June 1, 2010

Pagar Makan Manusia

Filed under: Kampusiana — rani @ 10:24 am

Kita tentu sudah mengenal dan mengetahui arti peribahasa yang berbunyi ‘pagar makan tanaman’. Tetapi di Universitas Indonesia (UI) khususnya kampus Depok, dikenal istilah ‘pagar makan manusia’. Lho kok bisa? Ya, bisalah karena sudah terbukti kebenarannya. Tulisan di bawah  ini adalah ceritanya.

Luas lahan kampus depok yang sesungguhnya adalah 320 hektar yang dahulu bekas kebun karet dan pemukiman penduduk. Sebagai bukti dahulu tempat pemukiman penduduk, di dalam kampus terdapat tempat pemakaman umum, yang terletak di pinggir jalan yang berbatasan dengan wilayah Jakarta Selatan. Ketika membeli lahan kampus belum ada batas yang jelas, mana lahan kampus dan mana lahan penduduk. Maka untuk kejelasan dibuatlah pagar kuning setinggi tiga meter yang mengelilingi area kampus. Karena UI taat aturan, pagar dibuat agak menjorok ke dalam area kampus. Ada sisa tanah di luar kampus sepanjang pagar kurang lebih setengah meter yang dipakai untuk menyangga pagar sekeliling kampus. Ini menyebabkan lahan UI berkurang, sehingga luas lahan yang berada di dalam pagar menjadi 312 hektar saja. Tahukah berapa panjang pagar yang  mengelilingi kampus UI?  Tidak kurang dari 12 kilometer.

Pada waktu UI mulai menempati kampus Depok, ada jalan utama yang cukup lebar, biasa dilalui penduduk sejak dahulu kala, yaitu dari  jalan Margonda masuk menuju stasiun Pondok Cina, lalu meliwati Fakultas MIPA, menyebrangi danau dekat politeknik terus menembus ke Kelurahan Kukusan. Pada saat peresmian kampus Depok tahun 1987, Pak Harto sempat melalui jalan ini menuju ke wilayah Kukusan untuk melihat rumah pondokan tumbuh (RPT) di wilayah pemukiman penduduk Kukusan, yang dibangun Yayasan Supersemar untuk disewakan kepada para mahasiswa UI. Ternyata jalan ke Kukusan ini dimanfaatkan para pencuri yang kerap melakukan aksinya di kampus Depok, akhirnya ditutup untuk lalu lintas kendaraan mobil, tetapi masih bisa untuk lalu lintas motor saja.

Beberapa bagian pagar kuning UI dibuatkan pintu darurat yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan motor, dengan pertimbangan memudahkan para mahasiswa yang akan masuk kampus dari tempat kos yang berada di pemukiman penduduk sekitar kampus. Beberapa pintu pagar yang ada antara lain di stasiun kampus UI, depan Fakultas Hukum, gang senggol dari arah dekat stasiun Pondok Cina menuju Fakultas Kesehatan Masyarakat, Belakang Politeknik dan Depan Fakultas Teknik. Di dalam perkembangannya beberapa pintu darurat tadi telah menyebabkan maut dan merenggut nyawa, terutama pintu yang mengharuskan para pejalan kaki melintasi rel kereta api listrik (krl). Hampir setiap tahun, setiap jiwa melayang tertabrak krl, terutama pada saat tahun ajaran baru, dimana para mahasiswa baru UI yang berasal dari daerah belum terbiasa menyebrangi rel kereta api dan belum mengetahui, arus lalu lintas kereta api yang setiap 10 menit sekali lewat dari dua arah. Pintu yang sering terjadi mengalami kecelakaan yaitu yang di gang Senggol. Korban yang paling baru yaitu pada bulan Mei lalu, seorang mahasiswa Fakultas MIPA tertabrak krl, karena tidak waspada, jalan melintasi rel kereta api dengan kuping tertutup earphone untuk mendengarkan musik dari telepon mobil, tidak mendengarkan teriakan peringatan dan suara gemuruh kereta.

 Karena itulah,  pimpinan UI berketetapan untuk menutup pintu-pintu darurat itu dan para mahasiswa hanya dibolehkan masuk dari jalan yang sudah ditetapkan. Tetapi hal ini ditentang bukan saja oleh para mahasiswa yang sudah biasa  melewati jalan itu, tetapi juga oleh masyarakat, terutama yang membuka usaha di sekitar  jalan tersebut. Persoalan ini menjadi ‘buah simalakama’. UI ingin menjaga keamanan dan melindungi warganya dari kecelakaan yang tidak diharapkan. Tetapi ada warga masyarakat yang merasa dirugikan. Tetapi kalau dibiarkan berlarut-larut, akan menambah jumlah warga UI yang jatuh korban.