June 22, 2010

Robohnya IKM-UI Kami

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:59 pm

Tidak jelas betul bagaimana duduk perkara sebenarnya, kenapa Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM UI)  pada tahun 1982 menolak kepemimpinan Rektor UI Prof.Dr. Nugroho Notosusanto yang menggantikan Rektor UI sebelumnya Prof.Dr. Mahar Mardjono yang telah menjabat selama dua periode (1974 – 1982). Tetapi konon kabarnya, karena dari beberapa calon rektor yang diajukan Senat UI ke Menteri P & K yang dipilih ternyata bukan yang mendapatkan suara terbanyak. Ada pendapat lain, karena Prof. Dr. Nugroho Notosusanto  walaupun staf pengajar Fakultas Sastra UI, tetapi ‘berbau’ militer. Menjadi Kepala Pusat Sejarah ABRI, berpangkat Brigjen (tituler). Waktu itu para mahasiswa UI masih sangat alergi terhadap militer dan penguasa Orde Baru yang otoriter. Rupanya trauma penyerbuan militer ke dalam kampus pada oktober 1980 masih sangat membekas. Saat itu DM UI di Student Center  Kampus Salemba, mengadakan acara seminar, diserbu sekawanan militer yang membubarkan acara seminar tersebut.

DM UI pada waktu itu merupakan satu lembaga kemahasiswaan yang sangat disegani dan berwibawa di kalangan mahasiswa. Bahkan aparat  dan pihak berwajib sendiri sangat menghormati para tokoh dan aktivis DM UI. Sampai-sampai saat itu ada pendapat, kalau DM UI itu adalah ‘negara dalam negara’, karena kewenangan yang dimilikinya seperti tidak dapat dapat tersentuh oleh aturan/birokrasi otoritas kampus (universitas). Hal ini bisa terjadi karena DM UI mempunyai Anggaran Dasar yang tertuang dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia (IKM-UI), dimana  salah satu pasalnya menyatakan DM UI merupakan lembaga otonom dan bebas dari campur tangan pihak universitas. Atas dasar mengacu kepada IKM itulah para aktivis DM UI melaksanakan kegiatan organisasi kemahasiswaan. Walaupun dalam IKM-UI ada juga lembaga seperti MPR yaitu Majelis Permusyawaratan Mahasiswa/MPM (dimana Yusril Ihza Mahendra dari FH pernah menjadi Ketua MPM UI kemudian digantikan Edi Kuscahyanto dari MIPA), yang memilih dan melantik Ketua DM UI, tetapi  lembaga DM UI lebih bergengsi di mata mahasiswa.

Di mata Prof.Dr. Nugroho Notosusanto, kegiatan-kegiatan yang dilakukan para aktivis DM UI, dianggapnya sudah keluar dari rel kegiatan kemahasiswaan yang murni. Hal ini didasarkan kepada pengalamannya sebagai mahasiswa akhir tahun 1950-an, dimana organisasi ekstra  kampus sudah menyusup ke dalam kampus yang menimbulkan konflik diantara sesama aktivis mahasiswa karena masing-masing sudah membawa ‘bendera parpol’ ke dalam kampus. Dan ternyata tahun 1980-an hal tersebut masih terjadi. Dalam buku ‘Wawasan Almamater’  tulisan Prof.Dr. Nugroho, menyatakan mahasiswa sudah melakukan “politicking” di dalam kampus. Ketika DM UI melakukan aksi di halaman kampus Salemba Depan gedung rektorat dengan membakar ban-ban bekas, menyikapi hasil sidang Umum MPR tahun 1982, tanpa ampun Rektor menskor dan kemudian memecat Ketua DM UI Peter Sumaryoto (kemudian diangkat Biner Tobing dari FISIP sebagai care taker Ketua DM, tetapi timbul masalah,  ternyata di DO karena masa studinya habis, ujian skripsi tidak lulus. Pada masa kekosongan itulah barangkali Chairul Tanjung diangkat sebagai Ketua DM UI).  Hal ini menimbulkan gelombang protes dari kalangan mahasiswa. Rektor dianggap telah bertindak otoriter dan sewenang-wenang. Tetapi Rektor tetap tidak bergeming dengan keputusannya. Pada waktu itulah terjadi pengrusakan gedung Rektorat di Kampus Salemba.  Kaca pintu dan jendela lantai bawah gedung Rektorat pecah dan rusak. Tembok-tembok penuh dengan coretan-coretan yang mencaci maki Rektor. Itulah untuk yang terakhir kalinya demo “anarkhis” yang dilakukan para mahasiswa. Dan demo itu pula yang menyebabkan tamatnya riwayat Dewan Mahasiswa di Universitas Indonesia. Rontoklah IKM-UI. Untuk beberapa waktu lamanya lembaga kemahasiswaan UI kosong. Pada saat Menteri Pendidikan dijabat Prof.Dr.Fuad Hassan, (1985) ditata kembali lembaga kemahasiswaan dengan nama Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi/SMPT  yang berbeda dengan konsep Dewan Mahasiswa sebelumnya.