June 28, 2010

Mengamati Karakter Pemimpin

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:46 pm

Pagi ini ini (28/06) datang lebih awal ke kantor, karena masih cukup waktu maka setelah absen masuk, lalu sarapan pagi di kantin yang tidak jauh dari tempat kerja. Ada banyak penganan yang tersedia, tadinya akan makan goreng pisang kepok kesukaan  , tapi ternyata tetapi hari ini tidak ada, yang dipilih akhirnya lupis ketan dan comro. Minumnya teh manis panas yang dicampur dengan air jeruk nipis, kebetulan sewaktu berangkat ke kantor mampir ke warung yang menjual sayuran dan buah-buahan. Biasanya  kalau di rumah, air tehnya terbuat dari teh hijau yang khusus dipesan dari Cianjur Selatan, dengan air berkualitas heksagonal dan pemanisnya dari madu kalimantan yang aroma madunya terasa menyengat.

Sambil sarapan pagi, ngobrol dengan teman-teman karyawan pusat administrasi universitas. Kalau teman-teman lainnya cerita tentang taruhan kejuaraan dunia sepakbola, sepak terjang dari para pemain bola dan menyepak si kulit bundar,  atau mempertanyakan tentang gaji ke-13 yang tidak kunjung turun di bulan juni ini, maka saya bersama beberapa teman lebih suka mengamati sepak terjang para petinggi UI, mulai dari jaman Orde Baru hingga sekarang ini. Bagaimana pengalaman melayani sewaktu mereka menjadi pimpinan, apa-apa saja yang dikatakan dan dilakukan pimpinan dan bagaimana kebijakan-kebijakan yang diambil serta dampak dan pengaruhnya bagi perkembangan UI selanjutnya. Bagaimana para petinggi itu dalam berkomunikasi dengan staf bawahannya dan memperlakukannya seperti apa ketika diminta untuk membantu kegiatan di luar kedinasan. Obrolan pun sempat pula menyentuh kepada orang-orang di sekitar pimpinan UI, bagaimana perilaku dan sepak terjangnya, sikap terhadap bawahan. Teman-teman ini juga tahu betul hal-hal yang tidak semua orang mengetahui tentang pribadi para pimpinan.

<

p class=”MsoNormal” style=”text-align: justify”>Misalnya saja, beberapa petinggi dalam masa tugasnya di UI mereka melakukan kegiatan menikahkan para putra-putrinya. Walaupun ini bukan pekerjaan resmi seperti tercantum dalam tupoksi (tugas pokok organisasi), tetapi sebagai bagian dari hubungan antar manusia, tidaklah elok rasanya sebagai pegawai bawahan, ketika atasannya ada acara keluarga yang cukup penting berpangku tangan saja. Tetapi kalau sudah “kepake” dan “dipercaya”, dimana segala sesuatu pekerjaan yang cukup penting diserahkan kepadanya, maka  beban tugas ekstra pun harus siap ditanggung. Termasuk meluangkan waktu lebih banyak untuk senantiasa siap sedia jika pimpinan memerlukan jasa tenaga dan pikirannya. Kadang-kadang harus mengurusi tugas-tugas yang sifatnya rahasia. Yang lebih repot lagi adalah para pimpinan fakultas ketika harus “memberikan” kado untuk calon pengantin. Harus dibicarakan dan disepakati bersama “kado  apakah gerangan yang harus diberikan. Kalau pun dalam bentuk uang, berapa pantasnya kira-kira “saweran” tiap-tiap fakultas.

 

 

Ada lagi pimpinan yang ketika akan mengadakan acara silaturahmi dengan warga kampus di rumahnya, cukup meminta bantuan satu orang tenaga staf administrasi untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saking sangat efisiennya, sang pimpinan ini ketika akan mengangkut peralatan dari kampus ke rumahnya, dia membawa peralatan tersebut dengan kendaraan pribadinya dan menyetir sendiri kendaraan tersebut. Ketika ditanya, apakah tidak memerlukan tenaga bantuan tambahan orang lagi. Dengan entengnya dijawab “memangnya siapa yang mau membayarin orang-orang itu?” Saking sederhana dan tidak mau merepotkan orang lain, di rumah pribadinya, tidak ada tenaga satpam untuk menjaganya. Padahal kalau mau, dia bisa saja meminta bantuan tenaga keamanan kampus. Suatu saat setelah tidak menjabat sebagai petinggi UI, terbetik kabar, rumahnya kemalingan.

Ada juga petinggi UI yang sangat begitu perhatian terhadap staf bawahannya, sampai sampai dia tahu secara detil keluarga bawahannya, nama anak-anak dan istrinya. Dalam peristiwa tertentu, istrinya sengaja membagi-bagikan bingkisan untuk para staf bawahan, bukan dari sumbangan orang atau dari universitas, tetapi dari kantong pribadinya. Suatu saat petinggi ini naik lift dengan ditemani staf administrasi. Entah sengaja atau tidak, sewaktu mau keluar lift jatuhlah satu amplop berisi uang yang cukup banyak. Kemudian staf administrasi ini melaporkan tentang amplop yang jatuh tersebetu. Dan Apa jawabnya? “Bawa saja ke rumah, buat beli sepatu anak-anak.”

Teman ngobrol itu akhirnya berkata, “ada enaknya dan ada tidak enaknya juga kalau menjadi staf bawahan ‘kepake’ sama atasan.” Tapi kini dia merasa senang tidak terlalu banyak tugas-tugas non-kedinasan yang diembannya. Jadi bisa mempunyai banyak waktu untuk keluarga dan pikiran tidak terlalu stres.

June 25, 2010

Sedekat Apakah UI dengan Presiden SBY?

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:34 pm

Pertemuan secara formal di lingkungan kampus UI antara SBY dengan Rektor UI terjadi pada Agustus 2007. Saat itu di UI dilangsungkan pameran ilmiah dan SBY secara resmi membuka pameran tersebut. Walaupun belum resmi dilantik, tetapi Prof. Gumilar oleh Rektor terdahulu Prof. Usman telah digadang-gadang, diikutsertakan dalam kegiatan  ilmiah resmi berskala nasional. Pertemuan berikutnya di lingkungan kampus UI adalah pada saat SBY membuka seminar di Fakultas Kedokteran Kampus Salemba bulan Mei lalu. Di luar itu, mungkin sudah kerapkali bertemu. Misalnya saja setelah dilantik menjadi Rektor UI 14 Agustus 2007, tanggal 17 Agustusnya menghadiri upacara hari Kemerdekaan di Istana Negara.

Kemarin siang baru saja mendengar kabar (burung), Rektor UI akan ke Kanada  mengikuti Kunjungan Resmi SBY dalam pertemuan KTT G20 di Kanada 26-27 Juni. Semalam berita di salah satu stasiun televisi menyatakan, Presiden Obama dalam pertemuan tersebut akan bertemu dengan 5 kepala Negara Asia, salah satunya adalah SBY. Selian itu, SBY juga direncanakan akan bertemu dengan Presiden China Hu Jin Tao. Jika dikaitkan dengan tulisan sebelumnya yaitu ‘seberapa Dekatkah UI dengan Amerika Serikat?’ semakin jelas ada benang merah keikutsertaan Rektor UI dalam rombongan SBY mengikuti pertemuan G20. Sebetulnya kalau menyangkut urusan pendidikan, cukup dengan mengikutsertakan Menteri Pendidikan saja, tidak usah mengikutsertakan Rektor UI, karena akan menimbulkan tanda tanya kenapa rektor lain tidak diajak serta. Jadi pastilah ada agenda atau tujuan lain kenapa Rektor UI diikutkan dalam pertemuan G20. Setelah dari Kanada, Rombongan SBY akan melanjutkan kunjungan ke Turki dan Arab Saudi.

Seperti diketahui Indonesia merupakan salah satu Negara pemrakarsa berdirinya G20. Karena peranan itulah serta ketahanan dalam menghadapi krisis ekonomi global 2008 membuat Negara lain sangat menaruh  respek. Menurut Hermawan Kertajaya, anggota MWA UI kalau sedang melakukan perjalanan ke luar negeri, opini orang terhadap Indonesia sangat berubah dan berbeda sekali jika dibandingkan dengan lima tahun lalu. Opini yang positif ini merupakan salah satu peluang bagi Indonesia untuk terus mengembangkan diri. Dan salah satu untuk bisa dikembangkan adalah di bidang pendidikan. Tapi masalahnya kemudian perguruan tinggi mana yang dapat ditingkatkan kualitasnya dan dapat menjadi kebanggaan bangsa?

Bukan bermaksud untuk membangga-banggakan diri, tetapi ini ada cerita  dari Prof.Dr. Ir. M.Nuh ( Menkominfo waktu itu) saat meresmikan bantuan laboratorium peralatan teknologi telepon CDMA tercanggih sumbangan dari Huawei China kepada UI pada 27 Juni 2007.  Menurut Prof. M. Nuh, ITS Surabaya bersama dengan ITB Bandung melakukan kunjungan ke China untuk mencari bantuan peralatan teknologi yang dapat dimanfaatkan  perguruan tinggi di Indonesia. Singkat cerita China setuju memberikan hibah. Tetapi kemudian menjadi masalah akan diberikan ke ITB kah atau ke ITS. Berdasarkan pertimbangan yang yang cukup matang, akhirnya justru bantuan itu diberikan kepada UI, karena sifatnya  hibah Government  to Government. Dalam kaitan keikutsertaan UI dalam rombongan Indonesia pada G20, diduga kuat SBY mendapat masukan dari Mendiknas M. Nuh  dan memang secara kualitas UI menempati posisi teratas dibandingkan perguruan tinggi negeri lainnya. Kalau pun harus mengejar ketertinggalan supaya sejajar dengan perguruan tinggi di luar negeri, tinggal ‘dipoles’ sedikit, tidak banyak yang harus diperbaiki.

Apakah Rektor UI termasuk ikut juga dalam kunjungan ke Turki dan Arab Saudi, masih belum jelas. Tetapi yang jelas  Rektor UI pernah mengunjungi Turki beberapa tahun lalu dan juga menjadi ketua rombongan jamaah haji Indonesia tahun 2007 serta sempat beraudiensi dengan Raja Arab. Bangunan mesjid Arif Rahman Hakim di Kampus Salemba direhabilitasi atas bantuan dari Yayasan yang diketuai Raja Arab Saudi sebesar Rp 13 Milyar. Tanggal 2 Juni lalu, Dubes Arab Saudi di Indonesia sempat bertemu dengan Rektor UI di Kampus Depok. Sudah direncanakan sejak tahun  lalu UI  akan memberikan Doktor Honoris causa kepada Raja Arab Saudi. Salah seorang anggota MWA UI adalah Dr. Alwi Shihab, utusan khusus pemerintah RI untuk negara-negara Timur Tengah.

 UI yang sedang berjuang masuk dalam 200 perguruan tinggi ternama di tingkat internasional (saat ini masih nomor 201), bagaikan Negara Turki yang ingin masuk dalam kelompok Negara Uni Eropa. Visi , kiinerja dan pola pikir harus disesuaikan dengan pola pikir perguruan tinggi internasional. Kalau tidak begitu, kita tidak akan pernah bisa sejajar dengan perguruan tinggi ternama tingkat internasional. Keikutsertaan dalam pertemuan G20 di Kanada, Kunjungan ke Turki dan arab Saudi bisa dijadikan sarana untuk memperkenalkan lebih luas tentang UI di tingkat internasional serta mencari peluang menjalin kerjasama dengan negara-negara asing.

 

June 24, 2010

Hanya Empat Menit, Jadilah Mahasiswa UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:51 pm

Sebagai bagian dari warga Universitas Indonesia  (Pegawai, peneliti/pustakawan, dosen, mahasiswa dan alumni), kita pernah melakukan registrasi atau daftar ulang, setelah diumumkan diterima sebagai mahasiswa baru (program vokasi/diploma, program sarjana serta program pascasarjana/spesialis/doktor). Selasa hingga Jum’at (15-18 Juni) lalu,  sempat melihat-lihat kegiatan registrasi mahasiswa baru  yang diterima melalui jalur  seleksi Mahasiswa UI (SIMAK UI) di Balairung kampus Depok. Mulai dari mengukur jaket, memasukkan sidik jari dan dipotret, kemudian meminta password hingga akhirnya mendapatkan Kartu Identitas Mahasiswa (KIM) yang memakai chip, hanya diperlukan waktu empat menit saja. Berkat karena bantuan teknologi informasi yang secara terus menerus diperbaiki sistemnya. Sungguh suatu waktu yang singkat, bila dibandingkan dengan proses registrasi jaman tahun sembilanpuluhan ke belakang.

Kalau membandingkan dengan proses registrasi tahun 1988 (kebetulan REPLIKA ada dokumentasi video proses registrasi mahasiswa baru) dimana proses awal dimulai dengan pembayaran biaya operasional pendidikan di Bank yang telah ditentukan UI, para calon mahasiswa baru atau orangtua berebutan untuk lebih dahulu membayar di teller, yang  menimbulkan ketegangan, sampai kaca jendela pecah karena desakan dari orang-orang yang berebutan ingin lebih dahulu membayar. Pernah suatu waktu, proses registrasi dan pembayaran bank dijadikan satu di Balairung. Bank mengerahkan puluhan petugas tambahan untuk melayani pembayaran dengan merekrut tenaga mahasiswa diploma perbankan. Tetapi apa yang terjadi? Terkadang jumlah uang yang diterima tekor alias kurang dari yang seharusnya. Maka petugas teller itu yang harus mengganti kerugian kekurangannya. Tetapi sekarang dengan sistem host to host pembayaran dapat dilakukan di berbagai bank yang telah mengikat perjanjian dengan UI, dimanapun dan kapanpun melalui ATM (anjungan tunai mandiri/automatic teller machine).

Kartu Indentitas Mahasiswa (KIM) sejak tahun 2006 memakai chip, di dalamnya terdapat data mahasiswa, medical record, dapat melihat kalender akademik bahkan dapat mengetahui Sistem Informasi Akademik (SIAK) daftar nilai, jadwal kuliah serta pengisian pemilihan matakuliah, peminjaman buku di perpustakaan pusat. Pada tahun 2005 kartu mahasiswa dapat berfungsi sebagai kartu ATM bank . Tetapi kemudian ada protes dari sebagian kalangan orang tua, pemegang kartu mahasiswa secara terselubung dipaksa untuk membuka rekening di bank tertentu. Akhirnya sejak tahun 2006 KIM tidak difungsikan sebagai kartu ATM. Rencana ke depan, KIM bisa juga berfungsi untuk pembayaran listrik, telpon dan pembayaran tiket busway.

June 23, 2010

Seberapa Dekatkah UI dengan Amerika Serikat?

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:38 pm

Duta Besar Amerika Serikat (AS) Cameron R. Hume, 9 Juni lalu berkunjung ke Kampus Depok untuk berpamitan kepada Rektor Universitas Indonesia (UI)  Prof.Dr. Gumilar R. Somantri, sehubungan masa tugasnya telah berakhir di Indonesia. Selintas informasi ini tampaknya tidak ada sesuatu hal yang menarik, karena kerapnya para Duta Besar  negara asing berkunjung ke Kampus UI. Namun dibalik itu sebetulnya ada latar belakang dan perisitiwa menarik yang terjadi sebelumnya untuk diperhatikan. Betapa pentingnya UI di mata negara asing, khususnya Amerika Serikat. Di bawah ini adalah informasi yang terkumpul setelah melakukan pelacakan  dari berbagai sumber.

Kalau tidak terlalu akrab atau ada hubungan khusus, seseorang tidak akan  berpamitan secara khusus pula. Dan Rupanya Dubes Cameron R. Hume mempunyai hubungan spesial dengan  Rektor UI. Akhir Mei Lalu Menteri Perdagangan AS Gary F. Locke berkunjung ke Indonesia dengan membawa para pengusaha AS, setelah sebelumnya mengunjungi China. Pada kesempatan itu Menteri Perdagangan disertai Dubes AS Cameron R. Hume memberikan ceramah tentang ‘energi bersih’ di hadapan para mahasiswa UI. Inilah untuk pertama kalinya seorang menteri AS memberikan ceramah di hadapan  para mahasiswa UI. Kemudian pada saat Indonesia mempersiapkan kunjungan Presiden Obama pada Juni 2010 (yang akhirnya tidak jadi), Selama dua minggi terus menerus, Rektor UI juga turut terlibat mengikuti pertemuan dengan pihak Kedubes AS, seperti yang diceritakan Ketua Lemhanas Prof.Dr. Muladi SH saat memberikan ceramah pada seminar Nasional Pramuka di Kampus Salemba. Beberapa tahun lalu sewaktu menjabat Dekan FISIP UI, saat meresmikan Perpustakaan Miriam Boediardjo, Pihak Kedubes AS juga menyumbang sejumlah buku dan disimpan di ruangan khusus ‘American Corner’, yang kemudian dijadikan model di beberapa perguruan tinggi negeri lainnya di Indonesia.

Tahun 2002 ketika marak isu tentang terorisme, Dubes AS (waktu itu) Ralph L. Boyce untuk pertama kalinya memberikan ceramah tentang Toleransi Islam di Amerika Serikat.  Dubes yang pernah bertugas di beberapa negara Timur Tengah ini sangat fasih berbahasa Arab, bahkan sebelum memulai ceramahnya menyapa dengan ‘Assalamualaikum’. (kebetulan waktu itu mendokumentasikan ceramah tersebut). Dari kegiatan ini beberapa dosen Agama Islam UI diundang secara khusus ke Amerika Serikat untuk melihat dan mengikuti kegiatan seminar di beberapa perguruan tinggi serta melihat kegiatan yang diselenggarakan komunitas Islam Amerika Serikat.  Acara ceramah di UI berjalan sukses, artinya tidak ada gejolak atau demo yang dilakukan para mahasiswa. Berbeda dengan yang terjadi di FISIP Universitas Pajajaran Bandung. Dubes AS didemo para mahasiswa dan mobilnya diketok-ketok demonstran.

Tetapi mungkin yang lebih spesial lagi yaitu saat Paul Wolfowitz menjadi Duta Besar AS  akhir Tahun 1980-an. Mempunyai seorang istri yang pernah belajar secara khusus tari Jawa dan untuk itu sempat tinggal cukup lama di Yogyakarta (sebelum menjadi istri Paul Wolfowitz). Inilah barangkali Dubes yang  (saat itu) paling populer diantara dubes negara asing lainnya di Indonesia. FISIP UI sewaktu kampus masih berkampus di Rawamangun, sempat mengundang Paul Wolfowitz untuk bicara dalam sebuah seminar. Tempat seminarnya di Aula 2, di atas ruang perpustakaan FISIP. (lagi-lagi saya sempat mendokumentasikan kegiatan tersebut). Dan yang paling surprise adalah saat UI mengadakan acara “Lintas Masa Kampus Rawamangun” Januari 1987, yaitu kegiatan pameran, pertunjukkan seni dan bazaar fakultas yang ada di Kampus Rawamangun sebagai acara perpisahan sebelum pindah ke kampus baru Depok. Pada acara itu bersama (alm) Prof. Dr.Fuad Hassan, (alm) Prof.Dr. Tobias Subekti, Dra. Tuti Indra Malaon, Dubes Paul Wolfowitz hadir ke atas panggung dan menjadi bulan-bulanan bahan ‘becandaan’ pembawa acara (alm) Kasino dan (alm) Indro Warkop DKI. Kebetulan hal ini dapat terdokumentasikan dalam REPLIKA (REkaman Peristiwa SeLIntas KAmpus).

June 22, 2010

Robohnya IKM-UI Kami

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:59 pm

Tidak jelas betul bagaimana duduk perkara sebenarnya, kenapa Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM UI)  pada tahun 1982 menolak kepemimpinan Rektor UI Prof.Dr. Nugroho Notosusanto yang menggantikan Rektor UI sebelumnya Prof.Dr. Mahar Mardjono yang telah menjabat selama dua periode (1974 – 1982). Tetapi konon kabarnya, karena dari beberapa calon rektor yang diajukan Senat UI ke Menteri P & K yang dipilih ternyata bukan yang mendapatkan suara terbanyak. Ada pendapat lain, karena Prof. Dr. Nugroho Notosusanto  walaupun staf pengajar Fakultas Sastra UI, tetapi ‘berbau’ militer. Menjadi Kepala Pusat Sejarah ABRI, berpangkat Brigjen (tituler). Waktu itu para mahasiswa UI masih sangat alergi terhadap militer dan penguasa Orde Baru yang otoriter. Rupanya trauma penyerbuan militer ke dalam kampus pada oktober 1980 masih sangat membekas. Saat itu DM UI di Student Center  Kampus Salemba, mengadakan acara seminar, diserbu sekawanan militer yang membubarkan acara seminar tersebut.

DM UI pada waktu itu merupakan satu lembaga kemahasiswaan yang sangat disegani dan berwibawa di kalangan mahasiswa. Bahkan aparat  dan pihak berwajib sendiri sangat menghormati para tokoh dan aktivis DM UI. Sampai-sampai saat itu ada pendapat, kalau DM UI itu adalah ‘negara dalam negara’, karena kewenangan yang dimilikinya seperti tidak dapat dapat tersentuh oleh aturan/birokrasi otoritas kampus (universitas). Hal ini bisa terjadi karena DM UI mempunyai Anggaran Dasar yang tertuang dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia (IKM-UI), dimana  salah satu pasalnya menyatakan DM UI merupakan lembaga otonom dan bebas dari campur tangan pihak universitas. Atas dasar mengacu kepada IKM itulah para aktivis DM UI melaksanakan kegiatan organisasi kemahasiswaan. Walaupun dalam IKM-UI ada juga lembaga seperti MPR yaitu Majelis Permusyawaratan Mahasiswa/MPM (dimana Yusril Ihza Mahendra dari FH pernah menjadi Ketua MPM UI kemudian digantikan Edi Kuscahyanto dari MIPA), yang memilih dan melantik Ketua DM UI, tetapi  lembaga DM UI lebih bergengsi di mata mahasiswa.

Di mata Prof.Dr. Nugroho Notosusanto, kegiatan-kegiatan yang dilakukan para aktivis DM UI, dianggapnya sudah keluar dari rel kegiatan kemahasiswaan yang murni. Hal ini didasarkan kepada pengalamannya sebagai mahasiswa akhir tahun 1950-an, dimana organisasi ekstra  kampus sudah menyusup ke dalam kampus yang menimbulkan konflik diantara sesama aktivis mahasiswa karena masing-masing sudah membawa ‘bendera parpol’ ke dalam kampus. Dan ternyata tahun 1980-an hal tersebut masih terjadi. Dalam buku ‘Wawasan Almamater’  tulisan Prof.Dr. Nugroho, menyatakan mahasiswa sudah melakukan “politicking” di dalam kampus. Ketika DM UI melakukan aksi di halaman kampus Salemba Depan gedung rektorat dengan membakar ban-ban bekas, menyikapi hasil sidang Umum MPR tahun 1982, tanpa ampun Rektor menskor dan kemudian memecat Ketua DM UI Peter Sumaryoto (kemudian diangkat Biner Tobing dari FISIP sebagai care taker Ketua DM, tetapi timbul masalah,  ternyata di DO karena masa studinya habis, ujian skripsi tidak lulus. Pada masa kekosongan itulah barangkali Chairul Tanjung diangkat sebagai Ketua DM UI).  Hal ini menimbulkan gelombang protes dari kalangan mahasiswa. Rektor dianggap telah bertindak otoriter dan sewenang-wenang. Tetapi Rektor tetap tidak bergeming dengan keputusannya. Pada waktu itulah terjadi pengrusakan gedung Rektorat di Kampus Salemba.  Kaca pintu dan jendela lantai bawah gedung Rektorat pecah dan rusak. Tembok-tembok penuh dengan coretan-coretan yang mencaci maki Rektor. Itulah untuk yang terakhir kalinya demo “anarkhis” yang dilakukan para mahasiswa. Dan demo itu pula yang menyebabkan tamatnya riwayat Dewan Mahasiswa di Universitas Indonesia. Rontoklah IKM-UI. Untuk beberapa waktu lamanya lembaga kemahasiswaan UI kosong. Pada saat Menteri Pendidikan dijabat Prof.Dr.Fuad Hassan, (1985) ditata kembali lembaga kemahasiswaan dengan nama Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi/SMPT  yang berbeda dengan konsep Dewan Mahasiswa sebelumnya.

June 21, 2010

Pengelas Pintu Kampus

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:30 pm

Banyak “jejak” yang tidak terlacak dan bahkan teracak-acak tentang dunia kehidupan kampus, sehingga menyukarkan kita untuk menyusuri kehidupan masa lalu seseorang. Untuk satu bagian tertentu sangat begitu jelas, tetapi kebanyakan hilang tak berbekas. Selain masyarakat kita yang tidak terlalu hirau akan sejarah serta cepat pelupa, juga karena masyarakat kita tidak punya tradisi untuk mengarsipkan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan kehidupan masa lalu untuk diwariskan kepada anak cucu. Walaupun Negara kita dijajah cukup lama bangsa Walanda yang terkenal mempunyai tradisi menyimpan arsip  dengan teliti dan apik, tetapi sifat ini rupanya tidak “menular” pada bangsa kita. Maka jadilah kita sekarang ini menjadi  generasi yang “hilang ingatan” akan masa lalu, seolah-olah terputus mata rantai dengan masa lampau.

Pada acara  bertajuk ‘UI Young Smart Enterpreneur Program/UI YSEP 2010 ‘ yang berlangsung 14 Juni di Kampus Depok, seorang pembicara kunci yaitu Chairul Tanjung, pemilik Trans TV, pengusaha yang sedang naik daun dan baru-baru ini membeli 40 % saham carrefour Indonesia. Rupanya dia ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKGUI) angkatan 1981. Dalam tulisan ini bukan hendak ‘membedah’ kiat kesuksesannya dalam berusaha, tetapi melihat latar belakang kehidupannya waktu menjadi mahasiswa. Menurut ceritanya, Tahun 1981   menjadi ketua Angkatan Mahasiswa  FKGUI dan kemudian terpilih pula menjadi Ketuanya para Ketua Angkatan mahasiswa se-UI tahun 1981. Karena kedudukan itulah dia  dikenal oleh para senior aktivis Dewan Mahasiswa (DM) UI dan merekrutnya menjadi pengurus DMUI.  

Tahun 1982 terjadi pergantian Rektor UI dari Prof. Dr. Mahar  Mardjono Guru Besar FKUI  yang sudah menjabat 2 periode kepada Prof.Dr.  Nugroho Notosusanto, Guru Besar Fakultas Sastra UI yang ditugaskan sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI dengan pangkat Brigjen tituler. Pada saat pelantikan pun sudah terjadi gejolak, di ruang aula fakultas kedokteran, saat berlangsung pelantikan, terdengar bunyi petasan yang membuat kaget para hadirin. Usai pelantikan para mahasiswa mendaulat rektor UI untuk melakukan dialog. Di bagian belakang aula terlihat spanduk bertuliskan “Jangan nodai kampus UI dengan Sepatu Lars”. Besoknya harian Kompas memuat acara dialog mahasiswa dengan Rektor UI, tidak lupa dengan memuat foto yang ada spanduk bertulisan seperti tersebut di atas. Setelah acara pelantikan Rektor UI yang baru itu, hari-hari di kampus salemba menjadi panjang dan melelahkan. Hampir setiap malam dilakukan malam renungan di taman fakultas ekonomi atau di student center, yang dilakukan para mahasiswa, khususnya pengurus DMUI yang tidak setuju dengan pengangkatan Rektor UI yang berlatar belakang ABRI dan mempunyai kedekatan dengan penguasa.

Ketegangan semakin memuncak antara pengurus DMUI dengan pihak pimpinan UI. Masing-masing pihak membuat pamplet/selebaran yang ditempelkan di dinding kampus atau dibagi-bagikan kepada warga kampus. Pada suatu hari, semua pegawai, mahasiswa dan dosen tidak bisa masuk ke kampus, baik yang di Kampus Salemba maupun di Kampus Rawamangun. Gerangan apakah yang terjadi? Rupanya Pintu Masuk kampus Salemba dan Kampus Rawamangun dilas mati, sehingga pintu tidak bisa dibuka. Hebohlah para warga kampus. Tidak ada satu orang pun yang angkat bicara siapa pelaku pengelasan itu.Dalam salah satu pamletnya, pimpinan UI mengajak semua warga kampus untuk memilih mau ikut kepada siapa. Bahkan secara keras, diberikan pilihan alternatif yang paling ekstrim, kalau memang tidak ada para mahasiswa yang mau kuliah, lebih baik UI dibubarkan saja.

Pada saat memberikan ceramah bagi para mahasiswa peserta YSEP 2010, Chairul Tanjung mengakui secara terus terang, dia adalah salah seorang yang ikut mengelas pintu kampus. Pengalaman tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan kemahasiswaannya, yang ternyata sangat berguna bagi pengembangan karir selanjutnya. Karena dengan demikian bisa mengetahui mana tindakan yang buruk dan mana tindakan yang baik, dan hal ini merupakan kunci untuk menuju kesuksesan.

June 16, 2010

Lulusan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial UI 1950 – 1975

Filed under: Lulusan UI — rani @ 9:21 am

Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia

 

Jurusan Publisitik

 

Tahun 1962 – 1963

1 Alladin Munat  2.Al Rasjid Alamsyah  3.Amir Hamzah Haly  4.Chamisir 5.Dja’far Husin Assegaff  6. Firmandus Rodhi Aziz Chan  7.Djoko Juwono Gunawan  8.Djanadi  9.Jojok Suntoro  10.Masroh  11.Mahidin B.M  12. Maria Agnes Budilestari  13. M. Radjab  14.M. Sjamsjuri  15.M.O Tambunan  16.Nukman  17.Padmosasono  18. R. Djajusman Tanudikusumah  19.Roebin Harjani  20.Sunarjo Prawirohadinoto  21.Soemono Moestoffa  22. Soepangkat Broto  23.S.K. Bonar  24.Sjamsju Bassari  25. Usman Saleh  26.Zacharias Razak.

 

Tahun 1963 – 1964

1.Asnawi Murani  2.Bernadette Tan Lan Hoey  3.Bonar I. Sinaga  4.Harris P. Daulay  5.I. Hutauruk  6.Kamarsjah  7.M. Gultom  8.R. Manonggi Simatupang  9.Ismail Taufik  10.Soendaroe Rachmat  11.S. Harsono Suwardi.

 

Tahun 1964 – 1965

1.Achmad Dachlan Nasution  2.Adi Effendi Sahib  3.Djoko Kartodihardjo  4. Achmad Suprijadi  5.Arfiah Kusumanegara  6.Fachrudin Nudjang  7.Gufran Dwipajana  8.Husni Thamrin  9. Ismed Siswoyer  10.Ismaiel  11.Ton Kertapati  12.M.Tohir Djajudi  13.Sunarto  14.Djas Djamin  15.Harjadi S. Hartowardojo  16.R. Erka M. Dendawidjaja.

 

Tahun 1965 – 1966

1 Juwono Sudarsono  2.Kustigar Amafian Nadeak  3.Lie Siang Seng  4. Maslan Sajmsuddin  5.M. Budyatna

 

Tahun 1966 – 1967

1 Asnawi Idris  2.Anwar Rachman  3.Dj. Tambunan  4.Husnah  Tahar  5.Is Hadi Sutopo  6.Ismed Muradjat  7.Ibnu Ali  8.Nursal Umar  9.Nusjirwan Iskandar  10.Nengah Murdha  11.P.K.Mambang  12.Parman  13.Siswojo 14.Sukarman.

 

Tahun 1967 – 1968

1 A.S. Rodja  2.Aswir Djamadin  3.B. Soemantri Soemadi  4.D. Subagio  5.Djamaluddin Sjarif  6.Rustam Effendi Nasution  7.Sri Redjeki Sumarjanti  8.Supo Suwardi  9.Sudarman  10.Surjatini Sunarjo  11.T. Suwardi Hasan  12.Tan Thiam In  13.Umar Nur Zain  14.Sulaiman  15.Sri Sundari Karsoedjono  16.Sasongko.

 

Tahun 1969

1 Sudarnadi Sudarsin  2.Harun Sanif  3.Sugianto.

 

 

Tahun 1970

1 Tjiptaningsih Hadisoerjo  2. Sutiono  3.Harmyn Husein

 

Tahun 1971

1.Hariningsih Hardjono  2.Amin Azis

 

Tahun 1971 – 1972

1 Euis Siti Marwah

 

Tahun 1972 – 1973

1 Irwan Gunawan

 

Tahun 1973

1 Theresia Sujoko  2.Widya Astuty Sudojo  3.Aldjufri Sumarno.

 

Tahun 1974

1.R.Soemarsono Djajasoekarsa

 

Tahun 1975

1.Agatha Veronica  Soewitoprodjo

 

 

 

Jurusan Ilmu Politik

Tahun 1969

1        Makata Ma  2. Sujanto Marutotenojo

 

Tahun 1970

1 Zubir amin  2. Arbi Sanit  3. Nazaruddin Sjamsuddin  4. Abdul Muthalib.

 

Tahun 1971

1 Bambang Wibisono  2. Joelioes   3. HarjadiDjalal  4. Maswadi Rauf

 

Tahun 1972

1 Mudhofir  2.Sapartini Singgih  3.A. Budy Prasadja 

 

Tahun 1973

1 Amir Santoso  2.Rasidi Sukartawidjaja  3.Heru Utomo Kuntjoro Jakti  4.Benny Permadi

 

Tahun 1974

1 Slamet Siregar  2.Suharsono Isnomo  3.Cosmas Batubara  4.Iberamsjah  5.Dwi Susanto

6.Hamdani Asjik

 

 

 

Tahun 1975

1 Rachmat Ranudiwidjaja  2.Muzakir Achmad  3.Isnianto  4.Chandra Neno  5.Roni Hidajat  6.Rusmijati Marjam  7.Mahrus Irsjam  8.Farchan Bulkin  9.T. Sudirman Firmansjah  10.I. Gede Wisura  11.Effendi Tobing  12.Sjamsuddin

 

 

Jurusan Administrasi Negara

 

Tahun 1968

1 Zulkifli Gazali   2.Djaka Permana

 

Tahun 1969

1 Dati Rukmawati Soendojo  2.R. Walujo Imam Isworo  3. Roswita Asum  4.Rachmat Sarosi 

 

Tahun 1970

1 Muchtar Machmud  2.Nining Subaningsih. S  3.G.N.A Tambunan  4.Poltak Sitorus  5.Usman Kunang  6.Chasaini Arief  7.Tristan Hutapea  8.Hendra Sudartin  9.Ali Saman Nasuiton  10.Askar Hamid  11.Nurhasan Abdillah  12.Amir Ali Nasution  13.Arifin Badri  14.Jusril Jacub  15.Algiers Rachim.

 

 

Tahun 1971

1 Hasnan  2.Anis Usman  3.Chaldum Marisie  4.Slamet Praksono  5.Safri Nurmantu  6.Djubaedah  7.Eny Setianingsih  8.Tri Hany  9.Sri Rahayuningsih  10.Linda Trisnawati  11. J.B. Kristiadi  12.R. Hadijanto S.

 

Tahun 1972

1 Gustian  2.Bulizuar Buyung  3. Soetjipto  4.Farida Fachruddin  5.Sri Dewi Wahjuningsih A  6.M. Suparman  7.Bambang Suroto  8.Suraemi Djamhari Kartabrata  9. Antonio Surjanto  10.Sjamsuddin Bey  11.Rusmali  12.Yusman Usman  13.Rusmaeni Purba  14.M. Nurjono  Ramli Rachim  15. Toras Pangadalam  16.Suhut Situmorang.

 

Tahun 1973

1 Endjum Djumhari  2.Tapi Masniari  3.Iljas Bachtiar  4.A.Estikarso  5.D. Kribandi Halik  6.Marjanto Sastrosoewignyo  7.Henry Walandow  8.Nutjahja S.K  9.Harjoto Saleh.

 

Tahun 1974

1 Ferial Alwahdy  2.Suwaibah Darminto  3.Sukri Mursani  4.Wiwik Hidajati  5.Achmad Nurpare  6.Achmad Muljadi  7.Sarwedi  8.Ratna Miranti  9.Adjeng Hidayah Q.T.

 

Tahun 1975

1 Syafril Jas  2.AbdulganiArsjad

 

 

 

Jurusan Administrasi Niaga

Tahun 1968

1 Jusman Aputra  2.Bachrum Effendi

 

Tahun 1969

1 Ali Munzir  2.Jan Karjana  3.M.Abdul Atmadiwirja  4.Hamonangan Sinaga  5.R. Kuntjoro Saheran  6.Rusli  7.Maksum Habibie  8.Partogi Hutabarat  9.Husnul Fadillah  10.Usman Malaju.

 

Tahun 1970

1 Untung Subagio  2.Maslina P.S.  3.Adi Warsidi  4.Ashar Kasim  5.Marulak Sihombing  6.Budi Santoso  7.Hendrik John  8.Sjamsibar Petodas.

 

Tahun 1971

1 Ali Suwarno  2.Chrisman Jimmy  3.Rasjid A.K  4.Busra Machmud  5.Herny Siramuddin  6.Indro Yudono  7.Ibrahim Hamid  8.Ardianto  9. Firdaus Main  10.Alwan Mustafa  11.Irawan S.

 

Tahun 1972

1 Soetarno  2.Rosliana Gunawan  3.Tony Hartono

 

Tahun  1973

1 Sjahrul Kamal  2.Ardi Sastra  3.Edward Lebe  4.Mardjoko S

 

Tahun 1974

1 Djafaruddin Nurdin  2.Hidajat Rusmiady  3.Hasjmi Dini  4.Sahat Mamora  5.Lucia Lestari Soegeng  6. Murtiasih  7.Sri Wastuti  8.Saleh Hamedhan  9.Aswarnim Djamin  10.Edhi Santoso  11.Untung Mustafa  12.Nizam Thalib

 

Tahun 1975

1 Ny.Sumarwati Meinara  2.Zulfikar  3.Imaningsih  4.Supandi  5.Sjahrir Harry Djalil

6.Goldfried David T  7.Ronald Locho  8.Roy Asraf Sjarif  9.Tjitji Safitri  10.AgusSuhatsyah Dj  11.Ny. Sri Warti Aminudin

 

 

Jurusan Kriminologi

Tahun 1969

Jusuf Sahab

 

Tahun 1970

R.A. Manunggal Maladi

 

 

Tahun 1971

Tubagus Rony Rachman Nitibaskara

 

Tahun 1974

1.Onny Setiawati Prijono  2.R. Suparlin

 

Tahun 1975

1 Asep Bodjanegara  2.Tanto Witono  3.Purnama Munthe  4.M. Sihar Silitonga  5.Jan Rujana Djajamihardja  6.Sjamsulhadi H.

 

