satu jendela di Gedung Fakultas Kedokteran ada tulisan BNI. Kalau tidak silap BNI ini tahun 1946 didirikan keluarga Djojohadikusumo, yang kemudian diambil alih menjadi bank pemerintah. Penulis juga masih ingat ketika tahun 1980 an logo BNI dari ‘BNI 1946’ berubah menjadi ‘layar perahu’ di tengah lautan, seperti yang tertera pada ujung gedung Wisma BNI sekarang ini. Orderan perubahan logo BNI itu dipercayakan kepada satu perusahaan iklan di bawah komando Tuty Adhitama (penyiar berita di TVRI yang kondang di tahun 1980 an). Tahukah berapa biaya untuk mengubah logo itu? Konon katanya mencapai satu milyar rupiah. Sekarang logo sudah berubah kembali menonjolkan angka 46, entahlah berapa besar biaya yang dikeluarkan. Pada waktu itu (tahun 1980-1990 an) BNI salah satu pemain bank nomor satu di Indonesia, sampai membuat kompleks perkantoran bernama ‘kota BNI’ di kawasan segitiga emas Jakarta. Bahkan gedung BNI, pada masa jayanya itu dinamakan “gedung pintar’ karena memanfaatkan teknologi informasi yang sangat canggih. Tapi ketika Direktur Utama BNI Gatot Mudiantoro Suwondo memberikan kata sambutan kemarin, diakui BNI sekarang ini tidak lagi seperti dulu, sudah ‘disalip’ bank lain dalam hal kepemilikan aset dan jumlah nasabah. Maklumlah, sebagai bank pemerintah, banyak ‘diperintah’ oleh banyak ‘bos’. Pada pertengahan tahun 1980-an, BNI meluncurkan program bantuan dana bagi para mahasiswa yang akan menyelesaikan skripsinya. Bantuan yang berupa pinjaman lunak ini besarnya Rp 750.000 yang dapat dilunasi pada waktu sudah bekerja. Waktu itu kurs dólar terhadap rupiah masih sekitar Rp 3.000-an. Maka berbondong-bondonglah para mahasiswa UI memanfaatkan pinjaman lunak itu. Jaminan yang diberikan yaitu surat iajazahnya ditahan pihak universitas. Tetapi rupanya mahasiswa UI banyak akalnya. Walaupun ijazah ditahan, mereka dapat melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan hanya berdasarkan surat keterangan kelulusan saja atau cukup dengan foto copy ijazah. Seorang mantan sekretaris Wakil Rektor II UI bercerita, bagaimana dia bertahun-tahun menyimpan ratusan ijazah yang tidak pernah diambil oleh pemiliknya. Mungkin juga ada diantara para bos atau petinggi/pejabat saat ini baik di pemerintahan maupun swasta salah seorang diantara yang belum mengambil ijazah asli. Maka pantaslah kalau saat ini banyak terjadi korupsi, gratifikasi, memanfaatkan fasilitas kantor tidak semestinya, dulu saja membuat skripsinya memakai dana dengan cara ‘mengemplangi’ uang bank.

September 27, 2010

Menyerah Demi Amanah dan Ibadah

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:19 am

Pada saat Universitas Indoneisa (UI) mencapai peringkat ke-201 sebagai perguruan tinggi terkemuka di dunia versi QS Ranking yang diterbitkan tahun lalu, dengan serta merta spanduk dan poster bertebaran di seantero kampus berupa ucapan syukur dan terima kasih kepada seluruh warga UI, karena berkat kerja keras seluruh elemen warga UI-lah telah membuahkan hasil berupa prestasi peringkat 200 an diantara ribuan perguruan tinggi dunia.

Ketika awal September ini media massa memberitakan semua perguruan tinggi Indonesia peringkatnya menurun semua, maka Rektor UI secara khusus mengulasnya dalam acara halal Bilhalal yang berlangsung Senin ( 20/09) dan dihadiri seluruh warga di Kampus Depok. Dalam pemeringkatan perguruan tinggi yang dikeluarkan QS Rangking secara drastis semua perguruan tinggi Indonesia melorot tajam, hanya UI saja yang peringkatnya tidak terlampau amat menurun. Dalam bidang ilmu-ilmu sosial justru UI menaik secara tajam.Sungguh sulit untuk menyiasati dan memprediksi metode dan cara penilaian QS rangking. Padahal selama ini UI telah melakukan berbagai kegiatan apakah itu dalam mendorong para dosennya melakukan riset dan pulbikasi ilmiah, memperhatikan kesejahteraan staf pengajar dan peneliti, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, menjalin kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di luar negeri, serta mencari sumber-sumber pendanaan di luar anggaran yang diberikan pemerintah. Apakah ada kaitannya dengan pendanaan yang memang pemerintah kita sekarang ini sedang mengalami kesulitan?

Rektor UI sekarang ini gemar sekali untuk mengejar suatu prestasi yang belum pernah dicapai sebelumnya. Tempo hari pernah merasa masgul ketika mengetahui materi website UI hanya itu-itu saja dan tampilannya tidak bagus serta peringkat versi webometricnya jeblok terus. Maka dilakukan perombakan besar-besaran, meminta bantuan kepada pihak luar untuk dibuatkan web yang menarik, kemudian dibuat dalam empat versi bahasa. Tidak sampai disitu, UI juga secara khusus mengundang pengelola webometric yang berpusat di Spanyol, untuk bicara tentang website dan secara khusus diberikan gelar doctor honoris causa. Tetapi ternyata ranking web UI tetap saja tidak beranjak meningkat dengan pesat.

Dengan peristiwa melorotnya rangking berbagai perguruan tinggi khususnya UI, memberikan kesadaran baru, pemeringkatan ternyata tidak mencerminkan keadaan perguruan tinggi yang sesungguhnya, bisa saja keliru karena banyak faktor penting yang tidak diketahui oleh pengelola pemeringkatan. Karena itu, sangat menyesatkan kalau hanya sekedar mengejar peringkat. Lebih utama adalah bagaimana amanah sebagai tenaga pendidik yang mendidik anak bangsa dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan memberikan pelayanan terbaik dalam upaya turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan tekad seperti ini,setiap perbuatan yang kita lakukan bernuansa ibadah yang selain berdimensi horizontal (hubungan antar manusia) juga ada aspek vertikalnya (hubungan dengan Yang Maha Pencipta). Dengan dasar pijakan ini, perkara peringkat tidak lagi menjadi suatu tujuan utama yang harus dikejar, tetapi tetap berkomitmen untuk meningkatkan layanan dan kualitas pendidikan yang lebih baik untuk kesejahteraan rakyat, mengharumkan nama bangsa dan Negara di fora internasional.

September 23, 2010

Disapu Angin Lalu?

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:49 pm

Panji-Panji Ilmu dan Seni, Berkibar Tinggi di Almamater ini (Fuad Hassan). Demikian tulisan yang terpampang di salah satu dinding ruangan di Lantai satu (Balai Kirti) Gedung Rektorat atau yang sekarang dikenal dengan Gedung Pusat Administrasi Universitas (PAU). Motto itu terpampang sejak Kampus Depok diresmikan tahun 1987. Tidak ada informasi lebih lanjut atau tulisan yang menjelaskan apa sebenarnya maksud yang terkandung pada motto tersebut. Atau sebetulnya tulisan itu sudah begitu jelasnya, sehingga tidak diperlukan informasi tambahan. Sehingga ketika (alm) Fuad Hassan masih aktif sebagai Guru Besar UI tidak ada yang berusaha mengklarifikasi motto tersebut.

Tujuh belas tahun lalu penulis bersama Adrianus Meliala (Staf pengajar FISIP yang waktu itu tengah menyelesaikan Pascasarajana di fakultas Psikologi) dan Niniek L. Karim (Staf pengajar Fakultas Psikologi, pemain teater Populer, sanggar pimpinan almarhum Teguh Karya) berbincang mengenai berbagai kegiatan di Kampus, khususnya yang berkaitan dengan seni,karena sangat dirasakan kurangnya kegiatan yang berkaitan dengan bidang ini. Waktu itu penulis kemukakan tentang perlunya di kampus ada semacam teater yang secara berkala memutar film dan melakukan diskusi tentang film yang diputar. Waktu itu kalau tidak silap Niniek L. Karim baru membintangi film “Cau Bau Kan” arahan sutradara Remy Silado. Tahun 1950 an, katanya di student center kampus Salemba setiap akhir pekan selalu diputar film. Begitu pula di teater Sastra Kampus Rawamangun tahun 1970 an, rutin diputar film layar lebar. Di aula Fakultas Kedokteran setiap sabtu sore diputar film yang para penontonnya tidak saja kalangan mahasiswa tetapi juga masyarakat umum.

