June 11, 2010

Beasiswa

Filed under: Kampusiana,Uncategorized — rani @ 9:23 am

Waktu jaman mahasiswa dulu, maka yang terbayang dalam pikiran tentang beasiswa adalah Yayasan Supersemar, dimana para mahasiswa yang mendapat dana ini orang-orang terpilih dengan kriteria tertentu dan seleksi yang cukup ketat. Tidak pelak lagi para mahasiswa penerima beasiswa ini menjadi eksklusif dan dengar-dengar sih sampai ada paguyuban alumni penerima beasiswa supersemar se Indonesia, dimana setelah lulus pun mudah mendapatkan pekerjaan. Waktu itu besar beasiswa hanya Rp15.000/bulan, itupun dibayarkan tigabulan sekali. Sementara biaya SPP hanya berkisar Rp30.000 dan Rp 45.000/semester.

Lalu pihak swasta terutama yayasan,  perusahaan swasta dan perusahaan asing swasta tidak luput juga memberikan beasiswa bagi para mahasiswa yang besarnya melebihi dari beasiswa yang diberikan yayasan Supersemar. Mereka biasanya memberikan beasiswa untuk jangka waktu tertentu yang berkisar antara satu semester hingga dua semester,kemudian tahun berikutnya diberikan kepada mahasiswa lain dengan kriteria tertentu dengan alasan untuk pemerataan. Pada umumnya perusahaan tersebut tidak menerapkan syarat tertentu kepada penerima beasiswa, misalnya setelah lulus harus bekerja di perusahaan tersebut. Tetapi ada juga instansi pemerintah tertentu yang mensyaratkan penerima beasiswanya setelah lulus harus bekerja di instansi tersebut. Salah seorang penerima beasiswa itu, kini menjabat sebagai salah seorang Direktur Bank Indonesia.

Pola pemberian beasiswa dari berbagai perusahaan pada umumnya ada yang untuk biaya keperluan sehari-hari untuk pembelian buku-buku, biaya  SPP atau pun campuran antara keduanya. Dengan diterapkannya pola CSR (corporate Social Responsibility) pada perusahaan besar,  memungkinkan pemberian beasiswa lebih besar lagi tidak semata-mata hanya untuk pembelian buku, tetapi juga meliputi biaya hidup perbulannya, seperti yang dilakukan Bank Mandiri Rabu lalu (09/06) kepada mahasiswa 10 orang mahasiswa UI. Diperkirakan satu orang mahasiswa mulai dari semester satu dan diperkirakan selesai dalam semester delapan memerlukan biaya sebesar Rp 94.000.000, sehingga jumlah keseluruhan beasiswa yang diberikan sebesar Rp 940.000.000.

Oktober tahun lalu, ketikan Menteri BUMN dijabat oleh Dr. Sofyan Djalil, SH  memberikan sebagian keuntungan perusahaan BUMN sekitar Rp100 milyar untuk puluhan perguruan tinggi negeri se Indonesia. Dan UI merupakan penerima beasiswa paling besar diantara PTN lainnya yaitu Rp 10 milyar. Pemberian beasiswa diberikan sepenuhnya kepada perguruan tinggi bersangkutan, mau diberikan kepada berapa orang mahasiswa dan berapa lama beasiswa itu diberikan serta untuk biaya apa saja. Kelonggaran ini sengaja diberikan supaya lebih mudah dalam pengelolaannya serta tepat sasaran kepada yang benar-benar membutuhkannya.

Pemberian beasiswa seperti yang dilakukan oleh Kementrian BUMN dan Bank Mandiri di atas merupakan suatu pola baru, bila dibandingkan dengan beasiswa pola Yayasan Supersemar yang lebih menekankan kepada pemerataan daripada kebutuhan para mahasiswa. Tetapi memang tetap saja lembaga pemberi beasiswa akan mempertimbangkan banyak hal, salah satu diantaranya adalah reputasi perguruan tinggi penerima beasiswa. Inilah barangkali keuntungan dari universitas Indonesia yang pada gilirannya juga akan berimbas kepada kualitas lulusannya. Jadi kalau mau berinvestasi atau memberikan beasiswa, tidak salah kalau prioritas utama yang harus dipertimbangkan adalah Universitas Indonesia. Kalau kata anak Betawi sih, walaupun banyak susu, tetapi tetap saja sapi punya nama.