June 28, 2010

Mengamati Karakter Pemimpin

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:46 pm

Pagi ini ini (28/06) datang lebih awal ke kantor, karena masih cukup waktu maka setelah absen masuk, lalu sarapan pagi di kantin yang tidak jauh dari tempat kerja. Ada banyak penganan yang tersedia, tadinya akan makan goreng pisang kepok kesukaan  , tapi ternyata tetapi hari ini tidak ada, yang dipilih akhirnya lupis ketan dan comro. Minumnya teh manis panas yang dicampur dengan air jeruk nipis, kebetulan sewaktu berangkat ke kantor mampir ke warung yang menjual sayuran dan buah-buahan. Biasanya  kalau di rumah, air tehnya terbuat dari teh hijau yang khusus dipesan dari Cianjur Selatan, dengan air berkualitas heksagonal dan pemanisnya dari madu kalimantan yang aroma madunya terasa menyengat.

Sambil sarapan pagi, ngobrol dengan teman-teman karyawan pusat administrasi universitas. Kalau teman-teman lainnya cerita tentang taruhan kejuaraan dunia sepakbola, sepak terjang dari para pemain bola dan menyepak si kulit bundar,  atau mempertanyakan tentang gaji ke-13 yang tidak kunjung turun di bulan juni ini, maka saya bersama beberapa teman lebih suka mengamati sepak terjang para petinggi UI, mulai dari jaman Orde Baru hingga sekarang ini. Bagaimana pengalaman melayani sewaktu mereka menjadi pimpinan, apa-apa saja yang dikatakan dan dilakukan pimpinan dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang diambil serta dampak dan pengaruhnya bagi perkembangan UI selanjutnya. Bagaimana para petinggi itu dalam berkomunikasi dengan staf bawahannya dan memperlakukannya seperti apa ketika diminta untuk membantu kegiatan di luar kedinasan. Obrolan pun sempat pula menyentuh kepada orang-orang di sekitar pimpinan UI, bagaimana perilaku dan sepak terjangnya, sikap terhadap bawahan. Teman-teman ini juga tahu betul hal-hal yang tidak semua orang mengetahui tentang pribadi para pimpinan.

<

p class=”MsoNormal” style=”text-align: justify”>Misalnya saja, beberapa petinggi dalam masa tugasnya di UI mereka melakukan kegiatan menikahkan para putra-putrinya. Walaupun ini bukan pekerjaan resmi seperti tercantum dalam tupoksi (tugas pokok organisasi), tetapi sebagai bagian dari hubungan antar manusia, tidaklah elok rasanya sebagai pegawai bawahan, ketika atasannya ada acara keluarga yang cukup penting berpangku tangan saja. Tetapi kalau sudah “kepake” dan “dipercaya”, dimana segala sesuatu pekerjaan yang cukup penting diserahkan kepadanya, maka  beban tugas ekstra pun harus siap ditanggung. Termasuk meluangkan waktu lebih banyak untuk senantiasa siap sedia jika pimpinan memerlukan jasa tenaga dan pikirannya. Kadang-kadang harus mengurusi tugas-tugas yang sifatnya rahasia. Yang lebih repot lagi adalah para pimpinan fakultas ketika harus “memberikan” kado untuk calon pengantin. Harus dibicarakan dan disepakati bersama “kado  apakah gerangan yang harus diberikan. Kalau pun dalam bentuk uang, berapa pantasnya kira-kira “saweran” tiap-tiap fakultas.

 

 

Ada lagi pimpinan yang ketika akan mengadakan acara silaturahmi dengan warga kampus di rumahnya, cukup meminta bantuan satu orang tenaga staf administrasi untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saking sangat efisiennya, sang pimpinan ini ketika akan mengangkut peralatan dari kampus ke rumahnya, dia membawa peralatan tersebut dengan kendaraan pribadinya dan menyetir sendiri kendaraan tersebut. Ketika ditanya, apakah tidak memerlukan tenaga bantuan tambahan orang lagi. Dengan entengnya dijawab “memangnya siapa yang mau membayarin orang-orang itu?” Saking sederhana dan tidak mau merepotkan orang lain, di rumah pribadinya, tidak ada tenaga satpam untuk menjaganya. Padahal kalau mau, dia bisa saja meminta bantuan tenaga keamanan kampus. Suatu saat setelah tidak menjabat sebagai petinggi UI, terbetik kabar, rumahnya kemalingan.

Ada juga petinggi UI yang sangat begitu perhatian terhadap staf bawahannya, sampai sampai dia tahu secara detil keluarga bawahannya, nama anak-anak dan istrinya. Dalam peristiwa tertentu, istrinya sengaja membagi-bagikan bingkisan untuk para staf bawahan, bukan dari sumbangan orang atau dari universitas, tetapi dari kantong pribadinya. Suatu saat petinggi ini naik lift dengan ditemani staf administrasi. Entah sengaja atau tidak, sewaktu mau keluar lift jatuhlah satu amplop berisi uang yang cukup banyak. Kemudian staf administrasi ini melaporkan tentang amplop yang jatuh tersebetu. Dan Apa jawabnya? “Bawa saja ke rumah, buat beli sepatu anak-anak.”

Teman ngobrol itu akhirnya berkata, “ada enaknya dan ada tidak enaknya juga kalau menjadi staf bawahan ‘kepake’ sama atasan.” Tapi kini dia merasa senang tidak terlalu banyak tugas-tugas non-kedinasan yang diembannya. Jadi bisa mempunyai banyak waktu untuk keluarga dan pikiran tidak terlalu stres.