 

Jurusan Sosiologi

Tahun 1971

Fauzi M.S

 

Tahun 1972

1 Ahmad Kamar  2.Hatta Sastramihardja

 

Tahun 1973

Andos Sanusi

 

Tahun 1974

1 Ny.Anidal Hasjir  2.Ridwan Kamarsjah  3.Ny. Siti Hidajati Thamrin Amal  4.Thamrin Amal 

 

Tahun 1975

1 Simeon Bangun  2.Osmaliana Waworuntu  3.Syah Limer Saragih  4.Ny. Fauzia Rubijanti Susanto Amir Karamoy

 

 

Jurusan Kesejahteraan Sosial

 

Tahun 1968

Koesnaniah Nirija Mihardja

 

Tahun 1972

1.M. Sjarifuddin  2.Surjetti Sjarif  3.Sugiri  4. Paulus Tangdilitin

 

Tahun 1974

1 Bunda Sri  2.Djuwita Abdullah  3.Mochammad Aslam Sumhudi  4.Sri Kuntari  5.Sr. Gerarda Sunarsih  6.Indrawati Yosodipuro.

 

Tahun 1975

1 Farida Hayati Tobri  2.Aris Djazuli  3.Rohana Manggala  4.Soedarwati Soedarto  5.Umianto Basuki

 

(Dikutip dari Buku ”Lulusan Universitas Indonesia 1950 -1975” Humas UI 1975)

June 11, 2010

Beasiswa

Filed under: Kampusiana,Uncategorized — rani @ 9:23 am

Waktu jaman mahasiswa dulu, maka yang terbayang dalam pikiran tentang beasiswa adalah Yayasan Supersemar, dimana para mahasiswa yang mendapat dana ini orang-orang terpilih dengan kriteria tertentu dan seleksi yang cukup ketat. Tidak pelak lagi para mahasiswa penerima beasiswa ini menjadi eksklusif dan dengar-dengar sih sampai ada paguyuban alumni penerima beasiswa supersemar se Indonesia, dimana setelah lulus pun mudah mendapatkan pekerjaan. Waktu itu besar beasiswa hanya Rp15.000/bulan, itupun dibayarkan tigabulan sekali. Sementara biaya SPP hanya berkisar Rp30.000 dan Rp 45.000/semester.

Lalu pihak swasta terutama yayasan,  perusahaan swasta dan perusahaan asing swasta tidak luput juga memberikan beasiswa bagi para mahasiswa yang besarnya melebihi dari beasiswa yang diberikan yayasan Supersemar. Mereka biasanya memberikan beasiswa untuk jangka waktu tertentu yang berkisar antara satu semester hingga dua semester,kemudian tahun berikutnya diberikan kepada mahasiswa lain dengan kriteria tertentu dengan alasan untuk pemerataan. Pada umumnya perusahaan tersebut tidak menerapkan syarat tertentu kepada penerima beasiswa, misalnya setelah lulus harus bekerja di perusahaan tersebut. Tetapi ada juga instansi pemerintah tertentu yang mensyaratkan penerima beasiswanya setelah lulus harus bekerja di instansi tersebut. Salah seorang penerima beasiswa itu, kini menjabat sebagai salah seorang Direktur Bank Indonesia.

Pola pemberian beasiswa dari berbagai perusahaan pada umumnya ada yang untuk biaya keperluan sehari-hari untuk pembelian buku-buku, biaya  SPP atau pun campuran antara keduanya. Dengan diterapkannya pola CSR (corporate Social Responsibility) pada perusahaan besar,  memungkinkan pemberian beasiswa lebih besar lagi tidak semata-mata hanya untuk pembelian buku, tetapi juga meliputi biaya hidup perbulannya, seperti yang dilakukan Bank Mandiri Rabu lalu (09/06) kepada mahasiswa 10 orang mahasiswa UI. Diperkirakan satu orang mahasiswa mulai dari semester satu dan diperkirakan selesai dalam semester delapan memerlukan biaya sebesar Rp 94.000.000, sehingga jumlah keseluruhan beasiswa yang diberikan sebesar Rp 940.000.000.

Oktober tahun lalu, ketikan Menteri BUMN dijabat oleh Dr. Sofyan Djalil, SH  memberikan sebagian keuntungan perusahaan BUMN sekitar Rp100 milyar untuk puluhan perguruan tinggi negeri se Indonesia. Dan UI merupakan penerima beasiswa paling besar diantara PTN lainnya yaitu Rp 10 milyar. Pemberian beasiswa diberikan sepenuhnya kepada perguruan tinggi bersangkutan, mau diberikan kepada berapa orang mahasiswa dan berapa lama beasiswa itu diberikan serta untuk biaya apa saja. Kelonggaran ini sengaja diberikan supaya lebih mudah dalam pengelolaannya serta tepat sasaran kepada yang benar-benar membutuhkannya.

Pemberian beasiswa seperti yang dilakukan oleh Kementrian BUMN dan Bank Mandiri di atas merupakan suatu pola baru, bila dibandingkan dengan beasiswa pola Yayasan Supersemar yang lebih menekankan kepada pemerataan daripada kebutuhan para mahasiswa. Tetapi memang tetap saja lembaga pemberi beasiswa akan mempertimbangkan banyak hal, salah satu diantaranya adalah reputasi perguruan tinggi penerima beasiswa. Inilah barangkali keuntungan dari universitas Indonesia yang pada gilirannya juga akan berimbas kepada kualitas lulusannya. Jadi kalau mau berinvestasi atau memberikan beasiswa, tidak salah kalau prioritas utama yang harus dipertimbangkan adalah Universitas Indonesia. Kalau kata anak Betawi sih, walaupun banyak susu, tetapi tetap saja sapi punya nama.

 

June 10, 2010

Profesor dan Sopirnya

Filed under: Warna Warni — rani @ 4:44 pm

Ada seorang profesor yang sangat terkenal karena menguasai satu bidang ilmu dengan sangat mendalam, sehingga sering diundang ke berbagai tempat untuk berbicara dalam forum ilmiah. Dalam melakukan kegiatannya tersebut profesor ditemani seorang sopir yang selalu setia mengantar ke berbagai pertemuan ilmiah. Selain sebagai sopir, juga merangkap membantu menyiapkan bahan-bahan untuk presentasi profesor. Ketika profesor berbicara, sopir ini pula yang menayangkan materi  presentasi. Boleh dikatakan,  antara Profesor dengan sopirnya ini sudah menjadi satu jiwa.

