August 27, 2010

Supata Tanah Larangan

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:40 pm

Kali ini pikiran tergelitik  untuk menyambungkan benang merah tentang (alm) Norman Edwin, setelah membaca melihat dan membaca secara sepintas buku berjudul “Norman Edwin, Catatan Sahabat Sang Alam” yang diterbitkan Gramedia , cetakan edisi pertama  bulan Mei 2010. Kebetulan saat penyambutan dan penguburannya jenazah Norman Edwin (37) dan Didiek Syamsu (30)  pada  bulan April 1992 sempat mendokumentasikan  ke dalam format Video-8. Waktu itu  Jacob Oetama sebagai pemimpin Umum Kompas dimana Norman bekerja memberikan kata sambutan, yang sangat emosional dan mengharukan sekali. Suatu pidato yang mengesankan.

Seperti diketahui, Norman Edwin dan Didiek Syamsu Gugur saat melakukan pendakian Gunung Aconcagua di Amerika Latin pada 21 Maret 1992.  Gunung Aconcagua adalah salah satu dari tujuh gunung tertinggi di dunia, yang menjadi program Mahasiswa Pencinta Alam  Universitas Indonesia (MAPALA UI) untuk menaklukan gunung-gunung tertinggi dunia. Buku yang disinggung di atas menghimpun 70 tulisan Norman Edwin di berbagai media yang kemudian dikumpulkan dan diedit Rudy Badil, sahabat kental di Mapala dan di Kompas. Dalam kumpulan tulisan itu terdapat artikel berjudul “Arca Domas dan Baduy di Kanekes” yang telah dimuat di majalah Intisari pada Bulan Mei 1980. Di dalam tulisan itu diceritakan, betapa Norman Edwin berhasil masuk ke tempat ibadah Masyarakat Baduy yang dinamakan Arca Domas. Padahal tempat itu terlarang untuk dimasuki orang luar selain orang Baduy dalam. Bahkan Orang Baduy dalam pun tidak semua orang bisa masuk ke Arca Domas.

Menurut Don Hasman, pemotret handal spesialis mendokumentasikan  alam flora dan fauna serta budaya masyarakat Indonesia asli, yang telah diakui sebagai bagian dari masyarakat Baduy Dalam oleh Kepala Adat Baduy Dalam sendiri, kasus Norman memasuki Arca Domas sangat melukai masyarakat Baduy Dalam. Karena itu, Kepala Adat Masyarakat Baduy Dalam mengeluarkan kutukan (Supata), siapa saja orang luar yang telah masuk ke tempat suci orang Baduy Dalam, maka dia tidak akan berumur panjang. Waktu itu ada 3 anak Mapala UI yang masuk ke Arca Domas, seorang diantaranya Norman Edwin. Mungkinkah kematian Norman Edwin di Gunung Aconcagua karena Supata memasuki Tanah Larangan? Wallahualam Bisawab.