Dari obrolan tentang film ini, akhrinya tercetus keinginan supaya di kampus Depok dibangun sebuah gedung. Sebuah perguruan tinggi tanpa ada pertunjukkan atau pementasan yang berkaitan dengan kesenian, sangat kering sekali. Niniek L Karim menyebutnya gedung art center yang berfungsi tidak saja untuk memutar film, tetapi juga tempat pertunjukkan berbagai kesenian, baik tradisional maupun modern, tempat melakukan pameran dan peragaan kesenian. Dengan adanyanya art center ini, suasana kampus menjadi dinamis dan banyak kegiatan bisa dilakukan, menjadikan suasana kampus hidup hingga malam hari. Waktu itu sudah dilakukan penjajagan dengan menemui beberapa orang dari berbagai fakultas yang mempunyai minat terhadap kesenian. Tetapi ide pendirian art center kemudian mati di tengah jalan. Selang beberapa tahun kemudian, penulis sempat berbincang dengan Dewi Matindas (staf pengajar Fakultas Psikologi, teman Niniek L Karim di Teater Populer). Dewi Matindas (waktu itu menjabat sekretaris MWA UI) menyatakan UI mempunyai peluang untuk membuka fakultas seni pertunjukan, yang memang belum ada lembaga perguruan tinggi yang menangani studi ini.

Tiga tahun lalu penulis juga sempat menghadiri pertemuan beberapa staf pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI dengan staf pengajar Arsitektur Fakultas Teknik UI untuk membicarakan kegiatan bersama yang bisa dilakukan kedua disiplin ilmu tersebut. Dengan berjalannya waktu rupanya perubahan cepat terus berjalan tanpa henti. Tampaknya telah dibentuk tim kecil yang beranggotakan dosen FIB dan FTUI untuk menyusun dan membuat kurikulum sekolah seni dan Perancangan Lingkungan. Secara sederhana sekolah mencoba untuk mencetak tenaga para penggiat seni dan perancangan lingkungan yang tidak semata-mata menghasilkan tukang-tukang seni yang kreatif tetapi juga diberikan landasan keilmuan multi disiplin yang memang berada di berbagai fakultas di lingkungan UI. Sehingga dengan demikian para lulusannya tidak saja mumpuni dan trampil dalam bidang yang berkaitan dengan kesenian tetapi juga dibekali wawasan keilmuan yang multisiplin. Lulusan semacam ini, belum pernah dihasilkan perguruan tinggi manapun di Indonesia.

Akhirnya penulis berkesempatan untuk mendokumentasikan pemancangan tiang gedung Sekolah Seni dan Perancangan Lingkungan UI. Merekam apa yang dikatakan ketua Panitia, menangkap gagasan Rektor UI, apa yang melatarbelakangi pendirian sekolah seni serta konsep para penggagasnya. Kalau saja Adrianus Meliala, Niniek L.Karim dan Dewi Matindas mendengar kabar ini, apakah masih ingat dengan pembicaraan tentang art center tujuh belas tahun lalu? Mungkin sudah disapu angin lalu.

Tetapi rupanya gema art center bergaung terus di kalangan sivitas akademika UI. Sebelumnya tidak pernah ada pembicaraan tentang hal ini dengan Donny Gahral Adian, staf pengajar Departemen Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Ketika dia dipercaya menjadi “penjaga gerbang” Perencanaan dan Pengembangan (Renbang) oleh Rektor Gumilar, terinspirasi dengan motto yang dibuat Fuad Hassan di atas. Bersama tim kecilnya merumuskan dan membuat konsep sekolah seni diajukan ke Rektor dan dibicarakan di tingkat Senat UI, lalu disetujui di tingkat Majelis Wali Amanat (MWA). Di dalam tim kecil itu tidak ada nama Niniek L Karim dan Dewi Matindas. Penulis juga merasa yakin, Donny tidak pernah sebelumnya ketemu dan berbincang dengan Fuad Hassan perkara seni ini. Akan halnya Fuad Hassan sendiri, sepengetahuan penulis, hanya sekali pernah memainkan biola, menyanyikan lagu “genderang UI” pada peringatan Dies Natalis UI tahun 2006 di Ruang Senat (lantai 9) Gedung PAU. Kebetulan penulis memvideokan, saat Fuad Hassan memainkan biola.

Dari pengalaman pendirian sekolah seni di atas, tampaknya dalam merealisasikan sebuah ide/gagasan, jalannya tidak selalu linier, diturunkan atau diwariskan secara langsung kepada orang tertentu. Mungkin saja pada saat Fuad Hassan membuat motto tersebut sudah terbayang untuk membuat sekolah seni, dan sudah pula terpikirkan oleh para pimpinan UI lainnya, tetapi baru dapat direalisasikan setelah beberapa generasi pimpinan UI berlalu. Dan itupun dibuat oleh orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal berkecimpung secara intens dalam bidang seni. Inilah misteri suatu ilmu yang prosesnya berjalan secara berliku, melibatkan berbagai orang yang terkadang satu sama lain tidak saling mengenal atau berhubungan sama sekali, tetapi dipersatukan oleh kesamaan ide/gagasan.

September 20, 2010

Seni dan Ilmu Komputer Mendapat Perhatian

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:02 pm

Inilah yang dilakukan Universitas Indonesia (UI) untuk menuju universitas riset dengan kegiatan pemancangan tiang pondasi gedung sekolah Seni dan Perancangan Pembangunan lingkungan, sekaligus juga menandai pembangunan Gedung Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom), yang berlangsung senin (20/09) di Kampus Depok. Sebelumnya, pada awal Agustus lalu baru saja dilakukan pemancangan tiang pondasi Gedung Vokasi tahap I yang terletak di dekat Gedung Politeknik Negeri Jakarta di Kampus Depok.

Sebagai World Class University, UI telah mempunyai 12 Fakultas, yang dikelompokkan ke dalam tiga kelompok ilmu yaitu (1) Kelompok ilmu-ilmu Kesehatan yang mencakup Kedokteran, Kedokteran Gigi, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan dan Farmasi; (2) Kelompok Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora yang mencakup Ilmu Budaya, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Psikologi, Ekonomi, Hukum; (3) kelompok Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknik yang mencakup Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Komputer dan Teknik.

Untuk melengkapi kelompok ilmu yang sudah ada, akan dibentuk ilmu Kaji Kreatif yang terdiri atas: seni netra (mencakup seni lukis, seni menggambar, seni foto, seni patung, seni rias, seni ukir dan seni grafis), seni rungu (mencakup seni suara, seni musik, seni bicara/orasi/retorik), seni peraga ( mencakup seni tari, seni gerak, seni pentas, seni rekam-gerak/sinematografi), dan seni bina (mencakup perancangan ruang dalam, perancangan komunikasi visual, perancangan produk atau industri, arsitektur, perancangan kota, perancangan bentang lahan dan perancangan wilayah).

Data proyek Gedung Sekolah Seni dan Perancangan Lingkungan UI sebagai berikut: Lokasi terletak di zona Centrum antara Balairung dan Mesjid UI, dengan luas lahan 11.600 M2. Luas total gedung 20.000 M2. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 35%, Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 1,8 dan Koefisien Dasar Hijau (KDH) 50%.Pada tahap I yang akan dibangun seluas 4800 M2, dua lantai terdiri atas auditorium, galeri, kantor dan ruang penunjang. Sedangkan untuk gedung Fasilkom, lokasinya terletak di zona Ilmu Sains, dengan luas lahan 1 Hektar (10.000 M2), Luas Total Gedung 20.000 M2. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)(KLB) 20%, Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 2 dan Koefisien Dasar Hijau (KDH) 50%. Pada tahap I yang akan dibangun seluas 4800 M2, 8 lantai terdiri atas Laboratorium, Ruang Kuliah, Kantor Auditorium dan Ruang Penunjang. Gedung Fasilkom ini keseluruhannya akan menampung 10.000 mahasiswa, 200 staf pengajar dan 100 karyawan. Kedua gedung ini dibiayai dari dana APBN-P, yang akan selesai pembangunan kedua gedung tersebut tahun 2012.

