May 27, 2010

Suka Duka Membimbing Calon Doktor

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:03 am

Pagi ini (27/05) ketika akan masuk kantin Prima kampus Depok, di salah satu meja terlihat ada tiga orang sedang asyik bicara. Rupanya sedang membicarakan topik tentang yang berkaitan dengan kendaraan, karena salah seorang diantaranya adalah pegawai UI yang bertanggung jawab mengurus kendaraan operasional UI. Tapi yang satu orang lagi, ternyata seorang Guru Besar salah satu Fakultas di lingkungan Salemba. Orang tidak akan menyangka kalau dia seorang professor dan pernah diserahi tugas sebagai Ketua Senat Akademik Unviersitas (SAU), dalam suatu acara Wisuda lulusan UI.

Kemarin (26/05)di Kampus Salemba, sudah bertemu dengan  profesor ini, kebetulan dia baru saja selesai memimpin sidang seorang doktor, yang menghasilkan yudisium sangat memuaskan. Dikenal sebagai  staf pengajar yang ramah dan rendah hati serta sangat low profile sekali dan itu ternyata tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Saya mengetahui dia melanjutkan S2 dan S3 di FKM, lalu mencapai Guru Besar tahun 2001. Setelah menjadi guru besar, aktif di institusi Senat akademik universitas, banyak berinteraksi dengan para guru besar dari fakultas lain. Banyak informasi yang bisa didapat dari dia dan tidak sungkan untuk menceritakannya, karena  sudah saling mengenal  sejak 25 tahun lalu. Setelah menjadi profesor hingga kemarin sudah mempromotori 9 orang doktor (Kedokteran Gigi dan Kesehatan Masyarakat) , empat diantaranya lulus dengan yudisium cum laude. Selain itu, tidak kurang dari 50 mahasiswa telah dibimbingnya menyelesaikan program magister bidang kedokteran gigi, kesehatan mayarakat dan ilmu keperawatan.

Dari pengalamannya membimbing calon doktor, dia sudah dapat mengetahui apakah seorang doktor bisa lulus biasa-biasa saja atau cum laude, dilihat dari usaha dan kerja kerasnya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Diakuinya, yang paling utama dilakukan banyak memotivasi para mahasiswanya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Dari pembimbingan ini, hubungan dengan mahasiswa bimbingannya menjadi semakin akrab dan dekat, tetapi bukan lantas memberikan nilai dengan mudah. Ada yang kemudian keakraban itu menjadi seperti hubungan anak dengan bapak. Bahkan tidak segan membantu mengongkosi biaya foto copy disertasi calon doktor. Yang paling agak merepotkan pada waktu membimbing para seniornya sendiri di fakultas. Ada saran-sarannya yang tidak pernah digubris dan bahkan cenderung agak memerintah.

Suatu saat mendapat bimbingan calon doktor dari luar daerah. Rupanya dia mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada) di salah satu kabupaten di pulau Sumatera. Calon doktor ini mintan saran bagaimana caranya dalam melakukan kampanye pilkada. Susah juga, bidang ilmu dan pengetahuan yang dipunyai tidak berkaitan dengan ilmu politik. Tetapi untuk tidak mengecewakan calon doktor, dia memberikan arahan supaya topik kampanye menekankan kepada aspek pendidikan, agama dan budaya. Hasilnya? Calon doktor itu tidak terpilih. Selidik punya selidik, ternyata pesaingnya itu telah bergelar S3, diyakini faktor ini yang menghantarkan menjadi kepala daerah. Dari peristiwa itu, sang calon doktor bersemangat untuk segera menyelesaikan doktornya, bekal untuk pilkada yang akan datang.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment