June 8, 2010

Dari Aktivis Mahasiswa Hingga Wali Amanat

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:46 am

Tidak banyak para aktivis mahasiswa yang kemudian secara konsisten dapat menjaga idealismenya dalam sejarah kehidupan selanjutnya. Salah satu diantaranya adalah Prof.Dr.Emil Salim yang pada tanggal 8 Juni ini tepat berusia 80 tahun, tetapi masih aktif dalam berbagai bidang kehidupan, baik di bidang pemerintahan  (sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden) maupun bidang pendidikan sebagai penguji dan pembimbing mahasiswa kandidat magister dan doktor serta anggota majelis Wali Amanat UI. Mengapa ada aktivis yang sangat dikenal, tapi ketika terjun ke masyarakat hanya sebentar dikenal, lalu tenggelam dan dilupakan orang begitu saja?

Sejak masih mahasiswa Prof.Dr.Emil Salim sudah dikenal sebagai salah seorang Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM UI) tahun 1950an. Bersama dengan DM dari perguruan tinggi lainnya mendirikan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) yang legendari itu dan terkenal telah menghasilkan insan pers mahasiswa yang berwibawa pada jamannya. Dari pengalaman membidani IPMI ini, ketika diangkat menjadi Menteri Lingkungan Hidup, dia mengumpulkan teman-teman di IPMI dulu untuk bahu membahu mengembangkan lingkungan hidup di Indonesia. Salah satu diantaranya yaitu (alm) Prof.Dr. Kusnadi Hardjasoemantri, SH, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada. Pada masa itulah dihasilkan Undang-Undang Lingkungan Hidup dan masyarakat mulai mengenal arti dan manfaat memelihara lingkungan hidup. Bersama Kusnadi Hardjasoemantri ini pulalah Emil Salim menjadi tenaga guru sukarela di sekolah menengah NTT, yang kemudian menjadi cikal bakal kegiatan kuliah kerja nyata saat ini.

Dalam suatu ceramahnya di hadapan para mahasiswa UI yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata tahun 1984 dia menceritakan pengalamannya ketika sekolah di luar negeri bersama teman-temannya selalu berdiskusi setiap saat untuk membangun negara setelah pulang ke tanah air. Begitu Orde Lama tumbang konsep yang telah dibicarakan bersama teman-temannya diajukan dan ternyata dapat diterima oleh penguasa Orde Baru. Dalam peluncuran buku tentang Widjojo Nitisastro yang diterbitkan Gramedia Januari lalu, Prof.Dr. Widjojo Nitisastro menyebut Prof.Dr.Emil Salim sebagai negosiator ulung dalam menjalin kerjasama dengan negara-negara asing. Tetapi tetap komitmen terhadap masyarakat kecil sangat tinggi. Misalnya saja pada saat menyaksikan “Sail Bunaken 2009” di Manado, kebetulan para mahasiswa UI melakukan kegiatan K2N di Pulau Miangas,Pulau terjauh di Provinsi Sulawesi Utara, dia memberikan komentar pentingnya para mahasiswa untuk mengenal masyarakat di daerah terpencil dengan melakukan kegiatan K2N seperti yang dilakukan para mahasiswa UI. Bahkan perlu juga untuk mengajak para mahasiswa dari Sulawesi Utara.

Walaupun sudah tidak menjabat jabatan struktural dalam pemerintahan, tetapi sumbangan pemikiran dan pengalamannya masih sangat dibutuhkan oleh para pejabat negara saat ini. Akhir tahun lalu masih sempat memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa UI dengan topik “Pembangunan Berwawasan Lingkungan.” Karena kepakarannya itulah diangkat menjadi ketua Dewan Pertimbangan Presiden. Rupanya UI pun tidak mau “kecolongan” lagi. Setelah Prof.Dr. Emil Salim menjabat Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITB selama satu periode, ditarik untuk menjadi Anggota MWA UI. Dan ternyata memang suasana MWA UI menjadi hidup dan dinamis setelah  ada Prof.Dr. Emil Salim, Dr. Alwi Shihab, Hermawan Kertajaya dan Rachmat Gobel. Ini adalah salah satu contoh, bagaimana idealisme sebagai seorang aktivis bisa tetap hidup dan dihargai orang karena adanya komitmen yang kuat terhadap masyarakat kecil dan nasib bangsa, bukan hanya sekedar untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan tertentu saja.

  

 

Super Rektor

Filed under: Warna Warni — rani @ 7:49 am

Sehabis  shalat jumat di mesjid UI beberapa waktu lalu, bertemu dengan seseorang yang dahulu terlibat dalam pembangunan kampus Depok  dan aktif di  dalam wadah Lembaga Teknologi Fakultas Teknik  (Lemtek)  FTUI konsultan perencana pembangunan kampus. Sambil jalan menuju rektorat, berbagai pembangunan baru di lingkungan kampus   dikritiknya. Tapi kemudian secara tidak terduga bertemu dengan orang nomor satu di UI. Diantara kerumunan orang yang lalu lalang dia menyapa “Apa kabar Bos?” Walah, susah juga, super bos kok merendahkan diri dihadapan orang banyak. Lalu dia seperti mengerti keheranan yang ada dalam benak, dia memberikan penjelasan lebih lanjut, katanya takut nanti dimarahin Bang Rodji Besila, orang beken yang paling dikenal di Asrama daksinapati karena paling lama tinggal di asrama Daksinapati dari akhir tahun 1960 an hingga akhir tahun 1980 an. Suatu prestasi tersendiri, karena dia kuliah di FE Ekstension yang  tidak terikat dengan masa studi. Istilah bos ini memang diberikan teman-teman dekat di asrama, mungkin supaya cepat akrab atau memang hanya untuk berkelakar saja. Tapi yang paling diingat, pertama kali kata “bos” itu diucapkan oleh teman sekamar di asrama yaitu (Pak De) Eko Handojo. Akhirnya istilah itu menyebar dan dipakai oleh teman-teman dekat di asrama hingga kini.

 

Bicara tentang super bos ini, dahulu kala, di UI ada orang-orang tertentu yang sangat disegani dan atau juga sangat ditakuti karena kekuasaannya. Pernah dalam suatu masa, baik dosen ataupun karyawan sangat takut pada “super rektor” yang satu ini, walaupun dia tidak mempunyai jabatan  formal dalam jenjang struktural di lingkungan UI. Kalau sudah marah terhadap siapapun (dosen atau karyawan), dia akan memarahi habis-habisan tidak mengenal waktu dan tempat bahkan di depan orang banyak sekalipun, sehingga membuat orang menjadi malu. Tetapi sangat perhatian terhadap mahasiswa (baru) UI. Misalnya saja pada waktu mahasiswa baru melaksanakan kegiatan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pola 60 jam yang kemudian menjadi 120 jam. Anggaran konsumsi untuk setiap mahasiswa baru sebesar Rp 750 (tahun 1983 dan 1984)). Mereka dapat  makanan kecil dan teh manis, makan siang dengan sayur dan ayam goreng serta buah serta minum teh manis dan makanan kecil di sore hari. Dari mana dapat tambahan dananya? Melalui ibu-ibu Dharma wanita yang mengumpulkan uang dari para donatur dan orang tua. Waktu itu makanan yang paling “wah” bagi para mahasiswa ada di gugus Fakultas Kedokteran. Tetapi ketika didengar oleh Dharma Wanita Fakultas lain, segera mereka juga tidak mau kalah, mencari donatur  sehingga konsumsi untuk para mahasiswa di masing-masing fakultas kualitas makanannya relatif sama.

 

Ada lagi satu super rektor yang cukup dikenal orang-orang UI pada masanya. Dia sebetulnya hanya  seorang staf administrasi, tetapi hubungan dengan rektor cukup erat dan akrab. Dimana ada rektor dia senantiasa hadir, kalau rektor pergi atau bertemu dengan tamu asing, dia selalu mendampingi. Bahkan pada saat peresmian kampus baru Depok, dia berperan besar menyediakan berbagai keperluan mebeuler untuk ruang rektor. Orang ini sangat disukai rektor, karena mengerti kehendak rektor sebelum kehendak itu dikatakan. Dalam suatu kesempatan rektor sempat “keceplosan” bicara, kalau yang jadi rektor adalah dia, maka ada lagi di atas rektor yaitu “Super Rektor” sambil menunjuk kepada staf administrasi tersebut. Sejak itu, orang-orang menjadi tahu kalau ada Super Rektor. Kekuasaan super Rektor menjadi bertambah super saja, tatkala dia  menjadi sekretaris penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri se Indonesia. Para Rektor perguruan tinggi lain pun menjadi tahu peran dan kekuasaan super rektor ini. Menurut para stafnya, sehari sebelum meninggal, di ruangan kerja super rektor ini tercium bau bangkai yang menyengat. Maka para stafnya berusaha mencari asal bau bangkai tersebut, dicari sampai ke atap barangkali ada bangkai tikus, tetapi ternyata tidak ditemukan penyebab bau bangkai yang menyengat tersebut. Ketika super rektor ini meninggal, banyak orang yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Jasadnya sempat disemayamkan di Gedung Pusat Administrasi (Rektorat) Kampus Depok. Pada saat penguburan di Jati Petamburan para pelayat harus menunggu cukup lama, karena harus dilangsungkan misa requim terlebih dahulu. Seorang anak lelakinya yang juga ada di Jati Petamburan menghibur pelayat dengan mengatakan, “ayah saya kan seorang super rektor, jadi tidak apa-apa dong kalau hadirin harus menunggu lama.” Rektor UI yang ada diantara pelayat hanya senyam senyum saja.Tetapi rupanya manusia tidak sempurna, ada permasalahan kecil yang ditinggalkan almarhum. Dengar informasi dari sana sini, katanya ada sejumlah uang di dalam rekeningnya yang tidak bisa diambil ahli warisnya. Darimana uang itu? Pada saat para mahasiswa UI mendaftar di bank, ada sejumlah uang untuk pembuatan kartu mahasiswa. Ternyata sebagian uang itu masuk ke rekening almarhum dan hal ini tidak pernah diberitahukan kepada keluarganya.

 

Hikmah apa yang bisa diambil dari cerita tersebut di atas? Hidup menjadi orang baik ( di mata manusia dan “dimata” Tuhan) hingga akhir hayat itu susah dan belum tentu semua orang dapat lolos dari berbagai ujian dan cobaan. Karena itulah kita harus banyak belajar  dari kehidupan orang lain.

June 7, 2010

Kembali Kepada yang Mendasar

Filed under: Warta UI — rani @ 10:46 am

Akhir-akhir ini ramai dibicarakan peningkatan kualitas pendidikan/sumber daya manusia  Tampak pada harian Kompas 4 April 1996, terpampang artikel dengan judul “UI Mulai Menerapkan Program S1 Tanpa Skripsi”, yang kemudian diikuti berbagai artikel/opini  yang berkaitan dengan skripsi sebagai tugas akhir untuk menentukan kelulusan dalam program S1 berbagai disiplin ilmu. Dalam berbagai artikel tersebut dapat dibaca tentang apa arti skripsi, mengapa harus ada skripsi/tujuan penulisan skripsi. Kini sudah waktunya untuk menelaah tentang apa sebenarnya tujuan pendidikan berbagai jenjang pendidikan tinggi dan khususnya pendidikan sarjana, serta sistem pendidikan tinggi di Indonesia.

 

Marilah kita bersama-sama menelaah apa yang tertera dalam berbagai dokumen resmi tentang pendidikan tinggi.. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang pendidikan nasional pasal 16 – 22  memuat ketentuan-ketentuan tentang pendidikan tinggi. Peraturan Pemerintah  Nomor 30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi bab V pasal 15. Pada ayat (2) disebutkan ‘ujian dapat diselenggarakan melalui ujian semester, ujian akhir program studi, ujian skripsi, ujian tesis dan ujian disertasi’. Pada ayat 3 menyatakan, dalam bidang-bidang tertentu penilaian hasil belajar untuk program sarjana dapat dilaksanakan tanpa ujian skripsi.  Sedangkan ayat 5 menyatakan, pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3) diatur senat masing-masing perguruan tinggi. Pasal 16 ayat 1 menjelaskan, ujian skripsi diadakan dalam rangka penilaian hasil belajar pada akhir studi, untuk memperoleh gelar sarjana.

 

Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 56/U?1994 menyatakan, kualifikasi lulusan program sarjana adalah: (a) mampu menerapkan pengetahuan dan ketrampilan teknologi yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat; (b) menguasai dasar-dasar ilmiah dan pengetahuan serta metodologi bidang keahlian tertentu sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan keahliannya; (c) menguasai dsar-dasar ilmiah sehingga mampu berpikir. Bersikap dan bertindak sebagai ilmuwan; (d) mampu mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi sesuai dengan bidangnya. Sedangkan Garis-Garis Besar Haluan Negara  tahun 1993 (halaman 283), menyatakan, “Kehidupan kampus dikembangkan sebagai lingkungan ilmiah yang dinamis, berwawasan budaya nasional, bermoral Pancasila dan berkepribadian nasional.”

 

Dari uraian tersebut kita dapat melihat, lulusan program sarjana adalah ilmuwan (dengan atau tanpa ujian skripsi), memiliki kemampuan untuk menanggulangi masalah secara ilmiah dan bermoral Pancasila, berwawasan budaya nasional serta berkepribadian Indonesia. Yang menjadi pertanyaan sekarang: bagaimana pengelolaan implementasi kurikulum disiplin ilmu agar menjamin tercapainya kualifikasi lulusan sebagamana telah diuraikan melalui satu program pendidikan yang benar-benar menerapkan kaidah proses pembelajaran UI sebagai perguruan tinggi negeri terkemuka harus berani menjawab tantangan ini dengan konsep yang jelas dan didasari dengan argumentasi yang kuat.

(ditulis Dr. Siti Oetarini Sri Widodo, Kepala P4T UI, yang dumuat di Tajuk Rencana SKK Warta UI Nomor 69, Tahun XVII, Mei 1996)

June 4, 2010

Pembelajaran Mahasiswa

Filed under: Warta UI — rani @ 10:26 am

Topik pembelajaran mahasiswa merupakan topik pertama dan utama dalam rubrik P4T-UI, karena pembelajaran mahasiswa merupakan kunci keberhasilan satu pendidikan. Pembelajaran yang merupakan proses yang terjadi pada mahasiswa dalam dalam rangka pencapaian perubahan perilaku tidak terlepas dari pendidikan dan pengajaran. Pendidikan merupakan proses yang menghasilkan perubahan perilaku, sedangkan pengajaran merupakan interaksi antara pengajar dan peserta didik (mahasiswa) dalam pencapaian perubahan perilaku tersebut. Dalam interaksi tersebut pengajar membantu terjadinya semua tahap proses pembelajaran mahasiswa yaitu: tahap perolehan pengetahuan, tahap penerapan pengetahuan yang diperoleh sesuai sasaran pembelajaran, dan tahap umpan balik.

Bagaimana perolehan pengetahuan yang dikemukakan berbagai pakar pendidikan tinggi tentang pengetahuan dan apa yang umumnya terjadi hingga saat ini di perguruan tinggi di Indonesia. Lockhead (1985) menyatakan, pengetahuan tidak dapat ditransfer dari siapa yang memilikinya kepada yang tidak memiliki, pengetahuan merupakan sesuatu yang tiap individu yang belajar harus menyusun untuk dan oleh dirinya sendiri. Blais (1989) selanjutnya mengemukakan, informasi tentang ilmu pengetahuan dapat dengan mudah diberikan kepada mahasiswa, yang diperlukan untuk mencapai  serta hasil yang benar. Sebaliknya pengetahuan adalah sesuatu yang tidak dapat dialihkan atau diberikan.

Memperoleh pengetahuan berarti mencapai keahlian (expertise). Hal tersebut dapat dijelaskan dengan apa yang dikemukakan oleh Evan (1989) yaitu pengetahuan diperoleh dari paduan antara ketrampilan menanggulangi masalah dengan subyek ilmu pengetahuan yang terkait. Demikian pula Paul Richard (1983) mengemukakan,  berpikir adalah subyek dan subyek adalah berpikir. Jadi dalam tahap pertama sebagai tahap perolehan harus dipilih metode metode yang dapat menjamin pengetahuan ketrampilan berpikir yang dipadukan dengan pemilihan informasi ilmu pengetahuan yang terkait oleh mahasiswa itu sendiri. Agar tejadi semua tahap proses pembelajaran secara tuntas, perolehan pengetahuan mahasiswa tersebut perlu dilatihkan secara berulang, dengan pembelajaran umpan baliknya dan seluruh proses pembelajaran harus terjadi, sebelum pelaksanaan ujian, agar dapat tercapai hasil yang berkualitas tinggi. Pada saat ini mahasiswa diberi pengetahuan oleh pengajar yang menurut Blais hanya akan  menghasilkan mahasiswa yang berperan sikap ketergantungan yang menghapus kebutuhan mahasiswa berpikir untuk dirinya sendiri dan mengembangkan satu sikap tidak dapat menolong dirinya sendiri.

Dalam menghadapi masa depan yang penuh persaingan tetapi juga peluang, serta dituntutnya profesionalisme, apakah tidak waktunya untuk mengubah pendekatan pembelajaran reproduksi/hapalan melalui pengetahuan yang diberikan oleh pengajar ke pembelajaran yang bersifat analitik dimana dikembangkan ketrampilan berpikir kritis, ketrampilan analisa, sintesis dan argumentasi yang mantap sebagai kemampuan/perilaku ilmuwan?

P4T UI akan secara berkesinambungan mengisi rubrik ini dengan pembahasan lebih lanjut tentang pembelajaran  dan pengajaran dengan harapan, Universitas Indonesia sebagai universitas pembina dapat menghasilkan lulusan program sarjana dengan kualitas seperti diuraikan dalam editorial. Semua rujuka yang melandasi uraian dalam rubrik P4T dapat ditemukan di perpustkaan P4T. (dr. Siti Oetarini S. Widodo, Ketua Pusat Pengembangan dan Penelitian Pendidikan Tinggi/P4T UI, dalam SKK Warta UI Nomor 69 Th.XVII, Mei 1996)

Mengenang Prof.Dr.R.Z. Leirissa

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:47 am

Hari Jum’at ini (04/06), telah berpulang ke Rachmatullah, Prof.R.Z Leirissa, dosen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indoensia (FIB UI) setelah dirawat untuk beberapa waktu di Rumah Sakit Cikini jakarta. Semoga amal ibadahnya di terima Tuhan Allah dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan iman. Teringat kembali saat  masih kuliah di FISIP di Kampus Rawamangun, Prof.Leirissa adalah dosen yang memberikan mata kuliah Sistem Sejarah Indonesia.

Waktu itu, sistem perkuliahan masih menerapkan sistem paket, dimana semua mahasiswa harus  mengikuti matakuliah yang ditawarkan fakultas, dimana setiap semester sudah ditentukan matakuliah mana saja yang harus diambil. Salah satu matakuliah yang harus diambil adalah Sistem Sejarah Indonesia. Banyak teman mahasiswa yang mengambil matakuliah ini karena terpaksa, sehingga hasil nilai ujiannya juga pas-pasan. Tetapi tidak bagi saya yang justru sangat menyukai sejarah Indonesia. Ketika akan menghadapi ujian akhir, belajar (lebih tepatnya menghapal) mati-matian nama dan tahun-tahun penting peristiwa sejarah Indonesia. Hasilnya? Alhamdulillah dapat nilai delapan. Nilai tertinggi, karena 100-an teman lainnya hanya bisa mencapai nilai tujuh saja. Kenangan itu masih melekat dalam ingatan.

Menyelesaikan sarjana sejarah tahun 1965, Prof. R.Z. Leirissa meraih doktornya dari UI tahun 1990. Tidak lama setelah itu menjadi doktor, kemudian menjadi profesor. Dalam beberapa kesempatan masih sering bertemu dengannya dalam beberapa kegiatan seminar dan promosi doktor, dimana dia menjadi pembicara dan penguji atau prmotor calon doktor. Dalam suatu kesempatan, pernah bercerita bagaimana proses doktornya sempat terkatung-katung, karena ada perbedaan paham mengenai metodologi antara para pembimbingnya, sampai harus ganti pembimbing. Kalau tidak silap disertasi doktornya mengupas yang berkaitan dengan tataniaga cengkeh di Maluku pada jaman Belanda. Setelah dia membuat disertasinya itu, beberapa orang calon doktor dari FIB, banyak yang mengambil topik tentang kegiatan di masa lampau, khsususnya jaman kolonial Belanda. Inilah barangkali sumbangan terbesarnya bagi perkembangan ilmu di Universitas Indonesia.

June 3, 2010

Lelaki Perkasa? Ya, Charles Bronson!

Filed under: Warna Warni — rani @ 4:25 pm

Siang hari ini (03/06) ketika keluar dari pintu lift gedung IASTH Kampus Salemba Jakarta, bertemu dengan Dr. Ade Armando yang akan masuk ke lift menuju ruang Pasca Sarjana FISIP. Ade bertanya, “abis dari mana?” Pertanyaan yang wajar, karena biasanya kalau bertemu di Kampus Depok. Maka dijawab, “dari lantai tiga, ada seminar nasional Pramuka.” Setengah tidak percaya, Ade memberikan komentar, “Apa Pramuka masih ada?.”

Dialog di atas adalah mewakili pandangan sebagian besar masyarakat awam tentang keberadaan pramuka saat ini. Jika saja Ade sempat menghadiri acara seminar Pramuka, tentunya tidak akan mengajukan pertanyaan seperti di atas tadi. Karena itulah maka Program Studi Ketahanan Nasional Program Pasca Sarjana UI, bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan seminar nasional bertajuk ”Mendorong Gerakan Kepanduan Melalui Percepatan Revitalisasi Gerakan Pramuka.” Narasumber  yang diundang pun bukan orang sembarangan, ada Prof.Dr. Muladi SH (Ketua LEMHANAS) juga ada Ir. Iwan Abdurachman/Abah Iwan (sesepuh WANADRI), Ketua Kwartir Nasional Pramuka Prof.Dr.dr. Azrul Azwar, MPH dan sederet nama lainnya. Namun yang akan diceritakan di bawah ini bukan tentang seminarnya, karena hal itu bisa didapat dari pemberitaan di media massa. Melainkan suasana pembukaan seminar tersebut yang akrab, hangat dan penuh derai tawa.

Ketika Ketua Progam Studi Ketahanan Nasional  UI  Prof.Dr. Tubagus Ronny Rachman Nitibaskara pidato, dia membicarakan tentang kesamaannya  dengan Prof. Muladi yang sama-sama profesor, sama-sama mempunyai anak perempuan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilupakannya, saat  menyelesaikan doktornya, kalau tidak ada Prof. Muladi, mungkin sudah Drop Out. Prof. Muladi sebagai pembimbingnya sempat berdebat keras dengan pembimbing lainnya. Karena ternyata waktu studi doktoralnya sampai delapan tahun. Tapi Prof. Ronny menambahkan, kelebihannya dibandingkan dengan Prof. Muladi,  masih bisa punya anak perempuan umur 7 tahun, yang hobinya menyanyi jazz.” Berarti saya lelaki Perkasa,” ujarnya yang disambut riuh hadirin.

Saat Rektor UI Prof.Dr. Gumilar Rusliwa Somantri memberikan sambutan, pada awal pidatonya mencoba menimpali sambutan Prof. Ronny. Keduanya mempunyai kesamaan. ”sama-sama ganteng seperti aktor bintang film. Tetapi  juga ada perbedaan, yang satu tidak berkumis dan yang satu berkumis. Seperti bintang Iklan  mandom tahun tujuhpuluhan, siapa ya?” Hadirin menimpali ”Charles Bronson!!! Dari tempat Duduknya Prof. Ronny berdiri dan setengah berteriak, ”Pak Rektor! Mau makan dimana?”

June 2, 2010

Kemana APBN yang 20% itu?

Filed under: Kampusiana — rani @ 10:39 am

Gonjang ganjing para orang tua dan para  lulusan sekolah menengah yang akan memasuki dunia perguruan tinggi( PT) yang mempergunjingkan tentang ‘sepak terjang’ PT dalam menerima calon mahasiswa baru semakin hari semakin marak saja. Kemarin (01/06) bertemu dengan teman sesama alumni satu fakultas, tetapi satu tahun lebih tua angkatannya, bertanya sambil bisik-bisik, apakah ada jalur “khusus” di UI, buat keponakannya lulusan sekolah daerah? Dalam hati membatin, hari gini, masih ada yang punya pikiran seperti itu, apa kata dunia?

 

Semakin hari semakin ketat saja persaingan untuk masuk perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi favorit. Karena selain perlu kecerdasan dalam menjawab soal-soal yang diujikan untuk memperoleh nilai yang tinggi, juga harus didukung dengan keuangan yang kuat. Tidak ada lagi istilah sekolah negeri harus murah kalau bisa gratis. Tuntutan dan tantangan jaman  membuatnya harus memperhitungkan dengan cermat biaya yang memadai supaya kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bisa berjalan dengan baik. Bahkan diperlukan biaya tambahan yang tidak sedikit untuk bisa diperhitungkan serta bersaing di tingkat internasional. Hal ini sebetulnya tidak harus terjadi kalau saja pemerintah mempunyai anggaran yang cukup untuk pendidikan. Lha, bukannya anggaran pendidikan sudah dialokasikan sebesar 20 % dari APBN? Saya jadi teringat sewaktu mengikuti diskusi dengan Wakil Ketua Komisi 10 Ir. Rully Chairul Azwar, M.Si, yang menangani bidang pendidikan beberapa waktu lalu di Kampus Depok.

 

APBN tahun  2010 berada pada kisaran 1000 triliun rupiah. Jadi alokasi dana untuk pendidikan kurang lebih sebesar 200 triliun. Tetapi ternyata yang dikelola  oleh Kementrian Pendidikan hanya 60 triliun saja. Jumlah itu dipakai untuk mencukupi kegiatan pendidikan tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sebagai bahan perbandingan UI sendiri anggaran setahunnya mencapai 1,4 triliun (sudah termasuk dengan dana yang dicari pihak UI sendiri). Jadi kemana sisa anggaran yang diluar 60 triliun? Rupanya terbagi-bagi ke kementrian lain untuk kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan. Misalnya ada di kementrian Agama untuk membiayai sekolah agama negeri, atau kementrian lain yang menyelenggarakan sekolah-sekolah khusus. Pihak DPR katanya sudah berusaha mati-matian untuk menarik dana tersebut ke Kementrian Pendidikan, tetapi rupanya ego sektoral kementrian lebih tinggi, sehingga dana tersebut tetap bercokol di berbagai kementrian lain. Itulah sekelumit mengenai anggaran pendidikan yang hingga kini (masih) carut marut. Siapa yang kena getahnya? Ya, terpaksa masyarakat diminta untuk membiayai pendidikan lebih tinggi melalui SPP.

 

Maka ketika ada mahasiswa beramai-ramai melakukan demo untuk menggugurkan BHP yang kemudian berhasil, sama saja dengan mengeluarkan pendidikan dari mulut harimau dan memasukkan ke mulut singa. Ada usulan ’nakal’ nih, kalau memang mahasiswa mau berjuang, lakukan demonstrasi dan tekan pemerintah supaya anggaran pendidikan yang 20 % betul-betul dikelola kementrian Pendidikan, bersihkan para koruptor di bidang pendidikan, lalu awasi penggunaan dana tersebut secara ketat. Baru itu namanya mahasiswa pejuang pendidikan.

 

June 1, 2010

Pagar Makan Manusia

Filed under: Kampusiana — rani @ 10:24 am

Kita tentu sudah mengenal dan mengetahui arti peribahasa yang berbunyi ‘pagar makan tanaman’. Tetapi di Universitas Indonesia (UI) khususnya kampus Depok, dikenal istilah ‘pagar makan manusia’. Lho kok bisa? Ya, bisalah karena sudah terbukti kebenarannya. Tulisan di bawah  ini adalah ceritanya.

