August 3, 2010

“Menerabas” Demi Kebijakan Pro-Rakyat

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:12 am

Dengan berprasangka baik, berangkatlah utusan dari UI ke kantor pejabat berwenang Depok. Ternyata di sana sudah ada undangan lain dari kalangan masyarakat, LSM dan juga mahasiswa. Di situ wakil dari pihak UI Seorang teman bercerita, baru-baru ini pihak Pemda Depok mengundang UI untuk meminta informasi dan penjelasan tentang kebijakan penutupan pintu Barel (balik rel KA) yang terletak di depan kampus Fakultas Hukum dan di dekat  Fakultas Kesehatan masyarakat. Sementara itu seorang pejabat berwenang di UI bercerita kepada penulis, dia mendapat tugas dari Rektor  untuk membuat kajian secara khusus dari aspek sosisologis dan legal formal tentang penutupan pintu barel. Persoalan barel ini sudah cukup lama dan sudah diputuskan UI  untuk ditutup, karena dalam perjalanan waktu ternyata kerap terjadi penyebrang yang nota bene warga UI tersambar kereta rel listrik (KRL). Bahkan terakhir pada bulan Mei lalu sudah jatuh korban. (lihat tulisan di blog ini pada tanggal 1 Juni berjudul “pagar makan manusia”)

seperti “diinterogasi” persis seperti Sri Mulyani dengar pendapat dengan anggota DPR. Ujung-ujungnya pihak berwenang kota Depok meminta supaya UI membuka pintu barel demi kepentingan rakyat banyak. Agak mengherankan, sampai begitu seriusnya pihak berwenang Kota Depok mengurusi soal pagar UI ini. Ataukah ada maksud lain dengan mengambil kebijakan pro-rakyat, karena sebentar lagi akan ada Pilkada di Depok?

Wakil dari pihak UI berpikir keras juga, bagaimana caranya supaya kebijakan penutupan pintu barel ini  tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.  Akhirnya diajukan syarat, pintu barel akan dibuka kalau didukung dengan Perda yang dikeluarkan Pemda Depok. Hadirin yang ada pada pertemuan tersebut cukup lega, karena  telah ada solusi dan kesepakatan bersama. Tapi kemudian pihak UI pun menyatakan secara terang-terangan, kalau Perda itu keluar  Pemda Depok akan mendapat masalah di kemudian hari. Lho kok bisa begitu? Iya, karena Perda itu akan bertentangan dengan dengan UU lalulintas yang mengatur  bagaimana suatu jalan raya apabila melintasi jalan kereta api.

Dari peristiwa ini terlihat, bagaimana pola pikir dan pola tindak masyarakat kita dan juga  pejabat berwenang, demi kepentingan pribadinya melakukan tindakan “menerabas”, tidak peduli itu apakah sesuai aturan dan perundang-undangan  atau tidak. Tidak mengherankan kalau beberapa waktu lalu berbagai media memberitakan, banyak Perda tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi.

Intelektual dan Kepemimpinan

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:24 am

Beberapa waktu lalu di bulan Juli, berkesempatan menghadiri suatu acara promosi doktor di salah satu fakultas di kampus Depok.Itu pun mendapat informasi secara tidak sengaja dari seorang teman.  Ada promosi doktor mantan petinggi UI, begitu info dari seorang teman. Tanpa piker panjang lagi,maka meluncurlah ke fakultas yang dimaksud.

Ketika sampai ke ruangan dimana akan dilakukan sidang promosi, acara belum dimulai. Tampak sang calon doktor berada di depan pintu ruang sidang sibuk menerima para undangan yang akan masuk ruangan.  Saat bersalaman dengan sang calon doktor, sempat berbisik ke telinganya, apakah bisa lulus dengan nilai bagus? Dia menjawab “ya bisa!” karena masa studi tepat waktu (mendaftar  tahun 2007) dan topik yang diangkat menjadi bahan disertasi doktor sesuatu yang baru, belum pernah dilakukan orang di Indonesia. Benar saja, usai ujian doktor, ketua sidang mengumumkan promovendus dinyatakan lulus dengan yudisium cum laude.

Di dalam tulisan ini tidak akan membahas mengenai isi disertasi doktor, melainkan pengalaman penulis pada tahun 2002 ketika sang doktor masih menjabat sebagai salah seorang petinggi UI, yang tidak bisa dilupakan hingga kini. Saat itu UI baru saja mempunyai   lembaga tertinggi yaitu Majelis Wali Amanat (MWA) sebagaimana yang diamanatkan oleh PP No.152/2000 dimana UI berstatus sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Pada waktu itu Ketua MWA mengeluarkan suatu pemikiran bagaimana seharusnya kinerja UI yang sesuai dengan status BHMN. Pemikirannya itu dituangkan dalam suatu tulisan dan dibagi-bagikan kepada para anggota MWA dan pimpinan UI dalam suatu kesempatan rapat.

Sebagai orang yang berkecimpung di bidang yang berkaitan dengan publikasi, ketika mendapatkan tulisan ketua MWA tersebut secara otomatis berpikir, alangkah baiknya kalau pemikiran Ketua MWA itu disebarluaskan dan diketahui oleh warga UI, sehingga dapat diketahui mau kemana UI BHMN akan melangkah. Pemikiran Ketua MWA itu segera saja dibuatkan dalam bentuk buku, lalu draf buku itu diperlihatkan kepada Ketua MWA dan diminta untuk diparaf sebagai tanda setuju untuk diterbitkan. Setelah  itu, draf buku yang telah diparaf menjadi bahan bukti untuk meminta dana untuk ongkos cetak kepada bagian keuangan. Setelah draf buku itu diserahkan kepada bagian keuangan, tidak ada kabar berita kelanjutannya mengenai pendanaan untuk pencetakan buku tersebut.

Seorang sekretaris petinggi UI tiba-tiba saja memberi tahu, supaya segera menghadap Bapak ingin bertemu ada yang ingin dibicarakan. Kaget juga, tidak ada hujan tidak ada angin mendapat panggilan dari  petinggi UI. Dalam hati agak khawatir juga, ada salah apa gerangan? Saat bertemu di ruangannya, tampak mukanya agak kenceng, dia menyodorkan naskah draf buku tulisan ketua MWA, langsung “diinterogasi” maksud dari pembuatan buku tersebut. Setelah peristiwa tersebut tidak pernah lagi ada panggilan khusus. Dan draf buku itu juga akhirnya tidak jadi diterbitkan.

Selang beberapa waktu kemudian berkempatan menghadiri acara peluncuran buku yang diselenggarakan  suatu perusahaan besar di sebuah hotel  kawasan Senayan, dihadiri kalangan pengusaha terkenal dan tokoh masyarakat serta selebritis. Bahkan buku tersebut dibahas para tokoh yang sudah dikenal masyarakat. Waktu membaca isi buku tersebut, ternyata salah satu bagian dari buku itu adalah pemikiran ketua MWA yang dulu diusulkan untuk diterbitkan dan disebarkan di lingkungan UI.  Hikmah dari pengalaman ini adalah, kalau bangsa ini mau maju, seorang pemimpin  perlu mempunyai visi, berpikir positif, bisa mengapresiasi ide/pemikiran/ karya orang lain dan menjauhi prasangka buruk SARA.