August 25, 2010

PGT…Oh…PGT

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:19 pm

Ada yang lupa, waktu kemarin (24/08) naik KRL dari Depok ke Jakarta melewati Stasiun Cikini, sekelebatan terlihat lahan bekas asrama mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang terletak di jalan Pegangsaan Timur (karena itu dinamakan asrama PGT), terlihat tetumbuhan liar menyelimuti hampir separuh lahan asrama. Bertahun-tahun hal itu terjadi, entah sampai kapan. Padahal konon kabarnya di lahan bekas asrama PGT tersebut akan dibangun pusat bisnis dan hotel. Pada jaman dahulu kala, terutama para mahasiswa UI tahun 1950-1960 an asrama PGT mempunyai kenangan tersendiri. Para tokoh dan aktivis mahasiswa banyak yang tinggal di asrama PGT. Di Kompleks PGT tersebut ada lapangan tenis yang terbuka untuk umum. Seorang ibu bercerita bagaimana lapangan tenis di PGT menjadi tempat rendevouz dengan pria idamannya mahasiswa UI. Lapangan tenis ini juga menjadi tempat bagi para wanita remaja untuk “mejeng” sambil melihat-lihat mahasiswa UI, siapa tahu ada yang ‘kecantol’. Tetapi pada tahun 1980 an, asrama PGT menjadi tempat yang tidak menyenangkan, penguasaan kamar-kamar dimonopoli oleh kelompok tertentu, bahkan disewakan kepada pihak luar yang bukan mahasiswa UI. Pernah terbetik selentingan berita, beberapa kamar dikuasai preman pasar Cikini. Beberapa oknum mahasiswa ke kamarnya suka membawa para babu yang bekerja di rumah-rumah gedongan sekitar Menteng. Waktu pengosongan asrama PGT awal tahun 1990 an, UI harus meminta bantuan pihak keamanan untuk mengawalnya. Kamar asrama kok digembok dengan memakai kunci gembok yang besar. Pada tahun 1990 an, waktu Rektor UI dijabat (alm) Prof. Dr. Sujudi, dilakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan swasta yang akan mengembangkan lahan bekas asrama PGT menjadi pusat bisnis dan hotel. Gagasan ini lebih dulu muncul, jauh sebelum asrama IPB di Jalan ke arah Ciawi dijadikan pusat bisnis ataupun Botanical Garden Square dekat kampus Program Pasca Sarjana IPB. Pola kerjasama yang dilakukan yaitu pihak pengembang/investor diberi kesempatan untuk menbangun gedung dan mengelolanya dalam jangka waktu tertentu. Setelah habis jangka waktunya seluruh aset bangunan dan pengelolaannya diserahkan kepada pihak UI. Dalam jangka waktu kerjasama itu, UI mendapat bagian keuntungan sesuai kesepakatan bersama. Bahkan sebelum dibangun pusat bisnis itu, UI telah dibantu oleh pihak investor dengan dibangun wisma/gest house dan asrama di kampus Depok. Hingga kepemimpinan UI setelah Prof. Dr. Sujudi, ternyata lahan asrama PGT itu belum juga dibangun gedung. Entah segan atau memang tidak mau membuat masalah baru, pimpinan UI tidak mau untuk mengutak-atik masalah PGT. Baru pada kepemimpinan UI dipegang Prof.Dr. Gumilar Rusliwa Somantri mencoba untuk menginventarisir aset-asart UI yang tersebar di berbagai tempat. Sebetulnya pada jaman Rektor UI dipegang Prof. Usman Chatib Warsa pun, telah dilakukan pembuatan sertifikat aset-aset UI, tetapi belum sempat untuk membenahi lahan asrama PGT. Ternyata dalam perjanjian dengan pihak investor, sangat merugikan UI, disitu ada klausul, selama asrama PGT belum dibangun, pihak UI dikenakan kewajiban untuk membayar ganti rugi kepada investor. Akhirnya dilakukan negosiasi ulang dan menghasilkan kesepakatan baru. Menurut seorang petinggi UI dari kesepakatan baru ini, pihak UI mendapat dana mencapai limabelas milyar rupiah. Tidak dijelaskan konpensasi apa yang diberikan kepada pihak investor. Pemanfaatan lahan kampus untuk kepentingan di luar yang berkaitan dengan pendidikan semakin hari semakin sulit saja. Banyak peraturan yang dikeluarkan departemen Keuangan sangat ketat dan kaku. Seorang teman bercerita banyak investor yang segan bekerjasama dengan UI karena ada peraturan Kementrian keuangan yang ketat. Jangankan membangun yang belum ada, bangunan atau peralatan yang sudah ada saja tidak bisa begitu saja dimusnahkan, karena harus sepengetahuan kementiran keuangan. Sebagai contoh, ketika UI akan membangun jalan utama dari gedung rektorat ke arah jalan tol (yang belum jadi) yang melewati gedung BNI/gedung Balaisidang, tidak bisa begitu saja diratakan, walaupun yang membangun gedung itu sendiri (pihak Bank BNI) tidak keberatan untuk diratakan dijadikan jalan. Generasi penghuni asrama PGT barangkali hanya tinggal beberapa orang saja yang masih hidup. Reputasi terakhir yang negative membuat nama asrama PGT tidak terlalu menjadi wacana di lingkungan para alumni dan warga kampus. Padahal jaman Jepang dahulu kala, asrama PGT dikenal sebagai sarang para aktivis (mahasiswa kedoktaran UI) yang menentang penjajahan Jepang.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment