August 3, 2010

Intelektual dan Kepemimpinan

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:24 am

Beberapa waktu lalu di bulan Juli, berkesempatan menghadiri suatu acara promosi doktor di salah satu fakultas di kampus Depok.Itu pun mendapat informasi secara tidak sengaja dari seorang teman.  Ada promosi doktor mantan petinggi UI, begitu info dari seorang teman. Tanpa piker panjang lagi,maka meluncurlah ke fakultas yang dimaksud.

Ketika sampai ke ruangan dimana akan dilakukan sidang promosi, acara belum dimulai. Tampak sang calon doktor berada di depan pintu ruang sidang sibuk menerima para undangan yang akan masuk ruangan.  Saat bersalaman dengan sang calon doktor, sempat berbisik ke telinganya, apakah bisa lulus dengan nilai bagus? Dia menjawab “ya bisa!” karena masa studi tepat waktu (mendaftar  tahun 2007) dan topik yang diangkat menjadi bahan disertasi doktor sesuatu yang baru, belum pernah dilakukan orang di Indonesia. Benar saja, usai ujian doktor, ketua sidang mengumumkan promovendus dinyatakan lulus dengan yudisium cum laude.

Di dalam tulisan ini tidak akan membahas mengenai isi disertasi doktor, melainkan pengalaman penulis pada tahun 2002 ketika sang doktor masih menjabat sebagai salah seorang petinggi UI, yang tidak bisa dilupakan hingga kini. Saat itu UI baru saja mempunyai   lembaga tertinggi yaitu Majelis Wali Amanat (MWA) sebagaimana yang diamanatkan oleh PP No.152/2000 dimana UI berstatus sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Pada waktu itu Ketua MWA mengeluarkan suatu pemikiran bagaimana seharusnya kinerja UI yang sesuai dengan status BHMN. Pemikirannya itu dituangkan dalam suatu tulisan dan dibagi-bagikan kepada para anggota MWA dan pimpinan UI dalam suatu kesempatan rapat.

Sebagai orang yang berkecimpung di bidang yang berkaitan dengan publikasi, ketika mendapatkan tulisan ketua MWA tersebut secara otomatis berpikir, alangkah baiknya kalau pemikiran Ketua MWA itu disebarluaskan dan diketahui oleh warga UI, sehingga dapat diketahui mau kemana UI BHMN akan melangkah. Pemikiran Ketua MWA itu segera saja dibuatkan dalam bentuk buku, lalu draf buku itu diperlihatkan kepada Ketua MWA dan diminta untuk diparaf sebagai tanda setuju untuk diterbitkan. Setelah  itu, draf buku yang telah diparaf menjadi bahan bukti untuk meminta dana untuk ongkos cetak kepada bagian keuangan. Setelah draf buku itu diserahkan kepada bagian keuangan, tidak ada kabar berita kelanjutannya mengenai pendanaan untuk pencetakan buku tersebut.

Seorang sekretaris petinggi UI tiba-tiba saja memberi tahu, supaya segera menghadap Bapak ingin bertemu ada yang ingin dibicarakan. Kaget juga, tidak ada hujan tidak ada angin mendapat panggilan dari  petinggi UI. Dalam hati agak khawatir juga, ada salah apa gerangan? Saat bertemu di ruangannya, tampak mukanya agak kenceng, dia menyodorkan naskah draf buku tulisan ketua MWA, langsung “diinterogasi” maksud dari pembuatan buku tersebut. Setelah peristiwa tersebut tidak pernah lagi ada panggilan khusus. Dan draf buku itu juga akhirnya tidak jadi diterbitkan.

Selang beberapa waktu kemudian berkempatan menghadiri acara peluncuran buku yang diselenggarakan  suatu perusahaan besar di sebuah hotel  kawasan Senayan, dihadiri kalangan pengusaha terkenal dan tokoh masyarakat serta selebritis. Bahkan buku tersebut dibahas para tokoh yang sudah dikenal masyarakat. Waktu membaca isi buku tersebut, ternyata salah satu bagian dari buku itu adalah pemikiran ketua MWA yang dulu diusulkan untuk diterbitkan dan disebarkan di lingkungan UI.  Hikmah dari pengalaman ini adalah, kalau bangsa ini mau maju, seorang pemimpin  perlu mempunyai visi, berpikir positif, bisa mengapresiasi ide/pemikiran/ karya orang lain dan menjauhi prasangka buruk SARA.

 

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment