June 4, 2010

Pembelajaran Mahasiswa

Filed under: Warta UI — rani @ 10:26 am

Topik pembelajaran mahasiswa merupakan topik pertama dan utama dalam rubrik P4T-UI, karena pembelajaran mahasiswa merupakan kunci keberhasilan satu pendidikan. Pembelajaran yang merupakan proses yang terjadi pada mahasiswa dalam dalam rangka pencapaian perubahan perilaku tidak terlepas dari pendidikan dan pengajaran. Pendidikan merupakan proses yang menghasilkan perubahan perilaku, sedangkan pengajaran merupakan interaksi antara pengajar dan peserta didik (mahasiswa) dalam pencapaian perubahan perilaku tersebut. Dalam interaksi tersebut pengajar membantu terjadinya semua tahap proses pembelajaran mahasiswa yaitu: tahap perolehan pengetahuan, tahap penerapan pengetahuan yang diperoleh sesuai sasaran pembelajaran, dan tahap umpan balik.

Bagaimana perolehan pengetahuan yang dikemukakan berbagai pakar pendidikan tinggi tentang pengetahuan dan apa yang umumnya terjadi hingga saat ini di perguruan tinggi di Indonesia. Lockhead (1985) menyatakan, pengetahuan tidak dapat ditransfer dari siapa yang memilikinya kepada yang tidak memiliki, pengetahuan merupakan sesuatu yang tiap individu yang belajar harus menyusun untuk dan oleh dirinya sendiri. Blais (1989) selanjutnya mengemukakan, informasi tentang ilmu pengetahuan dapat dengan mudah diberikan kepada mahasiswa, yang diperlukan untuk mencapai  serta hasil yang benar. Sebaliknya pengetahuan adalah sesuatu yang tidak dapat dialihkan atau diberikan.

Memperoleh pengetahuan berarti mencapai keahlian (expertise). Hal tersebut dapat dijelaskan dengan apa yang dikemukakan oleh Evan (1989) yaitu pengetahuan diperoleh dari paduan antara ketrampilan menanggulangi masalah dengan subyek ilmu pengetahuan yang terkait. Demikian pula Paul Richard (1983) mengemukakan,  berpikir adalah subyek dan subyek adalah berpikir. Jadi dalam tahap pertama sebagai tahap perolehan harus dipilih metode metode yang dapat menjamin pengetahuan ketrampilan berpikir yang dipadukan dengan pemilihan informasi ilmu pengetahuan yang terkait oleh mahasiswa itu sendiri. Agar tejadi semua tahap proses pembelajaran secara tuntas, perolehan pengetahuan mahasiswa tersebut perlu dilatihkan secara berulang, dengan pembelajaran umpan baliknya dan seluruh proses pembelajaran harus terjadi, sebelum pelaksanaan ujian, agar dapat tercapai hasil yang berkualitas tinggi. Pada saat ini mahasiswa diberi pengetahuan oleh pengajar yang menurut Blais hanya akan  menghasilkan mahasiswa yang berperan sikap ketergantungan yang menghapus kebutuhan mahasiswa berpikir untuk dirinya sendiri dan mengembangkan satu sikap tidak dapat menolong dirinya sendiri.

Dalam menghadapi masa depan yang penuh persaingan tetapi juga peluang, serta dituntutnya profesionalisme, apakah tidak waktunya untuk mengubah pendekatan pembelajaran reproduksi/hapalan melalui pengetahuan yang diberikan oleh pengajar ke pembelajaran yang bersifat analitik dimana dikembangkan ketrampilan berpikir kritis, ketrampilan analisa, sintesis dan argumentasi yang mantap sebagai kemampuan/perilaku ilmuwan?

P4T UI akan secara berkesinambungan mengisi rubrik ini dengan pembahasan lebih lanjut tentang pembelajaran  dan pengajaran dengan harapan, Universitas Indonesia sebagai universitas pembina dapat menghasilkan lulusan program sarjana dengan kualitas seperti diuraikan dalam editorial. Semua rujuka yang melandasi uraian dalam rubrik P4T dapat ditemukan di perpustkaan P4T. (dr. Siti Oetarini S. Widodo, Ketua Pusat Pengembangan dan Penelitian Pendidikan Tinggi/P4T UI, dalam SKK Warta UI Nomor 69 Th.XVII, Mei 1996)

Mengenang Prof.Dr.R.Z. Leirissa

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:47 am

Hari Jum’at ini (04/06), telah berpulang ke Rachmatullah, Prof.R.Z Leirissa, dosen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indoensia (FIB UI) setelah dirawat untuk beberapa waktu di Rumah Sakit Cikini jakarta. Semoga amal ibadahnya di terima Tuhan Allah dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan iman. Teringat kembali saat  masih kuliah di FISIP di Kampus Rawamangun, Prof.Leirissa adalah dosen yang memberikan mata kuliah Sistem Sejarah Indonesia.

Waktu itu, sistem perkuliahan masih menerapkan sistem paket, dimana semua mahasiswa harus  mengikuti matakuliah yang ditawarkan fakultas, dimana setiap semester sudah ditentukan matakuliah mana saja yang harus diambil. Salah satu matakuliah yang harus diambil adalah Sistem Sejarah Indonesia. Banyak teman mahasiswa yang mengambil matakuliah ini karena terpaksa, sehingga hasil nilai ujiannya juga pas-pasan. Tetapi tidak bagi saya yang justru sangat menyukai sejarah Indonesia. Ketika akan menghadapi ujian akhir, belajar (lebih tepatnya menghapal) mati-matian nama dan tahun-tahun penting peristiwa sejarah Indonesia. Hasilnya? Alhamdulillah dapat nilai delapan. Nilai tertinggi, karena 100-an teman lainnya hanya bisa mencapai nilai tujuh saja. Kenangan itu masih melekat dalam ingatan.

Menyelesaikan sarjana sejarah tahun 1965, Prof. R.Z. Leirissa meraih doktornya dari UI tahun 1990. Tidak lama setelah itu menjadi doktor, kemudian menjadi profesor. Dalam beberapa kesempatan masih sering bertemu dengannya dalam beberapa kegiatan seminar dan promosi doktor, dimana dia menjadi pembicara dan penguji atau prmotor calon doktor. Dalam suatu kesempatan, pernah bercerita bagaimana proses doktornya sempat terkatung-katung, karena ada perbedaan paham mengenai metodologi antara para pembimbingnya, sampai harus ganti pembimbing. Kalau tidak silap disertasi doktornya mengupas yang berkaitan dengan tataniaga cengkeh di Maluku pada jaman Belanda. Setelah dia membuat disertasinya itu, beberapa orang calon doktor dari FIB, banyak yang mengambil topik tentang kegiatan di masa lampau, khsususnya jaman kolonial Belanda. Inilah barangkali sumbangan terbesarnya bagi perkembangan ilmu di Universitas Indonesia.