Perencanaan gedung ini dimulai dengan proses sayembara sejak pertengahan Juni sampai dengan Awal Agustus 2009. Proses Pengadaan Konsultan Manajemen Konstruksi, Konsultan Perencana dan Kontraktor dilakukan sesuai Keppres 80 Tahun 2003 berlangsung selama 3 bulan dari Juni sampai Agustus 2010. Pekerjaan Konstruksi Tahap I dilaksanakan selama 3,5 bulan dan akan selesai pada akhir Desember 2010. Pemenang sayembara perancang Gedung Gedung Sekolah Seni dan Perancangan Lingkungan UI yaitu Tim Urbane, Konsultas Manajemen Konstruksi PT. Artefak, Konsultan Perencana PT. Bina Karya, Kontraktor PT. PP. Sedangkan untuk Gedung Fasilkom pemenang sayembara perencanaan yaitu Tim Atelier Two, Konsultas Manajemen Konstruksi PT. Arkonin, Konsultas Perencana PT. Yodya Karya, Kontraktor PT.PP.

September 17, 2010

Pemeringkatan yang Menjebak?

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:01 pm

Katanya Universitas Indonesia (UI) semakin membaik dalam hal pemeringkatan institusi pendidikan tinggi di dunia yang dilakukan QS World University ranking, dari sekitar 600 pendidikan tinggi dunia. Demikian berita yang diturunkan di Yahoo News Indonesia hari ini (17/09). Dengan prestasi yang selama ini telah dicapai UI, seharusnya menjadikan pimpinan UI peka terhadap persoalan yang terjadi di tingkat akar rumput. Ada dua hal yang patut menjadi perhatian. Pertama, tentu saja sebagai warga UI turut bangga dengan hasil yang telah dicapai hingga saat ini. Ketika dunia dihadapkan kepada suatu persaingan untuk menunjukkan kualitas dan prestasi, suatu hal yang tidak bisa terhindarkan untuk mengikuti arus persaingan tersebut, kalau ingin diperhitungkan orang luar. Bila kita mengingat “kasus” yang baru saja terjadi dengan Malaysia betapa warga negara kita diperlakukan dengan semena-mena, ternyata di bidang pendidikan tingkat dunia, Indonesia bisa berbicara banyak. Setidak-tidaknya ini bisa mengobati kebanggaan dan harga diri bangsa, yang oleh negara jiran dipandang ‘sebelah mata’. Perguruan tinggi mereka bahkan menawarkan kerjasama lebih erat dan membolehkan peralatan labolatoriumnya untuk dipakai oleh para dosen UI, seperti terungkap dalam kerjasama yang baru-baru ini ditandatangani di Kampus Depok. Pemeringkatan ini juga memotivasi dan memacu para sivitas akademika UI untuk berprestasi lebih baik, saat mengikuti laga di kancah internasional. Beberapa kejuaraan telah disabet para mahasiswa UI. Kedua, mesti terus dibenahi kualitas layanan di lingkungan UI dan persoalan internal lainnya yang menjadi persoalan utama, aspirasi mahasiswa yang tidak tersalurkan dan direspon secara positif, kesejahteraan yang masih hanya dinikmati oleh sebagian kecil warga UI saja. Artinya pemerataan kesejahteraan belum mencakup pada sebagian besar warga UI. Kalau hal ini tidak segera diselesaikan dengan baik, tidak terututup kemungkinan akan menjadi letupan-letupan yang lama kelamaan makin membesar dan membakar serta memusnahkan apa yang selama ini telah dicapai dengan susah payah. Ketiga, perkembangan yang dinamis di tingkat global harus tetap diwaspadai untuk senantiasa mawas diri dalam menghadapi persaingan global dan tidak cepat puas diri. Dalam bidang tertentu, beberapa perguruan tinggi di tingkat lokal lebih unggul dibandingkan dengan UI. Bahkan ada beberapa prestasi yang tidak bisa dikejar oleh UI. Misalnya saja, UI tidak pernah bisa unggul dalam mengembangkan teknologi robot, para mahasiswa UI yang mengikuti kejuaraan robot terseok-seok dilindas para mahasiswa perguruan tinggi swasta. Peringkat webometric UI selalu dibuntuti dan disalib perguruan tinggi nasional lain. Karena itu, maka sebaiknya kita tidak terfokus dan bangga dengan peringkat yang telah dicapai. Hal tersebut hanya sebagai perantara atau alat saja untuk mencapai prestasi yang tinggi dan memberikan layanan sebaik-baiknya bagi peserta didik serta dengan tidak lupa memberikan kesejahteraan yang memadai bagi warganya. Dan pada gilirannya akan dapat mengharumkan nama bangsa dan negara. Seperti kata pepatah, membangun UI berarti membangun bangsa.