Luas lahan kampus depok yang sesungguhnya adalah 320 hektar yang dahulu bekas kebun karet dan pemukiman penduduk. Sebagai bukti dahulu tempat pemukiman penduduk, di dalam kampus terdapat tempat pemakaman umum, yang terletak di pinggir jalan yang berbatasan dengan wilayah Jakarta Selatan. Ketika membeli lahan kampus belum ada batas yang jelas, mana lahan kampus dan mana lahan penduduk. Maka untuk kejelasan dibuatlah pagar kuning setinggi tiga meter yang mengelilingi area kampus. Karena UI taat aturan, pagar dibuat agak menjorok ke dalam area kampus. Ada sisa tanah di luar kampus sepanjang pagar kurang lebih setengah meter yang dipakai untuk menyangga pagar sekeliling kampus. Ini menyebabkan lahan UI berkurang, sehingga luas lahan yang berada di dalam pagar menjadi 312 hektar saja. Tahukah berapa panjang pagar yang  mengelilingi kampus UI?  Tidak kurang dari 12 kilometer.

Pada waktu UI mulai menempati kampus Depok, ada jalan utama yang cukup lebar, biasa dilalui penduduk sejak dahulu kala, yaitu dari  jalan Margonda masuk menuju stasiun Pondok Cina, lalu meliwati Fakultas MIPA, menyebrangi danau dekat politeknik terus menembus ke Kelurahan Kukusan. Pada saat peresmian kampus Depok tahun 1987, Pak Harto sempat melalui jalan ini menuju ke wilayah Kukusan untuk melihat rumah pondokan tumbuh (RPT) di wilayah pemukiman penduduk Kukusan, yang dibangun Yayasan Supersemar untuk disewakan kepada para mahasiswa UI. Ternyata jalan ke Kukusan ini dimanfaatkan para pencuri yang kerap melakukan aksinya di kampus Depok, akhirnya ditutup untuk lalu lintas kendaraan mobil, tetapi masih bisa untuk lalu lintas motor saja.

Beberapa bagian pagar kuning UI dibuatkan pintu darurat yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan motor, dengan pertimbangan memudahkan para mahasiswa yang akan masuk kampus dari tempat kos yang berada di pemukiman penduduk sekitar kampus. Beberapa pintu pagar yang ada antara lain di stasiun kampus UI, depan Fakultas Hukum, gang senggol dari arah dekat stasiun Pondok Cina menuju Fakultas Kesehatan Masyarakat, Belakang Politeknik dan Depan Fakultas Teknik. Di dalam perkembangannya beberapa pintu darurat tadi telah menyebabkan maut dan merenggut nyawa, terutama pintu yang mengharuskan para pejalan kaki melintasi rel kereta api listrik (krl). Hampir setiap tahun, setiap jiwa melayang tertabrak krl, terutama pada saat tahun ajaran baru, dimana para mahasiswa baru UI yang berasal dari daerah belum terbiasa menyebrangi rel kereta api dan belum mengetahui, arus lalu lintas kereta api yang setiap 10 menit sekali lewat dari dua arah. Pintu yang sering terjadi mengalami kecelakaan yaitu yang di gang Senggol. Korban yang paling baru yaitu pada bulan Mei lalu, seorang mahasiswa Fakultas MIPA tertabrak krl, karena tidak waspada, jalan melintasi rel kereta api dengan kuping tertutup earphone untuk mendengarkan musik dari telepon mobil, tidak mendengarkan teriakan peringatan dan suara gemuruh kereta.

 Karena itulah,  pimpinan UI berketetapan untuk menutup pintu-pintu darurat itu dan para mahasiswa hanya dibolehkan masuk dari jalan yang sudah ditetapkan. Tetapi hal ini ditentang bukan saja oleh para mahasiswa yang sudah biasa  melewati jalan itu, tetapi juga oleh masyarakat, terutama yang membuka usaha di sekitar  jalan tersebut. Persoalan ini menjadi ‘buah simalakama’. UI ingin menjaga keamanan dan melindungi warganya dari kecelakaan yang tidak diharapkan. Tetapi ada warga masyarakat yang merasa dirugikan. Tetapi kalau dibiarkan berlarut-larut, akan menambah jumlah warga UI yang jatuh korban.