August 25, 2010

PGT…Oh…PGT

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:19 pm

Ada yang lupa, waktu kemarin (24/08) naik KRL dari Depok ke Jakarta melewati Stasiun Cikini, sekelebatan terlihat lahan bekas asrama mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang terletak di jalan Pegangsaan Timur (karena itu dinamakan asrama PGT), terlihat tetumbuhan liar menyelimuti hampir separuh lahan asrama. Bertahun-tahun hal itu terjadi, entah sampai kapan. Padahal konon kabarnya di lahan bekas asrama PGT tersebut akan dibangun pusat bisnis dan hotel. Pada jaman dahulu kala, terutama para mahasiswa UI tahun 1950-1960 an asrama PGT mempunyai kenangan tersendiri. Para tokoh dan aktivis mahasiswa banyak yang tinggal di asrama PGT. Di Kompleks PGT tersebut ada lapangan tenis yang terbuka untuk umum. Seorang ibu bercerita bagaimana lapangan tenis di PGT menjadi tempat rendevouz dengan pria idamannya mahasiswa UI. Lapangan tenis ini juga menjadi tempat bagi para wanita remaja untuk “mejeng” sambil melihat-lihat mahasiswa UI, siapa tahu ada yang ‘kecantol’. Tetapi pada tahun 1980 an, asrama PGT menjadi tempat yang tidak menyenangkan, penguasaan kamar-kamar dimonopoli oleh kelompok tertentu, bahkan disewakan kepada pihak luar yang bukan mahasiswa UI. Pernah terbetik selentingan berita, beberapa kamar dikuasai preman pasar Cikini. Beberapa oknum mahasiswa ke kamarnya suka membawa para babu yang bekerja di rumah-rumah gedongan sekitar Menteng. Waktu pengosongan asrama PGT awal tahun 1990 an, UI harus meminta bantuan pihak keamanan untuk mengawalnya. Kamar asrama kok digembok dengan memakai kunci gembok yang besar. Pada tahun 1990 an, waktu Rektor UI dijabat (alm) Prof. Dr. Sujudi, dilakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan swasta yang akan mengembangkan lahan bekas asrama PGT menjadi pusat bisnis dan hotel. Gagasan ini lebih dulu muncul, jauh sebelum asrama IPB di Jalan ke arah Ciawi dijadikan pusat bisnis ataupun Botanical Garden Square dekat kampus Program Pasca Sarjana IPB. Pola kerjasama yang dilakukan yaitu pihak pengembang/investor diberi kesempatan untuk menbangun gedung dan mengelolanya dalam jangka waktu tertentu. Setelah habis jangka waktunya seluruh aset bangunan dan pengelolaannya diserahkan kepada pihak UI. Dalam jangka waktu kerjasama itu, UI mendapat bagian keuntungan sesuai kesepakatan bersama. Bahkan sebelum dibangun pusat bisnis itu, UI telah dibantu oleh pihak investor dengan dibangun wisma/gest house dan asrama di kampus Depok. Hingga kepemimpinan UI setelah Prof. Dr. Sujudi, ternyata lahan asrama PGT itu belum juga dibangun gedung. Entah segan atau memang tidak mau membuat masalah baru, pimpinan UI tidak mau untuk mengutak-atik masalah PGT. Baru pada kepemimpinan UI dipegang Prof.Dr. Gumilar Rusliwa Somantri mencoba untuk menginventarisir aset-asart UI yang tersebar di berbagai tempat. Sebetulnya pada jaman Rektor UI dipegang Prof. Usman Chatib Warsa pun, telah dilakukan pembuatan sertifikat aset-aset UI, tetapi belum sempat untuk membenahi lahan asrama PGT. Ternyata dalam perjanjian dengan pihak investor, sangat merugikan UI, disitu ada klausul, selama asrama PGT belum dibangun, pihak UI dikenakan kewajiban untuk membayar ganti rugi kepada investor. Akhirnya dilakukan negosiasi ulang dan menghasilkan kesepakatan baru. Menurut seorang petinggi UI dari kesepakatan baru ini, pihak UI mendapat dana mencapai limabelas milyar rupiah. Tidak dijelaskan konpensasi apa yang diberikan kepada pihak investor. Pemanfaatan lahan kampus untuk kepentingan di luar yang berkaitan dengan pendidikan semakin hari semakin sulit saja. Banyak peraturan yang dikeluarkan departemen Keuangan sangat ketat dan kaku. Seorang teman bercerita banyak investor yang segan bekerjasama dengan UI karena ada peraturan Kementrian keuangan yang ketat. Jangankan membangun yang belum ada, bangunan atau peralatan yang sudah ada saja tidak bisa begitu saja dimusnahkan, karena harus sepengetahuan kementiran keuangan. Sebagai contoh, ketika UI akan membangun jalan utama dari gedung rektorat ke arah jalan tol (yang belum jadi) yang melewati gedung BNI/gedung Balaisidang, tidak bisa begitu saja diratakan, walaupun yang membangun gedung itu sendiri (pihak Bank BNI) tidak keberatan untuk diratakan dijadikan jalan. Generasi penghuni asrama PGT barangkali hanya tinggal beberapa orang saja yang masih hidup. Reputasi terakhir yang negative membuat nama asrama PGT tidak terlalu menjadi wacana di lingkungan para alumni dan warga kampus. Padahal jaman Jepang dahulu kala, asrama PGT dikenal sebagai sarang para aktivis (mahasiswa kedoktaran UI) yang menentang penjajahan Jepang.

ESQ Vs P4

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:19 am

Sampai seberapa jauh keberhasilan pelatihan ESQ bagi mahasiswa baru dan bagaimana cara mengukur keberhasilan itu serta adakah jaminan akan kesuksesan pola ESQ diterapkan pada mahasiswa baru UI. Itulah pokok-pokok yang penulis tanyakan kepada salah seorang petinggi ESQ yang ternyata tidak bisa dijawab dengan tegas oleh pihak ESQ.

Selama ini, pihak ESQ hanya menyebutkan jumlah peserta yang pernah mengikuti ESQ sudah mencapai 800 ribuan alumni yang tersebar di berbagai lembaga pemerintahan dan swasta serta diikuti juga para tokoh dan selebritis dari berbagai kalangan. Bahkan pelatihan ESQ ini juga dilakukan di berbagai Negara. Di Malaysia  ESQ membuka cabang tersendiri. Walaupun akhir-akhir ini pola dan isi pelatihan dipertanyakan oleh kalangan ulama di Malaysia, tetapi ternyata justru makin menambah penasaran orang untuk mengikutinya. Baru-baru ini pihak ESQ menyatakan lembaga kepolisan serta akademi kepolisan mewajibkan kepada jajaran dan para taruna untuk mengikuti pelatihan ESQ. Kita tahu, institusi ini akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat umum karena adanya kasus yang menarik perhatian masyarakat. ESQ juga telah merambah melatih para guru-guru sekolah dasar dan menengah di seluruh Indonesia.

Walaupun Ary Ginanjar sebagai perintis pelatihan  ESQ telah mendapatkan gelar akademis Doktor Honoris Causa dari Universitas Pendidikan Negeri Yogyakarta, tetapi belum pernah terdengar kabar dari kalangan akademisi yang menelaah secara akademis tentang metode atau pola pelatihan ESQ. Berbeda dengan Pola Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), Universitas Gajah Mada mempunyai Pusat studi tentang Pancasila, juga salah satu universitas di Malang. Di UI sendiri ada seorang dosen yang meraih gelar doktor setelah melakukan penelitian tentang butir-butir yang ada dalam P4. Hasil telaahannya itu tertuang dalam disertasi yang berjudul “Lambang Dasar Komunikasi” karya  (alm) Prof.Dr.H.R.A.A. Djajusman Tanudikusumah, SISIP,MA.

Membandingkan pola ESQ dengan P4 bukan berarti pro terhadap satu pola dan kontra terhadap pola lainnya, tetapi sebagai insan akademis harus bersikap kritis dan obyektif dalam melihat fenomena yang terjadi di masyarakat. Sepengetahuan penulis, tahun 1980 an UI telah menjadi perintis dalam penerapan P4 bagi mahasiswa baru dan dalam beberapa hal telah terbukti keandalannya. Kalau saja pihak ESQ terbuka untuk ditelaah pola-pola pelatihannya oleh kalangan akademisi, barangkali akan menjadi sumbangan yang berharga bagi peradaban bangsa di masa depan.

Sibuk Mengurus Anak Orang…..

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:35 am

Ada catatan “tercecer” dari kegiatan pelatihan ESQ bagi mahasiswa baru Universitas Indonesia (UI) yang berlangsung 24 – 25 Agustus di hall D Arena Pekan Raya Jakarta Kemayoran, yang tidak sengaja “kebetulan” ditemukan. Pada acara pembukaan yang berlangsung hari Rabu (24/06) boleh dikatakan sangat fenomenal, karena ternyata bukan saja mengukir sejarah masa kini, sebagai yang paling banyak diikuti peserta sebanyak 8140 mahasiswa sehingga masuk museum rekor MURI yang menjadi kado terindah bagi lembaga ESQ yang tahun ini telah menginjak usia ke-10. Tetapi juga punya nilai sejarah bagi masa depan bangsa, karena untuk pertama kalinya ESQ mendapat kesempatan “menggembleng” putra terbaik dan pilihan dari seluruh Indonesia dan calon pemimpin masa depan bangsa. Hal ini terungkap dari sambutan yang diberikan Rektor UI Prof.Dr.derSoz.Gumilar Rusliwa Somantri yang menyinggung tentang peranan UI di masa lalu dan menghadapi masa depan Indonesia pada tahun 2030 ke depan. Sementara Pimpinan ESQ Dr. (HC) Ary Ginanjar juga menyinggung tentang calon pemimpin masa depan, tidak saja harus diisi dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga harus dibekali dengan kecerdasan emosi dan moralitas yang baik. (Bandingkan dengan kegiatan yang harus diikuti para mahasiswa baru UI tahun 1980 an selama dua minggu dengan mengikuti kegiatan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang tadinya pola 60 jam menjadi pola 120 jam, yang melibatkan seluruh warga kampus, mulai dari mahasiswa senior, dosen, karyawan, alumni hingga ibu-ibu yang tergabung dalam Dharma Wanita Fakultas dan Universitas. Dan akhirnya P4 pola 120 jam ini diterapkan bagi seluruh mahasiswa baru di perguruan tinggi seluruh Indonesia.)

Tetapi Rupanya perasaan Rektor UI masgul juga dengan kegiatan ESQ kali ini. Konon katanya siang harinya di kampus Depok, Rektor marah-marah dan langsung memanggil direktur Pendidikan serta mempertanyakan kenapa ada mahasiswa baru FISIP tidak bisa mengikuti kegiatan pelatihan ESQ di Kemayoran. Setelah diberikan argumentasi yang kuat akhirnya Rektor bisa memahaminya. Rupanya sang mahasiswa tadi dan beberapa teman mahasiswa lainnya tidak bisa mengikuti ESQ karena sibuk mengisi kartu IRS (Isian Rencana Studi) dan meminta persetujuan ke departemen mata kuliah yang akan diambil, karena ketiadaan waktu yang cukup. Selain latihan menyanyi pada pagi hingga sore hari di Balairung, mahasiswa baru juga harus mengikuti kegiatan yang diadakan para seniornya di fakultas masing-masing. Tetapi kenapa Rektor sampai harus marah-marah segala? Rupanya mahasiswa FISIP yang tidak ikut ESQ itu adalah anak pertama Rektor UI yang tahun ini baru saja menjadi mahasiswa UI.

August 24, 2010

ESQ Menandai Makna Suatu Peristiwa

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:14 pm

Pagi ini (24/08) mengikuti pembukaan pelatihan ESQ bagi mahasiswa baru Universitas Indonesia (UI) di hall D Arena Pekan Raya Kemayoran Jakarta. Kegiatan yang diikuti 8140 mahasiswa baru UI program S1  ini masuk dalam Musium Rekor Indonesia (MURI) sebagai  peserta yang paling banyak  dalam mengikuti kegiatan  ESQ dalam satu angkatan.

Namun dalam tulisan ini bukan rekor itu yang akan menjadi pokok perbincangan. Ternyata menghadiri peristiwa tersebut mempunyai makna yang mendalam secara pribadi, karena ternyata mengingatkan akan  beberapa peristiwa sebelumnya yang penulis ketahui, seperti yang akan dipaparkan di bawah ini.

Saat menuju ke tempat pelatihan dengan naik KRL dan turut di stasiun Juanda, di dekat stasiun terlihat ada bangunan terbengkalai yang belum selesai. Melihat bangungan yang belum selesai itu, teringat kembali kepada seorang teman petinggi di PT KAI yang dipenjara karena tersangkut satu kasus di institusi tersebut. Pertemuan terakhir dengannya terjadi 1 Maret 2009 di lapangan golf emerald Cimanggis, saat alumni FEUI mengadakan kegiatan turnamen golf untuk mencari dana. Dia bercerita bagaimana dari rumahnya (di Bandung) setiap hari  ke tempat kerjanya di Jakarta, hanya ditempuh dalam waktu satu jam via tol cipularang. Beberapa waktu kemudian terdengar kabar, dia terlibat kasus yang menyebabkan dia harus masuk penjara. Mendengar kabar itu rasanya tida percaya.  Awal tahun 1980 an, sama-sama mengikuti kegiatan LMD di Mesjid Salman ITB Bandung.

Sampai di halaman parkir hall D Arena Pekan Raya, tidak dinyana bertemu dengan sepasang suami istri yang juga dulu ikut LMD mesjid Salman ITB Bandung. Ternyata keduanya adalah alumni dan jajaran teras pengurus ESQ. Dikeluarkanlah keluh kesah, betapa tahun lalu ketika meliput kegiatan ESQ mahasiswa baru di Balairung Kampus Baru Depok mendapat hambatan dari pengurus ESQ. Akhirnya mereka berjanji untuk dapat mempertemukan dengan salah seorang petinggi ESQ. Saat bertemu dengan petinggi ESQ tersebut, ternyata dia merekomendasikan untuk bisa langsung berbicara dengan orang nomor satu di ESQ. Dan dengan mudahnya dapat bertemu dengan Ary Ginanjar, serta dengan Ketua Dewan Pembina ESQ Ir. Azwar Anas.

Dalam kata sambutannya pada acara pelatihan tersebut, Ary Ginanjar menyatakan dalam hidup ini tidak ada yang serba kebetulan, kehadiran orang-orang pada acara pelatihan ESQ pun bukan kebetulan belaka, tetapi memang sudah direncanakan dan memang hanya orang-orang ‘pilihan’ saja yang bisa hadir dalam acara itu.

Pada acara itu ternyata ‘secara kebetulan’ bisa bertemu secara pribadi dengan Ibunda Ary Ginanjar (Ibu Rochim). Suatu pertemuan yang tidak terduga karena pertemuan terakhir dengan Ibu Rochim terjadi 15 tahun lalu. Saat itu Ibu Rochim menjadi pembawa acara akad pernikahan penulis di Mesjid Asysyifa Kompleks Departemen Kesehatan Sunter Jakarta Utara.

August 3, 2010

“Menerabas” Demi Kebijakan Pro-Rakyat

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:12 am

Dengan berprasangka baik, berangkatlah utusan dari UI ke kantor pejabat berwenang Depok. Ternyata di sana sudah ada undangan lain dari kalangan masyarakat, LSM dan juga mahasiswa. Di situ wakil dari pihak UI Seorang teman bercerita, baru-baru ini pihak Pemda Depok mengundang UI untuk meminta informasi dan penjelasan tentang kebijakan penutupan pintu Barel (balik rel KA) yang terletak di depan kampus Fakultas Hukum dan di dekat  Fakultas Kesehatan masyarakat. Sementara itu seorang pejabat berwenang di UI bercerita kepada penulis, dia mendapat tugas dari Rektor  untuk membuat kajian secara khusus dari aspek sosisologis dan legal formal tentang penutupan pintu barel. Persoalan barel ini sudah cukup lama dan sudah diputuskan UI  untuk ditutup, karena dalam perjalanan waktu ternyata kerap terjadi penyebrang yang nota bene warga UI tersambar kereta rel listrik (KRL). Bahkan terakhir pada bulan Mei lalu sudah jatuh korban. (lihat tulisan di blog ini pada tanggal 1 Juni berjudul “pagar makan manusia”)

seperti “diinterogasi” persis seperti Sri Mulyani dengar pendapat dengan anggota DPR. Ujung-ujungnya pihak berwenang kota Depok meminta supaya UI membuka pintu barel demi kepentingan rakyat banyak. Agak mengherankan, sampai begitu seriusnya pihak berwenang Kota Depok mengurusi soal pagar UI ini. Ataukah ada maksud lain dengan mengambil kebijakan pro-rakyat, karena sebentar lagi akan ada Pilkada di Depok?

Wakil dari pihak UI berpikir keras juga, bagaimana caranya supaya kebijakan penutupan pintu barel ini  tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.  Akhirnya diajukan syarat, pintu barel akan dibuka kalau didukung dengan Perda yang dikeluarkan Pemda Depok. Hadirin yang ada pada pertemuan tersebut cukup lega, karena  telah ada solusi dan kesepakatan bersama. Tapi kemudian pihak UI pun menyatakan secara terang-terangan, kalau Perda itu keluar  Pemda Depok akan mendapat masalah di kemudian hari. Lho kok bisa begitu? Iya, karena Perda itu akan bertentangan dengan dengan UU lalulintas yang mengatur  bagaimana suatu jalan raya apabila melintasi jalan kereta api.

Dari peristiwa ini terlihat, bagaimana pola pikir dan pola tindak masyarakat kita dan juga  pejabat berwenang, demi kepentingan pribadinya melakukan tindakan “menerabas”, tidak peduli itu apakah sesuai aturan dan perundang-undangan  atau tidak. Tidak mengherankan kalau beberapa waktu lalu berbagai media memberitakan, banyak Perda tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi.

Intelektual dan Kepemimpinan

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:24 am

Beberapa waktu lalu di bulan Juli, berkesempatan menghadiri suatu acara promosi doktor di salah satu fakultas di kampus Depok.Itu pun mendapat informasi secara tidak sengaja dari seorang teman.  Ada promosi doktor mantan petinggi UI, begitu info dari seorang teman. Tanpa piker panjang lagi,maka meluncurlah ke fakultas yang dimaksud.

Ketika sampai ke ruangan dimana akan dilakukan sidang promosi, acara belum dimulai. Tampak sang calon doktor berada di depan pintu ruang sidang sibuk menerima para undangan yang akan masuk ruangan.  Saat bersalaman dengan sang calon doktor, sempat berbisik ke telinganya, apakah bisa lulus dengan nilai bagus? Dia menjawab “ya bisa!” karena masa studi tepat waktu (mendaftar  tahun 2007) dan topik yang diangkat menjadi bahan disertasi doktor sesuatu yang baru, belum pernah dilakukan orang di Indonesia. Benar saja, usai ujian doktor, ketua sidang mengumumkan promovendus dinyatakan lulus dengan yudisium cum laude.

Di dalam tulisan ini tidak akan membahas mengenai isi disertasi doktor, melainkan pengalaman penulis pada tahun 2002 ketika sang doktor masih menjabat sebagai salah seorang petinggi UI, yang tidak bisa dilupakan hingga kini. Saat itu UI baru saja mempunyai   lembaga tertinggi yaitu Majelis Wali Amanat (MWA) sebagaimana yang diamanatkan oleh PP No.152/2000 dimana UI berstatus sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Pada waktu itu Ketua MWA mengeluarkan suatu pemikiran bagaimana seharusnya kinerja UI yang sesuai dengan status BHMN. Pemikirannya itu dituangkan dalam suatu tulisan dan dibagi-bagikan kepada para anggota MWA dan pimpinan UI dalam suatu kesempatan rapat.

Sebagai orang yang berkecimpung di bidang yang berkaitan dengan publikasi, ketika mendapatkan tulisan ketua MWA tersebut secara otomatis berpikir, alangkah baiknya kalau pemikiran Ketua MWA itu disebarluaskan dan diketahui oleh warga UI, sehingga dapat diketahui mau kemana UI BHMN akan melangkah. Pemikiran Ketua MWA itu segera saja dibuatkan dalam bentuk buku, lalu draf buku itu diperlihatkan kepada Ketua MWA dan diminta untuk diparaf sebagai tanda setuju untuk diterbitkan. Setelah  itu, draf buku yang telah diparaf menjadi bahan bukti untuk meminta dana untuk ongkos cetak kepada bagian keuangan. Setelah draf buku itu diserahkan kepada bagian keuangan, tidak ada kabar berita kelanjutannya mengenai pendanaan untuk pencetakan buku tersebut.

Seorang sekretaris petinggi UI tiba-tiba saja memberi tahu, supaya segera menghadap Bapak ingin bertemu ada yang ingin dibicarakan. Kaget juga, tidak ada hujan tidak ada angin mendapat panggilan dari  petinggi UI. Dalam hati agak khawatir juga, ada salah apa gerangan? Saat bertemu di ruangannya, tampak mukanya agak kenceng, dia menyodorkan naskah draf buku tulisan ketua MWA, langsung “diinterogasi” maksud dari pembuatan buku tersebut. Setelah peristiwa tersebut tidak pernah lagi ada panggilan khusus. Dan draf buku itu juga akhirnya tidak jadi diterbitkan.

Selang beberapa waktu kemudian berkempatan menghadiri acara peluncuran buku yang diselenggarakan  suatu perusahaan besar di sebuah hotel  kawasan Senayan, dihadiri kalangan pengusaha terkenal dan tokoh masyarakat serta selebritis. Bahkan buku tersebut dibahas para tokoh yang sudah dikenal masyarakat. Waktu membaca isi buku tersebut, ternyata salah satu bagian dari buku itu adalah pemikiran ketua MWA yang dulu diusulkan untuk diterbitkan dan disebarkan di lingkungan UI.  Hikmah dari pengalaman ini adalah, kalau bangsa ini mau maju, seorang pemimpin  perlu mempunyai visi, berpikir positif, bisa mengapresiasi ide/pemikiran/ karya orang lain dan menjauhi prasangka buruk SARA.

 

 

August 2, 2010

Agustus

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:03 pm

Agustus identik dengan  pekik kemerdekaan

Merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang

mengeruk kekayaan tiga setengah abad dan seumur jagung

Membuat anak bangsa menjadi bermental “budak”

 

 

Kemerdekaan adalah jembatan emas

Menuju kemakmuran dan kesejahteraan bangsa

Berketuhanan, adil , beradab dan bertartabat

Serta menjunjung tinggi hak azasi manusia

 

 

Enampuluhlima  tahun sudah merdeka

Suka dan duka telah dilalui

 kita sempat mengalami IGGI

peristiwa Malari

Bahkan terakhir IMF

 

 

 

Demokratisasi,

Desentraliasi, dan otonomi daerah

Hak azasi manusia

Good governance

Tak berdaya mengubah keadaan

Menyejahterakan bangsa

 

 

Kenapa negara yang seumur Indonesia

Seperti China dan India

Bisa  melesat lebih maju dan sejahtera

Dan disegani  dunia?

 

Ternyata  kuncinya pada pemimpin

Yang masih bermental “budak”

Berbakti untuk kepentingan negara asing

Mengabdi  kepada  nafsu harta dan kekuasaan