June 9, 2010

Tragedi Celana Dalam

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:12 pm

Kalau demo sambil membakar ban mobil atau membawa keranda atau juga membawa kerbau, itu mah bukan suatu hal yang luar biasa.  Tetapi pernahkah terpikirkan melakukan demonstrasi sebagai tanda protes ketikasetujuan atas suatu kebijakan dengan mengibarkan celana dalam di tiang bendera dan memajang seperti poster berbagai celana dalam di ruang tamu?  Itu adalah kelakuan sekelompok oknum mahasiswa asrama Daksinapati Universitas Indonesia (UI) yang berlangsung bulan Juni tahun 1985 di Kampus Rawamangun.

Bermula ketika ada edaran yang dikeluarkan Direktur Kemahasiswaan UI Taufik Bahaudin SE, yang menyatakan akan menaikkan uang pembayaran asrama dari Rp 15.000/semester menjadi Rp 25.000/semester untuk biaya operasional asrama yang semakin hari semakin meningkat. Memang dalam kurun waktu 5 tahun tidak ada kenaikan biaya. Sebagai bahan bandingan, SPP yang harus dibayarkan setiap mahasiswa yaitu Rp 30.000/semester untuk mahasiswa program studi non-eksakta dan Rp 45.000/semester untuk mahasiswa program studi eksakta. Waktu itu, memang sedang dilakukan pembenahan terhadap para mahasiswa UI yang tinggal di asrama. Seperti diketahui UI mempunyai tiga asrama. Pertama Wismarini yang terletak di jalan Otista Jatinegara khusus untuk mahasiswi yang mempunyai kapasitas/daya tampung 200 mahasiswi. Kedua Asrama Pegangsaan yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur, khusus untuk mahasiswa yang mempunyai daya tampung sekitar 200 mahasiswa. Dan yang ketiga asrama Daksinapati yang terletak di Kampus Rawamangun dan mempunyai kapasitas 300 mahasiswa. Dari ketiga asrama tersebut, hanya sekitar 60 % saja mahasiswa membayar biaya tinggal di asrama. Asrama Wismarini dan Daksinapati relatif mudah dikendalikan dan masih jelas status penghuninya. Sedangkan, penghuni Asrama Pegangsaan, sudah bercampur dengan penghuni gelap yang bukan mahasiswa UI. Penghuni gelap ini memonopoli kamar asrama. Tidak segan-segan mereka ini memakai kunci gembok sendiri pintu kamarnya. Kamar yang seharusnya diisi tiga orang mahasiswa, hanya ditempati seorang dan tidak memperbolehkan mahasiswa lain tinggal di kamar tersebut kalau tidak dikenalnya. Bahkan terkadang tidak sungkan menyewakan kamar tersebut kepada orang luar (bukan mahasiswa) kalau berani membayar dengan harga tinggi. Nah, dengan adanya kenaikan uang asrama ini, secara perlahan-lahan mulai ditertibkan kepenghunian asrama.

Entah siapa yang memulai, beberapa mahasiswa asrama Daksinapati mulai melakukan aksi demonstrasi menentang kenaikan uang asrama, corat-coret di tembok dan jalanan mulai dilakukan. Dalam suatu kesempatan, Direktur kemahasiswaan UI Taufik Bahaudin SE melakukan dialog dengan para mahasiswa asrama Daksinapati. Tetapi tidak dicapai kata sepakat. Taufik tetap dengan keputusan menaikkan biaya asrama karena sudah menjadi kebijakan pimpinan UI. Sementara para mahasiswa juga tidak mau membayar uang asrama sesuai surat edaran. Nyaris terjadi pengeroyokan terhadap Direktur Kemahasiswaan, tetapi untung dapat dicegah. Suasana malam usai dialog sangat mencekam. Di ruangan televisi dimana terjadi dialog terdengar teriakan dan makian dengan kata-kata kasar. Besok paginya, di halaman depan asrama bergelantungan celana dalam, suasana sepi dan mencekam. Waktu itu sudah masuk dalam suasana bulan ramadhan. Sore harinya terbetik kabar Rektor UI Prof.Dr. Nugroho Notosusanto Meninggal dunia, terkena stroke setelah sehari sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit. Suasana berkabung pun menyelimuti Kampus UI, tidak terkecuali di asrama Daksinapati. Ketika keesokan harinya Mayor Jenderal (tituler) Prof.Dr. Nugroho Notosusanto Dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer penuh, banyak pelayat mengantar kepergiannya. Diantara pepohonan kamboja di sekitar pemakaman Kalibata, ada satu spanduk yang terpampang dengan tulisan “SELAMAT JALAN BAPAKKU” di pojok kanan bawah spanduk ada tulisan kecil, “mahasiswa UI Daksinapati”.