Mesjid Kampung yang Progresif

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:00 pm

Sudah beberapa kali shalat jum’at tidak di mesjid Kampus, melainkan di mesjid-mesjid kampung sekitar Depok. Hitung-hitung ganti suasana supaya tidak membosankan bertemu dengan orang yang itu-itu saja. Walaupun tidak setertib mesjid kampus, tetapi banyak hal menarik yang bisa didapat pada saat shalat jum’at di mesjid-mesjid kampung sekitar Depok. Memang ada nuansa yang berbeda jika membandingkan suasana antara mesjid kampus dengan mesjid kampung. Di kampus dimana aturan main selama kegiatan jumatan sudah dipahami betul oleh jamaah yang kebanyakan para mahasiswa, dosen dan pegawai itu. Untuk menunggu masuk waktu shalat, biasanya ada sebagian jamaah (mahasiswa) yang mengaji dari Qur’an kecil. Di sudut-sudut tertentu di dalam masjid terlihat tumpukan tas atau jaket para mahasiswa. Azan pun cukup sekali dan khotib dalam memberikan khutbah jum’at berisikan topik yang berkaitan dengan kehidupan masa kini, dianalis dengan memakai disiplin ilmu tertentu sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuni khatib (kalau khatibnya staf pengajar UI), sesekali mengutip ayat atau hadis yang berkaitan dengan topik yang dibicarakan.

Mesjid di luar kampus terutama di wilayah Beji, ada beberapa ciri khas yang mungkin tidak ditemukan di mesjid kampus. Beberapa mesjid ada yang cukup dikumandangkan azan sekali saja. Tetapi beberapa mesjid sebelum dimulai azan, masih ada yang memukul bedug disusul dengan kumandang azan pertama, lalu saat khatib naik mimbar dikumandangkan azan yang kedua kali. Selama khatib menyampaikan khutbahnya, suara berisik atau dengungan anak-anak yang berbicara sangat dominan terdengar. Topik-topik yang disampaikan khatib juga berkisar kepada masalah iman dan taqwa, surga dan neraka, dengan tekanan suara yang cukup keras. Beberapa khatib ada juga yang mengajukan topik-topik yang secara terang-terangan menyerang kelompok tertentu, seperti misalnya membongkar konspirasi pendeskreditan terhadap Islam oleh kelompok zionis. Usia dari para khatib juga relatif lebih muda berkisar antara 20 an hingga 40 an tahun. Sudah jarang ditemukan khatib yang berusia di atas 50 tahunan. Tetapi pada saat shalat jum’at tadi siang (17/09) di salah satu mesjid kampung di wilayah Beji, khatibnya kira-kira berusia duapuluhtahunan, dari roman mukanya tampaknya bukan dari kalangan dari lingkungan berpendidikan tinggi, tapi bacaan arabnya cukup fasih dan tampil dengan cukup percaya diri. Yang justru menarik dari isi ceramahnya membicarakan topik tentang makna ramadhan dikaitkan dengan korupsi dengan mengambil contoh pada masa pemerintahan Islam (di Turki?) jaman Sultan Umar bin Abdul Aziz. Dimana seorang anak (kecil) yang justru mengingatkan kepada khalifah (ayahnya) tentang korupsi. Dari inspirasi anaknya ini akhirnya sang khalifah berhasil memberantas korupsi di negerinya. Dari cerita di atas, menunjukkan ada khatib mesjid di perkampungan yang membicarakan topik-topik tentang ibadah sosial dan kehidupan keseharian sejajar bahkan lebih maju daripada isi khutbah di mesjid kampus.