Suatu saat, Profesor  sakit keras sehingga harus beristirahat untuk beberapa lamanya. Tetapi undangan untuk berbicara dalam berbagai forum ilmiah mengalir terus tidak henti-hentinya. Rupanya profesor ini tidak sampai hati untuk menolak berbagai  undangan tersebut. Tetapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bisa hadir. Setelah berpikir keras, akhirnya menemukan cara untuk mengatasi masalah tersebut. Setelah memberikan berbagai dorongan dan pengarahan serta bimbingan, akhirnya profesor mengutus sopir untuk hadir dalam pertemuan ilmiah. Di dalam forum tersebut sopir tadi mengaku sebagai ‘profesor’. Dan ternyata sambutan para hadirin dalam forum ilmiah tersebut sangat luar biasa dan merasa puas dengan presentasi yang disampaikan ‘profesor’.

Mendengar cerita sopir tersebut profesor merasa bersyukur, karena ternyata telah menemukan pengganti yang tepat kalau suatu saat ada undangan pertemuan ilmiah. Tetapi rupanya profesor merasa perlu untuk terus mengawasi dan melihat perkembangan yang terjadi saat sopir melakukan presentasi. Karena itu, profesor selalu ikut dalam pertemuan ilmiah yang dihadiri sopir. Untuk supaya tidak mencurigakan, maka profesor berganti profesi menjadi sopir dan menyiapkan segala kebutuhan sopir dalam melakukan presentasi. Dengan cara seperti ini, nama ‘profesor’ semakin dikenal dan semakin banyak saja undangan untuk menghadiri pertemuan ilmiah.

Dalam suatu kesempatan pertemuan ilmiah, banyak pertanyaan datang bertubi-tubi diajukan kepada ‘profesor’. Ada yang bisa dijawab dan ada pula yang tidak bisa dijawab. Untuk tidak mengecewakan peserta pertemuan ilmiah, maka profesor pun berkata,”Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, baiklah saya akan meminta bantuan sopir saya untuk menjawabnya.”

June 9, 2010

Tragedi Celana Dalam

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:12 pm

Kalau demo sambil membakar ban mobil atau membawa keranda atau juga membawa kerbau, itu mah bukan suatu hal yang luar biasa.  Tetapi pernahkah terpikirkan melakukan demonstrasi sebagai tanda protes ketikasetujuan atas suatu kebijakan dengan mengibarkan celana dalam di tiang bendera dan memajang seperti poster berbagai celana dalam di ruang tamu?  Itu adalah kelakuan sekelompok oknum mahasiswa asrama Daksinapati Universitas Indonesia (UI) yang berlangsung bulan Juni tahun 1985 di Kampus Rawamangun.

Bermula ketika ada edaran yang dikeluarkan Direktur Kemahasiswaan UI Taufik Bahaudin SE, yang menyatakan akan menaikkan uang pembayaran asrama dari Rp 15.000/semester menjadi Rp 25.000/semester untuk biaya operasional asrama yang semakin hari semakin meningkat. Memang dalam kurun waktu 5 tahun tidak ada kenaikan biaya. Sebagai bahan bandingan, SPP yang harus dibayarkan setiap mahasiswa yaitu Rp 30.000/semester untuk mahasiswa program studi non-eksakta dan Rp 45.000/semester untuk mahasiswa program studi eksakta. Waktu itu, memang sedang dilakukan pembenahan terhadap para mahasiswa UI yang tinggal di asrama. Seperti diketahui UI mempunyai tiga asrama. Pertama Wismarini yang terletak di jalan Otista Jatinegara khusus untuk mahasiswi yang mempunyai kapasitas/daya tampung 200 mahasiswi. Kedua Asrama Pegangsaan yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur, khusus untuk mahasiswa yang mempunyai daya tampung sekitar 200 mahasiswa. Dan yang ketiga asrama Daksinapati yang terletak di Kampus Rawamangun dan mempunyai kapasitas 300 mahasiswa. Dari ketiga asrama tersebut, hanya sekitar 60 % saja mahasiswa membayar biaya tinggal di asrama. Asrama Wismarini dan Daksinapati relatif mudah dikendalikan dan masih jelas status penghuninya. Sedangkan, penghuni Asrama Pegangsaan, sudah bercampur dengan penghuni gelap yang bukan mahasiswa UI. Penghuni gelap ini memonopoli kamar asrama. Tidak segan-segan mereka ini memakai kunci gembok sendiri pintu kamarnya. Kamar yang seharusnya diisi tiga orang mahasiswa, hanya ditempati seorang dan tidak memperbolehkan mahasiswa lain tinggal di kamar tersebut kalau tidak dikenalnya. Bahkan terkadang tidak sungkan menyewakan kamar tersebut kepada orang luar (bukan mahasiswa) kalau berani membayar dengan harga tinggi. Nah, dengan adanya kenaikan uang asrama ini, secara perlahan-lahan mulai ditertibkan kepenghunian asrama.

Entah siapa yang memulai, beberapa mahasiswa asrama Daksinapati mulai melakukan aksi demonstrasi menentang kenaikan uang asrama, corat-coret di tembok dan jalanan mulai dilakukan. Dalam suatu kesempatan, Direktur kemahasiswaan UI Taufik Bahaudin SE melakukan dialog dengan para mahasiswa asrama Daksinapati. Tetapi tidak dicapai kata sepakat. Taufik tetap dengan keputusan menaikkan biaya asrama karena sudah menjadi kebijakan pimpinan UI. Sementara para mahasiswa juga tidak mau membayar uang asrama sesuai surat edaran. Nyaris terjadi pengeroyokan terhadap Direktur Kemahasiswaan, tetapi untung dapat dicegah. Suasana malam usai dialog sangat mencekam. Di ruangan televisi dimana terjadi dialog terdengar teriakan dan makian dengan kata-kata kasar. Besok paginya, di halaman depan asrama bergelantungan celana dalam, suasana sepi dan mencekam. Waktu itu sudah masuk dalam suasana bulan ramadhan. Sore harinya terbetik kabar Rektor UI Prof.Dr. Nugroho Notosusanto Meninggal dunia, terkena stroke setelah sehari sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit. Suasana berkabung pun menyelimuti Kampus UI, tidak terkecuali di asrama Daksinapati. Ketika keesokan harinya Mayor Jenderal (tituler) Prof.Dr. Nugroho Notosusanto Dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer penuh, banyak pelayat mengantar kepergiannya. Diantara pepohonan kamboja di sekitar pemakaman Kalibata, ada satu spanduk yang terpampang dengan tulisan “SELAMAT JALAN BAPAKKU” di pojok kanan bawah spanduk ada tulisan kecil, “mahasiswa UI Daksinapati”.