June 8, 2010

Dari Aktivis Mahasiswa Hingga Wali Amanat

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:46 am

Tidak banyak para aktivis mahasiswa yang kemudian secara konsisten dapat menjaga idealismenya dalam sejarah kehidupan selanjutnya. Salah satu diantaranya adalah Prof.Dr.Emil Salim yang pada tanggal 8 Juni ini tepat berusia 80 tahun, tetapi masih aktif dalam berbagai bidang kehidupan, baik di bidang pemerintahan  (sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden) maupun bidang pendidikan sebagai penguji dan pembimbing mahasiswa kandidat magister dan doktor serta anggota majelis Wali Amanat UI. Mengapa ada aktivis yang sangat dikenal, tapi ketika terjun ke masyarakat hanya sebentar dikenal, lalu tenggelam dan dilupakan orang begitu saja?

Sejak masih mahasiswa Prof.Dr.Emil Salim sudah dikenal sebagai salah seorang Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM UI) tahun 1950an. Bersama dengan DM dari perguruan tinggi lainnya mendirikan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) yang legendari itu dan terkenal telah menghasilkan insan pers mahasiswa yang berwibawa pada jamannya. Dari pengalaman membidani IPMI ini, ketika diangkat menjadi Menteri Lingkungan Hidup, dia mengumpulkan teman-teman di IPMI dulu untuk bahu membahu mengembangkan lingkungan hidup di Indonesia. Salah satu diantaranya yaitu (alm) Prof.Dr. Kusnadi Hardjasoemantri, SH, mantan Rektor Universitas Gadjah Mada. Pada masa itulah dihasilkan Undang-Undang Lingkungan Hidup dan masyarakat mulai mengenal arti dan manfaat memelihara lingkungan hidup. Bersama Kusnadi Hardjasoemantri ini pulalah Emil Salim menjadi tenaga guru sukarela di sekolah menengah NTT, yang kemudian menjadi cikal bakal kegiatan kuliah kerja nyata saat ini.

Dalam suatu ceramahnya di hadapan para mahasiswa UI yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata tahun 1984 dia menceritakan pengalamannya ketika sekolah di luar negeri bersama teman-temannya selalu berdiskusi setiap saat untuk membangun negara setelah pulang ke tanah air. Begitu Orde Lama tumbang konsep yang telah dibicarakan bersama teman-temannya diajukan dan ternyata dapat diterima oleh penguasa Orde Baru. Dalam peluncuran buku tentang Widjojo Nitisastro yang diterbitkan Gramedia Januari lalu, Prof.Dr. Widjojo Nitisastro menyebut Prof.Dr.Emil Salim sebagai negosiator ulung dalam menjalin kerjasama dengan negara-negara asing. Tetapi tetap komitmen terhadap masyarakat kecil sangat tinggi. Misalnya saja pada saat menyaksikan “Sail Bunaken 2009” di Manado, kebetulan para mahasiswa UI melakukan kegiatan K2N di Pulau Miangas,Pulau terjauh di Provinsi Sulawesi Utara, dia memberikan komentar pentingnya para mahasiswa untuk mengenal masyarakat di daerah terpencil dengan melakukan kegiatan K2N seperti yang dilakukan para mahasiswa UI. Bahkan perlu juga untuk mengajak para mahasiswa dari Sulawesi Utara.

Walaupun sudah tidak menjabat jabatan struktural dalam pemerintahan, tetapi sumbangan pemikiran dan pengalamannya masih sangat dibutuhkan oleh para pejabat negara saat ini. Akhir tahun lalu masih sempat memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa UI dengan topik “Pembangunan Berwawasan Lingkungan.” Karena kepakarannya itulah diangkat menjadi ketua Dewan Pertimbangan Presiden. Rupanya UI pun tidak mau “kecolongan” lagi. Setelah Prof.Dr. Emil Salim menjabat Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITB selama satu periode, ditarik untuk menjadi Anggota MWA UI. Dan ternyata memang suasana MWA UI menjadi hidup dan dinamis setelah  ada Prof.Dr. Emil Salim, Dr. Alwi Shihab, Hermawan Kertajaya dan Rachmat Gobel. Ini adalah salah satu contoh, bagaimana idealisme sebagai seorang aktivis bisa tetap hidup dan dihargai orang karena adanya komitmen yang kuat terhadap masyarakat kecil dan nasib bangsa, bukan hanya sekedar untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan tertentu saja.

  

 

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment