June 8, 2010

Super Rektor

Filed under: Warna Warni — rani @ 7:49 am

Sehabis  shalat jumat di mesjid UI beberapa waktu lalu, bertemu dengan seseorang yang dahulu terlibat dalam pembangunan kampus Depok  dan aktif di  dalam wadah Lembaga Teknologi Fakultas Teknik  (Lemtek)  FTUI konsultan perencana pembangunan kampus. Sambil jalan menuju rektorat, berbagai pembangunan baru di lingkungan kampus   dikritiknya. Tapi kemudian secara tidak terduga bertemu dengan orang nomor satu di UI. Diantara kerumunan orang yang lalu lalang dia menyapa “Apa kabar Bos?” Walah, susah juga, super bos kok merendahkan diri dihadapan orang banyak. Lalu dia seperti mengerti keheranan yang ada dalam benak, dia memberikan penjelasan lebih lanjut, katanya takut nanti dimarahin Bang Rodji Besila, orang beken yang paling dikenal di Asrama daksinapati karena paling lama tinggal di asrama Daksinapati dari akhir tahun 1960 an hingga akhir tahun 1980 an. Suatu prestasi tersendiri, karena dia kuliah di FE Ekstension yang  tidak terikat dengan masa studi. Istilah bos ini memang diberikan teman-teman dekat di asrama, mungkin supaya cepat akrab atau memang hanya untuk berkelakar saja. Tapi yang paling diingat, pertama kali kata “bos” itu diucapkan oleh teman sekamar di asrama yaitu (Pak De) Eko Handojo. Akhirnya istilah itu menyebar dan dipakai oleh teman-teman dekat di asrama hingga kini.

 

Bicara tentang super bos ini, dahulu kala, di UI ada orang-orang tertentu yang sangat disegani dan atau juga sangat ditakuti karena kekuasaannya. Pernah dalam suatu masa, baik dosen ataupun karyawan sangat takut pada “super rektor” yang satu ini, walaupun dia tidak mempunyai jabatan  formal dalam jenjang struktural di lingkungan UI. Kalau sudah marah terhadap siapapun (dosen atau karyawan), dia akan memarahi habis-habisan tidak mengenal waktu dan tempat bahkan di depan orang banyak sekalipun, sehingga membuat orang menjadi malu. Tetapi sangat perhatian terhadap mahasiswa (baru) UI. Misalnya saja pada waktu mahasiswa baru melaksanakan kegiatan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pola 60 jam yang kemudian menjadi 120 jam. Anggaran konsumsi untuk setiap mahasiswa baru sebesar Rp 750 (tahun 1983 dan 1984)). Mereka dapat  makanan kecil dan teh manis, makan siang dengan sayur dan ayam goreng serta buah serta minum teh manis dan makanan kecil di sore hari. Dari mana dapat tambahan dananya? Melalui ibu-ibu Dharma wanita yang mengumpulkan uang dari para donatur dan orang tua. Waktu itu makanan yang paling “wah” bagi para mahasiswa ada di gugus Fakultas Kedokteran. Tetapi ketika didengar oleh Dharma Wanita Fakultas lain, segera mereka juga tidak mau kalah, mencari donatur  sehingga konsumsi untuk para mahasiswa di masing-masing fakultas kualitas makanannya relatif sama.

 

Ada lagi satu super rektor yang cukup dikenal orang-orang UI pada masanya. Dia sebetulnya hanya  seorang staf administrasi, tetapi hubungan dengan rektor cukup erat dan akrab. Dimana ada rektor dia senantiasa hadir, kalau rektor pergi atau bertemu dengan tamu asing, dia selalu mendampingi. Bahkan pada saat peresmian kampus baru Depok, dia berperan besar menyediakan berbagai keperluan mebeuler untuk ruang rektor. Orang ini sangat disukai rektor, karena mengerti kehendak rektor sebelum kehendak itu dikatakan. Dalam suatu kesempatan rektor sempat “keceplosan” bicara, kalau yang jadi rektor adalah dia, maka ada lagi di atas rektor yaitu “Super Rektor” sambil menunjuk kepada staf administrasi tersebut. Sejak itu, orang-orang menjadi tahu kalau ada Super Rektor. Kekuasaan super Rektor menjadi bertambah super saja, tatkala dia  menjadi sekretaris penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri se Indonesia. Para Rektor perguruan tinggi lain pun menjadi tahu peran dan kekuasaan super rektor ini. Menurut para stafnya, sehari sebelum meninggal, di ruangan kerja super rektor ini tercium bau bangkai yang menyengat. Maka para stafnya berusaha mencari asal bau bangkai tersebut, dicari sampai ke atap barangkali ada bangkai tikus, tetapi ternyata tidak ditemukan penyebab bau bangkai yang menyengat tersebut. Ketika super rektor ini meninggal, banyak orang yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Jasadnya sempat disemayamkan di Gedung Pusat Administrasi (Rektorat) Kampus Depok. Pada saat penguburan di Jati Petamburan para pelayat harus menunggu cukup lama, karena harus dilangsungkan misa requim terlebih dahulu. Seorang anak lelakinya yang juga ada di Jati Petamburan menghibur pelayat dengan mengatakan, “ayah saya kan seorang super rektor, jadi tidak apa-apa dong kalau hadirin harus menunggu lama.” Rektor UI yang ada diantara pelayat hanya senyam senyum saja.Tetapi rupanya manusia tidak sempurna, ada permasalahan kecil yang ditinggalkan almarhum. Dengar informasi dari sana sini, katanya ada sejumlah uang di dalam rekeningnya yang tidak bisa diambil ahli warisnya. Darimana uang itu? Pada saat para mahasiswa UI mendaftar di bank, ada sejumlah uang untuk pembuatan kartu mahasiswa. Ternyata sebagian uang itu masuk ke rekening almarhum dan hal ini tidak pernah diberitahukan kepada keluarganya.

 

Hikmah apa yang bisa diambil dari cerita tersebut di atas? Hidup menjadi orang baik ( di mata manusia dan “dimata” Tuhan) hingga akhir hayat itu susah dan belum tentu semua orang dapat lolos dari berbagai ujian dan cobaan. Karena itulah kita harus banyak belajar  dari kehidupan orang lain.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment